
"Kerja, enggak. Kerja, enggak. Kerja, enggak. Iihh.. kerja gak ya? Tapi kalau kerja terus ketemu si breng sek, serem juga kan? Apalagi dia bos ku. Pasti lah dia punya kuasa untuk memecat aku semisal memang dia mau. Tapi kalau gak kerja, sayang banget! Besok kan gajian.. duuh..!" Aku mendumel sendiri di atas kasur.
Semalam, aku berhasil melarikan diri dari si breng sek Keong. Aku berhutang budi pada Mbak Lina, teman kenalan baru ku yang ternyata bekerja di bagian pemasaran.
Kepada Mbak Lina aku menceritakan pengalaman menegangkan ku yang mengalami pelecehan. Tapi aku tak menyebut nama dan status si Keong, karena aku takut jika ucapan ku akan menjadi bumerang di kemudian hari.
Belajar dari pengalaman, mulut ku memang sudah terlalu sering menyebabkan masalah dalam hidup ku. Jadi semalam tadi aku hanya menceritakan garis besar nya saja kepada Mbak Lina.
Semalam aku juga sempat bermimpi buruk. Si keong kembali muncul dalam mimpi ku. Dan aku dikejar-kejar nya di sebuah jalan yang sepi nan gelap. Lalu, ketika ia berhasil menangkap ku, tiba-tiba saja mulut nya berubah jadi sebuah sungut nan panjang persis seperti milik seekor keong. Hiii.. benar-benar mengerikan!
Beruntung aku terbangun sebelum sungut si keong benar-benar mencium ku. Jika aku terlambat bangun... Hueeekk.. tragis benar nasib ku dalam mimpi semalam tadi. Karena harus dicium oleh keong sungguhan.
"Laila, kamu belum berangkat, Nak? Lha kok malah tiduran lagi? Kamu kenapa? Ruam nya udah pudar kok itu," Mama tiba-tiba muncul di muka pintu kamar ku.
Aku langsung terbangun duduk dan menatap wajah Mama.
'Laila takut, Ma.. bisa gak hari ini Lail ijin ya? Tapi besok masuk, ambil gajian, terus resign.. huuhh.. apes banget sih punya bos macam si keong ini!' batin ku bergumam.
"Kamu kenapa, Sayang? Ada masalah lagi di tempat kerja mu yang sekarang?" Tanya Mama mendekati ku.
Melihat raut kekhawatiran di wajah Mama, aku jadi merasa bersalah. Telah sering kali aku membuat Mama jadi khawatir. Berkali-kali aku keluar masuk dari pekerjaan lama ku. Dan Mama tak pernah marah kepada ku.
Sepanjang dua puluh lima tahun usia ku ini, aku belum bisa membahagiakan Mama. Mama bahkan masih berletih-letih menjual gorengan juga menjadi kuli cuci baju di rumah orang kaya. Padahal di usia Mama yang tak lagi muda, seharusnya aku bisa membuat kehidupan kami jadi lebih layak.
Aku ingin membahagiakan Mama. Agar Mama tak lagi merasakan sakit pinggang karena terlalu lama duduk mencuci baju. Aku ingin Mama bisa berleha-leha di rumah sambil menunggu kepulangan ku dari tempat kerja. Aku ingin membelikan Mama sebuah rumah nan megah. Dimana kami tak perlu lagi mengurusi kebocoran di sudut-sudut dan pertengahan ruangan.
'Mama.. maafkan Lail, ya Ma. Lail terlalu sering mengeluh dengan kehidupan Lail. Padahal Mama jelas lebih berhak untuk mengeluh dengan pekerjaan Mama yang tak mudah itu..' sesal ku dalam hati.
Ku hela napas sejenak. Sebelum menyahut ucapan Mama tadi.
__ADS_1
"Kata siapa Lail ada masalah, Ma? Lail tuh lagi mikirin, besok kan Lail gajian, kira-kira nanti Mama mau Lail beliin apa ya?" Ucap ku mencoba mengusir kekhawatiran Mama.
"Benar, Nak? Kamu gak berbohong kan?" Mama kembali bertanya.
"Iih.. Mama. Kapan Lail pernah bohong sih sama Mama. Udah ah! Jangan ngomong yang aneh-aneh! Kalau nanti Lail beneran punya masalah gimana coba? Doa Mama kan keramat banget! Serem Ma!" Aku sedikit bersikap lebay.
Dan, usaha ku berhasil. Mama tak lagi terlihat khawatir. Ia malah menjawil pelan pipi kanan ku.
"Kamu tuh yah! Bisa aja kalau ngebalas omongan. Tentang gajian, kami gak usah mikirin mau beliin Mama apa. Simpan saja uang gajian mu itu, Nak. untuk bekal di kemudian hari."
"Ya sudah, cepat berangkat, sana! Sudah mau jam tujuh lho, La!" Tegur Mama mengingatkan.
"Iya, Ma!"
Dan kemudian, aku pun berangkat kerja pada akhirnya...
***
Beruntung semalam aku bertemu Mbak Lina yang memberi ku tumpangan. Jika tak ada siapa pun yang bisa ku mintai tolong semalam tadi, bisa jadi aku akan jadi mangsa nya si breng sek keong Kiyano.
'Awas kamu, Lan! Pokoknya aku minta upeti bakso super semangkok besar dari kamu! Tega nya kamu ninggalin aku semalam!' dumel ku dalam hati.
"Nyari siapa, La? Tengok sana sini. Ayang mbeb Lo ya?" Suara Bagas yang sudah sedari tadi datang, membuat pencarian ku teralihkan.
Aku memanyunkan bibir. 'Memang dasar si kompor meleduk. Omongan nya selalu saja melantur!' aku mengumpat tanpa suara.
"Ya elah.. gue dikacangin. Lagi EM ya, La? Itu mulut kebangetan amat manyun nya. Udah kayak congor bebek aja!" Goda Bagas kembali.
Merasa sebal dengan ucapan Bagas yang tak jelas juntrungannya itu, langsung saja ku hampiri lelaki yang umurnya lebih muda setahun dari ku itu.
__ADS_1
Melihat ekspresi ku yang mungkin terlihat sangar, Bagas langsung waspada dan bergegas berlindung di balik tubuh seorang rekan OB ku yang lain.
"Hayo lo, Gas! Maka nya! Jangan suka bangunin singa yang lagi tidur! Giliran udah bangun aja, nyali langsung menciut! Dasar payah! Hahaha!"
Aku tak menggubris ucapan Theo yang juga menggoda ku itu. Fokus ku masih kepada Bagas yang kini berjalan menjauhi ku di sekitar ruangan base camp.
"La! La! La! Maaf La! Gue cuman bercanda aja. Lo nanggapin nya jangan serius gitu dong! Gak baik lho marah-marah!" Ucap Bagas, masih sambil tetap berjalan menghindari ku.
Aku mengambil sebuah kemoceng yang tergantung di dinding. Dan Bagas terlihat semakin ketakutan. Aku terus melangkah maju sambil menepuk-nepuk kan bulu kemoceng itu ke tangan ku yang sudah dilapisi sarung tangan karet. Sementara pandangan ku menatap garang tepat ke mata Bagas.
"La! Eling La! Istighfar! Ini Laila kan? Woy, tolongin gue woy!" Bagas meminta pertolongan ke rekan OB ku yang lain. Saat ku lihat, yang lain hanya tersenyum geli menyaksikan nasib Bagas yang berada di bawah kendali ku kini.
Dan aku pun berhasil menyudutkan Bagas hingga ia menempel ke jendela besar yang ada di ruangan basecamp. Kemudian ku angkat tangan ku yang memegang kemoceng cukup tinggi. Lalu kuayunkan kemoceng itu ke arah Bagas. Dan lelaki di depan ku itu menatap horor pada kemoceng yang hampir saja akan mengenai wajah nya. Dan..
Sret.. sret.. sret.. aku mengusap sudut dinding di samping kaca yang terdapat sedikit sawang. Sesekali aku menepuk cukup kencang sawang di sudut teratas dinding. Hingga kepulan debu nya tersibak dan membuat Bagas yang berada cukup dekat jadi terbatuk-batuk.
"uhuk! uhuk!"
Kemudian, aku pun bergumam dengan suara yang cukup jelas terdengar oleh telinga Bagas.
"Sawang nya kotor banget. Heran, padahal seminggu lalu baru ku bersihin. Tapi ini sawang udah banyak lagi aja!"
Sementara itu, Bagas yang masih sedikit terbatuk-batuk masih juga memandangi kemoceng yang ku pegang. Pikir nya mungkin aku akan benar-benar memukul nya.
"Hahaha!"
Seketika tawa semua rekan OB ku di base camp pun langsung pecah membahana.
***
__ADS_1