
"Gue anterin aja deh sampe depan rumah Lo ya? Gue pingin tahu Lo tinggal di mana."
Saat ini, aku dan si Keong sedang berdebat. Ia memaksa untuk mengantarkan ku sampai depan rumah. Sementara aku tak mau jika kemunculan ku bersama seorang lelaki diketahui oleh tetangga ku yang ceriwis dan super kepo, Ceu Edah. Bisa gawat urusan nya kalau Emak dua anak itu melihat ku pulang diantar si Keong.
"Gak usah lah. Di samping rumah ku tuh ada tetangga yang mulut nya asli berisik banget. Super duper kepo, Kiy! Hobi nya tuh ngulitin kehidupan orang. Apa aja diomong dan disiarin. Kamu gak mau kan jadi bahan gunjingan tetangga ku sekampung?" Aku membujuk agar si Keong mengurungkan niat nya untuk mengantar ku hingga ke depan kontrakan.
"Ya gak apa-apa juga sih jadi bahan omongan. Bukannya kalau jadi bahan gosip tuh justru bisa mengurangi dosa kita ya? Dosa nya pindah gitu ke orang yang ngegosipin kita."
"Memang nya iya?"
Samar-samar aku merasa seperti pernah mendengar kalimat serupa. Ku rasa mestilah aku mendengar nya dari Nunik. Sahabat ku itu kan gudang nya ilmu.
"Gak tahu juga sih. Gue juga denger dari orang aja," ucap si Keong asal.
"Wuu! Berarti invalid dong, info nya!"
"Eh, belum tentu invalid juga, La. Soal nya gue tuh denger itu dari Pak ustadz. Jadi mesti lah benar kan yang dia bilang?" Ucap si Keong tak mau kalah.
"Hhmm.. tahu ah! Kok kita malah pusing bahas valid invalid sih? Udah. Kamu anterin sampe sini aja. Makasih ya, Key! Eh, Kiy!" Aku menyengir. Sengaja memanggil nya dengan gelar yang ku beri.
Si Keong tak marah. Ia malah mengacak-acak rambut ku dengan pelan.
Tring.. tiba-tiba saja aku teringat dengan Erlan. Rekan ku itu juga sering kali mengacak-acak rambut ku seperti yang tadi dilakukan oleh si Keong.
"La? Laila? Kok bengong sih?"
"Hmm? Ya, Lan?"
Hening..
Dua detik kemudian aku tersadar kalau aku telah tak sengaja memanggil si Keong dengan nama Erlan.
'Duh. Mulut salah lagi. Kenapa sih kok tiba-tiba keingetan sama Erlan? Mm.. itu. Si Keong kenapa jadi diam gitu sih? Kelihatan serem..' batin ku bergumam.
"Err.. kalau gitu, aku duluan masuk ya, Kiy!" Aku kembali berpamitan pada si Keong. Walau kini si Keong menatap ku dengan pandangan yang.. entah lah. Sulit bagi ku untuk menjelaskan nya.
Merasa canggung karena sapaan ku tak dibalas nya, tanpa sadar aku malah melakukan sesuatu yang teramat memalukan.
Seolah hendak berpamitan pada kedua orang tua saja, dengan santai nya ku tarik telapak tangan si Keong, untuk kemudian ku ciumi punggung tangan nya itu.
__ADS_1
Setelah menciumi punggung tangan nya, baru lah aku tersadar dengan apa yang ku lakukan.
'Ya ampun, Laila! Konyol benar sih kamu!' omel ku pada diri sendiri.
Aku yang terlanjur terjun dalam kubangan rasa malu, langsung saja berbalik dan melarikan diri. Menjauh dari sumber penyebab segala kekonyolan yang ku lakukan beberapa waktu terakhir ini.
Setelah agak jauh dari si Keong, indera ku tiba-tiba saja menangkap gelak tawa yang membahana di waktu malam mulai berkuasa. 'Mesti lah si Keong puas menertawakan ku saat ini!'
***
Keesokan hari nya, aku sibuk menyetrika baju sedari pagi. Rasanya pegal benar pinggang ku setelah hampir dua jam lama nya berkutat dengan tumpukan baju dan juga setrika an. Membuat mata ku jadi mengantuk!
Syukurlah aku sudah mempunyai amunisi untuk menahan rasa kantuk ini. Caranya yaitu dengan memutar lagu-lagu mp3 di ponsel ku.
Seperti saat ini, aku sedang mendengar kan lagu nya Lazuli Nun, karya teman nya Mbak Meyda. Aku sengaja meminta kopian lagu dari Mbak Meyda beberapa minggu yang lalu. Karena aku menyukai lagu nya Lazuli Nun itu. Dan ini adalah salah satu lagu nya yang paling ku suka, karena nada nya yang agak nge beat.
'Bila pagi datang, dan tunjukkan hari yang terang
Meski saat nya ku kan pergi, dan engkau di sini
Terdiam ku menanti, melupakan yang telah terjadi
Oh.. Sahabat,
Janganlah kau terus berduka, tersenyumlah..
Aku masih ada di sini..
Reff:
Masih ada waktu untuk kita berdua tuk bersama
Lalui masa indah kita
Meski nanti aku akan jauh dari mu,
Tapi yakin lah hati ku selalu di dekat mu
Temani hari-hari mu..'
__ADS_1
Mendengar lagu ini, entah kenapa aku jadi teringat dengan Erlan. Aneh benar. Entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi sering teringat dengan mantan rekan kerja ku itu. Terutama dengan kalimat perpisahan nya yang diucapkan via telepon di kantin beberapa hari yang lalu.
'Apa sebenarnya maksud Erlan? Kenapa dia meminta maaf dan mengatakan akan berhenti..mencintai ku..? Apa dia sedang dalam masalah ya?'
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu lah yang terus terngiang di benak dan kepala ku. Sehingga beberapa kali aku masih mencoba untuk menelpon atau mengirimi Erlan pesan.
Sayang nya sejak panggilan terakhir, Erlan tak pernah lagi mengangkat telepon dari ku. Feeling ku mengatakan ia sengaja tak mengangkat nya. Pun jua dengan semua pesan dari ku. Erlan pun tak pernah membalas nya. Padahal dilihat dari status nya, jelas-jelas Erlan sudah membaca semua pesan ku itu.
Aku semakin merasa yakin. Kalau telah terjadi sesuatu pada Erlan. Entah kenapa dia tiba-tiba menghindari ku kini. Dan aku juga menduga, kalau keputusannya untuk berhenti bekerja juga bisa jadi salah satu usaha nya untuk menghindar dari ku.
'Hmm..'
"La, di luar ada teman kamu nyariin. Lelaki."
Mama tiba-tiba muncul di muka pintu dan mengabari ku tentang kedatangan seorang tamu. Aku menatap Mama bingung.
"Siapa, Ma?" Tanya ku penasaran.
"Aduh! Mama lupa tanya. Orang nya ganteng banget sih. Jadi Mama lupa deh tanya nama nya!"
Aku menyengir kala mendengar ucapan Mama barusan.
"Hihihi! Mama lucu deh! Masa iya, masih bisa terpesona lihat cowok ganteng sih? Wahh.. jangan-jangan Mama udah waktu nya puber ke dua nih!" Aku asik menggoda Mama.
"Ah! Kamu La! Mana ada puber puberan! Mama sih udah gak punya waktu buat puber puberan," Mama mengelak.
"Lha, kasihan dong Mang Uding tetangga kita? Padahal dia udah ngasih kode merah hati lho ke Mama.. Ditolak nih Mang Uding nya, Ma? Sayang banget.." aku kembali menggoda, sambil mencabut colokan setrika.
"Hush! Udah ah! Kasihan tuh teman kamu nungguin di teras depan. Mama bikinin minuman dulu ya. Cepetan temu in tamu kamu La. Kasihan kalo nunggu lama-lama," Mama mengingatkan.
"Iya, Mama ku tersayang.. La bangun sekarang juga deh nih!"
Belum selesai aku bicara, Mama sudah berlalu pergi. Seperti nya hendak membuatkan minuman untuk tamu ku, entah siapa itu.
Merasa penasaran, aku langsung saja berjalan menuju teras kontrakan. Dan begitu ku tahu siapa tamu yang datang cukup pagi (sekarang jam sepuluh lewat) ini, aku sangat-sangat terkejut.
"Kamu ngapain ke sini?! Kok tahu rumah ku sih?!" Tanya ku pada tamu lelaki yang benar kata Mama, memang kelewatan tampan.
***
__ADS_1