
Pada akhirnya, sepanjang acara ultah nya Mama Ilmaya malam itu, aku seringkali mendapati tatapan menilai dari banyak mata para undangan. Terutama adalah dari para wanita muda seusia ku.
Bahkan aku pernah tak sengaja mendengar gunjingan orang-orang tentang ku saat aku pergi ke toilet.
Di depan pintu toilet, aku mendengar suara para wanita itu bergunjing seperti ini.
'Dia itu sungguh adalah mantan yang tak tahu malu! Berani benar dia datang ke pesta ultah Mama mantan nya. Kalau aku sih, jelas gak akan mau muncul dan ketemu lagi sama mantan ku!' ucap wanita ke 1.
'Iya. Aku juga sih gak mau jadi penjilat ke Mama nya mantan ku cuma biar bisa diterima lagi sama mantan. Rasanya jatuh sudah harga diri! Hih!' ucap wanita ke 2.
'Pasti lah Erlan juga gak akan mau balik lagi sama mantan yang kayak gitu ya. Masih jauh lebih baik Jessika. Yah.. walaupun dia juga sedikit bodoh sih..' ucap wanita ke 1 lagi.
'Iya. Aku juga masih lebih memilih Jessika. Dia itu lugu dan jujur. Gak punya akal bulus yang busuk kayak cewek mura han itu.'
Grr..
Mendengar ocehan jahat tentang ku itu serentak saja mendidihkan bara kesal dalam hati ku. Aku hampir-hampir ingin melabrak kedua wanita yang sibuk menggunjingkan ku di dalam toilet itu, jika saja tak ada tangan yang menahan ku dari belakang.
Begitu aku menolehkan kepala, aku terkejut karena mendapati sosok yang tak kuduga akan kembali ku temui di tempat dan waktu yang seperti ini.
"Kamu..?"
"Hai Laila. Kita berjumpa lagi," sapa wanita di depan ku itu.
***
"Apa mau mu dengan menarik ku ke tempat sepi ini, Bell?" Tanya ku pada Bella yang tadi sempat menahan ku dari melabrak para penggunjing jahat di toilet.
"Aku hanya ingin berbincang santai dengan mu, La. Sudah lama juga kan kita tak berbincang-bincang."
Pandangan ku fokus menatap langit malam yang tampak jernih malam ini. Beberapa bintang bahkan bisa terlihat bersinar di atas nya.
Dari toilet, Bella mengajak ku ke area belakang rumah. Sehingga kini kami berdua sedang berdiri di halaman belakang rumah yang persis menghadap ke area perkebunan. Rimbunan tanaman-tanaman bumbu kian menguatkan nuansa pekat nya malam.
"Kamu tak pernah mengangkat telepon ku, La?" Tanya Bella kemudian.
"Aku sibuk bekerja," sahut ku singkat.
"Dari pagi hingga malam?" Tanya Bella tak percaya.
"Shift kerja ku memang terkadang pagi, terkadang juga malam. Dan kamu selalu menelepon di saat aku sedang bekerja."
"Memangnya apa yang mau kamu bicarakan lagi, Bell? Kurasa sikap ku sudah cukup jelas menunjukkan kalau aku tak terlalu menyukai pertemuan di antara kita ini, bukan?" Aku sengaja berkata blak blakan.
"Hh.. sebenarnya aku menyayangkan sekali karena kita tak bisa bicara baik-baik seperti dulu, La. Padahal kupikir kita mungkin bisa jadi teman yang baik."
"Hah. Jangan berusaha membuat lelucon, Bell. Yang barusan kau ucapkan itu sungguh tak lucu sama sekali," ucap ku penuh sarkastis.
"..."
__ADS_1
"..."
Selama beberapa waktu, suasana di antara kami kembali hening. Aku hampir dibuat tak tahan dalam keheningan ini. Sehingga aku langsung saja membalikkan badan ku untuk berlalu pergi tanpa pamit. Namun ucapan Bella kemudian, membuat ku terkejut setengah mati.
"Kamu masih mencintai Kiyano." "Bukan begitu, Laila?"
Aku terdiam di tempat. Merasa ditembak dengan sangat tepat sehingga membuat ku tak lagi mampu tuk melanjutkan langkah.
Setelah beberapa saat debur jantung ku kembali tenang, baru lah kemudian aku menyahut dengan punggung yang masih menghadap ke Bella.
"Dan kamu sudah memiliki nya. Tidak kah itu cukup bagimu, Bell?"
"...ya. dan tidak," sahut Bella membingungkan ku.
Karenanya kemudian aku pun membalikkan badan hingga menghadap padanya.
"Apa maksud mu itu?" Tanya ku meminta penjelasan.
"Ya. Aku memang kembali menjadi istri nya. Tapi tidak. Aku tak lagi memiliki hati nya Kiyano."
Deg. Deg.
Ba dump. Badump..
'Apa maksud ucapannya itu..' benak ku sibuk mengurai makna ucapan Bella tadi.
Detik berikutnya, Bella pun mengurai penjelasan atas ucapan nya itu.
Deg. Deg.
Ba dump. Badump.
Entah kenapa, aku jadi sangat berharap Bella akan melanjutkan ucapannya. Aku ingin mendengar dari mulut wanita di depan ku itu, tentang nama wanita yang dimaksud olehnya telah bertahta di hati Kiyano kini. Namun..
"Ah.. aku ingat, kalau aku harus segera pulang. Ku rasa perbincangan kita harus ditunda, La. Ku harap, kita bisa melanjutkannya lagi di lain waktu. Atau kamu sempat untuk mengangkat telepon dari ku."
Dan Bella pun berlalu begitu saja melewati ku. Namun aku masih merasa ada yang mengganjal di hati. Karena nya, dengan spontan kuraih lengan Bella hingga akhirnya langkahnya pun tertahan.
"Tunggu dulu! Kamu harus menjelaskan kepada ku Bell. Apa sebenarnya yang ingin kamu bincangkan dengan--"
BRUK.
Aku terkejut saat secara tiba-tiba Bella terjatuh pingsan di hadapan ku. Aku juga tak sempat menangkap tubuh Bella, hingga tubuh wanita berwajah oriental itu pun akhirnya harus tersungkur di atas lantai yang dingin dan lagi keras.
Tapi kemudian aku langsung bergerak cepat. Saat ku sadari kalau Bella memang benar-benar telah pingsan.
Langsung saja aku mencari pertolongan di dalam rumah. Dan orang yang pertama kali ku mintai pertolongan adalah.. Erlan.
Aku tak sengaja bertemu dengan Erlan di perjalanan ku mencari bantuan. Meskipun untuk sesaat aku sempat tertegun menatap wajah tampan pemuda itu. Namun aku terjngat dengan kondisi Bella yang membutuhkan pertolongan sesegera mungkin, saat ini juga.
__ADS_1
"Lan! Bella pingsan, Lan!" Ujar ku dengan nada panik.
Ku lihat Erlan mengernyitkan dahi.
"Apa yang terjadi?"
"Tadi itu kita lagi ngobrol di halaman belakang. Terus tahu-tahu dia jatuh pingsan begitu aja. Aku juga gak ngerti kenapa dia bisa pingsan begitu! Cepat Lan! Tolong Bella, Lan!" Titahnku sedikit mendesak Erlan.
"Tunjukkan pada ku di mana dia berada!" Pinta Erlan kemudian.
Dan aku pun bergegas melangkah cepat untuk kembali ke tempat Bella berada. Namun di suatu waktu aku malah tak sengaja hampir terjatuh karena terserimpet oleh kaki ku sendiri (salah kan saja gaun yang kukenakan malam ini!). Beruntung sekali Erlan sigap menangkap tubuh ku dari belakang.
"Berhati-hati lah, La!" Ucap Erlan begitu dekat di telinga ku.
Deg. Deg.
Ba dump. Badump.
'Ehh?? Kok jadi deg deg an gini ya? Ya ampun, La! Sadar diri dong. Ini kan situasi lagi darurat banget. Bella masih pingsan itu!' Tegur ku pada diri sendiri.
Dengan bergegas, aku melepaskan rengkuhan tangan Erlan pada perut ku. Lalu tanpa mengucapkan apapun, aku kembali melanjutkan langkah ku menuju tempat Bella berada kini.
Di belakang ku, samar-samar aku mendengar Erlan yang mengumpat kesal.
"Gak bilang makasih atau apa kek!"
Aku tak menggubris umpatan Erlan itu. Fokus ku masih kepada Bella yang kemudian ku dapati ternyata sudah dipapah oleh dua orang pelayan pria dan wanita.
"Bella!" Aku bergegas menghampiri Bella yang masih tak sadarkan diri.
"Mohon bersabar ya, Nona. Kami akan segera membawa Nona ini ke tempat yang lebih nyaman. Kami tadi tak sengaja menemukannya tergeletak tak sadarkan diri di dekat pintu belakang rumah," tutur seorang pelayan pria menjelaskan.
"Kalau begitu, hati-hati lah!"
"Sebentar!" Tiba-tiba saja Erlan berucap.
"Tuan Muda!" Koor dua pelayan itu yang baru menyadari kemunculan Erlan di belakang ku.
"Sebaiknya bawa Nona ini ke ruang tamu di lantai atas saja terlebih dahulu. Usahakan jangan sampai kalian mendekati tempat pesta berlangsung. Sehingga tak muncul kepanikan di acara pesta nanti," titah Erlan pada dua pelayan itu.
"Baik, Tuan Muda!"
"Setelah itu, sampaikan pada Pak Kiman untuk menemui ku segera di tempat ini!" Titah Erlan kembali.
"Baik, Tuan Muda! Kami permisi Tuan, Nona!" Tutur kedua pelayan itu sambil memapah tubuh nya Bella.
Tadinya, aku ingin mengikuti kedua pelayan tadi. Namun kemudian tangan ku ditahan oleh Erlan di belakang ku.
Terlwebih kemudian ia malah menanyakan ku sesuatu.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi, La? Kenapa kamu berdua dengan Bella di belakang rumah ku?" Tanya Erlan dengan rasa penasaran yang begitu nyata bisa kulihat di matanya.
***