
Begitu sampai di rumah, aku berempat bersama Erlan, Nunik dan juga Aryo langsung mengajak Mama berbincang di ruang tamu.
Mulanya Mama sangat terkejut dengan berita lamaran yang sangat mendadak ini. Mama bahkan berkali-kali menanyakan kesiapan ku untuk menikah.
Setelah aku menjawab pertanyaan Mama dengan jawaban yang sama berkali-kali pula, baru lah Mama akhirnya percaya dengan kesungguhan hubungan ku dan juga Erlan.
Mama langsung menghamburkan diri nya untuk memeluk ku.
"Mama bahagia, Nak. Akhirnya doa mama dikabulkan juga oleh Allah. Semoga pernikahan kalian nanti nya akan jadi pernikahan yang penuh barokah hingga kalian menua dan hingga akhir hayat kalian berdua."
"Aamiin.. " koor semua orang yang mendengar doa Mama.
Selanjutnya, kami pun membahas soal lamaran resmi yang insya Allah akan dilaksanakan pada dua pekan berikutnya.
Nunik sih ingin acara lamarannya dilangsungkan pekan depan saja. Namun aku dan Erlan sepakat untuk menundanya jadi dua minggu lagi. Karena pekan depan adalah hari pernikahannya Arline.
Malam ini juga Erlan akan langsung memberi kabar pada keluarga nya terkait kabar baik ini. Dan setelah membahas segalanya pemuda itu pun berpamitan untuk pulang.
***
"Asli, La. Aku masih merasa kayak lagi mimpi deh. Gak sia-sia juga aku minta bantuan anak-anak Langit untuk acara lamaran tadi siang," ucap Erlan di depan teras rumah ku sebelum ia pulang.
Nindi dan Aryo telah lebih dulu pulang sedari tadi. Mama sedang menonton tv di ruang tengah. Kini aku dan Erlan berada di depan teras rumah ku.
Aku bermaksud untuk mengantarkan Erlan sampai teras saja. Tapi sudah lima menit berlalu, namun Erlan masih juga tak segera hengkang dari rumah ku. Pemuda itu berulang kali berbalik dan menatap ku dengan cengiran yang kelewat lebar di wajah nya.
"Anak-anak Langit? Maksud mu anak-anak yang tadi, Lan?"
"Iya. Anak-anak Langit itu bisa dibilang anak-anak asuh ku sewaktu aku hidup berkelana sendirian sekitar satu tahun yang lalu. Mereka adalah anak-anak jalanan yang semuanya udah putus sekolah."
"Bersama beberapa teman masa SMA ku dulu, kami membentuk komunitas anak jalanan yang bernama Anak-anak Langit. Di mana komunitas ini berupaya untuk memberikan fasilitas pendidikan gratis bagi anak-anak jalanan dan juga beberapa program lain yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan hidup mereka nanti nya," tutur Erlan panjang lebar.
"Wahh.. serius kamu, Lan, ikut komunitas kemanusiaan yang kayak gitu tuh?" Tanya ku takjub.
"Iya, La. Siapa lagi kalau bukan kita-kita ini yang mampu untuk memberikan lebih pada mereka-mereka yang kurang mampu. Bukankah ada hadits nabi saw. Yang mengatakan, 'barang siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi,'" ucap Erlan dengan ekspresi serius.
Aku hampir saja terpana dengan kesolehan mendadak yang ditunjukkan oleh calon ku itu. Jika saja aku tak mendengar ucapan Erlan yang berikut nya.
"Jadi kamu harus sayang sama aku, ya, La. Biar kamu juga bisa disayang semua!" Ucap Erlan menyimpulkan.
"Woo! Bisa aja nyangkut-nyangkutin hadits buat kepentingan sendiri! Udah sana balik. Dari tadi katanya mau pulang, tapi gak pulang-pulang. Aku udah ngantuk nih, Lan. Mau boca-cici."
"Apaan tuh boca baci?"
"Boca-cici! Bukan nya boca baci, Lan-Lan!" Koreksi ku pada Erlan.
__ADS_1
"Iya. Itu dia. Apa an tuh boca caci?" Tanya Erlan masih dengan kosa kata yang salah.
"Bo-ca-ci-ci. Bobo cantik ciang ciang. Hihihi!"
"..."
"Hahahaha!" Aku masih terkikik tawa. Apalagi saat kulihat ekspresi melongo nya wajah Erlan. Dia memang sungguh menggemaskan!
"Ya sudah. Aku pulang dulu deh ya. Eh, gak dapet sun nih cerita nya? Hadiah buat ku gitu, La.. masa aku aja yang ngasih hadiah ke kamu," rajuk Erlan.
"Boleh-boleh. Tapi aku tanya ke Aryo dulu ya, Lan? Sebentar!"
Dan aku berpura-pura hendak pergi ke arah rumah nya Nunik. Namun buru-buru Erlan menahan lengan ku.
"Aduh La! Jangan tanya ke pak Hakim dong. Udah cukup seharian ini aku kena kartu kuning. Ya sudah deh. Gak usah ada hadiah-hadiahan. Kamu nerima lamaran ku aja udah jadi hadiah terbesar ku kok."
Dan hati ku pun berbunga-bunga kala mendengar ucapan Erlan itu. Ku tatap lekat wajah Erlan yang bersahaja, dan aku merasakan kedamaian dalam hati ku. Kedamaian yang tak pernah kurasakan saat aku bersama dengan Kiyano, dulu.
Akhirnya aku pun menyadari, bahwa entah sejak kapan, aku mulai menaruh hati pada pemuda di depan ku ini.
"Tunggu sebentar, Lan!" Tanpa sadar aku merogoh saku celana ku.
Begitu kurasakan sebuah benda dalam genggaman tangan ku, aku langsung mengulurkannya kepada Erlan.
"Ini. Hadiah buat kamu!" Ucap ku dengan senyuman setengah jahil.
"Ini.. gantungan kunci?" Tanya Erlan menatap ku.
"Iya. Bagus kan?"
Erlan lalu mengamati gantungan beruang berukuran sangat kecil yang terbuat dari bahan plastik keras.
"Ini mini banget, La," Erlan berkomentar.
"Gak mau? Kalau gak mau ya udah sini balikin!"
"Ehh, gak kok. Aku mau. Sensi banget sih kamu, La."
Erlan masih mengamati gantungan kunci berwarna pink yang besarnya tak lebih besar dari ukuran jempol tangannya itu.
"Kamu sengaja beliin ini buat aku La?" Tanya Erlan dengan pandangan yang tak terbaca.
"Enggak. Aku gak beli kok," ungkap ku jujur.
"Terus?"
__ADS_1
Dengan menyengir lebar, aku pun mengatakan sumber gantungan kunci itu berasal.
"Aku dapat hadiah itu, dari beli ciki Komo yang seribuan. Lumayan kan?"
"..?!!"
Dan Erlan lagi-lagi ternganga. Sementara aku terbahak-bahak tertawa.
"Tega banget deh kamu, La. Masa iya hadiah buat ku tuh bonusan dari ciki yang harga nya cuma seribu sih!" Protes Erlan dengan wajah merengut. Hihihi.
"Lha kan yang penting itu hadiah. Besar kecil nya hadiah jangan dinilai dong, Lan. Yang penting tuh niat dan siapa yang ngasih nya. Memang nya pemberian dari ku tuh gak cukup pantas ya buat mu,wahai pangeran kodok, eh, pangeran ku? Hihihi!"
Aku kembali terkikik geli. Senang benar rasanya hati ini karena bisa mengerjai Erlan ku tersayang. Hahaha.
'Ehh?? Barusan aku panggil dia tersayang? Ya ampun La.. ternyata kamu diam-diam udah bucin juga sama si cabe ijo ini.. sejak kapan ya benih-benih si cabe ijo mulai tumbuh di hati ku?' aku sibuk bermonolog dalam hati.
"La? Laila? Ya elah.. dia malah ngelamun!"
Aku tersadar dari lamunan singkat ku, ketika Erlan menjawil pucuk hidung ku.
"Jangan ngelamun dong La. Baru juga acara lamaran. Belum nantiin acara nikahan. Yang sabar ya, Sayang. Atau kamu mau kita nikah duluan sama Pak Ustadz baru resepsi, gimana?" Saran Erlan dengan binar mata yang berseri-seri.
Dan aku menangkap kilau ketengilan di wajah calon suami ku itu.
"Itu sih mau nya kamu! Udah sesuai kesepakatan tadi aja. Aku selalu nurut sama kata Mama ku. Justru kamu yang harus belajar sabar ya, Lan Sayang.. jangan sering ngompol mimpiin aku.. hihihi.."
"Adeudeuh.. peuting babogoan (malam pacaran).. ari beurang tengange iyeu geh keneh bae babogoan (sampai tengah-tengah siang begini juga masih pacaran).. "
Aku dan Erlan sontak saja langsung menengok ke sisi lain teras ku. Di mana ternyata telah berdiri Ceu Edah dalam daster kenegaraaan nya yang bermotif bunga warna-warni.
Melihat tetangga ku itu, Erlan langsung mengucapkan kalimat pamitan nya untuk yang terakhir kali.
"Kalau gitu, aku pulang sekarang deh ya, La. Mau boga cici juga nih!"
"Huh?" Aku memandang heran pada kalimat terakhirnya Erlan.
Erlan lalu memberikan penjelasan dengan suara sangat pelan.
"Bobo ganteng ciang-ciang, La.."
"?! Hihihi," aku kembali terkikik geli menahan tawa.
Erlan lalu langsung berlalu pergi setelah memberikan senyuman singkat pada Ceu Edah. Dan aku yang tak mau menjadi komplotan penggosip bersama dengan Ceu Edah pun juga buru-buru pamit ke dalam rumah dengan alasan hendak shalat zuhur.
Saat aku menutup pintu, aku sempat mendengar gumaman Ceu Edah yang sungguh terdengar lucu bagi ku.
__ADS_1
"Kunaon eta teh barudak (kenapa itu anak-anak)? Kos mantas nempo jurig bae (seperti baru melihat setan saja). Pada kararabur kitu ( pada kabur semua).." gumam Ceu Edah di luar rumah.
***