Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Di Mobil Erlan (POV Laila)


__ADS_3

"Jadi, Mbak Laila sudah siap lahir dan batin untuk melanjutkan ikatan dengan Mas Erlan ke jenjang yang lebih serius, bukan?" Tanya Aryo memastikan.


Aku memandang kembali ke arah Erlan. Lalu pada Nunik, Aryo dan juga anak-anak yang tadi telah membantu confession nya Erlan. Anak-anak itu saat ini sedang menikmati traktiran Erlan kepada mereka.


"Ya. Insya Allah aku siap."


Pandangan ku kembali ke Erlan yang menatap ku dengan tatapan penuh cinta dan terima kasih.


Nunik sendiri langsung menghamburkan dirinya untuk memeluk ku. Dan aku malah harus sibuk mengusap-usap punggung si bumil itu.


"Kalau begitu, saya sarankan Mas Erlan ke rumah Buk De Mutia sepulangnya dari sini. Untuk memberikan kabar baik ini pada beliau. Untuk waktu lamaran resmi dan sebagai nya bisa dibicarakan nanti," ucap Aryo kembali.


"Ya, Kak. Terima kasih."


Setelah nya, kami pun bergegas pulang ke rumah ku. Setelah sebelum nya kami mendapat sapaan riang dari anak-anak yang tadi telah membantu proses lamaran nya Erlan kepada ku.


***


Di perjalanan menuju pulang..


Aku naik menumpang mobil nya Erlan saat ini. Sementara Nunik berdua dengan suami nya di mobil depan.


Pada mulanya Nunik keberatan jika aku pulang berdua bersama Erlan. Ia khawatir jika aku dan Erlan akan kebablasan. Terlebih kami masih dalam masa euforia atas resmi nya hubungan kami yang kembali balikan.


Tapi aku meyakinkan Nunik kalau kami akan menjaga sikap. Lagipula, kami kan langsung pulang ke rumah dan mengekori mobil nya Aryo. Jadi mana bisa kami berbuat macam-macam di perjalanan yang tak sampai setengah jam ini?


Lagi pula, ada hal yang harus ku perbincangkan hanya berdua dengan Erlan saja. Dan aku merasa tak nyaman bila pembicaraan ini didengarkan pula oleh Nunik dan suaminya itu.


Nunik pun akhirnya mengerti dengan keinginan ku ini. Ia lalu membiarkan ku naik ke mobil nya Erlan sejak di depan Mozartino tadi.


Tak lupa sebuah peringatan terakhir diucapkan Nunik berkali-kali kepada kami (aku dan Erlan).


"Jaga sikap, jaga mata, jaga jarak!" Nasihat Nunik sebelum aku menaiki mobil Erlan.


"Iya. Iya.. bumil ku yang cantik. Sekalian aja jaga gawang kan maksudnya kamu, Nun?" Seloroh ku asal.


"Pokoknya jangan macam-macam deh ya, il! Dan kamu juga ya Lan! Ku titip Laila sama kamu ya!" Lanjut Nunik kepada Erlan.


"Ya ampun, Nun.. udah dong. Jangan bikin aku kelihatan seperti anak SD yang dititipin ke guru nya kayak gini dong. Malu tahu!"


"Lebih baik malu menghadapi ciptaan nya Allah lah, il. Dari pada malu ketahuan berbuat salah di hadapan Allah. Ingat, Allah selalu melihat dan mengawasi setiap gerak-gerik kita lho, il!" Tegur Nunik kembali.


'Ya ampun.. alamat gak bakal beres-beres nih kalau dibiarin!' dumel ku dalam hati.


Kemudian aku memberikan pandangan minta tolong pada Aryo. Dan syukurlah suaminya Nunik itu mengerti. Dengan lemah lembut dituntun nya sang bumil cantik untuk segera masuk ke dalam mobil.


***

__ADS_1


Di dalam mobil Erlan...


"Jangan bilang kalau kamu menyesal udah menerima ku ya, La. Aku bakal tolak pernyataan yang kayak gitu!" Kecam Erlan sebelum aku sempat berkata apa-apa.


Aku memicingkan mata pada pemuda di samping ku itu. Baru juga tangan ku hendak mencubit nya, namun Erlan sudah menepis jemari ku terlebih dulu dengan pelan.


"Eits! Ingat kata Nunik, La. Jangan macam-macam ya! Ada Allah yang mengawasi kita loh. Kita kan belum muhrim!" Tegur Erlan tanpa aba-aba.


"Maksud mu belum mahrom kali, Lan! Kalau muhrim itu biasa dipakai dalam proses ibadah haji dan umroh. Sementara untuk hal pernikahan dan nasab tuh pakai nya kata mahrom!" Aku mengoreksi Erlan.


"Oh.. iya kah?"


"Iya. Aku dengar langsung dari Ustazah Wina yang biasa mimpin pengajian ibu-ibu di kompleks rumah ku."


"Siap. Makasih yaa untuk koreksi nya. Pokoknya, inget deh kata Nunik tadi. Jaga mata, jaga sikap, dan jaga jarak. Hush! Hush! Sana mepet ke jendela aja!" Usir Erlan berpura-pura.


"Dasar! Ustadz dadakan!" Umpat ku sedikit kesal kepada Erlan.


Setelah beberapa lama..


"Jadi, kamu mau ngomongin apa kalau gitu, La?" Tanya Erlan kemudian.


"Aku mau memastikan aja, Lan. Kamu beneran gak apa-apa dengan kondisi hubungan kita nanti? Aku sendiri sebenarnya masih ragu sih."


"Tuh kan! Jangan ngomong ragu-raguan ah! Itu tuh kamu lagi dikipas-kipasin sama setan itu La, nama nya. Itu setan udah bikin kamu ragu untuk bisa move on dari Kiyano. Dan sikap ragu itu lah yang bisa merusak masa depan kamu sendiri nanti nya, La!" Erlan memberikan ku nasihat.


"Maksud ku tuh, aku pasti masih akan sering merasa bersalah sama kamu, Lan. Aku takut kamu nanti bakal bosan nungguin aku berubah suka sama kamu, terus--"


"Kalau kamu nanti merasa bersalah ke aku, aku minta tolong banget ke kamu untuk obrolin insecure nya kamu itu dengan ku. Sebuah komunikasi itu hal yang sangat penting di setiap hubungan apapun, La. Jadi please, bilang dan bilang aja semuanya ke aku. Ok?"


"Hh.. oke."


Selama beberapa saat, keheningan memenuhi percakapan di antara aku dan juga Erlan.


"Tapi kamu jangan menyesal ya, Lan. Awas aja kalau nanti kamu nyesal dan minggat kabur dari ku! Pokok nya, Aku tuh cuma mau menikah sekali seumur hidup!" ku ancam Erlan.


"Eh! Jadi kita udah siap ngebahas soal pernikahan nih ceritanya," seloroh Erlan menggoda.


"Yang serius, Lan!" Aku menegur Erlan.


"Iya. Iya. Ku seriusin nih. Ku dengarkan juga.." sahut Erlan yang langsung terdiam.


"Pokoknya aku udah bilang siap nikah sama kamu. Dan kamu harus bertanggung jawab ya, Lan. Sampai akhir! Gak boleh mundur!" Lagi-lagi aku mengingatkan Erlan.


"Justru aku lah yang khawatir kamu bakalan mundur, La. Yang udah-udah kan kamu yang suka mutusin hubungan secara sepihak.." sindir Erlan.


Ku picingkan kedua mata ku ke arah Erlan. Dan lelaki yang masih fokus menyetir itu langsung menutup rapat mulut nya dari berjulid ria.

__ADS_1


"Dan aku ingatkan ke kamu juga ya, Lan. Aku paling benci dibohongin, apalagi diselingkuhin!"


"Ngelihatnya biasa aja dong, La. Siapa juga yang berani selingkuhin singa yang suka ngamuk macam kam..mu.."


"Erlan!".


"Eh! Maaf. Maaf ya La. Khilaf.. khilaf.. silahkan dilanjut."


"Jangan bohong, jangan selingkuh, jangan suka nyuruh-nyuruh,"


"Huh?"


"Dengerin aku dulu deh pokoknya!"


"Oke. Lanjut!"


"Jangan semena-mena, jangan paksa aku untuk ngelakuin sesuatu yang gak aku suka."


"Semacam hal apa yang gak kamu suka lakuin, La?" Tanya Erlan kembali memotong ucapan ku.


"Semacam.. maksa aku untuk... Bernyanyi! Aku paling gak bisa kalau disuruh nyanyi!"


Ku lihat Erlanyang langsung menyengir.


"Kamu suka false ya kalau nyanyi?" Tanya Erlan dengan tatapan jahil.


"Pokoknya jangan suruh aku nyanyi!"


"Iya. Iya. Calon istri ku tersayang.."


Dan blush..


Aku merasa wajah ku mestilah semerah tomat saat ini, usai Erlan memanggil ku dengan nama panggilan tadi.


"La? Kok malah diam sih?" Tanya Erlan yang masih fokus menyetir.


Pemuda itu lalu melirik ke arah ku dan akhir nya menyadari kalau wajah ku telah memerah.


"Kamu kenapa, La?" Tanya Erlan merasa khawatir.


Dengan spontan ia langsung menyentuh kening ku yang tak panas. Dan aku buru-buru mengelak. Tapi Erlan sudah menyadari kalau aku tak sedang demam saat ini.


Selama beberapa saat ia tampak berpikir. Kemudian tersadar dengan apa yang terjadi kepada ku. Dengan jahil nya, Erlan malah kembali menggoda ku.


"Kamu mau aku anterin ke klinik dulu kah, calon istri ku tersayang?" Tanya Erlan sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"ERLAN!"

__ADS_1


"Adaw!!" Erlan mengaduh sakit. Karena cubitan ganas ku yang kembali bersarang di lengan nya yang putih bersih.


***


__ADS_2