
"Tapi ingat, kamu harus memperbaiki kinerja mu agar jadi lebih baik lagi. Saya gak mau dengar ada komplainan lagi tentang kamu. Atau nama kamu sudah akan langsung saya coret dari daftar pegawai di kantor ini," ucap si Keong mengancam ku.
"Baik, Pak! Saya akan memperbaiki kinerja saya. Saya berjanji!" Ucap ku bersungguh-sungguh.
"Bagus. Sekarang kamu boleh pergi!" Usir Si Keong kepada ku.
Aku tak merasa singgung, meski si Keong memberi ku tatapan dingin nya. Kalimat pengampunan yang telah diberikannya kepada ku sudah lebih dari cukup untuk membuat ku bernapas lebih lega.
Aku akan menepati janji ku pada si Keong. Kalau aku akan benar-benar memperbaiki diri. Hahh.. Aku menghela napas letih.
'Bye bye masa muda.. aku harus jadi orang dewasa kini. Serius, La!! Jadi lah orang yang serius! Seperti Mas Idham atau pun Nindi. Semangat, Laila!' aku menyemangati diri dalam hati.
***
Hari-hari berikut nya, aku jadi semakin gigih dalam bekerja. Dan lebih sedikit bercanda dengan rekan-rekan kerja ku. Lama-lama, aku pun terbiasa dengan rasa letih dan linu yang ku rasakan sepulang kerja. Dan aku jadi lebih sedikit mengeluh.
Benar ku rasa apa kata Nunik. 'Mengeluh tak akan memberikan mu apa-apa. Selain melipatgandakan kesusahan dan rasa letih yang sedang kau rasa'.
Aku kini menyadari maksud kalimat Nunik dulu sekali itu. Hebat benar jalan pikiran sahabat ku itu. Memang tak sepatutnya kita menilai seseorang dari penampilan nya ya. Karena penampilan luar tak bisa mewakili kualitas diri seseorang.
Tak terasa seminggu telah berlalu sejak bos Keong menegur ku. Esok adalah tanggal merah. Jadi semua karyawan di kantor mendapatkan jatah libur selama dua hari.
Kebetulan rekan kerja ku di staf OB berencana untuk pelesiran ke pantai terdekat. Dan aku berjanji untuk turut serta hadir bersama dengan Nindi.
Sementara Gina, entah lah. Hingga kini aku tak bisa akrab dengan rekam OB ku yang satu itu.
Gina selalu menjaga jarak antara dirinya dengan orang-orang di sekitar nya.
Tadi nya ku pikir Gina hanya tak menyukai ku saja. Tapi seiring berjalannya waktu aku menyadari kalau ia memang tak suka membaurkan diri dengan orang lain. Tipikal introvert gitu deh.
Sabtu sore selepas ashar, Erlan menjemput ku. Terhadap rekan pria ku yang satu ini aku sebenarnya mulai merasa risih. Karena aku sering mendapati Erlan menatap ku dengan pandangan yang tak biasa.
Feeling ku mengatakan kalau Erlan kemungkinan menyukai ku. Ge er? Hah.. tidak lah. Aku memang cukup manis kok untuk menarik perhatian laki-laki.
Sedari dulu sudah ada beberapa lelaki yang menyatakan rasa suka nya kepada ku. Namun dengan pengalaman buruk Mama dan Papa, aku jadi ada kekhawatiran tersendiri soal berhubungan dengan seorang pria.
Aku takut jika harus mengalami rasa sakit hati karena dikhianati seperti yang telah dialami juga oleh Mama. Aku tak mau itu terjadi pada ku juga.
Karena nya terhadap mereka yang menyukai ku, aku lebih sering menolak mereka baik-baik. Dan alasan yang ku berikan pada mereka selalu saja sama. Bahwa aku tak mau berpacaran. Jika mereka mau, aku mau langsung menikah saja.
Hahaha. Mengingat wajah para pria yang ku tolak saat aku mengemukakan alasan ku itu, kembali membuat ku ingin tertawa. Karena hampir semuanya langsung jadi pucat pasi dan mundur teratur dan sadar diri.
__ADS_1
'Cemen benar semua lelaki itu. Ingin nya asik-asik meneguk madu saat berpacaran. Begitu sudah bosan, habis manis sepah dibuang. Mendadak lupa bila pernah cinta, lalu malah pergi meninggalkan!' gerutu ku dalam hati.
"Aww! Laila! Jangan cubitin pinggang aku dong! Salah aku apa?" Jerit Erlan di jok depan.
Aku tiba-tiba saja tersadar. Dan langsung meminta maaf kepada Erlan.
"Maaf, Lan! Maaf! Tadi ngelamun dikit!" Teriak ku dari jok belakang.
"Ngelamunin apaan sih? Musuh bebuyutan ya, sampe main cubit-cubitan!" Tebak Erlan.
Aku tersenyum geli. "Yah.. bisa dibilang gitu deh.." sahut ku asal.
Setelah melalui setengah jam di atas moge nya Erlan, kami berdua akhirnya sampai juga di Pantai Pelangi.
Kami masuk melalui pintu belakang yang langsung menuju ke area pantai. Dan di sana sudah tampak sekumpulan rekan kerja ku yang sedang duduk mengelilingi meja panjang di depan sebuah kedai makanan seafood.
Aku dan Erlan langsung saja menghampiri rekan-rekan kami itu.
Saat aku berjalan, ku amati ternyata yang datang ke acara pelesiran kali ini tidak hanya dari staf OB saja. Karena aku juga melihat beberapa kenalan di kantor ku yang bekerja di staf akuntan, pengemasan, dan staf yang lainnya.
"Woi! Akhirnya nyampe juga couple kita yang satu ini. Lengket banget deh kalian! Ke mana-mana berduaa melulu!" Goda Bagas dari ujung meja.
Aku memelototi Bagas lalu membalas ucapan nya.
"Udah ah! Jangan berantem terus. Ini kita lagi pada mau bakar ikan nih. Cung coba yang mau makan cumi?" Sela Theo sambil menghitung vote.
"Memang nya udah datang semua, The?" Aku bertanya sambil menduduki sebuah bangku panjang yang masih kosong.
"Nindi nya mana? Dia belum datang lho!" Ucap ku lagi kala tak ku lihat keberadaan Nindi di tempat itu.
Aku hanya melihat ada sekitar tujuh orang wanita dari staf lain di antara belasan pria campuran dari staf OB juga staf lainnya.
"Gak tahu. Coba aja di bel. Tapi segini juga udah lumayan banyak kok. Kita vote aja dulu lah. Orang yang nanti datang mah biar nyusul belakangan. Salah sendiri kan datang nya telat!" Seloroh Theo asal.
Aku memanyunkan bibir. Lalu langsung meraih ponsel di dalam tas pinggang yang ku bawa. Sebuah pesan singkat ku kirimkan ke nomor Nindi. Setelah lama tak kunjung dibalasnya, aku pun langsung menekan panggilan dial. Sayang nya, nomor Nindi ternyata tak aktif.
'Nindi jadi datang gak ya?' gumam ku dalam hati.
Sayang nya, sepanjang acara makan-makan dan menyanyi yang berlangsung hingga malam itu, Nindi tak jua hadir. Aku sempat merasa kecewa. Karena bagaimana pun juga Nindi lah yang mengajakku untuk datang. Tapi ternyata malah dia nya yang tak datang.
Namun karena keseruan acara malam minggu ini, aku tak terlalu memikirkan ketidakhadiran Nindi. Pikir ku, mungkin ada keperluan lain yang mendadak harus Nindi hadiri.
__ADS_1
Sekitar jam sembilan malam, Bagas mengusulkan permainan truth or dare. Dalam permainan ini, kami akan duduk melingkar mengelilingi sebuah botol. Kemudian, botol ini akan diputar, dan kepada siapa mulut botol mengarah, maka dia harus melewati tantangan truth (mengatakan kebenaran atas sebuah pertanyaan), atau dare (melakukan sebuah aksi berani yang sifat nya acak).
Dari mulanya delapan belas orang yang hadir di pesta ini, saat permainan truth or dare dimulai hanya ada sekitar sembilan orang saja yang masih bertahan.
Beberapa orang memilih untuk membakar ikan di pinggir pantai, beberapa yang lain memilih untuk menikmati angin pantai di kala malam. Beberapa lainnya juga ada yang sudah pulang.
Aku termasuk ke dalam sembilan orang yang mengikuti permainan truth or dare ini. Aku sudah meminta ijin pada Mama untuk pulang malam. Karena nya ku pikir tak ada salah nya mengikuti permainan ini. Batas ku adalah jam sepuluh aku harus pulang.
"Oke. Kita mulai ya!" Bagas lalu memutar botol. Dan kemudian mulut botol pun berhenti dan mengarah pada Theo.
"Hahaha! Kena Lo sekarang The! Lo mau truth or dare?" Tanya Bagas dengan cengiran yang kelewat lebar.
Aku menguap. Merasa mulai mengantuk. Ku angkat kedua kaki ku dan ku peluk. Sengaja aku menyandarkan dagu ku pada lutut. Mencari posisi yang nyaman untuk melepas penat yang mulai menyerang. Sambil menyimak permainan truth or dare yang tengah berlangsung.
"Truth!" Seru Theo dengan suara lantang.
"Oke! Jadi Lo harus jawab jujur pertanyaan gue ya! Hmm.. kapan pertama kali Lo mimpi basah?!" tembak Bagas di kesempatan pertama.
"Ampun deh, Gas! Gak ada pertanyaan lain, apa? Ngeres mulu pikiran Lo!" Komplain Theo.
Aku dan peserta yang lain menertawakan perdebatan duo kompor meledug itu.
"Oke, gue ganti. Kapan pertama kalinya Lo ML?!"
"Sialan! Malah makin parah! Hhh.. gua dare aja deh," Theo mengaku kalah. Membuat Bagas tergelak kesenangan.
"Yah.. payah Lo, The. Tinggal jawab aja apa susahnya sih?"
"Tengsin gua, coy! Ada ayang mbep gue soalnya ini. Lo mau bikin ayang mbep gue marah ya?!" Ucap Theo sambil menarik pundak wanita di samping nya.
Aku tak mengenali kekasih Theo itu. Sepertinya dia bekerja di kantor lain.
"Ceweknya Theo tuh florist lho, La. Heran deh. Cowok blingsatan macam Theo kok bisa ketemu cewek kalem macam Hana ya?" Bisik Arlan cukup dekat ke telinga ku.
Spontan aku menengokkan wajah ku ke samping. Dan aku cukup terkejut saat mendapati wajah Erlan ternyata hanya berjarak belasan senti saja dari wajah ku.
Erlan masih fokus menatap ke depan, di saat aku tanpa sadar mengamati dirinya. Dan ketika ia mulai tersadar kalau aku memperhatikannya, Erlan pun balas memandangi ku dengan tatapan intens miliknya.
Cukup lama kami beradu pandang. Hingga aku yang tadinya mulai merasakan kantuk akhirnya sedikit terkejut kala wajah Erlan mulai mendekati wajah ku.
Dan aku tahu apa yang hendak dilakukan Erlan kemudian.
__ADS_1
***