
Hari Senin mya, aku mulai bekerja menjadi pegawai di sebuah toko perbelanjaan besar di kota B. Pekerjaan ku kali ini hampir sama melelahkannya seperti saat aku masih bekerja sebagai OB.
Aku harus memindahkan dan menempatkan banyak produk di rak nya masing-masing, mengecek dan menyortir produk lama yang sudah expired agar tak lagi berada di rak penjualan, mengepel lantai agar senantiasa bersih, serta beberapa tugas lain yang terkait dengan pelayanan pada para pelanggan yang sedang berbelanja.
Beberapa hari pertama ku bekerja, aku masih melakukan banyak sekali kesalahan. Aku sering berputar-putar di sekitar market untuk mencari rak produk yang sedang kucari. Terkadang aku juga harus melayani beberapa pelanggan yang cerewet saat mendapati adanya produk expired di rak penjualan.
Padahal menurut ku, jika mereka mendapati adanya produk expired kan tinggal dilaporkan saja ke pegawai. Tak perlu lah sampai ribut marah-marah hingga mengundang perhatian banyak pelanggan lain.
Peristiwa menyebalkan seperti ini pernah terjadi pada hari ke dua ku bekerja di supermarket. Beruntung saat itu ada ibu muda nan baik hati yang membela ku. Jadi ketika supervisor ku datang, aku tak sampai menerima hukuman yang berarti.
Ku harap ada banyak pelanggan lain yang bijak seperti ibu muda yang telah menolong ku itu. Sehingga tak mudah marah-marah dan menganggap rendah pegawai supermarket seperti ku.
Bukan kah derajat manusia itu semuanya sama? Hanya tingkat ketakwaan nya saja yang membedakan manusia yang satu dan manusia lainnya di mata Tuhan. Seingat ku sih, begitu kata Nunik, dulu.
Jika segala permasalahan bisa dibincangkan dengan kepala dingin, bukankah kedamaian pula yang akan bisa didapatkan? Jadi heran dengan pelanggan yang suka marah-marah saat mengajukan komplainan mereka. Padahal kan itu tak sepenuhnya salah pegawai juga kan?
Lagipula, adakalanya setiap orang melakukan kekhilafan. Memangnya mereka yang senang marah-marah dan mengoreksi kesalahan orang lain itu, tak pernah melakukan keaalahan apa?!
Bukankah akan lebih baik jika kita mengoreksi kesalahan diri sendiri, dibanding sibuk mengkritisi kesalahan orang lain?
Memang, menegur itu diperbolehkan. Tapi bukankah menegur/menasihati juga ada adab nya tersendiri? Tidak menyakiti hati, dan tidak membuat malu orang yang akan dinasihati?
Berarti mereka yang mengutamakan amarah saat berinteraksi dengan orang lain itu bisa dikatakan adalah orang yang kurang beradab. Karena jika memang mereka beradab, tentu lah mereka tak akan semena-mena marah ke mana-mana.
Eh, kok malah melantur dan bikin esay gini ya?
Oke. Lanjut lagi ke kegiatan ku kini. Sekitar hari Jumat lalu, sebelum aku mulai bekerja di supermarket, Erlan mulai kembali berkunjung ke rumah ku.
Hari Minggu nya pun aku berkunjung ke rumah nya. Katanya Mama Ilmaya sedang sakit.
Saat aku datang menjenguknya, Mama Ilmaya memang sedang terbaring di atas spring bed nya. Menurut dokter, Mama hanya letih saja dari kegiatan bolak-baliknya sebagai anggota perkumpulan para Nyonya sosialita di kota Y.
Sementara itu aku memiliki dugaan tersendiri perihal penyebab Mama Ilmaya bisa sampai sakit. Karena secara tak sengaja saat aku pulang sore harinya, samar-samar aku mendengar tawa kikikan di atas pohon pepaya yang tumbuh di belakang rumah nya Erlan.
Terlebih lagi bulu kuduk ku merinding tiba-tiba saat kudengar suara itu. Erlan yang berjalan di samping ku, anehnya seperti tak mendengar suara kikikan itu. Membuat ku jadi sebal dan iri saja padanya.
"Kamu benar, Lan, gak dengar suara ketawa di pohon pepaya itu?" Tanya ku untuk ke sekian kalinya, di perjalanan pulang kami menaiki mobil Pajero nya.
"Enggak. Kamu salah dengar kali, Sayang. Aku gak mendengar suara apa-apa kok!" Tutur Erlan dengan pandangan mata yang terlihat biasa.
"Iishhkk.. berarti mata batin kamu tertutup kali ya? Masih mampet gitu.." aku sibuk menerka-nerka.
__ADS_1
"Apaan sih, La? Jangan ngomong yang aneh-aneh ah! Heran deh. Kamu tuh sangar banget kalau ngadepin orang-orang. Tapi masa iya ngadepin yang gak kelihatan kamu malah takut sih, La?" Ledek Erlan kepada ku.
Aku mendengus kesal.
"Justru itu lah, Lan! Lebih sulit menghadapi musuh dalam selimut, daripada menghadapi musuh yang terlihat jelas!" Aku masih membela argumen ku.
"Berarti maksud kamu, setan itu musuh dalam selimut gitu?" Tanya Erlan sambil tersenyum-senyum.
Menyadari kalau ucapannya barusan itu ditujukan untuk meledek ku kembali, aku pun kian kesal jadi nya. Tanpa tedeng aling-aling, ku cubit saja lengan kiri Erlan yang sedang menyetir.
"Aduh! Sakit La.. kamu suka banget sih nyubitin aku! Memangnya aku kue apa?"
"Kok kue sih?" Tanya ku menatap Erlan bingung.
"Iya. Kue cubit. Hehehe.."
Aku mendengus. Tak menganggap candaan kekasih ku itu lucu.
Setelah beberapa lama, aku kembali bicara.
"Coba deh, Lan. Itu pohon pepaya lebih baik ditebang aja. Daripada jadi sarang nya si kunti.."
Zzt.. hawa dingin itu kembali muncul secara tiba-tiba.
'A'udzubillahiminasy syaithoonirrojim..a'udzubillaahi minasysyaithoonir rojiim..' komat-kamit ku sendirian dalam hati.
Tapi Erlan tak menyadari apa yang kurasakan kini. Ia malah melanjutkan percakapan kami perihal pohon pepaya yang jadi sarangnya si kunti.
"Apaan sih, La? Kenapa tiba-tiba kamu ngomongin soal menebang pohon pepaya, sih?" Tanya Erlan kemudian.
Aku yang sedang menahan gempuran hawa ghaib, hanya mampu mendelik kesal kepada Erlan. Iri benar dengan ekspresi normal yang ditunjukkan oleh kekasih ku itu. Terlihat sekali kalau hanya aku yang merasakan suasana tak wajar di dalam mobil saat ini.
Dengan sekuat tenaga, aku pun mencoba menjelaskan maksud pernyataan ku tadi.
"Aku pernah baca artikel di google. Ada beberapa pohon yang menjadi tempat nongkrong nya beberapa jenis setan. Seperti misalnya pohon pisang yang dihinggapi si poci."
"Poci? Apaan tuh?" Tanya Erlan memotong ucapan ku.
"Pocong! Atau pohon sawo yang disukain si uwo."
"Uwo? Tarzan kah auwoo?" Terka Erlan asal-asalan sambil bergaya ala tarzan.
__ADS_1
Aku gemas sekali dengan candaan nya itu. Ku cubit saja lagi pinggang nya itu pelan.
"Aduh! Iya. Iya. Maaf ndoro putri.. lanjut deh.. lanjut.." ucap Erlan mempersilahkan.
"Itu tuh genderuwo, Lan. Masa iya harus aku jelasin banget sih namanya?! Gimana coba kalau setan-setannya merasa terpanggil dan datang ikut menumpang ke mobil kamu, hah?!" Aku mengancam Erlan. Meski aku pun yakin, jika salah satu setan memang sedang mengikuti kami. Terbukti dari hawa dingin yang tak wajar dan masih ku rasakan hingga kini.
"Iya, Sayang.. maaf. Maaf. Lanjut deh. Nanti aku diam aja, deh, ya."
"Ada juga pohon asem yang disukai semua jenis setan. Dan juga pohon pepaya, yang umumnya disukai sama si kunti," tutur ku menjelaskan.
"Heran. Kamu tuh kelihatannya rasionalis banget gitu, La. Gak nyangka juga kalau kamu ngerti sama hal-hal mistis gini!" Seloroh Erlan kemudian.
"Aku gak ngerti banyak. Cuma tahu sedikit aja, Lan. Udah, ah. Aku mau wiridan dulu. Hawa nya udah gak enak nih di dalam mobil!" Dumel ku sebelum akhirnya berdzikir di dalam hati.
Dan Erlan tak lagi mengusikku hingga akhir perjalanan kami.
Aku pun kali ini mengingat sampai akhir bacaan ayat kursi. Tak seperti biasanya yang sering lupa karena saking takutnya.
Secara perlahan, hawa dingin itu menghilang. Dan aku tak lagi merasakan beban di bagian tengkuk ku seperti sebelum-sebelumnya.
Hingga kemudian mobil Erlan pun tiba juga di depan gang yang menuju rumah ku tepat saat adzan maghrib berkumandang. Erlan ikut turun dan mengantarkan ku sampai depan kontrakan, lalu melipir ke jalan gang sebelah kanan.
"Lan, mau ke mana?" Tanya ku bingung.
"Mau shalat dulu lah, La. Udah adzan maghrib kan ini?" Sahut nya singkat dengan ekspresi aneh.
"Tumben!" Aku kembali berkomentar. Dan Erlan pun kembali menghentikan langkah nya untuk menjawab komentar ku tadi.
"Gara-gara kamu nih, La. Ngebahas soal setan. Aku tiba-tiba aja ngerasa aneh lagi. Rasanya pundak ku berat gitu. Kayak waktu kemarin aku tiba-tiba sakit sepulangnya kita nge date pertama kali.."ucap Erlan sebelum akhirnya berbalik pergi.
Mendengar kalimat Erlan itu, seketika aku pun merinding.
Dan aku tak lagi berkomentar saat kulihat Erlan melangkah gontai menuju masjid yang tampak jelas kubah nya dari tempat ku berpijak.
"Kasihan banget sih, Erlan. Eh, tapi ada bagusnya juga sih. Dia kan jadi menyegerakan shalat ya sekarang. Biasanya dia kan bablas aja pulang ke rumah. Gak tahu shalat atau enggak."
Kemudian aku ikut bergegas masuk ke dalam rumah. Setelah sebelumnya mengucapkan salam. Dengan basmalah dalam hati, ku tutup pintu rumah ku rapat-rapat. Seperti yang telah dianjurkan oleh Nunik untuk mencegah setan ikut masuk ke dalam rumah di kala malam mulai menjelang. Yaitu dengan senantiasa mengucapkan basmallah. Sebagai perlindungan terbaik dari setiap keburukan makhluk ciptaan-Nya. Aamiin.
"Hmm.. apa benar ya kata Nunik. Jangan-jangan setan yang lagi ngikutin Erlan nih setan yang baik ya? Soalnya setannya bikin Erlan dan aku jadi shalat tepat waktu dan mengingat Allah! ah! tauk ah!" Gumam ku seraya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian berwudhu.
'Allaahu Akbar. Allaahu Akbar! Laaa ilaaaha illallaah...'
__ADS_1
Dan perlahan, sayup-sayup suara adzan pun sampai juga pada bait terakhirnya di kejauhan.
***