
Aku mengajak pulang Erlan sekitar jam sepuluh. Entah kenapa, sedari menuntaskan tantangan dare yang diberikan oleh Theo, Erlan jadi lebih pendiam. Erlan tak lagi mengajakku berbincang sepanjang jalan pulang.
Mula nya ku pikir Erlan mungkin mengantuk. Namun apa yang terjadi kemudian, menyanggah asumsi ku itu.
Sesampainya moge Erlan mengantarkan ku hingga ke depan gang, Erlan tiba-tiba saja menahan langkah ku dengan ucapan nya.
"La.. boleh aku minta waktu mu sebentar lagi?"
Saat ini, kami berdiri di tepi jalan besar depan gang yang menuju kontrakan ku. Suasana malam itu masih cukup ramai dengan beberapa kendaraan yang sesekali melintas di jalan raya.
Malam ini langit pun cukup cerah, sehingga menampakkan beberapa bintang yang bertebaran dengan pola-pola abadi nya. Sementara rembulan bersinar pucat dengan bentuk nya yang tak lagi utuh.
Di bawah penerangan lampu jalan yang redup, ku amati wajah Erlan penuh dengan keseriusan. Aku tak pernah melihat wajah Erlan seserius saat ini. Sehingga aku pun cukup gugup dengan apa yang hendak disampaikan oleh pemuda itu.
"Kenapa, Lan?" Tanya ku kemudian.
"Aku.." selama beberapa detik, Erlan memberi jeda pada kalimat nya.
"Aku cinta sama kamu, La. Mau kah kamu menerima cinta ku ini?" Tembak Erlan tiba-tiba.
Ba dump.
Jantung ku tiba-tiba jadi lebih cepat berpacu.
Ternyata feeling ku soal perasaan Erlan terhadap ku benar adanya. Pemuda itu memang menyukai ku, entah sejak kapan lama nya.
"Kamu.." susah payah aku menelan ludah untuk membasahi tenggorokan ku yang tiba-tiba terasa kering.
"Kamu serius, sama ucapan mu itu, Lan?" Aku bertanya untuk memastikan.
"Aku gak pernah lebih serius dari pada sekarang ini, La. Aku memang cinta sama kamu," ucap Erlan dengan pandangan utuh menatap ku intens.
Merasa tak mampu menatap Erlan lebih lama, aku pun menunduk.
Dalam hati aku merasa bimbang.
'Apa aku juga menyukai Erlan? Dia memang pemuda yang baik. Lumayan ganteng dan aku juga nyaman kalau bersama nya. Tapi.. apa aku mau melanjutkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius? Apa aku sudah siap untuk berpacaran? Atau menikah?' benak ku sibuk oleh suara dengungan hati ku sendiri.
Setelah agak lama aku tak kunjung menyahut jua, Erlan akhirnya kembali bicara.
__ADS_1
"Kamu gak harus jawab pertanyaan ku sekaramg juga, La. Aku cuma mau kamu tahu. Kalau aku tuh udah sayang banget sama kamu. Bisa dibilang, i'm falling in love with you at first sight (aku jatuh cinta pada mu pada pandangan pertama).."
Aku tertegun mendengar pengakuan Erlan itu. Ku tatap wajah Erlan yang kini menatap ku sendu. Tahu lah kini akhirnya aku, arti dari tatapan sendu yang sering ku dapati ditujukan oleh nya kepada ku. Dan hanya kepada ku.
'Ternyata dia telah menyukai ku sejak pertama kami bertemu. Bagaimana bisa?' aku bertanya-tanya.
"Bagaimana bisa, Lan? Memangnya cinta seperti itu bisa terjadi?" Aku bertanya pada akhirnya. Merasa tak bisa menahan diri dari rasa penasaran ku perihal cinta yang dirasakan nya.
Erlan tersenyum hangat kepada ku. Membuat jantung ku sedikit berdentum-dentum saat menatap nya langsung.
"Aku juga gak tahu dari mana rasa cinta ini muncul, La. Yang aku sadari adalah, tahu-tahu kamu hadir dan membuat ku jatuh hati sama semua senyum, sikap, dan tingkah mu yang sering kali di luar nalar ku. Tahu-tahu aku udah jatuh terjerembab di kubangan cinta yang ada di dekat mu. Aku cinta kamu, Laila.. semudah itu saja aku mencintai mu," papar Erlan panjang lebar.
Aku tertegun dan langsung menundukkan pandangan. Tak tahu harus berkata atau bersikap apa di depan Erlan. Sampai kemudian Erlan meraih jemari tangan ku dan meremas nya lembut. Baru lah aku kembali mengangkat pandangan ku kembali pada nya.
Erlan lalu mengangkat tangan ku dan mencium nya lembut. Ku rasakan cinta Erlan itu begitu nyata di depan mata ini. Hingga mulai menelusup masuk ke seisi relung hati.
"Kamu gak harus jawab sekarang, La," ucap Erlan lagi.
Kembali ku tatap wajah Erlan yang cenderung lebih ke oriental. Ku amati kesungguhan rasa cinta nya kepada ku lewat kedua bola mata nya yang sipit itu.
Setelah berpikir sejenak, aku akhirnya angkat bicara.
Aku menyadari pegangan tangan Erlan yang mengerat do tangan ku. Tapi Erlan hanya diam saja. Karena nya aku pun kembali lanjut bicara.
"Kamu adalah lelaki yang paling baik yang pernah ku kenal, Lan. Dan aku menilai tinggi kepribadian mu yang sangat baik itu."
"Tapi sayang nya," sejenak aku menghela napas dalam-dalam.
"Sayangnya, aku belum siap untuk membangun komitmen dengan lelaki, Lan. Bahkan meski itu hanya sekedar berpacaran. Aku belum siap. Maaf."
Selesai sudah bom yang kulemparkan untuk Erlan. Sebenarnya aku tak tega untuk mengatakan perasaan ku yang sesungguh nya. Mulanya tadi aku akan memberikan Erlan jawaban yang sama seperti yang pernah ku ucapkan jua kepada lelaki-lelaki lainnya.
Namun, entah kenapa aku tak sanggup untuk mengerjai pemuda itu. Mungkin karena ketulusan yang kurasakan darinya lah yang membuat ku tak ingin memberikan Erlan harapan palsu lagi.
Biar lah Erlan mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Sehingga ia bisa segera move on dari rasa cinta nya terhadap ku.
Erlan menunduk sebentar, lalu kembali mengangkat wajah nya dan menatap lurus kepada ku.
"Tak bisa kah kamu mempertimbangkannya, La?" Erlan kembali menawar.
__ADS_1
Dan aku menunduk sedih sambil menggeleng pelan.
"Buat ku, soal hati tak ada kata pertimbangan, Lan. Jika memang suka ya suka. Jika tidak ya tidak. Maaf ya, Lan," ucap ku menyesal karena harus melukai perasaan Erlan.
Jika bisa, aku ingin sekali membalas perasaan Erlan terhadap ku. Tapi aku jelas tahu kalau aku hanya menganggapnya seperti seorang kakak bagi ku. Jadi jelas aku tak akan bisa membalas perasaan pemuda itu kepada ku.
Biarlah kami merasakan sakit saat ini. Dibanding jika kami harus memaksakan perasaan kami dan menyesal kelak di kemudian hari.
Karena cinta bukan lah sesuatu yang bisa dipaksakan. Ia ada karena ia menginginkannya. Dan cinta pun tiada karena cinta itu sendiri yang menginginkannya.
Yang bisa kita lakukan terhadap perasaan cinta adalah menerima dan menyerahkan segalanya pada Sang Maha Cinta.
Erlan kembali menunduk lesu. Membuat ku ikut merasakan jerih atas penolakan yang ku berikan kepada nya.
Kemudian, ku dengar Erlan menghela napas dalam-dalam. Sebelum akhirnya ia lanjut bicara.
"Kalau begitu, baiklah. Aku akan menerima nya, La. Tapi, boleh kah aku meminta sesuatu padamu?" Pinta Erlan kemudian.
"Apa, Lan?"
"Boleh kah aku memeluk kamu sekali ini saja? Anggap saja ini hadiah penolakan dari mu, La?" Erlan memberiku senyuman pedih. Membuat ku mau tak mau kembali ikut merasa sedih.
Aku tak kuasa untuk mengeluarkan suara lagi. Sehingga aku hanya mengangguk pelan, mengiyakan permintaan Erlan tadi.
Dan, Erlan pun kemudian menarik tubuh ku ke dalam peukan nya. Pelukan yang cukup erat.
Dalam dekapan Erlan, aku bisa mendengar dentum jantung pemuda itu yang bertalu-talu dengan begitu kencang nya. Sementara degup jantung ku pun ikut berdentum kencang karena rasa sesak di hati yang mulai merajai diri.
Entah kenapa, dalam hati, aku menyesali keputusan ku ini. Karena bagaimana pun juga, Erlan adalah pemuda terbaik yang pernah ku temui sejauh ini.
Dalam keheningan malam, aku masih bisa mendengar bisikan Erlan yang diucapkannya di atas kepala ku.
"Janji sama aku ya, La. Kamu akan hidup bahagia dengan lelaki pillihan mu kelak!" Pinta Erlan kepada ku.
Dan kembali, rasa sesak itu merajai hati ku. Sehingga tanpa bisa ku cegah, setetes air mata pun meluruh turun menjatuhi pipi. Aku hanya berhasil mengeluarkan cicitan pelan untuk membalas permintaan Erlan tadi.
"Ya, Lan. Aku berjanji!"
***
__ADS_1