Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Proposal Menikah (POV Laila)


__ADS_3

Akhirnya, aku dan Erlan resmi jadian usai acara pesta ulang tahun nya Oma. Dan selama beberapa hari ke depannya Arline tak henti-hentinya sibuk menggoda ku dan juga Erlan di setiap kedatangannya ke rumah.


Sama seperti Erlan, Arline juga tinggal di apartemennya sendiri yang letak nya sangat dekat dengan kantor kepolisian tempat nya bekerja sebagai dokter forensik. Hanya sesekali saja ia pulang untuk menjenguk keluarga nya.


Meski sudah naik jabatan menjadi pacarnya Erlan, aku juga masih berstatus sebagai pekerja di rumah ini. Aku masih menjadi penjaga nya Oma di siang hari.


Syukurlah, Oma sudah mulai bisa bercerita panjang lebar kini. Meski setelah nya Oma akan tertidur cukup lama karena kelelahan.


Seperti saat ini, aku dan Oma sedang duduk di samping jendela kamar nya Oma di lantai satu. Kami menatap ke halaman samping rumah yang menampilkan hamparan bunga Daffodil yang mulai bermekaran.


Aku senang dengan warna warni bunga Daffodil yang cukup beragam itu. Ada kuning, putih, oranye dan juga pink.


Tanaman ini umumnya tumbuh subur di daerah yang beriklim sedang dan sub tropis. Dengan enam kelopak serta bagian pertengahan yang membentuk terompet kecil, bunga ini terlihat cantik bila ditanam di pekarangan rumah. Tingginya pun umumnya hanya sekitar 60 cm saja.


Bunga Daffodil memiliki nama lain, yakni narcissus. Nama ini diambil dari nama dewa Yunani.


Menurut legenda, dewa Narcissus sangat terpikat dengan bayangan nya sendiri di sungai. Ia lalu mencoba menangkap bayangan dirinya namun malah berakhir tenggelam ke dalam aliran sungai.


Tak lama kemudian tumbuhlah bunga Daffodil ini di sepanjang aliran sungai. Sehingga bunga ini pun diberi nama narcissus, karena keindahan pantulan gambaran nya di air sungai.


"Ada banyak simbolisme terkait bunga Daffodil ini, Laila.." tutur Oma mengawali ceritanya.


"Di China, bunga Daffodil dianggap sebagai simbol hal-hal baik karena mampu menghasilkan hal-hal positif. Seperti untuk bahan kosmetik serta kesehatan. Karenanya, bunga ini juga dijadikan sebagai simbol resmi tahun baru China,"


Aku masih hikmat mendengarkan Oma Ruth bercerita. Sesekali ia menyeruput teh herbal chammomile kesukaan nya, sebelum lanjut bercerita kembali.


"Di Perancis dan Amerika, bunga ini melambangkan harapan. Di Jepang, ia adalah simbol kesenangan dan kebahagiaan. Dan dalam sebuah legenda Inggris bahkan dikatakan, kalau orang yang menemukan bunga daffodil yang pertama mekar akan mendapatkan emas dan harta lebih banyak pada tahun mendatang," tutur Oma lebih lanjut.


"Sampai seperti itu, Oma?" Aku berkomentar.


"Ya, Laila. Legenda di Eropa lah yang paling mengerikan. Dikatakan, jika tatapan mu bisa membuat bunga Daffodil terkulai, maka itu menjadi pertanda datangnya kematian."


Aku terhenyak kaget. Tak menyangka kalau bunga kecil yang tampak biasa di mata ku itu ternyata memiliki simbol yang tak biasa di beberapa negara luar sana.


Tiba-tiba saja aku jadi teringat dengan salah satu nasihat Nunik. 'Jangan menyepelekan hal-hal kecil, ya, il. Karena segala hal besar yang ada di dunia ini seluruhnya bermula dari hal kecil.'


Aku tertegun. Ikut merenungkan makna dalam tentang bunga Daffodil di depan mata ku itu. Pandangan ku lalu terfokus pada salah satu bunga daffodil yang berwarna kuning.


Pada mulanya satu bunga daffodil itu tampak tegak menantang langit. Namun, setelah beberapa lama aku menatapnya, aku terkejut saat bunga yang ku amati itu tiba-tiba saja terkulai dan menunduk. Seolah ia tiba-tiba keberatan dengan beban kelopak nya sendiri.

__ADS_1


Deg. Deg.


Deg. Deg.


'Kenapa hati ku tiba-tiba jadi deg degan gini ya? Ishk.. angin nya kali nih. Agak dingin!'


Aku menoleh ke Oma Ruth. Dan ku dapati ternyata Oma telah pulas tertidur.


Sepertinya Oma kelelahan usai bercerita panjang lebar terkait bunga daffodil. Ditambah semilir angin yang membuai kedua mata untuk segera terpejam. Alhasil tertidur lah akhirnya Oma Ruth kini.


Setelah kurasa Oma pulas tertidur, kemudian aku memencet tombol di samping roda, sehingga kursi roda itu perlahan berubah posisi menjadi mode rebahan.


Setelah itu, ku ambil selimut di kasur untuk ku letakkan menutupi pundak dan tubuh nya Oma. Baru setelah nya aku duduk di kursi goyang yang berada dekat dengan Oma. Aku ikut menikmati semilir angin yang membuai ku dalam tidur siang yang menentramkan.


***


Hari terus berlalu. Tak terasa seminggu telah berlalu sejak pesta ulang tahun Oma Ruth berlangsung.


Hari ini rumah kembali sibuk dengan hilir mudik para pelayan yang sibuk mendekorasi ruang aula keluarga. Rencananya, malam nanti akan diadakan acara pertunangan Arline beserta bos nya, kolonel Amir.


Aku masih sibuk dengan kegiatan ku mendulang cerita bersama Oma. Terlebih Oma akhir-akhir ini semakin sering bercerita tentang banyak hal dan pengalamannya ketika masih muda. Jadi aku tak bisa imut membantu para pelayan yang lain terkait acara pertunangan malam nanti.


Ketika malam hari telah tiba, lagi-lagi aku diminta untuk ikut menghadiri acara ini. Tak hanya sebagai pendamping nya Oma saja. Namun juga sebagai kekasih nya Erlan.


Pernah suatu sore ketika ia hendak mengantarkan ku pulang. Erlan membuat ku terkejut ketika tiba-tiba saja ia memetik setangkai bunga daffodil yang berwarna pink, lalu menyelipkannya ke atas daun telinga ku.


Katanya saat itu, "kamu tambah cantik deh, La."


Aku terkejut sekaligus malu. Dengan terburu-buru aku mengambil bunga itu dan hendak melempar nya ke dada Erlan. Namun dengan sigap Erlan menahan tangan ku, sehingga bunga itu tetap berada dalam genggaman ku.


"Jangan dibuang, La. Sayang. Kan sudah ku petik. Bawa dan simpan saja dalam gelas yang diisi air. Bisa tahan segar lho selama tiga sampai lima hari," tutur Erlan membujuk ku.


"Apa an sih, Lan. Makin ke sini, kamu kok makin banyak menggombal!" Seloroh ku asal menutupi rasa jengah di hati.


Meski begitu, aku tak jadi melempar bunga tadi.


"Yah.. namanya juga cinta. Mau nya sih merayu kamu.. aja. Maka nya, dinikmati dong La. Jangan malah ngasih muka asem melulu ke aku. Kamu tuh manis tahu!" Gombal Erlan kembali.


"Dih. Ngerayu lagi. Mestilah ada mau nya kan kan?" Aku asal menuduh, sambil tetap melanjutkan langkah menuju mobil Erlan yang terparkir tak jauh di hadapan.

__ADS_1


"Yah.. memang ada maunya sih. Tapi normal kok!" Erlan mengaku jujur.


"Tuh kan! Dasar cowok emang semuanya buaya!" Aku memberengut kan wajah saat memasuki mobil yang pintu nya telah dibukakan oleh Erlan.


Erlan bergegas masuk juga ke depan kemudi mobil. Ia lantas menutup pintu nya, namun tak bergegas menghidupkan mobil nya.


"Jangan ngomong gitu dong La.. aku kan jadi malu minta sesuatu ke kamu nya.." ucap Erlan dengan pandangan nelangsa.


Merasa penasaran sekaligus tak tega, akhirnya aku pun bertanya juga.


"Memang nya kamu mau minta apa sih?" Tanya ku sambil duduk menyamping menatapnya.


"Mau.." Perlahan Erlan kembali mendekatkan wajahnya ke wajah ku. Aku sudah tahu apa yang diinginkan nya. Mestilah pikiran mesum nya itu yang menagih pinta.


Buru-buru, meski hati ku berdentum-dentum, kututup wajah Erlan dengan telapak tangan ku.


"Ahh, Sayang..! Kok kamu nutup akses ku sih.." protes Erlan dengan raut cemberut.


Aku terkikik geli melihat wajah kekasih ku itu merengut.


"Hihihi.. kita kan belum halal, Lan. Gak boleh loh cium ciuman! Dosa tahu!" Aku mengingatkan.


"Dih.. kok sekarang ngomongnya dosa dosa an sih. Waktu itu kan kita juga ciuman pas pesta ultah nya Oma.." ucap Erlan masih merajuk.


"Kan waktu itu kamu yang nyosor duluan! Dan aku sebagai korban, gak siap ngadepin serangan kamu, lah, Lan! Jadi dosa waktu itu kamu yang naggung lah!" Ucap ku setengah bercanda.


"Haish.. tapi kamu juga kan nikmatin La.. jadi dosanya kita bagi rata dong!" Erlan tak mau mengalah.


"Terserah Allah lah! Meneketeheng.." aku berseloroh asal sambil terkekeh pelan.


Erlan terlihat frustasi dan menyibakkan rambut nya berkali-kali.


"Terus, kapan dong aku bisa cium kamu lagi, La? Kamu tuh udah kayak candu buat ku, tahu, La!" Tanya Erlan dengan frustasi.


Aku memberikan Erlan senyuman jahil ku, sebelum menjawab pertanyaan nya tadi.


"Ya nikahin aku dulu lah, Cabee.. baru kita bebas cium-ciuman!" Aku tertawa menang. Namun, pernyataan Erlan kemudian, membuat ku terkejut setengah mati.


"Kalau gitu, kita nikah yuk, besok!" Ajak Erlan kepada ku.

__ADS_1


Dan mulut ku pun menganga, tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


***


__ADS_2