Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Clash (PoV Laila)


__ADS_3

Jadilah akhirnya, kehidupan asmara ku jadi objek penelitiannya Nunik, sejak kepindahannya ke kota B kembali.


Dua hari berikutnya Nunik kembali main ke rumah ku, dan ia lagi-lagi menodong ku untuk mengundang Erlan berkunjung ke rumah. Rencana nya, nanti Mas Aryo nya lah yang akan memimpin pembicaraan. Begitu kata Nunik.


Membayangkan Erlan datang dan membicarakan hal serius tentang pernikahan dengan ku, rasanya sudah langsung membuat ku ngeri. Inginnya sih menolak permintaan Nunik ini. Tapi dengan sikap moody kehamilan nya yang meresahkan, mau tak mau aku pun akhirnya mengiyakan.


Kepada Nunik kukatakan kalau aku akan mengundang Erlan dalam pertemuan Minggu ini. Yang jelas, tempat nya tak boleh di rumah. Karena aku tak mau Mama jadi berharap lebih dari pembicaraan itu nanti nya.


Malah aku meminta Nunik untuk merahasiakan pertemuan nanti dari Mama. Dan syukurlah Nunik pun setuju.


Sementara itu, kepada Erlan nanti aku akan meminta tolong kepadanya untuk menolak ku di hadapan Nunik dan Mas Aryo. Biarlah aku akan menjadi gadis yang tertolak, jika itu bisa membuat ku terbebas dari rongrongan nya Nunik.


Dan, rencana ku pun di mulai.


Jumat siang nya, aku menghubungi Erlan via telepon. Saat itu aku menghubungi nya sekitar siang, saat jam istirahat.


"Halo? La?" Sapa Erlan dari seberang telepon.


"Hey, Lan. Anu.. mm. Hari Minggu nanti ada acara gak?" Tanya ku sedikit gugup.


"... Enggak.. gak ada. Kenapa La?"


"Gimana kalau kita ketemuan? Di Mozartino."


Mozartino adalah mini kafe restoran yang terkenal di kalangan anak muda di kota B. Menu utama nya adalah steak. Dengan alunan musik klasik yang disiarkan melalui speaker hampir sepanjang waktu.


"...maksud nya, kamu ngajak nge date, La?" Tanya Erlan salah paham.


"Eh?! Bukan! Jadi gini loh, Lan.."


Dan aku pun akhirnya menceritakan perihal ngidam aneh nya Nunik yang ingin mengurusi persoalan asmara ku. Setelah selesai, Erlan terdiam cukup lama di seberang telepon sana.


"Jadi, kamu mau aku datang ke Mozartino nanti untuk pura-pura nolak kamu di depan sahabat mu itu, La?"


Entah kenapa, mendengar kalimat yang disampaikan oleh Erlan barusan membuat ku jadi merasa jengah. Aku merasa seperti telah mengusulkan ide yang salah.


"Err.. iya? Kira-kira begitu lah. Bisa kan, Lan? Please.."

__ADS_1


"Gila kamu, La!"


Dan klik. Sambungan telepon pun tiba-tiba saja diputus sepihak oleh Erlan.


Ku tatap layar ponsel ku dengan pandangan kesal dan tak percaya. Tak menyangka kalau Erlan berani bersikap tak sopan seperti barusan kepada ku.


Dengan kekesalan yang memuncak, kutekan lagi tombol dial pada nomor kontak nya Erlan.


"Apa lagi?" sahut Erlan dari seberang telepon.


"Hey! Gak sopan banget sih matiin telepon tiba-tiba. Ucap salam, kek!" Aku langsung saja menyemprot Erlan dengan omelan.


"Ok. Maaf. Telepon nya ku tutup sekarang ya?"


"Ehh!! Jangan! Jangan! Jangan ngambek gitu dong, Lan.." bujuk ku tiba-tiba saat kurasa suara Erlan sarat akan rasa kesal.


'Awas ya kalau nanti ketemu lagi. Benar-benar bakal kucubit habis-habisan deh itu orang!' tekad ku dalam hati.


"Please banget, Lan. Minta tolong banget ini mah. Aku udah janji sama Nunik soalnya untuk bisa ketemuan sama kamu. Gak usah lama-lama deh nanti ngobrol nya. Sepuluh menit aja juga cukup," lagi-lagi aku merayu.


"..kamu ngerasa gak sih, La kalau kamu itu jahat banget?" Ucap Erlan kemudian, membuat ku tertegun seketika.


"Eh, tapi itu kan buat kamu juga, Lan. Aku gak mau kamu habisin waktu buat nunggu perasaan ku berubah kan.."


"Tapi tetap saja, La. Aku gak terima sama keputusan mu yang sepihak itu. Kedua, aku kecewa banget sama kamu karena kamu memilih untuk balik ke Kiyano lagi,"


"Kata siapa aku balik sama Kiyano?!" Elak ku penuh emosi.


"..memang nya kamu gak balikan sama Kiyano?"


"Ya enggak lah! Aku kan gak mau jadi pelakor. Gila kamu, Lan. Bisa anggap aku serendah itu!"


Gantian aku yang ingin memutus panggilan telepon saat ini.


Maka dengan refleks, ku putuskan saja sambungan telepon ku dengan Erlan.


Klik.

__ADS_1


Dengan rasa kesal yang masih ada, aku pun sedikit menghentakkan ponsel kuke atas pangkuan. Pandangan ku nyalang menatap langit di luar gedung pusat perbelanjaan, tempat ku bekerja saat ini.


Aku memang sengaja melipir ke taman di belakang mall untuk menelepon Erlan. Berharap pemuda itu mau berbaik hati menolong ku menghadapi ngidam aneh nya Nunik.


Sayangnya, dari dua panggilan terakhir dengan Erlan, aku malah berakhir merasa kesal atas tuduhan pemuda itu kepada ku.


'Bagaimana bisa dia mengira kalau aku ingin balikan dengan Kiyano? Dasar cabe ijo bo doh!' unpat ku misah-misuh.


Tak lama kemudian, ponsel ku berdering kembali. Saat kulihat, ternyata itu adalah panggilan telepon dari Erlan.


Masih kesal pada pemuda itu, ku putuskan untuk mengabaikan panggilan telepon nya.


Ku buat saja ponsel ku jadi dalam mode senyap. Kemudian aku bangkit berdiri untuk lanjut bekerja lagi. Karena waktu istirahat memang sudah akan berakhir sekitar lima menit lagi.


Sepanjang siang hingga sore hari nya, aku pun terlupa sejenak pada kekesalan ku terhadap Erlan. Aku sibuk berwara-wiri merapihkan produk. Dan tak melihat lagi pada ponsel yang sengaja ku abaikan di dalam tas ransel ungu milik ku.


***


Sore harinya..


Aku selesai bekerja di jam yang sama. Jam setengah lima sore.


Dengan badan yang lumayan letih, aku segera keluar dari area perbelanjaan untuk menuju area parkir. Di sana, Merry ku siap untuk mengantar ku pulang.


Aku terus melajukan si Merry menuju rumah. Rasa-rasanya aku sudah langsung ingin merebahkan badan di kasur saja.


Pekerjaan ku saat ini memang menyita tenaga dibandingkan pekerjaan yang sebelum-sebelum nya. Syukurlah, besar gaji nya pun cukup sebanding dengan lelah yang kurasakan.


Saat aku hampir sampai di dekat depan gang yang menuju rumah, aku dikejutkan dengan kemunculan sebuah motor gede yang membunyikan klakson nya berkali-kali di samping ku.


Aku pun menyadari siapa pemilik motor gede itu.


Tapi ku putuskan untuk tak menggubris kehadiran Erlan di atas moge nya. Tidak, sampai ia yang tiba-tiba saja menghalangi jalur motor ku di hadapan.


Seketika itu pula ku tekan tombol rem hingga Merry ku berhenti.


Aku sengaja tak membuka helm yang dikenakan. Rasanya sudah malas benar untuk berbincang lagi dengan pengendara moge di hadapan ku itu.

__ADS_1


Pengendara moge itu kemudian berhenti dan melepas helm nya. Dan benar saja, dia memang adalah Erlan.


***


__ADS_2