
Sial benar memang nasib ku. Niat menolong orang yang dijambret, aku malah mendapat luka tusukan. Cukup parah pula. Bahkan menurut perawat, aku sampai harus melalui proses transplantasi ginjal alias pencangkokan ginjal.
Duh. Mestilah uang tabungan ku habis untuk biaya operasi ini. Namun menurut Mama, wanita yang ku tolong dari penjambret ternyata adalah seorang yang cukup kaya. Sehingga semua biaya operasi ku sudah dibayarkan oleh nya.
Di hari ketika aku tersadar, aku pun berkenalan dengan wanita yang ku tolong itu. Namanya adalah Ibu Ilmaya. Berkali-kali beliau berterima kasih atas pertolongan ku. Walau pun detik berikut nya aku juga balas berterima kasih kepadanya karena sudah membayarkan semua biaya operasi ku.
Kami saling bertukar alamat dan nomor telepon. Dan selama aku dirawat di rumah sakit, hampir setiap hari ibu Ilma selalu datang menjenguk ku dengan membawa buah-buahan dan roti tawar.
Tak hanya Ibu Ilma saja yang datang menjengukku ke rumah sakit. Karena Kiyano pun hampir selalu datang ke ruang rawat ku. Di hari pertama kami bertemu kembali, aku langsung teringat dengan percakapan ku dengan Inda atau Bella.
Meski aku sebelumnya sudah bermaksud untuk membicarakan perihal Bella dengan Kiyano, namun dengan kondisi ku yang sedang lemah kini, aku malah mengurungkan niat ku.
Aku juga bersikap dingin pada Kiyano. Sebuah sikap yang cukup ku sesali juga seperginya Kiyano pulang.
Mama juga menegur sikap ku yang kasar pada Kiyano. Entah lah. Rasanya Mama seperti terlalu membela lelaki brengsek itu. Saat Mama menceramahi ku, aku hanya menunduk diam. Sementara dalam hati aku mengutuk Kiyano yang entah bagaimana berhasil memikat hati Mama untuk selalu membelanya.
Sekitar sepuluh hari lamanya aku dirawat di rumah sakit. Aku merasa sangat bosan sekali karena kegiatan ku hanya tidur makan, tidur, makan saja. Hanya sesekali saja aku iseng menelpon Nunik.
Sahabat ku itu kini sedang berbulan madu di pulau Komodo. Mendengar tujuan wisata pasutri baru itu seketika membuat ku terbahak-bahak. Walau setelah nya aku menahan nyeri pada bagian luka jahitan di perut ku.
Ku ledek saja Nunik dan Mas Aryo atas pilihan tempat bulan madu mereka itu.
"Ya ampun, Nun! Memang nya gak ada tempat bulan madu lain yang romantis apa? Pulau Komodo? Apa malah gak bikin ngeri kamu, kalau ke sana. Komodo kan reptil purba yang lumayan agresif, lho, Nun. Ngebayanginnya aja aku ngeri banget!"
"Ah, Lail.. memangnya ada aturan nya ya tempat bulan madu itu harus yang selalu indah pemandangannya dan romantis juga? Gak ada kan? Lagian, Nun dan Mas Aryo senang kok honey moon ke pulau ini. Mengamati hewan purba ini berinteraksi, melihat cara mereka menerkam mangsa nya, itu tuh eksotis banget lho, il," seru Nunik dengan berapi-api.
"Err.. kayaknya kalian berdua memang pasangan sasaneh deh," aku asal berkomentar.
"Sasaneh? Apa itu il?" Tanya Nunik dari seberang telepon.
"Sama-sama aneh! Hihihi.."
***
Setelah sepuluh hari dirawat di rumah sakit, aku baru boleh diijinkan untuk pulang ke rumah. Itu pun dengan catatan aku harus beristirahat terlebih dulu di rumah selama enam minggu ke depan nya. Juga menghindari aktivitas fisik yang berat-berat.
__ADS_1
Itu berarti aku harus memperpanjang masa cuti ku yang sudah memakan hampir dua minggu lamanya. Syukurlah, Kiyano masih punya hati nurani dan mengajukan cuti untuk ku selama satu bulan ke depan.
Jadi selama sisa dua minggu nya, aku pun beristirahat total di rumah ku.
Beberapa kali ibu Ilmaya, yang lebih ingin kusapa Mama Ilma, datang ke rumah dan membawakan panganan. Terhadap ibu satu ini, aku selalu bersikap sopan. Karena bagaimana pun juga usianya sebaya dengan Mama ku sendiri jadi sudah pasti aku harus menghormatinya.
Mama Ilmaya adalah seorang yang ramah dan sedikit cerewet. Jadi, aku yang biasanya cerewet pun terpaksa harus menyamar jadi si pendiam di depan nya. Tak mungkin juga kan aku ikutan cerewet saat Mama Ilmaya bercerita? Tetangga samping rumah ku bisa mengira kalau aku sedang berjualan obat pada Mama Ilmaya nanti nya. Hihihi.
***
Setelah masa cuti satu bulan ku telah habis, aku memaksakan diri untuk masuk kerja. Sebenarnya Mama meminta ku untuk menambah masa cuti. Tapi aku merasa tak enak hati. Baru juga kerja dua bulan, aku sudah berani mengambil cuti satu bulan. Apalagi untuk menambah masa cuti nya? Bisa-bisa karyawan lain mengira aku melakukan tindak nepotisme nanti, karena aku memiliki hubungan dekat dengan bos kami, Kiyano.
Padahal sebenarnya hubungan ku dan Kiyano terbilang masih cukup dingin kini. Aku tak benar-benar sengaja juga sih mengabaikan lelaki itu. Tapi entahlah. Aku selalu merasa ragu dan takut untuk mengkonfrontasi kan Kiyano perihal hubungannya yang sebenarnya dengan Bella.
Memang, kami masih berangkat dan pulang bersama-sama. Aku terpaksa ikut dengan mobil nya karena Kiyano telah membujuk Mama untuk menasihati ku agar mau pulang pergi dengan nya. Alhasil aku pun mau tak mau ikut juga dengan mobil Kiyano menuju dan dari tempat kerja kami.
Ada sebuah situasi aneh yang ku alami di hari pertama ku masuk kerja.
Entah kenapa, saat pertama kalinya aku masuk ke ruang base camp nya tim OB, aku mendapatkan sambutan yang hambar dari teman-teman OB ku. Beberapa orang bahkan tak segan-segan memberiku tatapan sinis.
Sayang nya hari ini Nindi tak masuk kerja. Menurut Mas Idham, Nindi ijin merawat ayah nya yang sakit parah. Namun, begitu aku hendak bertanya tentang penyebab sikap aneh kawan-kawan ku yang lain, Mas Idham hanya memberi ku jawaban ambigu.
"Tak usah dipikirkan. Cukup jalani kegiatan mu sebaik mungkin tanpa menyakiti atau merugikan orang lain."
Deg.
Entah kenapa, aku merasa Mas Idham memiliki maksud lain di balik ucapannya tadi. Namun karena aku baru saja masuk, jadi aku menahan diri untuk tak menanyakan langsung maksud ucapannya itu. Khawatir justru percakapan kami malah akan berujung jadi percekcokan nanti nya.
Sepanjang sisa hari itu, aku tak hanya menerima tatapan aneh dari rekan OB ku saja. Karyawan lain yang kukenal dan mengenal ku juga memberi ku pandangan sinis.
"Aneh benar semua orang ini. Apa yang sudah merasuki mereka sampai bersikap seperti ini? Masa iya semua orang jadi kesambet setan sih??" Gumam ku sendirian saat aku sedang menyantap makan siang ku di kantin.
Keesokan hari nya, tatapan sinis itu masih kuterima. Malah aku juga menerima sikap-sikap kasar dari beberapa orang yang sedari dulu memang tak menyukai ku berhubungan dengan Kiyano.
Aku sempat mendengar salah satu dari para pem bully itu mengumpat, "Dasar pelakor ja lang!".
__ADS_1
Deg.
Pelakor. Panggilan yang paling ku benci sekaligus juga aku takuti selama sebulan ini. Pikiran ku mulai mereka-reka penyebab semua orang di kantor bersikap sinis pada ku.
'Apa semua orang juga menganggap ku sebagai pelakor? Tapi, dari mana mereka semua tahu? Padahal sudah satu bulan ini aku tak bekerja. Jadi aku juga jarang berinteraksi dengan Kiyano di depan mereka!' benakku kusut oleh pikiran yang semrawut.
Hari ketiga dan hari keempat ku bekerja, aku kian sering menerima perlakuan kasar dan bully. Aku pernah dikunci dalam toilet. Dan baru bisa keluar setelah hampir satu jam lamanya terkurung dalam toilet yang bau dan pengap. Beruntung ada seorang karyawati yang lewat dan berbaik hati membukakan pintu toilet yang telah mengunci ku di dalam nya.
Aku juga pernah dilempari air secara 'tak sengaja' oleh seorang karyawan yang seingat ku adalah pengagum nya Kiyano. Wanita itu berdalih kalau ia hendak menyiram tanaman. Namun kakinya tak sengaja terpeleset makanan, dan malah melemparkan air dalam ember di tangan nya ke badan ku.
Penjelasannya itu sungguh tak masuk akal. Bagaimana bisa sebutir kulit kacang bisa membuat seseorang terpeleset? Terkecuali jika kulit kacang nya sebesar dan selicin kulit pisang, baru lah mungkin itu bisa terjadi.
Tapi hey! Kulit kacang! Bodoh benar wanita itu membuat alasan!
Yang paling membuat ku sebal adalah tak ada yang mau mengulurkan bantuan kepadaku. Bahkan aku merasa jadi tontonan yang menghibur untuk semua orang di kantor saat itu.
Jangan tanya soal Kiyano. Karena aku masih bersikap dingin padanya dan memintanya untuk menjauh dulu dari ku. Sebal nya, Kiyano malah menurut apa kata ku.
Dasar lelaki tak bisa diandalkan memang dia itu! Seharusnya kan, walau aku mengusirnya jauh, Kiyano harus tetap berusaha menemui ku! Aku jadi menyangsikan perasaan cinta yang dikatakannya tertuju untuk ku. Bisa jadi semua ucapan nya itu hanya gombalan belaka saja.
Di hari ke enam aku kembali bekerja, aku menyaksikan satu peristiwa yang cukup membuat ku gentar.
Siang hari ketika aku baru selesai mengantarkan file ke sekretaris nya Kiyano, aku tak sengaja melihat Bella masuk ke dalam ruangan Kiyano, berdua dengan si empunya ruangan itu sendiri. Yang membuat batin ku tergoncang adalah, sikap Kiyano yang setengah memeluk pinggang Bella saat masuk ke dalam ruang kerja nya.
Duh.
Perih itu kembali kurasakan. Rasanya sakit sekali menyaksikan orang yang kau cintai berpelukan mesra dengan wanita lain. Terbersit di pikiran ku untuk mendobrak masuk melewati pintu ruang kerja Kiyano. Dan akan ku labrak lelaki brengsek itu dengan wanita yang ia katakan sebagai mantan istrinya itu.
Berani benar dia membuat ku jatuh hati, untuk kemudian membuat ku patah hati juga!
Bagaimana bisa dia begitu mahir menabur dusta tentang cinta yang begitu manis disajikannya untukku dulu?
Arghh!
Seketika itu juga aku langsung berbalik pergi dan menguatkan hati. Entah bagaimana aku bisa melalui sisa hari itu dengan semua pekerjaan ku yang menumpuk. Tapi yang jelas, ketika jam sudah menunjukkan waktu nya pulang kerja, aku terburu-buru pulang seorang diri dan meninggalkan Kiyano di belakang.
__ADS_1
***