Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Penerimaan yang Tertunda (POV Kiyano)


__ADS_3

"Jadi La, gimana kalau kita married secepat nya?" tanya ku secara tiba-tiba pada Laila.


Laila terlihat sangat terkejut Dan aku sungguhan merasa gugup. Terlebih saat Laila tak ber segera menyahuti ucapan ku. Rasa-rasanya lebih gugup dibanding menunggu hasil sidang skripsi saja.


Tapi lalu..


ciwiittt!


"Aww! La, kenapa tiba-tiba Lo jewerin kuping gue sih?!" aku mengaduh, menahan sakit di bagian kuping kiri ku yang tadi sempat ditarik oleh Laila.


Heran benar dengan wanita satu ini. Senang sekali tangannya itu mencubit sana sini!


"Cuma ngetes. Khawatir nya kamu lagi kesambet gitu," ucap Laila dengan ekspresi serius.


"Apa hubungannya sih jewerin kuping sama kesambet?! Lagian, ngapain juga Lo mikir kalau gue kesambet?"


"well.. Soal nya, gak ada angin hujan badai topan, kamu tiba-tiba aja ngajak nikah. Kan aneh tuh? Terus, kalau kamu kesambet, seharusnya kamu gak bisa merasa sakit dong yah? Tapi tadi kamu kesakitan. Berarti kamu jelas lagi enggak kesambet. Kalau gitu, apa kamu lagi sakit kah?"


Laila sengaja meletakkan tangannya ke atas dahi ku.


Merasa sebal karena ajakan serius ku untuk menikah, dianggap candaan oleh Laila, aku langsung menepis tangan wanita itu.


"Apaan sih, La! gue sehat bugar gini kok!" aku mendumel.


"Ya kali badan mu boleh sehat. Tapi jiwa mu, Kiy?" seloroh Laila sambil tersenyum jahil.


"Parah Lo, La! maksud Lo, gue gila gitu hah?!" aku semakin kesal.


"Kamu yang bilang, ya.. Aku sih kalem aja.." ucap Laila dengan mudah nya.


"Haiishh.. Kalau gue gak inget tempat, udah gue sumpelin juga tuh mulut Lo sedari tadi!" aku mengancam.


"Nah! nah! Nah! Belum nikah aja kamu udah ada niatan mau KDRT, apalagi kalau kita jadi nikah? Kamu serius mau ngajak aku nikah, Kiy?" tanya Laila seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Dan pandangan ku langsung saja tergoda oleh gundukan kembar yang kian tampil menantang di depan ku itu.


'Sialan benar! Dia sengaja banget sih godain gue!' dumel ku tanpa suara.


Susah payah aku mengalihkan tatapan ku dari anggota tubuh sakral nya Laila itu. Namun ketika aku membawa tatapan ku kembali ke wajah nya, aku juga harus menelan ludah dengan susah payah.


Laila tampil sangat menawan dalam balutan kebaya berwarna merah muda. Rambut wanita itu disanggul tinggi nan rapih di belakang kepala, dan hanya menyisakan juntaian kecil rambut di sisi kanan dan kiri wajah nya yang manis.


Make up Laila hari ini membuat nya terlihat cantik nan anggun. Itu jika ia selalu menutup mulut nya rapat-rapat.


Karena begitu mulut nya sudah terbuka, untaian kata-kata kasar nan membuat gerah hati langsung saja mencoreng citra luar dirinya yang terlihat anggun.


"Kiyanoo!!" aku tersadar dari lamunan singkat ku oleh teriakan Laila yang menampar tepat di depan wajah ku.


"Haish! gak sopan banget sih! Lo itu cewek bukan sih, La?! pake teriak-teriak segala. Mana air liur Lo muncrat banjir lagi ke muka gue!" aku mendumel sambil mengelap muka ku dengan lengan kemeja.


"Lagian, kamu malah bengong di tengah jalan. Udah sana balik aja deh. Aku mesti nemenin Nunik lagi nih. Dia udah mau naik ke panggung tuh. Udah ya!" ucap Laila yang langsung saja berbalik pergi.


Aku tersentak kaget. Lalu buru-buru mengejar Laila kembali.


"Hey La! Lo belum jawab pertanyaan gue!" aku menahan lengannya dari melanjutkan langkah.


"Pertanyaan apa sih, Kiy?!"


"Tentang kita.. married gimana?" tanya ku mengulang dengan suara cukup kencang.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Laila menutup mulut ku dengan telapak tangannya. Ia lalu menarik ku ke tepi area pesta yang lebih sepi orang.


"Kiyano! Kamu pede banget sih teriak-teriak soal married kayak tadi. Malu tahu!" Laila mengomel.


"Habisnya, Lo belum jawab pertanyaan gue, tapi malah mau kabur begitu aja!"


"Ya iya lah aku kabur! Kamu tuh ngajakin married tapi gak ada romantis-romantis nya gitu. Boro-boro romantis, aku malah ngerasa kayak lagi dikejar-kejar sama tukang kredit, tahu!"


"Kok Lo nyamain gue kayak tukang kredit sih!" aku mengomel.


"Ya iyalah. Soal nya kamu tuh dadakan muncul. Dadakan nembak. Dan maksa banget minta jawaban. Apa coba kalau bukan tukang kredit itu namanya?!" papar Laila.


Aku hendak membalas ucapan Laila. Namun setelah ku pikir-pikir lagi, ucapan Laila memang ada benarnya juga sih.


Salah kan saja aku yang terlalu banyak mengkhawatirkan hubungan ku dan Laila. Karena entah kenapa aku merasa Laila memiliki perasaan juga pada rekan kerja OB nya yang bernama Erlan.


Dugaan ku ini bukannya tanpa dasar. Karena kemarin Laila sempat melamun dan tak sengaja memanggil ku dengan panggilan singkat 'Lan'. Lan untuk Erlan.


Memikirkan jika Laila akan lebih memilih lelaki itu daripada aku, membuat ku merasa sangat takut. Karenanya ajakan menikah itu pun melesat cepat keluar dari mulut ku.


Aku menghela napas panjang.


"hhh.."


Setelah merasa lebih tenang, baru lah kemudian aku lanjut bicara.


"Oke iya. Gue minta maaf deh, La. Gue ngaku salah, karena udah terburu-buru ngajak Lo nikah. Tapi La, gue memang ngerasa udah siap untuk seriusin hubungan kita. Makanya gue tanya Lo sekali lagi. Gimana kalau kita married sesegera mungkin?" aku bertanya dengan keseriusan yang berlebih.


Laila terlihat ikut menghela napas terlebih dahulu. Sebelum akhirnya bicara.


"Kiy. Maaf banget. Nyatanya aku belum siap untuk married sekarang ini. Apalagi sama kamu yang notabene nya belum lama aku kenal. Kamu gak ngerasa aneh apa, tiba-tiba ngajakin aku nikah? Kamu beneran gak ngerasa lagi kesambet gitu?" tanya Laila lagi dengan ekspresi serius di wajah nya.


"Mulut bebek ini nih yang sering banget bikin gue kesal kebangetan! Bisa gak sih Lo diajak serius sebentar aja La?"


"iihh! Jangan pegang-pegang deh Kiy! bukan muhrim!"


"La..ii..Laa!" aku hampir meneriakkan nama Laila dengan suara kencang.


"Ampun. ampun. iya iya aku jawab deh. Udah jangan berisik ah, Kiy! Tapi habis ini, aku mau balik nemenin Nunik ya."


Aku diam. Hanya menatap serius tepat ke mata Laila.


"Jadi gini ya, Kiy. Pertama-tama, aku mau ucapin makasih loh karena kamu udah berbesar hati ngajakin aku yang hina dina ini menikah."


Aku masih menatap tajam Laila dalam diam. Dan Laila pun tak lama kemudian melanjutkan kembali ucapannya.


"Tapi Kiy, aku minta maaf banget. Karena aku harus menolak ajakan kamu untuk married secepatnya. Alasannya ada banyak."


"Pertama, aku belum terlalu kenal sama kamu. Dimana rumah kamu, siapa orang tua kamu aja aku gak tahu. Masa iya kita mau nikah tanpa dihadirin orang tuamu sih Kiy. Jelas aku gak mau itu terjadi."


"Kedua, menikah itu bukan mainan, Kiy,"


"Gue gak main-main, La! Gue serius!" Aku memotong ucapan Laila.


"Dengerin aku dulu! Menikah itu hal sakral yang terjadi di antara dua insan. Jadi butuh persiapan materi dan mental kedua pihak sebelum mereka berani menjejakkan diri ke dunia pernikahan. Dan jelas, aku juga belum siap untuk itu."


"Perlu kamu tahu, Kiy. Kalau aku tuh pernah nyaksiin hubungan Papa dan Mama ku retak sewaktu aku masih kecil dulu. Padahal sebelum-sebelum nya Papa bersikap manis manja ke Mama. Tapi tahu-tahu Papa bilang kalau dia mau pisah dari Mama untuk hidup sama WIL-nya. Gila gak tuh?"


WIL \= Wanita Idaman Lain

__ADS_1


"Gue bisa jamin ke Lo, kalau gue tipikal yang setia, La!" aku kembali memotong ucapan Laila.


"Iya sekarang kamu bisa menjamin. Bisa yakin. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, rasa bosan itu pastilah akan muncul juga. Maka nya aku merasa kita butuh waktu untuk menguji hubungan kita. Kamu bisa ngerti kan maksud ku ini, Kiy?"


"Oke. Tapi berapa lama, La?" aku kemudian bertanya.


Laila terlihat berpikir sejenak.


"Tiga bulan. Kasih aku waktu tiga bulan. Aku janji, kalau kamu masih seyakin seperti sekarang untuk married sama aku, kita langsung cap cus go lah ke KUA."


"Janji?"


"Iya. Janji! eh.."


Aku melihat Laila yang tampak menyesali ucapannya barusan. Maka dengan terburu-buru aku pun memberinya peringatan.


"Lo gak bisa mundur dari janji Lo ya, La! tiga bulan dan kita married."


"Iya. Iya. Ya ampun, Kiy. Kamu yakin gak ada minat di dunia per kreditan?" oceh Laila dengan nada canda.


"Jangan ngalihin perhatian! Pokoknya janji ya!"


"Iya insya Allah aku janji."


"Lho kok sekarang pake kata insya Allah sih? berarti gak pasti dong?!" aku mengeluh.


"Ya ampun, Kiy. Aku tuh baru ingat. Kata Nunik, setiap kita mau ucapin janji atau rencana, kita tuh harus menyertakan kalimat insya Allah. Karena kan yang tahu pasti gak nya segala sesuatu itu cuma Allah ya. Tapi kita harus tetap berusaha banget untuk menunaikan janji atau rencana kita itu," tutur Laila panjang lebar.


"Begitu kah?" aku masih merasa sangsi atas ucapan Laila barusan.


"Iya, Kiy. Belajar percaya dong sama calon mu ini! Kepercayaan juga salah satu kunci penting bertahannya suatu hubungan lho!"


"Kata siapa itu?"


"Kata ku, lah!"


Aku tersenyum. Lebih merasa senang karena Laila menyebut dirinya sebagai 'calon ku'.


'Ah.. gue harap tiga bulan bisa cepat berlalu,' harap ku dalam hati.


"Terus yang ke tiga.." ucap Laila lagi.


"hah? masih ada lagi?" aku bertanya kaget.


"Iya. Yang ketiga dan yang paling penting nih, Kiy. Menikah juga butuh persiapan materi. Kita perlu nabung lah buat keperluan ini itu. Aku gak mau ya kamu bisa nikahin aku begitu aja tanpa ngasih apa-apa."


"O.. tenang aja. Nanti gue bakal beliin semua yang Lo mau deh. Tapi sesuai budget gue ya, La.." aku menawar.


"Iya. aku gak minta banyak-banyak kok, Kiy. Cuma rumah satu untuk Mama. Dan satu rumah atas nama ku juga. Aku juga pingin motor satu untuk Mama. Dan satu motor untuk ku juga. Satu mobil juga boleh deh. Biar kalau aku mau jalan-jalan jauh, jadi gak kepanasan," celoteh Laila panjang lebar.


"Haishh La.. Lo itu minta, apa mau ngerampok sih?!"


Menit berikutnya, aku masih mendengarkan keinginan Laila yang ternyata cukuplah banyak. Dalam hati ku, tiba-tiba saja mulai terbit penyesalan.


Ku salah kan hati ku yang telah jatuh hati pada wanita yang begitu pintar menyuarakan segala 'keinginan nya' itu.


"Hhh.. nasib.. ya nasib.."


***

__ADS_1


__ADS_2