
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi, La? Kenapa kamu berdua dengan Bella di belakang rumah ku?" Tanya Erlan tiba-tiba.
"Kami hanya sedang berbincang saja, Lan.. tunggu dulu!" Aku berhenti bicara saat tiba-tiba saja ku sadari sesuatu.
"Kamu mengenal Bella, Lan?" Tanya ku keheranan.
"Ya. Tentu saja. Dia itu kan putri kolega nya Papa. Jadi jelas aku mengenal nya. Kamu sendiri mengenal Bella?" Tanya balik Erlan kepada ku.
"Aku dan Bella.."
Aku terhenti dari berkata-kata. Bingung juga harus menjelaskan pada Erlan seperti apa. Tak mungkin juga kan bila kukatakan pada Erlan yang sebenarnya? Atau apa sebaiknya memang ku katakan saja ya tentang hubungan ku dan Bella?
Setelah menarik napas cukup dalam, aku pun akhirnya mengatakan pada Erlan yang sebenarnya terjadi di antara aku dan Bella.
"Bella itu istri nya Kiyano, Lan."
"Apa?!" Erlan terlihat sangat terkejut.
"Kamu baru tahu kalau Bella istrinya Kiyano, Lan?" Tanya ku menyelidik.
"..iya. aku baru tahu dari kamu barusan, La. Dulu aku gak ikut Papa menghadiri pesta pernikahannya. Lagi pula kami sangat jarang bertemu, dan Kiyano juga tak pernah terlihat mendampingi Bella di setiap acara yang kami hadiri bersama-sama."
"Oh.."
"..."
"..."
Untuk sesaat, suasana menjadi hening. Sampai kemudian Erlan sendiri yang memecahkan keheningan di antara kami ini.
"Aku harus segera memberitahukan pada Om Andre tentang kondisi Bella saat ini!"
Tak lama kemudian, muncul Pak Kiman, kepala pelayan di rumah nya Erlan. Selanjutnya Erlan memberikan titah pada Pak Kiman untuk menyampaikan berita tentang Bella pada Om Andre.
Setelahnya, Pak Kiman pun bergegas menunaikan titah yang diutuskan padanya itu.
Aku pun kembali berdua dengan Erlan di lorong dekat halaman belakang rumah nya Erlan. Untuk sesaat aku merasa canggung dan tak tahu harus berkata apa-apa lagi. Karena nya ku putuskan untuk berlalu pergi saja dari tempat itu.
"Kalau begitu, aku kembali ke ruang pesta dulu ya, Lan. Arline mestilah sedang mencari ku saat ini," aku berpamitan pada Erlan.
Selanjutnya, tanpa menunggu jawaban dari Erlan, aku langsung saja berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun lagi-lagi lengan ku ditahannya dari melangkah jauh.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, La. Ada yang mau aku omongin ke kamu!" Ucap Erlan tiba-tiba.
Aku mengernyit bingung.
"Ada apa lagi, Lan? Cepat lah. Aku mau pergi ke toilet nih sekarang."
Dan Erlan pun menganga selama dua detik yang terasa lama.
"Tak bisa kah kamu serius saat kita bicara, La? Jangan menggunakan alasan toilet jika kamu mau menghindar atau menolakku!" Tukas Erlan terlihat kesal.
Dan aku pun mau tak mau jadi ikut mendumel kesal.
"Aku memang benar mau ke toilet, Lan. Tadi itu sebelum bertemu Bella aku sudah mau pergi ke toilet. Tapi karena ada duo penyihir di dalam toilet.."
"Duo penyihir? Jangan bahas soal makhluk ghaib lagi deh La. Gak lucu!" Potong Erlan kembali.
"Ya ampun! Bisa gak sih kamu gak selalu potong omongan ku? Maksud ku tuh dua cewek jahat yang sibuk gosipin aku di toilet! Baru juga mau kulabrak dua cewek itu, tapi Bella malah menahan ku. Bella juga yang mengajak ku berbincang ke tempat ini. Jadi aku belum sempat pergi ke toiket sama sekali!" Papar ku panjang lebar.
"Oh.."
"Ah oh ah oh! Sudah dulu ya. Beneran kebelet ini, Lan," ucap ku bergegas sambil berjalan cepat ke arah ruangan pesta berlangsung.
"Kalau begitu, pakai toilet di sini saja, La. Lebih dekat jaraknya!" Ajak Erlan yang kembali menahan lengan ku dari beranjak jauh.
Selesai aku membereskan hajat kecil ku di kamar mandi, aku dibuat terkejut saat mendapati sosok Erlan yang ternyata masih berdiri menunggu ku di dekat pintu kamar yang baru saja ku singgahi kamar mandi nya.
"Kok masih di sini?" Tanya ku ceplas ceplos.
"Nunggu kamu, lah! Kan kita belum selesai ngomong, La.."
Kembali, aku merasa gugup mendengar ucapan Erlan itu. Entah apa yang ingin dikatakan oleh Erlan nanti. Feeling ku mengatakan kalau aku tak akan menyukai l
perbincangan kami nanti.
"Ok. Jadi apa lagi yang mau kamu bahas, Lan? Jangan bahas tentang hubungan kita. Keputusan ku masih sama," Ujar ku langsung tanpa tedeng aling aling.
"Si al an kamu, La. Belum juga aku ngomong, udah di skak mat aja," gerutu Erlan.
Ku palingkan wajah ku ke arah yang lain. Tak ingin melihat raut kecewa di wajah pemuda di depan ku ini. Pandangan ku terfokus pada sebuah foto yang terpasang di dinding tak jauh di depan ku.
Saat aku tersadar foto apakah itu, spontan saja aku mendekati nya. Di belakang ku, Erlan melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"La? La? Dengerin aku ngomong dulu dong?"
"Sebentar dulu, Lan. Ini.. ini foto kamu waktu kecil bukan sih?" Tanya Ku tiba-tiba menatap foto yang telah menarik mata ku.
Erlan lalu mengikuti arah pandangan ku. Kemudian dengan tiba-tiba ia langsung melesat dan berdiri cepat di depan ku.
"Si alan! Kenapa foto ini dipasang di sini sih! Pasti lah ulah si Arline!" Dumel Erlan tiba-tiba sambil mengambil foto itu untuk disembunyikannya di belakang tubuh nya.
Sayang sekali, usaha Erlan untuk menyembunyikan foto tadi dari ku sudah sangat sangat terlambat. Karena aku sudah mengingat jelas isi foto yang menampilkan dua anak kecil berwajah identik menggunakan gaun lebar ala putri.
Ku tebak, salah satu sosok anak yang berpenampilan seperti anak perempuan di foto tadi adalah Erlan. Erlan kecil memakai baju anak perempuan.
"Hahahahahaa!! Kamu cantik banget sih, Lan, waktu kamu masih kecil. Asli kembaran banget deh sama Arline! Hihihi.."
"Aargrghh! Jangan bilang siapa-siapa ya La! Awas lho! Si alan benar si Arline. Padahal seingat ku semua foto ku dulu udah kubakar semuanya. Tapi ternyata dia masih nyimpan aja foto ter laknat itu!" Dumel Erlan sendirian.
"Hihihi.. hihihi.. kamu cantik, Lan! Cantik kok!" Aku kembali meledek.
"Diam kamu, La! Berhenti tertawa!" Titah Erlan yang jelas tak kuanggap.
"Mana sini, coba ku lihat lagi foto nya. Boleh ku foto gak buat kenang-kenangan pribadi.." seloroh ku menggoda diiringi derai tawa.
"Iiishhk.. gak boleh! Jangan jahil deh, La! Aku gak suka!"
"Dududuh.. cuma sebentar deh, Lan.. mana sini kulihat lagi dong foto nya.." mohon ku lagi, sambil berusaha meraih tangan ku ke belakang tubuh pemuda itu. Dimana ia menyembunyikan foto nya di belakang tubuh nya.
"Laila! Minggir! Jangan macam-macam deh!" Ancam Erlan yang lagi-lagi tak kuanggap.
"Sebentar doang, Lan.. ayo dong! Please.." mohon ku dengan mengiba-iba.
Tubuh ku sudah mepet ke tubuh nya Erlan. Tangan ku masih mencoba menggapai ke belakang tubuhnya, dimana figura foto itu disembunyikan nya.
Dan, pada posisi seperti itulah kami berdua ditemukan oleh Jessika dan beberapa teman wanita nya yang lain. Aku dan Erlan baru tersadar dengan keberadaan tamu tak diundang itu, saat Jessika memanggil kami dengan nada yang terkejut.
"Erlan?! Laila?! Apa yang sedang kalian lakukan di sini?!" Tanya Jessika dengan pandangan menyelidik.
Aku pun tersadar dengan posisi ku yang cukup membuat salah paham siapapun yang melihat nya. Karena nya dengan bergegas aku pun menjauh dari Erlan.
Tapi sayang sekali, usaha ku itu sudah sangat terlambat. Karena kemudian aku mendapati tatapan mencemooh di mata para wanita yang berdiri di belakang Jessika.
'Duh! Alamat jadi bahan gosip lagi, nih!' sesal ku dalam hati.
__ADS_1
***