Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Menjumpai Cinta (POV Kiyano)


__ADS_3

'Maafkan Dedek, karena Dedek sudah menemui Laila secara langsung dulu sekali. Sehingga Laila akhirnya mengetahui tentang pernikahan kita.'


Saat ini aku berada di dalam mobil yang akan mengantarkan ku ke sebuah pesta pernikahan. Syukurlah aku tak sedang menyetir saat ini. Aku sengaja memesan jasa sopir untuk mengantarkan ku ke acara pesta itu.


Benakku terlalu kusut oleh pernyataan sekaligus juga permintaan maaf yang Bella ucapkan dua jam yang lalu itu. Aku tak tahu harus marah atau bagaimana saat akhirnya ku ketahui kalau Bella lah yang telah membuat Laila salah paham kepada ku.


Meski menurut penuturan Bella, ia tak benar-benar sengaja untuk melakukannya. Tapi dengan baru terbongkarnya kenyataan ini, aku jadi merasa sangsi dengan setiap ucapannya.


Aku pun jadi berandai-andai. Jika saja Bella tak menemui Laila, mungkin aku dan Laila masih..


Ah.. bodoh benar diri ku ini! Bukankah kita tak bisa merubah masa lalu yang telah terjadi? Jadi apa guna nya pula bila aku berandai-andai seperti tadi?


Aku jadi teringat pada perkataan seorang bijak bestari.


Masa lalu adalah hal yang telah berlalu. Masa depan masih jadi hal yang tak pasti. Karena nya bagi mu hanyalah saat yang sedang kau jalani.


Meratapi masa lalu jelas tak akan membawa perubahan baik apapun dalam hidup ku. Sibuk berandai-andai tentang masa depan tanpa memikirkan usaha yang harus dilakukan untuk menggapai nya pun akan menjadi hal yang sia-sia nanti nya.


Jadi jalan satu-satu nya bagi ku saat ini adalah fokus dengan apa yang sedang ku jalani saja.


Terhadap Bella dan pengakuan nya..hh.. Aku bisa menilai kalau pernyataannya itu mestilah terjadi oleh sebab rasa bersalah nya Bella kepada ku.


Tanpa ku sadari ternyata selama ini Bella pun telah digerogoti oleh rasa bersalah nya terhadap ku dan juga Laila. Jadi apa aku masih tega untuk mendendam pada wanita yang kini hanya bisa terbaring tak berdaya di atas pembaringannya?


Tidak. Aku tidak lah setega itu terhadap Bella.


Jadi, aku akan memaafkan nya. Akan ku sampaikan hal ini kepada Bella sepulang nya aku dari pesta pernikahan yang sesaat lagi akan ku hadiri ini.


Aku sampai di tempat acara pesta sekitar jam 3 sore.


Aku datang seorang diri ke acara pesta ini tanpa didampingi oleh satu orang pun yang ku kenal. Meski begitu, aku bertemu dengan beberapa kolega yang ku kenali.


"Jadi, anda adalah menantu nya Andreas?" Sapa sang empunya acara, sesosok lelaki paruh baya yang duduk di atas kursi roda nya. Tuan Gilberth.


"Benar. Papa meminta maaf karena tak bisa menghadiri undangan Tuan. Karena ada kesibukan darurat yang tak bisa ditinggalkan," tutur ku menjelaskan.


Tuan Gilberth mengangguk-anggukkan kepala nya.


"Ya. Ya. Ya. Tak apa-apa. Apa dia sedang mengurus Bella? Ku dengar terakhir kali mereka ke sini, Bella jatuh sakit?" Tanya Tuan Gilberth.


Aku pun teringat dengan kejadian beberapa pekan silam. Ketika Mama Ira memberi ku kabar tentang Bella yang terjatuh pingsan saat menghadiri sebuah undangan. Sejak saat itu lah kesehatan Bella menurun drastis. Hingga ia akhirnya harus terbaring di atas kasur dalam kesehariannya saat ini.

__ADS_1


"Benar, Tuan. Istri saya memang sedang sakit."


"Kalau boleh tahu, sakit apa sebenarnya Bella?" Tanya Tuan Gilberth.


"Kanker serviks stadium akhir."


"Ya Tuhan!"


"..."


"..."


"Semoga Bella segera sembuh," doa Tuan Gilberth.


"Aamin.."


"Ah ya. Saya pun mempunyai anak lelaki yang seperti nya seumuran dengan Anda, Kiyano. Kalian mungkin bisa berkawan akrab," ucap Tuan Gilberth kemudian.


"Oh?"


"Ya. Tunggu sebentar, di mana tadi Erlan," gumam Tuan Gilberth sambil melayangkan pandangan nya ke sekitar.


Sebenarnya, begitu nama Erlan disebut, aku tiba-tiba saja langsung merasakan sebuah firasat yang tak enak.


"Ah ya! Itu dia putra sulung ku. Erlan ini adalah kembaran nya Arline. Rencana nya dia pun akan menyusul menikah dalam waktu dekat ini," tutur Tuan Gilberth sambil menunjuk ke satu titik.


Aku pun mengikuti arah pandang Tuan Gilberth. Dan, benar saja. Firasat tak enak yang sempat ku rasakan tadi memang ternyata memiliki arti.


Erlan putra nya Tuan Gilberth adalah Erlan yang sama yang terlibat percekcokan dengan ku dulu di dekat rumah nya Laila. Mereka nyatanya adalah orang yang sama.


'Hah! Apalagi ini? Kenapa juga aku harus bertemu dengan nya? Seolah tak ada tempat lagi saja di dunia ini, sehingga aku harus kembali melihat wajah menyebalkan lelaki itu!' gerutu ku dalam hati.


'eh, Tunggu dulu! Apa tadi kata Tuan Gilberth?!' tiba-tiba saja aku teringat dengan prakata nya Tuan Gilberth, sebelum nya.


"Menikah? Tadi Tuan mengatakan kalau dia akan menikah?" Tanya ku mengulang.


Deg. Deg.


Deg. Deg.


Tiba-tiba saja sebentuk wajah nan manis milik seorang wanita yang sangat ku cintai langsung muncul di benak ku. Laila.

__ADS_1


"Dengan siapa?" Tanya ku masih cukup tertegun.


"Ya? Dengan siapa apa maksud nya, Kiyano?" Tanya Tuan Gilberth tak mengerti.


Dengan susah payah, aku berusaha menelan ludah ku sendiri. Baru setelah nya menyampaikan tanya ku lagi. Meski aku sungguh kesulitan untuk mengucapkan walau hanya satu kata lagi saja.


"Erlan.. menikah dengan siapa, Tuan?" Tanya ku mengulang dengan suara yang hampir terdengar seperti lirihan.


"Oh. Dengan wanita yang dicintai nya tentu!" Sahut Tuan Gilberth sambil tersenyum bahagia.


Sementara itu mata ku terus mengekori ke mana langkah nya Erlan berlalu pergi.


Hati ku setengah berharap bisa menjumpai Laila di tempat ini. Namun setengah tak berharap juga untuk menjumpai nya di pesta ini.


Rasa rindu ku kepada Laila lah yang membuat ku begitu berharap bisa melihat wajah nya lagi. Tapi jika Laila ada di sini, maka besar kemungkinan dia lah yang dimaksud oleh Tuan Gilberth sebagai wanita yang dicintai oleh Erlan, putranya itu.


Kenapa aku bisa menduga seperti itu? Karena aku sudah menyadari kalau Erlan juga memiliki perasaan cinta kepada Laila ku. Itu ku ketahui saat terakhir kali nya kami bertemu dan beradu tangan.


"Dia wanita yang baik dan ceria. Syukurlah Erlan bertemu dengan wanita sebaik itu. Meski pun status nya tak sepadan dengan kekayaan keluarga kami, tapi saya tak mempermasalahkannya. Bukankah ada pepatah yang mengatakan. Bahwa uang bisa dicari. Namun cinta hanya mungkin datang sekali saja seumur hidup. Jadi saya membebaskan Erlan untuk menikahi siapapun yang dicintai nya," tutur Tuan Gilberth panjang lebar.


Aku tak benar-benar mendengar ucapan Tuan Gilberth saat ini. Mata ku masih mengekori langkah Erlan. Dengan harap-harap cemas, aku kini berharap Laila tak ada di tempat pesta ini,


"Siapa nama wanita yang beruntung itu, kalau saya boleh tahu, Tuan?" Ku dengar sendiri suara ku bertanya.


'Tolong.. jangan Laila.. tolong Tuhan.. jangan Laila..'


"Nama nya adalah Laila. Ah! Itu dia. Wanita yang sedang berbincang dengan Erlan di sana itulah Laila."


Dan ya. Netra ku akhirnya menangkap citra sosok wanita yang masih begitu amat ku cintai itu.


Laila ku.. Laila ku sayang..


'Mereka akan menikah? Laila dan Erlan?!'


Aku masih diam terpaku menatap dua insan di kejauhan yang sedang asik berbincang itu. Dan hati ku bak dihantam oleh palu besar nan berduri kala aku mendapati pandangan Laila kepada Erlan yang tiba-tiba saja berubah sendu.


Aku mengenal jelas ekspresi itu. Aku mengenali penyebab muncul nya raut sendu itu. Karena dulu pun aku pernah menjadi objek bagi ekspresi Laila itu.


Selanjut nya netra ku menangkap satu kata yang teramat jelas bisa ku tangkap dari gerak bibir nya Laila.


'Menyukai mu.'

__ADS_1


Dan seketika itu pula, dunia ku pun runtuh.


***


__ADS_2