Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Panggilan ke Kantor (POV Laila)


__ADS_3

'Alamak! Kenapa pula mesti ketemu si Keong lagi? Di sini pula? Dengan cara yang begini pula?! Apes banget sih!' aku mengeluh dalam hati.


Tangan yang tadi nya hendak ku julurkan untuk membantu orang yang ku tabrak agar kembali berdiri, seketika langsung ku tarik kembali. Aneh nya aku tak bisa melepaskan kedua netra ku dari sandera an pandangan Kiyano.


Lelaki itu menatap ku dengan begitu intens, hingga membuat rasa gelitik di perut ku kembali datang. Tengok pula debur jantung ku yang terasa semakin cepat dan kencang. Membuat ku tanpa sadar meletakkan tangan di dada, masih dengan posisi berjongkok di depan Bos ku itu.


Semua ini baru berakhir ketika Kiyano tiba-tiba saja melepaskan koneksi mata di antara kami. Lalu berdiri dan berucap.


"Kunjungan berakhir sampai di sini. Silahkan kalian melanjutkan kembali pekerjaan kalian." Dan Kiyano pun bergegas pergi, meninggalkan ku yang masih diam tergugu di tempat yang sama, dengan posisi yang masih sama.


Ku pandangi kepergian Kiyano dengan hati yang... Entah lah.


'Kenapa dengan ku? Tadi aku merasa geli di perut. Sekarang kenapa dada ku terasa sesak? Sakit ini datang begitu tiba-tiba. Apa aku...' aku sibuk menerka yang sebenarnya terjadi padaku kini.


'Apa aku.. sakit jantung? Sakit perut? Atau dua-duanya ya?' gumam ku sendirian tanpa suara.


Sementara itu masih dalam jarak yang tak terlalu jauh aku mendengar suara seorang pria yang sibuk mengejar Kiyano.


"Bapak tidak apa-apa? Mau saya antar ke rumah sakit, Pak?"


"Tak apa-apa. Saya baru ingat ada meeting dengan staf akuntan," sahut Kiyano dengan suara yang datar.


Seolah memiliki radar ku sendiri, kuping ku langsung menyimak pembicaraan Kiyano dan lelaki paruh baya itu.


"Oh.. Bapak tidak mau makan dahulu, Pak? Saya sudah pesan katering. Sebentar lagi kan waktu istirahat," ucap lelaki itu kembali.


"Tak perlu. Kalian makan saja tak apa-apa."


"Baik, Pak. Bagaimana dengan OB wanita tadi? Apa perlu saya mengajukan SP karena kejadian tadi, Pak?”


Ba dump.


Meski suara percakapan ke dua orang di kejauhan itu mulai mengecil, aku masih bisa mendengar suara lelaki itu. Terlebih saat aku menerima pandangan tak suka dari lelaki yang mengejar-ngejar Kiyano itu. Membuat ku langsung menundukkan pandangan, merasa takut.


Tak ku dengar jawaban Kiyano atas pertanyaan tadi. Membuat ku merasa khawatir oleh akibat yang akan ku terima nanti.


Aku baru tersadar dari lamunan ku sendiri kala sebuah tangan mengajak ku untuk bangun. Nindi.


"La.. Laila. Udah yuk bangun. Kamu gak apa-apa?" Tanya Nindi perhatian.

__ADS_1


Aku mengikuti tarikan tangan Nindi hingga bangun berdiri. Tapi kemudian aku tak kuasa menahan gempuran rasa yang menyesakkan hati ku. Akhirnya ku peluk lah Nindi dan aku menangis sesenggukan. Di bawah pandangan aneh dan terkejut beberapa orang lelaki yang masih berdiri di dekat kami.


Aku tak perduli dengan pandangan-pandangan menyalahkan yang tertuju kepada ku itu. Ku sembunyikan isak ku di bahu Nindi selama beberapa waktu.


"Duh, Laila.. kok kamu malah nangis sih?udah..hushh.. jangan nangis lagi. Gak apa-apa. Tenang aja. Semuanya akan baik-baik aja," hibur Nindi.


"Tapi, kalau nanti aku dipecat sama si keyong gimana?" Tanya ku dengan mata yang sudah kemerahan.


Nindi menatap ku bingung.


"Keyong?" Tanya Nindi tak mengerti.


Dan aku langsung membelalakkan kedua mata ku. Menyadari kalau aku telah keceplosan memanggil bos kami itu dengan julukan yang ku sematkan pada nya.


Terlebih dulu aku melirik ke sekitar. Beruntung rombongan laki-laki yang tadi berkerumun di tempat ini kini mulai kembali berjalan masuk ke dalam salah satu gudang tak jauh di depan.


Setelah dirasa aman, aku pun mengoreksi ucapan ku.


"Mak..maksud ku tuh si Kiyano.. iya. Aku salah sebut, Nin," ucap ku dengan nada gugup.


"Oh.. Bos Kiyano.." sahut Nindi dengan pandangan yang tampak masih menyelidik.


"Sebenarnya.. Keong itu gelar yang sengaja aku kasih ke bos Kiyano, Nin.. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya! Bisa gawat kan kalau panggilan ku itu didengar sama orang nya langsung. Bisa dipecat langsung nanti a..hhh.." tiba-tiba aku merasa lemas dan letih hati.


"Tapi aku mungkin akan dipecat sebentar lagi deh, Nin, karena kejadian tabrakan tadi."


"Belum tentu, La. Kamu yang optimis, dong!" Hibur Nindi.


"Hhh.. semoga ya, Nin. Tapi.. minimal kalau pun aku gak dipecat, mesti lah nanti aku dapat SP (Surat Peringatan, yakni surat teguran yang diberikan kepada karyawan yang telah melakukan kesalahan)."


"Hmm.. Kita berdoa aja dulu yang baik-baik ya, La. Semoga Allah mendengar doa kita."


"Aamiin..." Ku pandangi wajah Nindi dengan pandangan terharu.


"Makasih ya, Nin.. Untung kamu ada di sini. Coba kalau aku nganterin katering sendirin, mestilah aku udah ling lung dan nangis sendirian di tengah jalan gini," seloroh ku asal.


Nindi tersenyum mendengar celotehan ku.


"Masa iya, La? Gak mungkin sampai seharian juga deh kayaknya. Palingan nanti kalau kamu gak balik-balik ke basecamp, bakal ada staf OB lain yang nyusul ke sini," Ucap Nindi.

__ADS_1


Aku meneghela napas letih. Merasa sedikit lebih lega usai melepaskan tangis singkat ku tadi. Seperti itu lah kiranya aku.


Jika aku memiliki masalah, aku memang membutuhkan sedikit waktu untuk menangisi nya. Baru lah kemudian aku bisa melanjutkan kembali aktivitas ku dengan pikiran yang lebih tenang.


Bahkan terkadang aku langsung terlupa dengan masalah yang ku hadapi dan malah bersikap cuek dan ceria seperti biasanya aku.


"Udah lah yuk. Kita cepat anterin katering ini terus kembaliin troli nya ke Mbak kantin. Sekalian di sana, kita makan Bakso Aci yuk. Bentar lagi kan waktu rehat ya!"


"Ayo!"


Akhirnya, kami berdua kemudian kembali mendorong troli menuju sebuah gudang. Itu adalah gudang yang tadi dimasuki oleh rombongan lelaki tadi.


Selama sedetik aku merasa gentar untuk memasuki gudang itu. Ku rasa rombongan lelaki tadi adalah tujuan akhir dari katering makanan yang sedang kami bawakan ini. Namun kemudian aku menabahkan hati ku.


'Tak perlu merasa takut atas apa yang belum terjadi. Berani kan diri mu dan teruslah bergerak maju,' hibur ku pada diri sendiri.


Benar saja. Ternyata rombongan lelaki tadi adalah tujuan katering yang sedang aku dan Nindi bawa. Usai menyerahkan berkotak-kotak makanan itu pada salah satu staf, kami berdua pun pamit.


Syukurlah. Aku tak lagi mendapatkan tatapan menyalahkan lagi. Rata-rata semua lelaki di dalam gudang itu malah berusaha menghibur ku. Mereka mengatakan kalau Bos Kiyano adalah seorang yang sangat baik. Jadi ada kemungkinan kesalahan ku tadi akan dimaafkan nya.


Ku berikan senyuman terima kasih atas penghiburan dari semua lelaki di sana. Meski dalam hati aku masih menyangsikan kebenaran ucapan mereka tadi.


Setelah nya aku dan Nindi pun kembali ke kantin untuk mengembalikan troli sekaligus mengisi perut kami yang sudah keroncongan ini.


Usai makan, kami kembali melanjutkan pekerjaan kami masing-masing. Aku berusaha lebih fokus pada pekerjaan ku kini. Tak lagi bermain-main atau pun bercanda-canda.


Aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Harap ku, semoga dengan usaha ku ini, aku bisa tetap bertahan di tempat kerja ku yang sekarang.


Aku sangat berharap agar aku tak mendapatkan hukuman atas keteledoran ku tadi siang.


Namun, sebuah pesan yang disampaikan oleh Erlan kepada ku menjelang waktu pulang, telah mendatangkan perasaan was was yang kembali membayang.


Kata Erlan, "La.. tadi sekretaris nya Pak Kiyano nitip pesan. Kata nya sebelum pulang, kamu diminta datang ke ruangan nya Pak Kiyano."


Ba dump.


Seketika hati ku dirundung gelisah. Merasa kalut dan takut pada apa yang akan ku hadapi nanti nya..


***

__ADS_1


__ADS_2