
Setelah memarkirkan mobil, aku dan Erlan langsung saja berjalan kaki menuju gerai yang ada di pasar malam.
Benar kata Erlan, pasar malam di gang yang dekat dengan perempatan Bundaran ini memang sungguh ramai. Ya ramai oleh pengunjung, mau pun oleh para pedagang yang membuka lapak dagang nya di setiap sisi kiri dan kanan jalanan.
Bahkan, gang yang tadinya masih cukup untuk dilewati oleh dua mobil, kini jadi hanya bisa dilewati oleh satu mobil ukuran kecil saja. Karena keberadaan lapak pedagang yang hampir memenuhi sepanjang tepi jalanan.
Erlan memegang tangan ku erat-erat.
"Biar kamu gak nyasar, Yang!" Ucap nya meledek ku.
"Kamu kali yang takut nyasar! Gelap mata karena ngelihatin banyak cewek muda berkeliaran di depan mata!" Aku balas meledek nya.
"Ya ampun, Yang. Mata ku mah udah penuh ngelihatin kamu, kamu, dan kamu...terus. Gak sempat deh aku lihatin cewek-cewek di luaran sini!" Sahut Erlan dengan volume suara yang terbilang sedang.
Beberapa pengunjung yang berjalan di dekat kami langsung saja menoleh ke arah ku dan juga Erlan. Mungkin mereka masih bisa mendengar ucapan Erlan tadi. Maka aku langsung menarik Erlan untuk menggegaskan langkah kami.
'benar-benar memalukan!' umpat ku dalam hati.
Di pasar malam ini kami menikmati banyak jajanan pasar. Seperti misalnya kebab, sosis bakar, siomay, sate kulit, es roti, bahkan juga bajigur. Perut ku sudah sangat penuh saat Erlan kembali menawari ku untuk membeli jagung bakar.
"Kamu belum kenyang juga, Yang?" Tanya ku keheranan.
"Belum lah. Tadi itu kan cuma nyemil aja, Yang. Kita belum nyobain soto Lamongan di depan situ tuh. Kayaknya enak," ujar Erlan seraya menunjuk ke sebuah kedai kecil.
"Tahu dari mana enak?" Tanya ku sangsi.
"Lha itu? Kan banyak pembeli nya. Berarti sudah pasti enak dong!" Erlan menjawab dengan begitu yakin nya.
Meski begitu, aku dan Erlan tetap melangkahkan kaki kami juga ke dekat kedai makan yang hampir dipenuhi oleh orang yang sedang makan itu.
"Idih! Bisa aja kan mereka juga baru nyobain sekali ini kayak kita. Jangan menilai sesuatu berdasarkan apa kata orang, lah, Yang. Nilailah dengan pendapat kita sendiri!" Gantian aku yang menjadi sok bijak.
"Iya deh iya.. udah. Masuk ke dalam aja yuk, Yang. Mulut ku udah ngiler banget nih!" Ujar Erlan sambil menarik ku masuk ke dalam kedai.
Aku menggelengkan kepala berkali-kali. Sungguh tak mengira jika aku akan memiliki suami yang ternyata seorang foodie.
Usai mengisi penuh perut, Erlan kembali mengajak ku mengitari area pasar malam. Ternyata pasar malam ini cakupan area nya cukup luas. Karena sudah sejak setengah jam kami berjalan kaki, aku tak jua menemukan ujung dari keramaian ini.
Dari melewati sebuah gang, kami lalu melipir juga ke sebuah lapangan luas yang juga ramai dengan para pengunjung. Selain makanan, di area lapangan ini juga terdapat beberapa wahana jadul.
Seperti rumah hantu, permainan menangkap ikan dengan jaring yang terbuat dari kertas, dan masih banyak lagi yang lainnya.
__ADS_1
Ada satu permainan yang paling menarik hati ku untuk menaikinya. Dan itu adalah wahana bianglala. Namun...
"Kamu pingin naik bianglala, Yang?" Tanya Erlan tiba-tiba.
"Huh? Mm.. enggak ah. Kita kan udah tua, Yang. Malu!" Aku buru-buru menarik tangan Erlan agar menjauh dari tempat itu. Namun Erlan malah menahan tangan ku dan justru menarik nya ke tempat membeli tiket wahana bianglala.
"Yang, gak usah.. malu ah!"
"Gak apa-apa. Tuh, lihat! Ada juga kok bapak-bapak yang naik bianglala," unjuk Erlan ke seorang bapak-bapak yang memang hendak menaiki wahana komedi putar itu.
"Tapi dia kan naik juga karena untuk menemani anak nya yang masih kecil, Yang!" Unjuk ku balik ke anak kecil yang dituntun oleh si bapak tadi.
"Ah.. sama aja. Yaudah. Anggap aja kamu masih kecil yang diajak main kakak nya. Nih, aku jadi kakak mu yang baik deh untuk seharian ini. Ayo dek, kita naik!" Seru Erlan dengan berpura-pura menjadi kakak ku.
"Hahaha.. gila kamu, ah! Aku gak mau jadi anak kecil nya! Justru kayaknya kamu deh yang lebih mirip kayak bocah, Yang!" Aku meledek Erlan.
"Oo.. berarti kamu Tante ku gitu ya? Tarang..?"
"Apaan tuh Tarang?" Tanya ku tak paham.
"Tante girang!" Seloroh Erlan sambil tertawa lepas.
"Haishh! Dasar! Kamu tuh Karang!"
Saat menyadari apa itu karang, wajah Erlan langsung cemberut bertekuk-tekuk, macam burung perkutut. Gantian aku yang menyengir lebar kini.
"Ayo Karang.. kita naik bianglala deh yuk sekarang!" Ajak ku kepada Erlan.
Aku tak henti-henti nya tersenyum lebar. Sementara Erlan masih juga cemberut karena kugelari Karang. Kakek Girang. Hihihi.
Pada akhirnya kami menaiki juga wahana bianglala tersebut.
Saat sudah berada dalam salah satu gerbong di bianglala ini, ingatan ku pun langsung melayang ke masa kecil ku dulu.
Aku ingat dulu sekali, saat keluarga ku masih lengkap bertiga bersama Papa, kami sering mengunjungi pasar malam. Dan wahana yang selalu kami naiki secara bersama-sama adalah wahana bianglala.
"Yang?" Ku dengar suara Erlan memanggil ku.
"Kamu menangis?" Tanya nya lagi.
Aku terkejut. Dan langsung mengusap pipi ku yang memang telah basah entah sejak kapan.
__ADS_1
Erlan langsung saja menarik ku ke dalam pelukannya. Lalu mengusap punggung ku berulang-ulang.
"Aku gak apa-apa. Maaf ya. Tadi tuh aku keingetan masa kecil ku dulu. Sewaktu aku masih tinggal sama Papa dan juga Mama. Kami sering banget naik bianglala ini bertiga. Dan Papa juga selalu beliin aku permen kapas," tutur ku mengawali cerita.
"Dulu, aku suka banget sama yang manis-manis. Dan Papa juga sering banget bawain cokelat, cake atau permen sepulang ia dari tempat kerja nya setiap hari. Tapi.. sejak perpisahan Papa dan Mama, enggak tahu kenapa aku jadi gak suka lagi makan yang manis-manis. Bikin perut ku mual jadi nya. Aneh ya?"
Erlan tak menyahut. Ia masih terus mengusap punggung ku berkali-kali, secara perlahan.
"Mulai SMP, aku baru deh suka sama yang pedas-pedas. Siomay, cilok, gorengan, bakso, pokoknya semuanya dibikin pedas ya aku nafsu deh makannya. Walaupun sebenarnya aku jarang bisa jajan juga sih. Karena kondisi keuangan Mama saat itu kan memang lagi susah ya.." lanjut ku bercerita.
"Hh.. waktu tadi lihat bianglala ini, gak tahu kenapa aku jadi pingin naik lagi gitu, Yang. Kupikir, aku bakal merasakan perasaan senang seperti yang dulu pernah kurasakan waktu aku masih kecil. Tapi.. ternyata aku malah jadi sedih gini ya..?"
Setelah beberapa lama, Erlan akhirnya gantian berkata juga.
"Kupikir, kamu mungkin sedih karena kamu berharap bisa menaikinya bersama dengan orang-orang yang dulu pernah bareng naik ini sama si kecil kamu, Yang. Jauh di lubuk hati mu, kamu merindukan Papa mu. Kamu sebenarnya ingin menjalin hubungan yang normal lagi bersama Papa dan Mama mu. Begitu sih menurut ku," Erlan berpendapat.
"Begitu kah?" Tanya ku sangsi.
"U..huh. Coba deh, kapan-kapan kamu temuin Papa Ulum. Terus, kamu ajak ngobrol Papa Ulum baik-baik. Dari hati ke hati. Kayak ngobrol nya cewek-cewek aja gitu, Yang," saran Erlan.
"Memangnya kamu tahu, obrolan cewek tuh kayak gimana?" Tanya ku meledek Erlan.
"Ya begitu. Ngebombay dikit gak apa-apa lah. Yang penting kamu dan Papa bisa saling terbuka dan jujur ke satu sama lain. Menurut ku, Yang, dengan memaafkan Papa mu seutuh nya, kamu juga sudah membuat duri benci yang selama ini merusak hati mu tuh bakal hilang," ujar Erlan.
"... Gak ngerti aku, Yang kamu ngomongin barusan itu apa. Kenapa segala duri kamu omongin sih? Kita kan gak lagi main di semak perdu!" Ucap ku acuh.
Erlan memberiku tatapan menyerah.
"Kamu tuh ya.. iishhhkk.. aku udah capek-capek jadi sok bijak begini, tapi ujung-ujung nya malah dibikin ambyar sama lambe mu yang suka ngasal itu! Yang.. Yang.."
"Ihihi.. ya Memang bahasa mu itu njelimet kok! Kalau ngomong tuh ya pakai bahasa bumi lah, Yang! Jangan ngomong pake bahasa planet asal mu!" Aku menegur sambil mengajak suami ku itu untuk bercanda lagi.
"Tauk ah! Tuh. Udah berhenti. Ayo turun! Lama-lama aku bisa ketularan gila nya kamu nih, nanti!" Gerutu Erlan sambil menuntun tangan ku keluar dari gerbong bianglala kami.
"Dasar pemarah! Kamu tuh--"
Ucapan ku terhenti begitu saja begitu netra ku menangkap citra seorang lelaki yang begitu amat kukenal baik.
"Kamu kenapa, Yang?" Tanya Erlan kepada ku.
Ia lalu mengikuti arah pandang ku dan sesaat kemudian, kurasakan genggaman jemari nya Erlan mengetat di pergelangan tangan ku.
__ADS_1
Nampak nya Erlan pun melihat siapa lelaki yang berdiri tak jauh dari tempat kami berdiri saat ini.
***