
Selesai acara resepsi pernikahan nya Arline, aku kembali disibukkan oleh rutinitas ku bekerja. Sore hari nya, Erlan akan menjemput ku pulang dan melakukan beberapa persiapan untuk acara lamaran kami hari Minggu nanti nya.
Sebenarnya aku sudah meminta untuk menyederhanakan acara lamaran kami. Jadi cukup pihak keluarga dan kerabat terdekat saja yang diundang. Namun begitu kulihat daftar undangan yang ditunjukkan oleh Mama Ilmaya kepada ku, aku langsung merasa speechless.
Karena ternyata kerabat keluarga Erlan saja ada cukup banyak. Hingga hampir delapan ratus tamu, kira-kira.
Alhasil mau tak mau aku pun mengikuti saran nya Mama Ilmaya untuk memilih gaun, pernak-pernik seserahan, dan segala yang terkait dengan acara lamaran dengan seindah dan sebaik mungkin.
Sore ini, rencana nya aku akan pergi ke butik untuk fitting baju lamaran bersama Erlan.
Selama beberapa hari terakhir ini aku mengistirahatkan Merry ku di rumah. Karena Erlan ngotot ingin mengantar jemput aku dari dan ke tempat kerja ku yang sekarang.
"Maaf ya, Sayang.. tadi ada kecelakaan motor di persimpangan. Jadi agak macet deh tadi," tutur Erlan beralasan saat ia terlambat datang menjemput ku.
"Kubilang juga apa kan, Lan? Mending aku naik motor ku sendiri deh. Jadi aku kan gak perlu nungguin kamu lama kayak gini. Bete tahu, nungguin itu!" Omel ku panjang lebar.
"Duile.. Baru nunggu dua puluh menitan aja manyun nya sampe se meter. Jangan gitu dong, Ay.. Nanti manis nya habis lho!" Goda Erlan.
"Apa sih ay, ay. Maksud kamu ayan?!" Aku mendumel.
Bukan nya kenapa aku mendumel tanpa sebab. Karena seharian tadi aku menghadapi beberapa masalah yang sungguh membuat hati ku jerih dan lagi letih.
Lagi-lagi siang tadi aku bertemu customer (pelanggan) yang menyebalkan dan suka menyasar marah-marah.
"Ada masalah ya di tempat kerja kamu, Yang?" Terka Erlan dengan sangat tepat.
"Iya! Tahu gak, Lan? Tadi itu ada Mbak-Mbak yang asli nyebelin banget! Udah mah bikin aku nyari-nyari produk yang njelimet banyak nya. Terus pas mau pembayaran, kata teman ku yang jadi kasir, si Mbak nya ternyata lupa bawa dompet. Jadi dia minta ditunggu karena dia mau pulang dulu," curhat ku langsung dengan berapi-api.
"Terus, kamu tungguin, Yang?"
"Ya aku gak nungguin juga sih. Cuma barang belanjaan nya itu kan masih numpuk di troli ya, Lan. Ditungguin sampai tiga jam, orang nya gak nongol-nongol. Padahal dia bilang nya cuma setengah jam an balik ke rumah nya."
"Terus?"
"Terus ya aku disuruh beresin itu barang belanjaan nya sama supervisor ku dong. Ya aku beresin deh. Tapi dua jam setelah nya itu Mbak nya tahu-tahu nongol dan nanyain barang belanjaan nya. Ya kubilang aja kan kalau belanjaannya udah diberesin. Eh, dia malah marah-marahin aku, coba. Bilang aku gak sabar lah! Gak ramah lah!"
"Coba deh kamu nilai aku, Lan! Kurang sabar dan kurang ramah apa coba ya aku? Jelas-jelas aku tuh penyabar dan humble gini. Dasar memang itu Mbak nya yang pemarah kayak banteng!"
"Hush! Jangan mengumpat, La!" Tegur Erlan.
"Iishk.. aku lupa. Gara-gara Mbak pemarah itu sih nih!"
__ADS_1
"Istighfar Laa.." Erlan mengingatkan.
"Eh iya. Istighfar.."
"..."
"..."
"Buahaahaa!! Astaghfirullah Laila Sayang.. bukan sebut nama istighfar nya doang!" Tegur Erlan lagi sambil tertawa bahak.
"Ya ampun! Astaghfirullah! Beneran ngeselin deh jadi nya!" Aku masih juga mendumel sambil menutupi rasa malu atas kedu nguan ku barusan.
"Dan kamu lagi, Lan! Tambah bikin kesal aja karena buat aku nunggu lama. Waktu itu adalah pedang, Lan!" Dumel ku berlanjut.
"Seingat ku, ada juga pepatah bilang kalau waktu adalah uang, deh, Yang," sanggah Erlan.
"Pedang! Aku sering nya dengar dari Nunik kalau waktu itu adalah pedang. Jadi kita harus berhati-hati dalam mempergunakannya. Jangan sampai lalai dan terlena dalam perkara yang tak bermanfaat. Gitu kata Nunik juga, Lan!"
"Uang ah! Bukan pedang, Yang!" Erlan masih ngotot menyanggah.
"Ya udah kamu mah uang. Aku mah pedang. Kamu mah matre. Aku mah.."
"Kere.." sambung Erlan.
"Aku mah keren lah! Pendapat yang bilang kalau waktu adalah uang adalah golongan kapital yang mementingkan nilai materi di atas segala nya. Jadi kamu tuh kapital ya, Lan!" Aku menuding.
"Hush! Kok malah main tuding menuding sih? Bukannya gak boleh ya menganggap diri sendiri lebih baik daripada orang lain? Itu namanya sombong, Yang!" Tegur Erlan kembali.
Aku terdiam sejenak sambil memikirkan pernyataan Erlan barusan.
"Hmm.. benar juga kata mu itu. Oke. Aku koreksi deh."
"Minta maaf nya mana?"
"Iya. Minta maaf!" Jawab ku sambil berteriak.
"Aishh Laa.. biasa aja bisa kan ngomong nya. Gak usah pake acara teriak segala. Mulut kamu tuh udah sem--"
"Apa? Kamu mau ngomong mulut ku kenapa hah?!" Aku langsung memelototi Erlan.
"Sem..purna! ya! Mulut mu tuh udah sempurna banget, Sayang!" Seru Erlan dengan terburu-buru.
__ADS_1
"?!!"
Ku picingkan kedua mata ku ke arah Erlan yang terlihat sedikit gugup di balik kemudi. Setelah agak lama, aku mengalihkan pandangan ku ke luar mobil. Lebih tepat nya adalah aku menatap langit biru yang terbentang cantik tanpa terlihat awan sedikit pun di atas sana.
Tak lama kemudian, ku dengar Erlan melanjutkan perkataan nya tadi.
"Dan akan lebih sempurna lagi kalau kamu bisa duduk manis diam macam boneka barbie, Yang.. hahaha!" ucap Erlan sambil terkekeh dalam tawa.
"Erlan! Mau ku cubit ya kamu?" Aku mengancam.
"Eits! Jangan main cubit-cubitan dong, Yang.."
"?!!"
"Main senggol-senggolan aja.. kayak lagu nya Bunda Elvie itu tuh.. cubit-cubitan Ooyy.. cubit-cubitan.. senggol-senggolan.. ooyy.. senggol-senggolan.." seloroh Erlan yang malah asyik bernyanyi kemudian.
Aku memutuskan untuk tak menghiraukan kekonyolan calon suami ku itu. Khawatir jika ku sahuti, aku malah akan jadi ikutan gila seperti nya.
"Genit-genit.. gadis sekarang.. kalau disenggol.. katanya cinta.. ayo sayang! Kita nyanyi bareng! Cubit-cubitan.. ooy.. cubit-cubitan.."
Melihat gelagat Erlan yang sesekali mengedip-kedipkan mata nya kepada ku, lama-lama membuat ku tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
Sungguh konyol benar calon suami ku ini.
"Hihihi.. kamu mulai gila deh, Lan, kayak nya. Berobat gih, sana!" Aku meledek Erlan.
Dan, jawaban Erlan berikut nya langsung membuat ku terkaget-kaget. Karena Erlan tiba-tiba saja meneriakkan nada lagu "Berhenti Berharap" nya Sheila on 7 di bagian Reff. Namun lirik nya ia ganti sesuka hati nya.
"A...ku.. gilaaa... Haaa.... Karena cintaa....haaa...pada Lailaa....Laila maaaatoooaaaa...huu...huu.."
Spontan saja. Aku langsung tertawa terpingkal-pingkal.
"Hahaha! Hahaha! Ampun, Lan! Ampun! Udahan ah! Perut ku sakit nih!" Ucap ku di sela derai tawa yang sulit tuk ku hentikan.
"Oke, Sayang.. hahh.. lagian capek juga nih nyanyi teriak-teriak."
"Salah kamu sendiri. Ngapain beraksi macam kayak orang gila," aku kembali meledek Erlan.
Dan lagi-lagi, Erlan berteriak sambil menyanyikan lagu yang tadi.
"A..kuu.. gilaa....."
__ADS_1
"ERLAN!!" Omel ku kemudian sambil terkikik geli.
***