
Tak lama kemudian, Erlan pun datang. Ia memakai kemeja polos lengan pendek berwarna merah bata. Penampilannya cukup klimis bak seperti seorang pelamar kerja. Hihihi.
"Assalamu'alaikum! Maaf. Apa kalian sudah menunggu lama?" Sapa Erlan kemudian.
"Wa'alaikumsalam..warohmatullah!" Koor aku, Nunik dan Aryo bersamaan.
"Kita baru sampai kok, Lan. Duduk sini!"
Aku menunjuk kursi kosong di sebelah kiri ku. Dan Erlan pun akhirnya duduk di sana.
"Lan, ini Nunik. Dan ini Ar.. ee.. Mas Aryo, suaminya."
Aku memperkenalkan Erlan pada pasangan suami istri tersebut.
"Salam kenal, cukup panggil aku Erlan. Aku teman nya Laila," ujar Erlan memperkenalkan dirinya sendiri.
"Kalian benar pernah pacaran kan?" Tembak Nunik to the point.
Seketika itu juga aku langsung melotot pada bumil itu.
"Ehem! Dek Sayang, mulai dari sini, biar Kang Mas yang bicara, ya?" Ucap Aryo dengan lembut.
Nunik lalu tersenyum manis pada suaminya itu.
"Maaf, Mas. Dedek lupa. Silahkan Mas bicara. Nun makan duluan ya semua.." ucap Nunik sebelum lanjut menghabiskan bekal sup ayam nya.
Kulirik Erlan yang masih terkejut usai ditembak oleh pertanyaan Nunik tadi. Spontan saja aku langsung menahan tawa yang hampir saja pecah.
"Silahkan pesan makanannya saja dulu, Mas Erlan," ujar Aryo mempersilahkan.
Baru lah Erlan tersadar dari keterkejutannya tadi. Kemudian menyampaikan pesanannya pada seorang pramusaji.
Setelah beberapa lama, pesanan minuman kami tiba lebih dulu. Aku dan Erlan memesan es jeruk sementara Nunik dan Aryo memesan air mineral.
"Mas Erlan ini asli sini?" Tanya Aryo mengawali.
"Iya. Papa dan Mama memang asli kota B, Kak," sahut Erlan sedikit gugup.
Aku menowel paha nya Erlan dengan pelan. Lalu ia melirik ku sebentar. Ku berikan Erlan senyuman singkat. Mencoba membuatnya lebih santai dalam menghadapi perbincangan ini.
'Santai aja, Lan. Ngobrol aja sesuai skenario kita,' aku mencoba bertelepati dengan Erlan.
"Lalu sekarang kerja di mana, Mas?" Tanya Aryo kembali diiringi senyuman ramah.
Meski begitu, tetap saja aku menangkap pandangan menyelidik dari mata teduh nya Aryo terhadap Erlan.
__ADS_1
"Bantu-bantu di perusahaannya Papa, Kak," jawab Erlan merendah.
"Oh..bagus itu. Membantu orang tua juga salah satu bentuk bakti kita sebagai anak. Saya pun meneruskan cita-cita ibu saya yang tak sempat tersampai oleh nya," tutur Aryo memuji Erlan.
Sementara itu Erlan hanya tersenyum biasa sambil mengangguk-anggukan kepala saja.
"Kalau boleh tahu, perusahaannya di bagian apa, Mas?"
"Bagian ekspedisi, Kak."
"Wah.. prospek nya bagus itu..."
Dan bla.. bla.. bla.. percakapan basa-basi pun terus berlangsung antara Aryo dan Erlan. Sedangkan aku dan Nunik sibuk sebagai pendengar.
Hingga akhirnya pesanan steak ku dan Erlan pun akhirnya tiba. Sehingga percakapan pun akhirnya terhenti. Sementara masing-masing kami menikmati makanan kami dalam diam.
Sebenarnya aku tak betah makan dalam diam. Namun karena kulihat Aryo dan Nunik yang juga diam saat makan, akhirnya aku pun ikutan diam. Entah lah dengan Erlan. Kupikir ia juga ikut terseret untuk ikutan diam seperti ku juga.
Setelah kami selesai makan, Aryo akhirnya melanjutkan pembicaraan ke hal inti dari pertemuan ini.
"Jadi, begini Mas. Saya diminta tolong untuk menjadi penengah antara Mas Erlan dan Mbak Laila. Maksudnya adalah saya ingin menanyakan kelanjutan hubungan kalian berdua. Menurut saya, jika memang sudah dipikirkan baik-baik, alangkah lebih baik jika hubungan ini bisa lanjut ke jenjang yang lebih serius lagi."
"Lagipula dikatakan juga dalam hadits nya nabi saw. Bahwa orang yang menikah berarti ia telah menyempurnakan separuh agama nya. Sementara separuh nya lagi disempurnakan oleh rasa takut nya kepada Allah. Jadi, bagaimana tanggapan nya Mas Erlan atas saran saya ini? Mohon jawab dengan jawaban yang jujur ya, Mas. Insya Allah kami akan siap menerima nya dengan lapang dada," tutur Aryo panjang lebar.
Sebelum bicara, terlebih dulu Erlan melihat ke arah ku. Kemudian, ia menunduk selama sedetik yang anehnya terasa lama bagi ku. Baru kemudian ia menatap lurus pada Aryo dan memberikan jawaban dari pertanyaan Aryo tadi.
Deg. Deg.
Mendengar kalimat pertama Erlan itu, entah kenapa hati ku justru merasakan jerih. Memang sungguh aneh. Padahal kan aku sendiri yang memutuskan hubungan di antara kami ini.
Kemudian kutundukkan kepala hingga sudut pandang ku hanya menangkap imaji meja saja. Tiba-tiba pula aku didera perasaan ingin segera hengkang dari pembicaraan yang akhirnya jelas sudah ku ketahui nanti nya.
Karena aku sendiri lah yang merencanakan agar Erlan menolak ku di hadapan Aryo dan Nunik nanti. Dan Erlan pun sudah menyanggupi untuk mengiyakan rencana ku itu.
"Kalian sudah putus?" Ku dengar suara Aryo bertanya bingung. "Dek..?"
Kulihat Aryo memandang tanya pada Nunik. Dan Nunik memberikan senyuman bersalah pada Kang Mas nya itu. Ku duga Nunik mungkin tak mengatakan perihal putus nya hubungan ku dan Erlan pada suami nya itu.
"Hh.. jadi kalian sudah putus. Jadi, pembicaraan ini sepertinya sia-sia kalau begitu?" Aryo menyimpulkan.
"Enggak sia-sia juga sih, Kak," sahut Erlan ambigu.
Seketika itu pula aku, Nunik dan Aryo langsung melayangkan pandangan tanya pada Erlan. Menunggu kelanjutan kalimat pemuda berwajah oriental itu.
"Soalnya aku sebenarnya masih sayang sama Laila.." lanjut Erlan dengan pandangan lurus ke arah Aryo.
__ADS_1
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
Mendengar kalimat Erlan barusan, seketika hati ku langsung buncah oleh rasa bahagia yang sulit untuk dijelaskan. Namun kemudian aku tersadar akan sesuatu hal.
'eh, eh, eh, tunggu sebentar! Kok dia malah confess sih?' aku kebingungan menatap Erlan.
"Tapi Laila malah minta putus dari ku. Padahal malam itu juga aku udah siapin cincin untuk melamar dia loh, Kak. Jahat banget kan dia?" Lanjut Erlan tanpa memperhatikan wajah ku yang mulai merah padam oleh rasa kesal ku pada nya.
Kulihat Nunik dan Aryo yang mengangguk-anggukkan kepala mereka saat mendengar curhatan nya Erlan barusan. Dan pandangan ku kembali terfokus pada Erlan yang masih melanjutkan ucapannya lagi.
"Lebih jahat nya lagi, kemarin-kemarin Laila minta aku untuk pura-pura menolak dia di depan kalian," lanjut Erlan lagi.
"Erlan!" Aku spontan meneriaki Erlan. Namun detik berikut nya malah gantian aku yang diteriaki oleh Nunik.
"Lail!"
Dan kepala ku pun langsung menunduk karena tertangkap dalam rasa bersalah. Aku tak melakukan pembelaan apapun karena tahu aku tak lagi bisa mengelak dari tuduhan yang dipaparkan oleh Erlan tadi.
"Beneran yang dibilang sama Erlan itu, il?" Tanya Nunik ingin memastikan.
"... Maaf, Nun.."
"Tolong, Kak Nun. Jangan marahi Laila. Bagaimana pun juga, aku tak marah dengan permintaan Laila itu. Justru dengan dia minta tolong kepada ku lagi lah aku bisa memastikan sesuatu. Kalau sebenarnya, dia pun juga menyukai ku."
"Dih! Ge er!" Ucap ku spontan seraya mendelikkan mata pada si Cabe Ijo itu.
"Lail!" Lagi-lagi Nunik menegur ku. Dan aku langsung menundukkan kepala ku lagi. Kulihat wajah Aryo tampak kepusingan dengan pembicaraan yang mulai berbau drama ini.
"Aku mungkin sedikit ge er. Tapi ucapan ku ada benar nya juga loh, La. Coba deh kamu pikirin, kenapa akhir-akhir ini kamu posesif banget setiap kali aku dekat sama cewek lain, hayo? Marah-marah gak jelas pula," tutur Erlan memaparkan penjelasan.
"Siapa yang marah-marah?!" Omel ku lagi.
"Syut.. Mbak Laila dan Mas Erlan, tolong tenangkan diri kalian. Apa sebaiknya kita pindah tempat saja ya?" Aryo memberikan saran.
Dan aku pun akhirnya tersadar saat melihat para pengunjung di sekitar yang melirik penasaran ke arah meja kami.
Dengan gemas, kucubit saja pinggang nya Erlan hingga ia mengaduh kesakitan.
"Aduduh!" Keluh Erlan.
"Laila!" Tegur Nunik.
"Mbak Laila!" Tegur Aryo pula, bersamaan dengan Nunik dan Erlan.
__ADS_1
Aku mendengus kesal ke arah Erlan dan aku tak menunjukkan wajah menyesal. Memang lelaki ini sungguh pantas mendapatkan cubitan. Sebagai pelajaran agar ia menjaga mulutnya yang sering kebocoran itu tuh!
***