Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Kenangan Pisang Goreng (POV Laila)


__ADS_3

Dan waktu pun terus berlalu. Menyeret langkah ku tanpa bisa ku rasai lagi


Sejak putus dengan Erlan, pemuda itu tak pernah lagi mengubungi ku atau pun menemui ku lagi. Dan aku merasakan hampa. Rasa-rasanya ada yang hilang dalam kehidupan ku yang tampak biasa ini.


Seringkali aku termenung menatap layar ponsel yang menampilkan nomor kontaknya Erlan. Di saat itu lah aku hampir selalu membayangkan jika aku menekan tombol dial pada nomor itu sehingga bisa ku dengar suara barito milik pemuda itu.


Namun lamunan ku itu terhenti hanya sampai menjadi lamunan saja. Karena pada detik berikutnya aku akan teringat pada alasan ku putus dari Erlan. Dan itu adalah demi kebaikan pemuda itu sendiri.


Sering juga aku termenung menatap pohon pepaya yang tumbuh di samping jalan dekat perempatan lampu merah. Biasanya ketika lampu lalu lintas sedang merah, aku akan menatap lama pepohonan pepaya dan teringat pada kejadian ghaib yang ku alami bersama Erlan dan si Kunti.


Entah kenapa meski itu adalah pengalaman yang mengerikan, itu juga jadi pengalaman yang sangat ku rindukan pada saat seperti ini. Aneh sekali bukan?


Pernah juga, di suatu sore hari nya, saat aku baru pulang kerja. Aku sedang beristirahat sambil menyantap gorengan yang Mama tinggalkan di piring meja makan.


Sambil memakan pisang goreng yang sudah terasa dingin di tangan ku itu, aku juga kembali teringat dengan kenangan ku bersama Erlan. Yaitu saat ketika pemuda itu rutin main ke rumah ku sepulangnya ia dari bekerja.


Saat itu pun Erlan seringkali menghabiskan gorengan yang entah dibuat oleh ku ataupun juga buatan Mama.


Flashback.


"La, coba deh tebak. Kenapa sih, seringnya pisang tuh bentuknya melengkung? Kenapa enggak lurus?" Erlan melempar teka-teki.


"Mm.. karena dari sana nya ya memang sudah begitu lah, Lan. Eh, tapi ada juga kok yang bentuk nya lurus. Itu tuh. Seperti pisang yang suka ada di acara hajatan nikahan. Bentuk nya lurus kan?" Balas ku dengan sebuah pernyataan.


"Err.. iya juga sih. Pisang muli itu nama nya ya? Tapi anggap lah semua pisang tuh bentuknya melengkung. Kenapa hayo itu bisa melengkung dan gak lurus aja?" Tanya Erlan cukup memaksa.


"Idih.. mana bisa pertanyaan kayak gitu, Lan. Sesuai fakta dong!" Lagi-lagi kalimat ku menantang Erlan.


"Ah.. sayang. Namanya juga main tebak-tebakan. Cuma buat seru-seruan aja kan. Udah dong, tebak aja lah. Kenapa coba pisang bentuk nya seringnya melengkung. Enggak lurus?"


"Oke. Oke.. Mister pemaksa. Ku jawab deh teka-teki nya."


Aku berpikir selama beberapa detik yang memusingkan.


"Mm.. apa karena.. udah takdir nya kah?" Jawab ku asal.


"Bukan!"


"Kalau gitu.. apa karena dia habis di rebonding jadi nya bisa lurus, énggak keriting melengkung lagi?" Terka ku asal.


Seketika itu pula Erlan terbahak.


"Hahaha! Bukan juga! Di rebonding? Laila.. Laila. Ada-ada aja sih jawaban mu itu!" Erlan terkakak mengolok jawaban asal ku tadi.


"Ya terus karena apa dong? Udah lah. Aku nyerah aja!"


"Yah.. payah ah. Masa segitu aja udah nyerah!" Erlan lagi-lagi meledek.

__ADS_1


"Iya.. aku ngaku kalah aja lah. Bingung soal nya," ucap ku sambil menyomot gorengan pisang di piring.


"Hmm.. baiklah. Jadi jawaban dari pertanyaan 'kenapa bentuk pisang seringnya melengkung dan enggak lurus' adalah.."


Erlan memberi jeda sejenak pada ucapan nya itu.


"Karena kalau bentuk nya lurus, itu namanya jalan tol!"


Krik.. krik.. krik..


Tanpa tedeng aling-aling, ku hadiahi Erlan dengan sebuah cubitan yang cukup kencang di lengannya.


"Aduduh! Sakit, La!" Erlan mengajukan protes.


"Rasain tuh! Lagian ngasih teka-teki sih yang enggak bermutu. Jawaban apa itu tadi? Apa hubungannya antara pisang melengkung dengan jalan tol? Kalau mau bo doh, jangan ajak-ajak aku ah! Aku gak mau tingkat kepintaran ku ikutan terjun bebas seperti milikmu!" Umpat ku cukup pedas.


"Haishh Laila Sayang. Gitu amat sih. Namanya juga kan tebak-tebakan. Ya jawabnya juga cuma buat seru-seruan sja. Jangan dibikin alasan untuk main cubit-cubitan dong, La.." seru Erlan sambil mengusap-usap lengannya yang tadi ku cubit.


"Maka nua, lain kali kalau mau ngasih tebak-tebakan tuh yang bermutu, dong!"


"Oke. Aku punya satu tebak-tebakan lagi nih. Tebak ya, La."


"Bermutu enggak tuh teka-teki nya? Aku gak mau ya main tebak-tebakan yang jawabannya ternyata gak nyambung sama sekali," aku mengajukan syarat dalam permainan teka-teki ini.


"Bermutu.. bermutu.. aku yakin banget, kamu bakal suka sama jawabannya nanti!"


"Jadi, coba sebutkan persamaan antara baju yang lagi dijemur sama ponsel kepunyaan kita!" Ungkap Erlan menjabarkan teka-teki nya.


"ehh? Jemuran sama ponsel? Apa persamaan nya?"


"Yee! Malah tanya balik! Ya kamu lah yang jawab! Kan aku yang kasih teka-teki nya. Masa iya harus aku juga yang menjawab nya!" Dumel Erlan sambil ikut menyomot pisang goreng untuk ke sekian kalinya.


"Mm.. persamaan nya kan? Karena jemuran dan ponsel itu sama-sama adalah benda!" Aku menebak.


"Salah!"


Aku mengernyit bingung.


"Iya lah! Kan kamu minta persamaan antara kedua benda itu. Ya jawabannya benar dong kalau dua-duanya memang sama-sama benda!" Aku sedikit mengajukan protes.


"Well.. jawaban mu memang secara fakta tuh benar. Tapi bukan itu jawaban dari tebak-tebakan ini. Ayo La, mikir lagi. Katanya ngaku smart.." Erlan meledek ku.


Sedikit kesal karena diledek oleh nya, aku pun lagi-lagi memberikan jawaban asal.


"Karena dua-duanya itu sering dipegang setiap hari!"


"Hahaha.. bukan. Udah, nyerah aja lah ya. Kasihan aku lihat muka mu yang udah frustasi itu."

__ADS_1


"Sialan kamu, Lan. Ya sudah iya. Aku nyerah aja deh. Awas kalau jawabannya gak bermutu lagi kayak yang tadi!


" Aduduh.. non cantik jangan marah-marah gitu dong. Nih aku kasih tahu jawabannya deh ya. Jawaban ini cuma bisa dipikirin sama orang-orang yang punya IQ tinggi seperti ku!"


"*****.. udah, langsung jawab aja deh!"


"Haish.. oke lah. Jadi persamaan antara jemuran baju dan ponsel adalah.. karena dua-duanya sama-sama diangkat kalau udah kring!"


"..."


"..."


Aku sudah bersiap untuk mencubit lengan Erlan kembali. Namun pemuda itu telah lebih dulu bangkit dari duduk nya dan menjaga jarak beberapa meter jauhnya dari ku.


"Sini! Sini kamu Lan! Jawaban macam apa itu! Jemuran sih iya memang diangkat kalau sudah kering. Tapi ponsel?!" Ucap ku sambil bangkit dan hendak melangkah untuk mendekati Erlan.


Erlan mundur ke halaman depan kontrakan ku. Dan bersiap kabur jika sewaktu-waktu aku menerjang nya.


"Ehh. Ponsel juga kan selalu diangkat, La kalah udah KRING.. udah bunyi KRING maksudnya.."


"Hah?!" Aku ternganga tak percaya. Kemudian memikirkan jawaban teka-teki tadi lagi dengan cermat dan teliti.


"Baju KERING dan Ponsel KRING, La.. kan sama-sama diangkat! Iya kan?" Erlan kembali menjelaskan.


Dan, sedetik kemudian, aku pun terbahak-bahak tertawa.


"Hahahahaaha! Cerdas.. cerdas.. cerdas.. bisa aja deh kamu, Lan! Hihihi.. iya juga ya. Hihihi.."


"Iya kan? Jawaban ku benar kan?" Tanya Erlan masih dengan posisi berdiri yang agak jauh dari ku.


"Iya benar. Benar banget itu sih.. ku akuin, teka-teki yang ini lumayan menghibur banget."


"Jadi, aku gak bakal dicubit kan nih?" Tanya Erlan dengan ekspresi pura-pura takut.


Aku pun tersenyum geli melihat tingkah nya Erlan itu.


"Iya.. enggak!"


Erlan pun terlihat lega dan kembali mendekat duduk di kursi nya yang tadi. Setelah pemuda itu duduk, dengan cepat, aku langsung mencubit lengannya cukup kencang.


"Adaw! Kok masih dicubit sih, La? Tadi kamu bilang enggak akan nyubit!" Protes Erlan sambil mengusap-usap lengannya yang sakit.


"Siapa bilang aku ngomong gak bakal nyubit kamu. Aku cuma bilang 'enggak' aja kok! 'Enggak akan berhenti nyubit' maksudnya.. hihihi.."


Dan Erlan pun menatap ku dengan pandangan kesal.


Flashback selesai.

__ADS_1


***


__ADS_2