Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Ramai nya Anak-Anak (POV Laila)


__ADS_3

Sejak memimpikan Erlan beberapa malam yang lalu itu, aku merasa hati ku menjadi jauh lebih tenang kini.


Kalimat terakhir Erlan dalam mimpi ku seolah menjadi oase bagi hati ku yang terasa gersang selama beberapa tahun terakhir ini.


'I love you, La.. forever and ever..'


Hanya satu kalimat itu saja, dan aku bisa menatap hari-hari ku di kedepan nya dengan senyuman yang lebih tulus. Bukan senyuman buatan yang ku ukir untuk orang-orang terdekat ku. Bukan pula senyuman tanpa makna yang kubagi untuk semua kolega bisnis ku.


Aku benar-benar bisa tersenyum dari dalam hati ku. Karena aku menyadari dan kembali diingatkan oleh Erlan dalam mimpi ku kemarin. Bahwasanya aku pernah memiliki seorang lelaki yang mencintai ku dengan setulus hati nya.


Perasaan dicintai ini lah yang aneh nya membuat daya hidup ku perlahan kembali dengan sendiri nya.


Kegiatan ku yang sehari-hari nya mengantarkan anak ke sekolah dan sesekali pergi ke butik La Luna, ku jalani dengan hati yang lebih bahagia.


Ku nikmati setiap detik kebersamaan ku bersama anak-anak dan keluarga dengan tawa canda yang mulai kembali mewarnai hari ku.


Perubahan ku ini disadari oleh mereka yang dekat dengan ku. Salah satu nya adalah Nunik.


Dalam suatu kunjungan nya sore hari ke rumah, Nunik mengajak serta ke tiga anak nya ke rumah ku. Baby Nan, putri sulung nya Nunik dan Mas Aryo, kini telah menjelma menjadi anak perempuan bertubuh mungil seperti Bunda nya.


Nania Mirah adalah seorang gadis yang pemalu namun murah senyum. Aku selalu merasa gemas ingin mencubit pipi gembil nya Nania itu.


Usia Nania akan menginjak tujuh tahun bulan depan nanti. Rencana nya Nunik ingin mengundang ku makan-makan bersama keluarga nya demi merayakan hari jadi nya sang putri. Namun Nunik tiba-tiba saja mengomentari perubahan yang terjadi kepada ku akhir-akhir ini.


"Apa ada sesuatu yang baik terjadi di butik, La?" Tanya Nunik suatu ketika.


"Ya? Ada. Alhamdulillah butik ku ikut serta di acara B fashion week bulan depan. Alhamdulillah.." ungkap ku jujur.


Kami berdua sedang duduk santai di atas sofa ruang keluarga. Menatap keramaian yang diciptakan oleh ketiga anak Nunik dan juga kedua anak ku sendiri.


Setelah Baby Nan, satu tahun kemudian Nunik kembali melahirkan. Seorang putra yang diberinya nama Angkasa Raya. Nama unik yang menggelitik rasa jahil dalam diri ku untuk meledek keanehan nya dalam memberi nama kedua anak nya itu.


Nania Mirah mungkin masih cukup oke lah tak terlalu aneh. Tapi Angkasa Raya? Kenapa tak sekalian menjadi Angkasa Raya Memuji saja? Seperti lirik sebuah lagu kebangsaan yang sering dinyanyikan kala sedang mengheningkan cipta dulu? Hahaha.


Terhadap ledekan ku itu, Nunik menjawab dengan kalimat sabar nya.


"Nama Angkasa Raya pun memiliki doa yang baik dari aku dan Mas Aryo, La. Aku berharap Angkasa bisa memiliki hati yang lapang seluas angkasa. Dan juga senantiasa merayakan hidup nya dengan hati yang selalu bersyukur kepada Allah swt," begitu kata Nunik dulu.


Dan aku pun langsung dibuat terdiam kala mendengar ucapan Nunik itu. Sedikit merasa tersindir karena aku memberikan nama Mark dan Lanila hanya berdasarkan ucapan selintas dari Erlan semata.

__ADS_1


"Wahh.. bagus itu! Alhamdulillah ya. Sekarang usaha butik Lail berarti semakin berkembang, ya il. Gak nyangka Lail ternyata bisa jadi entrepeneur yang handal juga ya," Nunik memuji ku.


Aku tersenyum lebar. Dan hanya menyahut singkat, "alhamdulillah.. kuasa Allah, Nun!"


Ku tengok sekitar dua meter di depan sofa tempat kami duduk saat ini. Nila sedang berdebat dengan Angkasa. Sementara Nania dan Mark sedang menemani baby Go bermain balok susun.


Baby go adalah putra ketiga Nunik dan Mas Aryo yang kini berumur tiga tahun. Mark seperti nya senang dengan baby Go yang diam dan penurut. Keduanya sering bermain melepas dan merangkai balok susun bersama-sama.


Sementara itu Angkasa yang berkepribadian lebih cerewet dari kedua saudara nya lebih sering berdebat dengan putri bungsu ku, Nila.


Aku tergelak saat mendengar perdebatan Angkasa dan Nila terkait superhero yang terkuat menurut versi masing-masing.


Keduanya masih sama-sama cadel. Dan postur keduanya pun terbilang hampir serupa. Angkasa memang hanya beberapa bulan lebih muda dari Nila.


"Yang paling kuat itu Lubi, Ang! Dia punya payung dan tas ajaib yang bagus. Walna walni kayak pelangi. Telus juga bisa bikin belubah jadi doktel.. Jadi balbel (maksud nya barber, tukang cukur rambut).. Jadi.." ucapan Nila dipotong oleh Angkasa.


"Enggak! Yang paling kuat itu ya boboiboy lah! Dia bisa belubah jadi banyak! Boboiboy petil! Ciaattt...boboiboy ail! Syuuutt...." Seru Angkasa sambil memperagakan beberapa adegan kartun boboiboy di televisi.


"Lubi yang paling kuat, Ang! Ya kan kak Mak?!" Nila meminta dukungan pada kembaran nya.


Dan Mark langsung mengiyakan saja tanpa mengetahui betul apa yang ditanyakan oleh sang adik. Ia masih asik menyusun balok bersama baby go dan Nia. Ketiga nya bermsin balok tanpa suara.


"Tuh kan! Kak Mak juga bilang Lubi yang paling kuat!" Seru Nila merasa puas karena argumen nya mendapatkan dukungan.


Seolah tak ingin kalah, Nila ikutan berdiri. Kemudian ia tiba-tiba saja mengambil tongkat mainan, mengacungkan nya ke atas, lalu berputar sekali dan mengacungkan tongkat itu ke arah Angkasa.


"Payung pelangi Lubi! Hiyaaaa!!" Teriak Nila.


Angkasa kembali membalas. Kali ini ia berdiri tegak, dan berkacak pinggang. Mulut nya lalu sengaja dimanyunkan dan meniupkan angin.


"Boboiboy angin! Syuuuuuuuhhhh!!"


Aku tertawa bahak manakala Angkasa tak sengaja meniupkan air liur nya juga ke arah Nila. Sehingga membuat Nila yang cukup higienis itu langsung menjerit jijik.


"Iihhh..! Angka jolok! Mamaaa! Angkasa main ilel, Maa!" Nila menghambur ke arah ku.


Sementara Angkasa terus mengejar Nila sambil menyemburkan air liur nya ke arah Nila. Sayang nya usaha nya mengejar Nila harus berakhir manakala Nunik menangkap tubuh mungil nya itu.


"Angkasa Sayang.. jangan begitu main nya. Itu gak sopan, Sayang.." tegur Nunik.

__ADS_1


Tapi Angkasa masih belum mendengar kalimat Nunik. Ia masih berusaha menyembur-nyemburkan air liur nya ke arah Nila yang kini bersembunyi di belakang ku.


"Angka jolok! Nila gak mau main sama Angka lagi!" Nila bersumpah.


Aku dan Nunik saling berpandangan.


Menyadari kalau ucapan Nila tadi itu tak akan ditunaikan nya dengan pasti. Karena seperti yang sudah-sudah, Nila dan Angkasa pastilah akan kembali bermain bersama lagi.


Anak-anak memang begitu. Marah nya mereka di satu waktu, akan dengan mudah nya mereka lupakan di waktu yang lain.


Anak-anak bukan lah seseorang yang menyimpan dendam. Sevokal apapun kalimat sumpah yang ia ucapkan, anak-anak selalu memiliki hati yang lapang dalam memaafkan.


Tak seperti orang dewasa pada umumnya.


"Hh..Nunik.. Angkasa.. ayo baikan. Main nya jangan marah-marahan dong, Nak. Ingat apa kata Bunda Nunik kan? Laa taghdob wa lakal jannah. Jangan lah marah, maka bagi mu syurga!" Aku mencoba mengakurkan kedua bocah itu.


"Angka nya tuh Mah! Main nya jolok! Nila gak suka! Gak suka!" Ucap Nila di belakang punggung ku.


"Nila nya aja yang payah! Dibilang Boboiboy yang paling kuat, bukan Lubi!" Seru Angkasa menyanggah.


"Lubi!"


"Boboiboy!"


"Lubi!"


Kedua bocah itu terus saling membalas teriakan satu sama lain. Hingga membuat suasana di ruang keluarga itu menjadi sangat sangat ramai.


Kemudian datang lah Mama Mutia ke dalam ruangan dengan membawa sepiring besar cookies bertabur choco chips. Cemilan kesukaan anak-anak.


"Hayo! Oma punya kue lho. Siapa yang mau?" Seru Mama sambil mendekati sofa tempat ku duduk.


Seketika itu pula perhatian kelima bocah pun langsung tertuju pada piring yang Mama Mutia pegang.


Semua nya langsung berteriak "mau! Mau!". Kemudian menghampiri Mama hingga ia kewalahan.


Aku pun buru-buru menolong Mama.


"Eits! Habis pada megang mainan kan? Ayo semua cuci tangan dulu sana! Biar gak ada kuman yang ikut masuk pas kalian makan!" Aku mengingatkan.

__ADS_1


Semua nya serentak pergi ke tempat wastafel yang berada di dapur. Dan kami dibuat geleng-geleng kepala saat melihat tingkah Nila dan Angkasa yang kini bergandengan tangan dengan damai menuju dapur. Keduanya lalu menyanyikan lagu "Ayo Cuci Tangan" bersama-sama. Benar-benar terlupa dengan perselisihan yang sempat terjadi sesaat tadi.


***


__ADS_2