Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
TTM an (POV Laila)


__ADS_3

"La? Laila? Laila!"


Aku tersadar dari lamunan ku. Ku pandangi wajah teduh Nindi di depan ku kini.


"Kamu kenapa? Gimana Erlan? Beneran dia berhenti kerja?" Tanya Nindi sedikit agak tak sabar.


Aku memandangi Nindi dengan tatapan bingung terlebih dulu, sebelum akhirnya ku jawab juga pertanyaaan nya itu.


"Iya. Katanya dia mau ngelanjutin usaha Papa nya."


...


Hening.


Sesaat keheningan mengisi percakapan antara aku dan Nindi. Aku masih sibuk menerka-nerka maksud kalimat terakhir dari Erlan tadi. Sementara Nindi terlihat memikirkan sesuatu yang serius.


"Erlan.. gak bakal balik kerja di sini?" Tanya Nindi lagi.


Aku menggeleng. "Gak tahu, Nind.."


"Memang usaha Papa nya itu apa?" Lagi-lagi Nindi bertanya.


Dan aku kembali menggeleng. "Aku lupa nanya.."


"Hhh..eh, Nindi dengar dari Theo, katanya pak Kepala Manajer nembak kamu? Itu benar, La?" Tiba-tiba Nindi mengalihkan topik pembicaraan.


"Syuuutt! Jangan berisik, Nind! Ketahuan orang kan aku malu?" Sahut ku terburu-buru, saat seseorang yang duduk di meja samping dekat kami, menoleh kala mendengar ucapan Nindi tadi.


"Oh.. iya. Iya. Maaf ya! Jadi, itu beneran?" Tanya Nindi dengan suara berbisik pula.


Dengan malu-malu, aku mengangguk. "Iya."


"Cieee.. kok bisa tiba-tiba gini sih? Jangan-jangan kalian udah sering TTM-an ya?" Terka Nindi sambil menggoda.


TTM \= Teman Tapi Mesra


"Apa an sih, Nind! Kapan TTM an coba! Yang ada kita tuh TAJ an!" Sergah ku menyangkal.

__ADS_1


"TAJ?" Nindi bertanya bingung.


"Iya. Tom and Jerry an. Alias ribut-ributan melulu!"


"Ah Laila bisa aja! Tapi kok Pak Kepala bisa tiba-tiba nembak kamu sih?"


"Mene keteheng? Aku aja masih ngerasa jet lag ngadepin confession (pernyataan cinta) nya."


Nindi terlihat menggeleng-geleng kan kepala nya berkali-kali.


"Mungkin itu yang namanya karma? Bukan nya ada pepatah yang bilang, 'cinta dan benci lah sesuatu sekedar nya saja. Karena bisa jadi kelak perasaan mu akan berubah 180 derajat terhadap nya, tanpa kau minta'," ucap Nindi dengan bijak.


Aku tertegun. Teringat juga dengan perkataan Nunik yang pernah diucapkannya dulu sekali, kala aku curhat pada nya perihal si Keong, di awal mula aku bekerja di kantor ini.


Tengoklah kini. Aku pun sepertinya mulai menyukai si Keong tanpa ku minta. Padahal seingat ku dulu aku selalu merasa sebal bila berhadapan dengan pemuda itu.


"Berarti ini karma dong ya? Hh.. jadi nyesel," ucap ku sambil menempelkan pipi ke atas meja kantin, sambil tetap memandang Nindi.


Nindi mengedikkan bahu. "Entah. Bisa jadi, La. Eh, tapi.. kamu semestinya happy dong. Berarti sekarang kalian udah jadian kan? Wahh.. aku sedikit iri nih sama kamu, La. Bagaimana pun juga, Pak Kepala kan lumayan jadi cowok ter kece di kantor kita ya!" Ungkap Nindi menyemangati ku.


"Memang nya gitu ya?"


"Hmm.. gak tahu. Dia bilang sih kita jalanin aja dulu. Anggap lah kayak masa perkenalan ulang. Dia gak mau terburu-buru jalanin hubungan serius sih kayak nya."


"Ooh.. berarti kalian baru mulai TTM an nih ceritanya?"


Aku mengernyitkan dahi. Tak tahu harus menjawab apa, pertanyaan dari Nindi itu.


"Gak tahu juga lah Nind. Lha wong tadi pagi juga dia bersikap kayak biasa sih. Gak ada mesra-mesra an seperti yang kamu bilang. Aku sempat mikir, apa jangan-jangan.." aku merenung dalam diam.


"Jangan-jangan apa, La? Jangan ngelamun lagi dong! Gak baik ngelamun terus!" Nindi menegur.


Aku kembali tersadar dan melayangkan pandangan ku ke tempat jauh.


"Apa jangan-jangan, kemarin sore tuh dia kesambet kali ya? Kan aneh banget coba. Tiba-tiba dia bilang cinta, eh, suka. Tapi hari ini sikap nya malah biasa. Gak ada nunjukin rasa suka nya dia ke aku gitu. Menurut mu gimana Nind?"


Saat aku memfokuskan pandangan ku kembali ke Nindi, ku lihat rekan ku itu seperti sedang panik dan mengedip-kedipkan mata nya kepada ku berkali-kali.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Nind? Mata mu cacingan ya?" Tanya ku cemas. Kasihan benar jika Nindi yang baru sembuh dari penyakit magh nya, harus cacingan juga, kini.


Nindi terlihat pasrah dan malah berdiri tiba-tiba sambil menundukkan kepala. Ia lalu berujar, "Ss.. siang Pak Kepala!"


Seketika, sendok yang kupegang untuk makan mie kwetiau pun terjatuh dan berdentang cukup nyaring ke atas piring.


Glek.


Susah payah aku menelan ludah. Merasa takut jika sapaan Nindi itu benar-benar menunjukkan keberadaan si Keong di belakang ku.


Perlahan, ku tengokkan kepala ku ke belakang. Dan benar saja. Berdiri cukup dekat di belakang ku, Si Keong tersenyum geli menatap ku dari atas. Ia terlihat memasukkan tangan kanan nya ke saku celana. Sementara tangan kiri nya tergantung begitu saja di sisi tubuh.


"Jadi, kamu pikir saya kesambet dan gak serius sama pernyataan suka saya ke kamu ya, La?" Ucap si Keong dengan kalimat formal ala bos itu.


'Alamak.. apes banget sih aku!'


Si Keong lalu memegang bahu kursi yang sedang ku duduki. Dan ia menundukkan kepala nya hingga wajah nya jadi begitu dekat dengan wajah ku sendiri.


Aku sengaja memundurkan kepala ku. Namun karena ruang gerak ku terbatas oleh kursi dan meja kantin, alhasil aku tak bisa menjauh dari godaan si Keong.


"Kamu harus menghapus pikiran konyol soal kesambet itu, La. Saya beneran serius soal perasaan saya ini. Atau, apa kamu sebenarnya berharap kita bisa TTM an? Kamu mau saya mulai bersikap mesra, huh?"


Ba dump. Ba dump.


'Ya ampun! ya ampun! Ya ampun, La! Nyari masalah aja nih kamu! Gara-gara mulut yang gak bisa direm. Asal ngomong yang gak jelas, dan sekarang malah kedengaran sama si Keong! Duh! Mana orang-orang mulai ngelihatin lagi!'


Aku mengintip dari ujung mata. Dan mendapati kalau kini interaksi ku dan si Keong telah menjadi pusat perhatian orang-orang di kantin.


"Kamu mau saya mulai manggil kamu, Sayang, La? atau Beb? Honey?" goda si Keong kembali. Kali ini ia sengaja berbisik di dekat telinga ku. Sehingga aku cukup yakin, hanya aku yang bisa mendengar ucapan nya itu.


Meski begitu, bisa ku bayang kan. Kedekatan antara aku dan sang Bos sudah akan menjadi topik ter hot di kantor selama sisa hari ini.


'Duuhhh! Malu amat ya! sial benar sih si Keong! Mau goda-goda in tapi gak lihat-lihat tempat!'


Merasa terlalu malu sekaligus sebal dengan ulah si Keong, aku pun langsung mendorong dada si Keong agar menjauh. Kemudian aku berdiri dan buru-buru berlalu pergi dari kantin.


Aku tak mengucapkan sepatah kata pun pada si Keong atau pun Nindi yang telah ku abai kan begitu saja.

__ADS_1


'Malu! malu! malu! Ngumpet di mana ya??'


***


__ADS_2