
Flash back satu minggu yang lalu...
Pekerjaan ku sebagai kepala manajer di cabang kantor pabrik tekstil membuat ku agak kelimpungan pada awal nya. Ku dapati ada banyak penyelewengan yang dilakukan oleh beberapa staf kantor saat aku mempelajari laporan-laporan bulanan terkait perkembangan di kantor ini.
Aku cukup geram atas adanya tindakan korupsi yang dilakukan oleh beberapa oknum tak bertanggung jawab itu. Padahal saat ku cari tahu besar gaji mereka, ku nilai mereka memiliki gaji di atas rata-rata bila dibandingkan dengan gaji karyawan lain dengan profesi yang sama di kantor lainnya.
Memang, ayah mertua ku mengajarkan ku untuk selalu mengutamakan kesejahteraan karyawan terlebih dahulu. Karena menurutnya, bila karyawan merasa senang dengan pekerjaan nya, dan mereka mendapatkan upah yang pantas atas hasil kerja nya, tentu lah kinerja mereka pun akan meningkat pula.
Ku sadari kebenaran pemikiran dari ayah mertua ku itu. Dan hingga kini, sebelum aku pindah ke kota B ini, aku selalu berusaha menciptakan lingkungan kerja yang kondusif untuk para karyawan bawahan ku.
Aku selalu mendekatkan diri dengan karyawan bawahan ku. Humanis, humoris namun tetap bersikap tegas dan praktis, seperti itu lah kiranya aku di mata bawahan ku selama ini.
Sayang nya, aku harus menghadapi tindakan penyelewengan di kantor baru ku kini. Dan ku rasa aku harus melakukan beberapa perubahan besar.
Tapi sebelum itu, aku harus beradaptasi dan mengenal terlebih dahulu semua kebiasaan dan mekanisme kerja yang ada di seluruh bagian kantor ini. Agar aku tak salah langkah saat aku memberlakukan sistem kerja yang baru, nanti.
"Hh.. baru juga sehari, gue udah rindu banget sama Bella. Ayang lagi apa ya?" Gumam ku sendirian di atas balkon apartemen tempat tinggal ku.
Detik kemudian, aku mencoba menghubungi nomor Bella. Sayang nya, hingga dering terakhir panggilan telepon ku tak jua di angkat nya.
Aku menghela napas, merasa kecewa. Rasanya hari-hari ku di kota B ini akan terasa cukup berat untuk ku lalui.
Tak ada teman mengobrol, tak ada tempat mengadu. Aku berharap Bella bisa segera menuntaskan kontrak kerja nya dan mendapatkan surat rekomendasi untuk pindah tempat kerja ke kota ini. Sehingga aku tak lagi merasa kesepian seperti yang ku rasakan sekarang ini.
Meski terkesan humanis dan humoris, aku bukan lah tipikal lelaki yang senang mencari penghiburan di luar rumah. Lebih sering sepulang kerja aku selalu ada di rumah, seperti sekarang ini.
Karena menurut ku, masa istirahat yang paling baik ya menikmati waktu santai bersama dengan orang-orang terdekat kita. Namun kini..
"Hh.. gue harap waktu cepat berlalu sampai hari Sabtu. Jadi gue bisa jumpa lagi sama Bella yang mau main ke sini (apartemen)," lirih ku sendiri kepada sang angin.
Kala aku tengah memandangi bulan purnama yang bersinar sempurna di Timur langit sana, entah kenapa sebentuk wajah wanita lain menelusup masuk melewati pikiran ku. Laila..
__ADS_1
Aku teringat dengan wajah wanita itu yang ku tangkap basah sedang tertidur di meja kantin kala aku sedang berkeliling melakukan sidak. Begitu pulas nya Laila hingga aku harus membangunkannya berkali-kali. Tanpa ku sadari aku tersenyum kala ku ingat wajah polos wanita itu kala ia tertidur.
Aku juga teringat dengan kecerobohan yang dilakukan oleh Laila saat ia meninggalkan ponsel nya di kantin pada hari kerja nya yang entah ke dua atau ke tiga hari nya.
Atau juga wajah tak bersalah Laila saat menyajikan ku kopi hitam yang tak enak. Dan alasan konyol nya yang takut dengan kompor meledug, bila ia mengganti tabung gas nya sendiri.
Bila ku beri nilai kinerja Laila dengan seobjektif mungkin, maka ku kira aku akan memecat wanita itu di hari pertamanya ia bekerja. Karena Laila begitu lancang pada atasan, ceroboh, asal bekerja, serta.. sedikit bodoh.
Aku kembali ingin tersenyum menyadari kebodohan dan kekonyolan yang sering diucapkan oleh Laila. Dan aku merasa sangat beruntung karena memiliki istri yang tak bodoh seperti wanita itu.
Karena Bella-ku adalah perawat yang ramah, cerdas dan handal dengan pekerjaan nya. Beberapa bulan yang lalu bahkan Bella mendapatkan gelar kehormatan menjadi perawat terbaik di rumah sakit tempat nya bekerja. Dan aku sangat bangga atas prestasi yang diraih oleh istri ku tersayang.
Bella ku memang lah yang terbaik.
"Hhh.. i miss you, my Lunar Queen.." bisik ku kembali kepada angin. Atas kerinduan yang ku tujukan pada Bella, istri ku tersayang.
***
Aku merasa bersemangat kala hari Sabtu telah tiba. Karena Bella ku tersayang, akan mengunjungi apartemen ku sore nanti.
Ku nanti-nantikan masa penantian ku ini dengan perasaan gembira. Dan tak ada yang bisa mengurangi rasa bahagia nya aku atas pengharapan ku atas pertemuan dengan Bella ku tersayang.
Terkecuali mungkin kejadian kecil yang terkait dengan Laila. Salah satu staf OB di tempat kantor ku yang baru. Dia benar-benar wanita bodoh yang sering kali membuat ku gemas ingin memecat nya berkali-kaki. Namun entah kenapa selalu ku urungkan niat ku itu pada akhirnya.
Sebut saja aku jadi tak tega untuk mengucapkan kalimat pecat setiap kali aku bertatapan dengan matanya yang cukup besar itu.
Pagi tadi, karena sesuatu hal, aku menghukum Laila untuk naik turun tangga dalam mengantarkan beberapa file atas perintah ku.
Sebenarnya, aku tak bermaksud untuk mengerjainya. Ku pikir dengan latihan naik turun tangga itu Laila akan jadi lebih gesit dalam menjalankan tugas nya.
Dan aku berharap wanita itu juga akan merasa jera dan tak lagi bersikap kasar kepada atasan. Seperti yang dilakukannya kala aku mencandainya dengan kalimat tanya 'apakah ia naksir padaku?'.
__ADS_1
Tak sopan sekali Laila, karena ia malah bersikap ingin muntah saat mendengar candaan ku itu. Alhasil, ku beri hukuman saja ia untuk naik turun tangga dan membersihkan seluruh inci bagian kantor ku hingga benar-benar rapih dan bersih.
Semoga setelah nya, Laila bisa lebih menjaga mulut nya yang terus bercerocos kasar itu.
Hah.. cukup tentang si cewek kasar.
Kembali pada Bella ku ter sayang.
Menjelang sore, aku baru sempat melihat layar ponsel. Dan ku dapati di sana sebuah pesan dari Bella ku tersayang. Ia mengabarkan bahwasanya ia batal mengunjungi ku karena ia ada jam jaga dadakan malam ini.
Aku merasa sangat kecewa. Namun aku tak ingin membuat Bella ku jadi tak enak hati. Akhirnya kukatakan saja padanya bahwa aku tak apa-apa. Dan akan menunggu ia menepati janji kunjungannya pekan depannya lagi.
Padahal sebenarnya aku merasa sangat sangat kecewa. Betapa rindu nya aku pada wajah teduh istri ku itu. Ingin rasanya aku memeluk Bella ku tersayang dan melepas hasrat kerinduan yang sudah ku tahan selama hampir seminggu ini.
Lalu, tiba-tiba saja sebuah pikiran terlintas di kepala ku. Aku memutuskan untuk pulang ke kota A dan memberikan kejutan pada istri ku yang tercinta itu. Pastilah Bella akan sangat terkejut bila mendapati kepulangan ku nanti nya.
Dan aku pun tersenyum membayangkan manisnya pertemuan kami nanti.
Alhasil, aku segera menuntaskan pekerjaan hari itu juga. Setelah nya, aku pulang ke apartemen untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Baru setelah maghrib nya, aku berangkat pulang menuju kota A dengan mengendarai mobil grab.
Aku sengaja tak mengendarai mobil ku sendiri. Karena aku tak ingin berletih-letih melalui dua setengah jam perjalanan pulang ku di depan kemudi. Pikir ku, biarlah sesekali aku memakai grab saja. Agar aku tak terlalu capai nanti nya.
Kepada sopir grab aku langsung menujukan perjalanan kami ke rumah sakit tempat Bella ku bekerja.
Bukan kah katanya ia ada tugas jaga dadakan malam ini, sehingga ia tak bisa datang mengunjungi ku ke kota B?
Setelah sampai di rumah sakit, aku langsung menujukan langkah ku ke bangsal istirahat para staf medis. Aku memang sudah sering ke rumah sakit ini untuk menjemput atau memberi kejutan kepada Bella. Sehingga beberapa rekan kerja Bella sudah mengenali ku.
Namun, ketika kutanyakan perihal keberadaan Bella, seorang rekan perawatnya mengatakan kalau Bella telah mengambil cuti selama tiga hari, terhitung sejak hari ini.
***
__ADS_1