
Usai sambungan telepon terputus, aku langsung mencari Papa di halaman belakang rumah dan menceritakan kepada nya perihal ditemukan nya Azki oleh Kiyano.
"Kalau begitu, kita harus segera meminta bantuan kepada polisi untuk membantu Kiyano! Sekarang juga, La!" Ujar Papa dengan nada genting.
"Iya, Pa!" Sahut ku tak kalah genting.
Segera setelah nya kami pamit kepada Mama untuk pergi ke kantor polisi. Darman sedang ada perkuliahan. Jadi aku menitipkan kabar ini kepada Mama untuk disampaikannya nanti kepada adik sambung ku itu.
Sebelum sampai ke kantor polisi, aku menerima pesan dari Kiyano. Isi nya adalah peta sebuah lokasi berjarak satu jam dari tempat ku berada saat ini.
Bersamaan dengan peta lokasi, Kiyano juga menuliskan pesan lain nya.
Dari Kiyano: aku pantau situasi nya dulu ya, La. Dia tinggal di rumah pinggir kota. Agak masuk ke dalam perkebunan sih. Rumah tua dua lantai. Minta bantuan polisi juga, La!
Tanpa jeda, aku langsung membalas pesan Kiyano itu.
Untuk Kiyano: ok. Aku udah di kantor polisi. Hati2. Jangan gegabah ya Kiy! Tunggu kami datang ke sana!
Ting. Status pesan, terkirim sudah.
Segera setelah melapor pada polisi tentang lokasi Azki saat ini, kami bergegas menyusul Kiyano ke sana. Aku dan Papa berangkat dengan mobil kami sendiri. Mengikuti tiga mobil polisi lainnya yang ada di depan kami.
'Nguuuuuuunggg.. Nguuuuunggg...'
Bunyi sirine mobil bergaung di sepanjang jalan. Menemani perjalanan kami di sore yang ramai oleh mobil dan kendaraan lain yang berlalu lalang.
***
Sekitar satu seperempat jam kemudian, kami tiba di sebuah perkebunan di pinggir kota. Saat itu matahari telah terbenam. Dan malam pun datang dengan kegelapan yang menyertai nya.
Sebelum sampai di perkebunan, mobil polisi telah berhenti membunyikan sirine nya. Agar Azki tak menjadi waspada dan kabur karena mengetahui kedatangan kami ke lokasi nya bersembunyi saat ini.
Aku lalu mencoba menghubungi nomor ponsel nya Kiyano. Namun, setelah lama menelpon, aku hanya mendengar nada dering nya saja.
Aku pun menjadi cemas. Khawatir jika Kiyano bertindak gegabah dan menyergap Azki terlebih dahulu sebelum kami datang.
__ADS_1
Sekitar 100 meter di depan rumah yang diduga menjadi tempat persembunyian nya Azki, aku menunggu pihak kepolisian bertindak. Bersama Papa di samping ku, ku nikmati setiap detik masa menunggu ini dengan perasaan was-was.
Kemudian, kulihat salah satu ajudan yang ditugaskan untuk memantau situasi kini kembali menghadap kepala satuan polisi dalam operasi penyergapan saat ini. Ajudan itu lalu menyampaikan hasil pantauan nya.
"Lapor komandan! Terduga sepertinya berada di ruang tengah di lantai bawah. Sementara dua korban berada di dalam satu kamar yang sama di lantai atas," lapor sang ajudan.
"Kondisi pelaku?" Tanya sang kepala polisi.
"Aman. Sepertinya pelaku belum menyadari keberadaan kita, Komandan!" Jawab sang ajudan.
"Kalau begitu, tindak sekarang--"
Belum selesai sang kepala polisi bicara, tiba-tiba saja rumah di hadapan kami penerangan nya padam seluruh nya. Disusul oleh suara tembakan yang berasal dari dalam rumah.
Seketika itu pula aku langsung merasa was-was.
"Tembakan berasal dari dalam rumah! Pantau! Apa yang sedang terjadi!" Titah sang kepala polisi bernada genting.
"Seluruh pasukan! Tahan tembakan! Diulangi! Tahan tembakan! Jangan ada yang menembak sebelum ada perintah!" Imbuh sang kepala polisi pada earphone yang ia kenakan.
Kemudian kembali terdengar suara tembakan. Tembakan yang kedua. Aku semakin merasa cemas dengan apa yang terjadi di dalam rumah.
Tanpa sadar, kaki ku mengajak ku maju mendekati rumah. Namun langkah ku ditahan oleh Papa Ulum yang setengah merangkul bahu ku cukup erat.
"Laila! Tunggu lah di sini! Tak ada yang bisa kita lakukan untuk membantu pekerjaan para polisi jika kita masuk ke dalam sana!" Tegur Papa, mengingatkan ku.
"Tapi tadi ada dua tembakan, Pa! Bagaimana bila terjadi sesuatu sama anak-anak?!" Ucap ku sedikit histeris.
"Sabar lah, Nak! Kita tunggu Pak Polisi menuntaskan pekerjaan nya. Kita hanya perlu banyak berdoa saja di sini!" Papa lagi-lagi mengingatkan ku. Kali ini dengan suara yang lebih mendesak.
Aku terdiam. Mencoba memahami maksud ucapan Papa tentang 'kesabaran menunggu di sini'. Sampai kemudian ku dengar Pak Kepala polisi yang berkata pada earphone nya lagi.
"Jadi begitu.. kalau begitu, bawa dua tim masuk ke dalam rumah. Tim 1, Lumpuhkan sasaran hingga ia tak lagi bisa melawan! Dan Tim 2, bawa korban ke tempat aman!" Titah sang kepala lagi pada earphone nya.
Begitu sang kepala polisi selesai menyampaikan titah nya, mulut ku tak bisa ditahan untuk tidak bertanya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi, Pak?! Apa anak-anak ditemukan?! Mereka baik-baik saja bukan?!" Tanya ku beruntun.
Sang kepala polisi melihat ku dengan tatapan mengerti. Ia pun menjawab pertanyaan ku tadi satu persatu.
"Tadi teman Nyonya telah disadari keberadaan nya oleh tersangka. Jadi tersangka melepaskan tembakan pertama nya. Namun karena teman Nyonya mematikan daya listrik di rumah, hingga semua lampu menjadi padam, tersangka jadi tak bisa memastikan posisi tepat teman Nyonya berada. Karena nya ia melepaskan tembakan yang kedua."
"Tapi Kiyano bagaimana, Pak? Dia enggak kena tembakan, kan? Anak-anak juga kan?" Tanya ku kembali.
"Menurut laporan ajudan saya, teman Nyonya sepertinya masih aman. Karena nya sekarang dua tim sedang masuk ke dalma rumah untuk melumpuhkan tersangka sesegera mungkin," jawab Pak Kepala polisi.
"Dan tenang saja, Nyonya. Kedua anak Nyonya berada aman di lantai atas. Jauh dari lokasi tersangka berada. Sekarang tim lain nya sedang menjemput kedua anak Nyonya," imbuh sang kepala polisi.
Mendengar penyampaian kepala polisi itu, benak ku langsung dirundung oleh rasa lega.
"Alhamdulillah.. terima kasih, Ya Allah!" Bisik ku spontan, cukup terdengar oleh telinga ku sendiri.
Sang kepala polisi sepertinya juga ikut mendengar ucapan syukur ku. Karena kemudian ia tersenyum kepada ku. Namun, sedetik kemudian, ekspresi di wajahnya tiba-tiba saja berubah menjadi tegang.
Mau tak mau aku pun jadi ikut merasa tegang.
"Apa kau bilang?! Ulangi lagi!" Bentak sang kepala polisi pada earphone nya.
Aku langsung merasa gentar saat mendengar bentakan yang keluar dari mulut lelaki berpangkat bintang empat di samping ku itu. Dalam diam, ku bisikkan harapan agar tak ada dari anak-anak atau pun Kiyano dan petugas polisi lainnya yang akan terluka.
"Baik! Tahan serangan. Ulur waktu selama mungkin. Tim bantuan akan segera masuk!" Ucap sang kepala polisi.
Kemudian, setelah jeda sesaat, sang kepala polisi kembali bicara melalui earphone nya.
"Siapkan tim penjinak bom! Tersangka mengikatkan rangkaian bom ke tubuh anak-anak yang di sandera nya!" Imbuh sang kepala polisi terdengar sangat genting.
"?!!!"
Hati ku ikut merasa genting. Pikiran ku pun mendadak jadi kosong.
'Bom! Azki memakai kan rangkaian bom ke tubuh anak-anak?! Ya Allah!!Mark! Nila!' jerit batin ku mengandung lara, yang tiada tara..
__ADS_1
***