
Dan akhirnya, acara resepsi ku dan Laila akan digelar juga keesokan hari nya.
Malam ini, aku sengaja mengadakan acara makan-makan bersama dua keluarga inti dan juga orang-orang terdekat kami.
Hanya ada sekitar dua puluh lima orang yang duduk di sekitar kami mengelilingi meja makan yang telah terhidang makanan sebegitu banyak nya.
Aku juga mengundang Azki, teman lama ku di Rumah Singgah. Ia adalah sahabat seperjuangan ku dalam memperjuangkan pendidikan para anak jalanan. Azki seorang pemuda yatim piatu yang cenderung pendiam.
Beberapa kali Azki terlihat mengernyitkan kening nya setiap kali melihat aku dan Laila berinteraksi. Terutama adalah di saat Laila mencubiti lengan, pinggang dan paha ku.
Mungkin Azki keheranan karena aku membiarkan saja Laila ku berbuat semaunya terhadap ku. Begitu ia benar mempertanyakan keheranan nya itu, aku pun menjawabnya dengan jawaban asal.
"Jangankan semaunya, semuanya pun aku rela diapa-apain sama istri ku itu, Az."
Azki lalu memberi ku tatapan kasihan. Dan aku tak perduli. Yang penting bagi ku adalah aku mendapatkan perhatian utama Laila ku.
Tengok saja saat ini. Berkali-kali Laila menaruh potongan buah pisang di mangkok salad nya ke mangkok ku. Tahu benar istri ku itu kalau aku memang menyukai pisang.
Well, sebenarnya lebih ke Laila yang tak menyukai pisang juga sih. Tapi toh Laila tetap berbagi makanan (yang tak disukai nya) bersama ku bukan? I love her so much.❤️
Ku amati semua keluarga ku di sekeliling kami lekat-lekat satu persatu. Entah kenapa aku merasa akan sangat merindukan mereka selama masa honeymoon ku bersama Laila selama seminggu ke depan nanti nya.
Oh ya, Laila merubah rencana kami di detik-detik terakhir. Secara tiba-tiba saja ia mengatakan kepadaku kalau ia ingin melihat koala di Singapura. Hal itu disampaikannya kepada ku pada tiga hari lalu. Saat kami baru saja pulang dari tempat kerja nya Laila yang terakhir kali.
Flashback.
"Koala di Singapura? Kamu gak salah, Yang? Setahu ku koala itu hewan asli asal Australia. Bukan Singapura deh," koreksi ku atas ucapan Laila.
"Ya terus kalau aku mau nya lihat di Singapura memang nya kenapa? Masalah gitu buat kamu?" Tanya balik Laila dengan sedikit kelebihan emosi.
"Err.. gak masalah juga sih. Tapi ngomong nya jangan sambil marah-marah gitu dong, Yang.. ingat sama nasihat Nunik. Kata nya mau jadi istri shaleha.." ucap ku lagi menenangkan Laila.
Akhir-akhir ini, nama Nunik selalu menjadi jurus andalan ku untuk menenangkan Laila yang sering emosian. Aku memiliki dugaan tersendiri terkait penyebab Laila jadi lebih sensi dibanding biasa nya. Karena aku menduga kalau Laila mungkin sedang mengandung calon putra ku.
__ADS_1
Aamiin.
Karena nya, meski sepahit apa pun kata-kata yang diucapkan oleh istri ku itu, aku akan selalu mengingatkan diri untuk bersabar, bersabar dan bersabar.
Tak apa-apalah yang penting Laila ku senang. Kalau pun aku mulai tak tahan dan habis kesabaran menghadapinya, tinggal catut saja nama Nunik. Dan pasti, sedetik kemudian amarah itu pun kan raib.
"Hh.. ok. Sorry. Aku lupa lagi," ucap Laila dengan begitu enteng.
Dalam hati, aku gatal ingin menyahut, 'lupa kok tiap hari dan tiap waktu sih..'
"Jadi, gak apa-apa ya kita ke Singapura. Lihat koala.. aku pingin ke sana lihat Koala.." ucap Laila lagi dengan nada merajuk kini.
'Adeudeuh.. berasa punya anak deh, bukan punya istri,' keluh ku dalam hati.
Kuamati lekat-lekat wajah Laila yang bergelayut manja di lengan ku. Tingkah nya persis seperti anak kecil yang pernah ku lihat merajuk pada ayah nya di sebuah toko swalayan dulu sekali.
Tingkah manja nya Laila ini juga ku duga sebagai efek dari kehamilan nya saat ini (jika benar dia hamil). Atau jika bukan, yah, bisa jadi karena Laila termasuk anak Makekuba.
Makekuba adalah istilah yang kugunakan untuk anak-anak dengan masa kecil kurang bahagia. Seperti Laila contoh nya. Dia juga kan termasuk anak korban broken home. Bisa jadi karena luka di masa kecil nya itu lah yang akhirnya memunculkan kembali sifat manja di masa kecil yang kurang puas dinikmati nya dulu. Begitu kiranya dugaan ku.
"Hh.. ya udah. Nanti aku cek dulu ya. Kira-kira di Singapura ada kebun binatang yang nampilin hewan Koala atau enggak. Semisal gak ada, kita ke Australia aja ya? Atau di Indonesia juga kayaknya ada deh," aku memberikan saran.
"Oke. Cepat cari sekarang juga! Aku yakin, pastilah ada Koala di Singapura!" Ucap Laila dengan sangat yakin.
Flashback selesai.
Kembali ke saat ini. Saat dilangsungkannya perjamuan kami bersama keluarga dan sahabat dekat.
"Jadi, besok kamu jadi ke Singapura, Lan?" Tanya Azki memastikan.
"Iya nih. Sayang ku pingin ke sana lihat koala."
Dan lagi-lagi Azki menggelengkan kepala nya heran.
__ADS_1
Dengan suara pelan, ia pun mencandai ku.
"Selamat datang di dunia pernikahan, Lan. Kamu akan menjadi budak bagi istrimu sendiri selama sisa hidup mu yang singkat ini! Selamat ya!" Bisik Azki menggoda ku.
Ku toyor pelan bahu nya Azki. Seraya menyahuti ucapannya itu.
"Nanti juga kamu akan merasakannya sendiri, Az. Cepat-cepat lah cari istri. Jangan sampai kamu bulukan menua sama laptop mu yang umurnya sudah berabad-abad itu," balas ku bercanda.
"Hahaha. Masih lebih baik beristrikan komputer deh kayak nya. Nurut sama perintah, dan gak suka minta yang macam-macam!" Balas Azki.
"Dasar jomblo abadi! Justru enak lah punya istri yang suka minta macam-macam. Kan nanti nya kita juga bisa balas minta yang macam-macam.." gurau ku dengan makna terselubung.
Azki terbatuk-batuk usai mendengar kalimat terakhir ku itu. Sementara aku langsung mendapat jawilan di pinggang ku. Dari siapa lagi, kalau bukan dari Laila ku tersayang, tentu nya.
"Kamu mau minta macam-macam apa, hah?!" Kecam Laila dengan nada sengit.
"Mm.. gak jadi macam-macam deh, Yang. Cuma satu macam aja.." seloroh ku sambil menyengir kuda ke arah nya.
Laila memicingkan kedua matanya padaku. Baru setelah ia tak lagi memperhatikan ku saja, aku akhirnya melanjutkan kembali ucapan ku yang terpotong.
"Cuma satu macam aja. Yaitu kita es krim-an nanti malam.." bisikku menggoda.
Dan aku langsung disajikan dengan pemandangan wajah istri ku yang menahan malu di wajah nya. Ah.. Laila ku sayang.
Kurasakan kebahagia an ku di dunia ini teramat banyak. Terlebih lagi nanti akan ada entah baby boy atau baby girl yang akan ikut meramaikan kehidupan kami berdua. Oh tidak, salah. Maksud ku kehidupan kami bertiga dengan Mama Mutia juga.
Mama Mutia telah setuju untuk menemani Laila dan aku di rumah baru kami yang sedang dalam tahap renovasi saat ini. Aku sudah tak sabar untuk pindah ke rumah itu bersama Laila dan juga Mama Mutia.
Oh ya, dan juga calon anak-anak kami juga. Kenapa ku katakan anak-anak? Karena aku mempunyai feeling kalau Laila sedang mengandung anak kembar kami saat ini.
Aku berharap kedua-duanya anak perempuan. Atau minimal satu anak laki dan satu nya lagi anak perempuan. Asalkan tidak kedua-duanya laki-laki saja. Karena aku bisa membayangkan kerepotan yang akan diciptakan oleh kembar dua anak laki-laki.
Duh! Pastilah repot sekali.
__ADS_1
***