Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Rencana Ke Kebun Binatang (POV Laila)


__ADS_3

"Azki itu masih single, Nun. Sementara aku itu janda dengan dua anak. Aku gak tega lah ngasih beban ke dia yang belum pernah ngerasain rumah tangga!" Aku berkilah.


Aku dan Nunik masih asik mengobrol di ruang keluarga. Sementara kelima anak-anak ku dan juga Nunik masih lahap menghabiskan cookies buatan Mama Mutia.


Mark seperti nya telah kenyang. Karena kini ia kembali bermain balok susun. Dan tak lama baby Go (batita nya Nunik) ikut bersama Mark bermain balok susun dalam diam. Menyisakan Nania, Nila, dan Angkasa yang masih asik melahap cemilan kering itu.


"Memang nya Lail merasa anak-anak sebagai beban apa?" Tanya balik Nunik.


"Ya enggak lah, Nun! Tapi untuk Azki, yang masih single, pastilah dia akan kaget banget kalau harus bantu ngerawat anak-anak ku!"


"Bukan nya selama ini dia memang sering ngajak anak-anak main ya kalau dia lagi libur? Nun dengar dari Mama Mutia begitu.." ujar Nunik.


'Benar dugaan ku. Seperti nya semua orang memang sibuk menggosipkan aku dan Azki di belakang kami berdua. Duhh.. gini nih nasib jadi janda. Selalu aja jadi bahan omongan!' gusar ku tanpa suara.


"Siapa yang kaget? Saya sih biasa aja bantu ngerawat anak-anak Mbak Laila. Seru malah!" Ucap sebuah suara nge bass dari arah pintu.


Aku terlonjak kaget saat mendapati sosok Azki yang tahu-tahu sedang berjalan menghampiri kami.


"Azki!" Seru ku merasa malu. Malu karena ketahuan membincangkan pemuda berkacamata itu oleh si empunya nama.


Mark dan Nila yang mendengar kedatangan Azki, langsung saja beranjak bangun untuk menghampiri pemuda itu.


"Papa Aki!!!" Teriak Nila kesenangan. Sementara Mark hanya langsung menghampiri Azki tanpa seheboh adik kembar nya itu.


Ku amati interaksi ketiga nya. Dan aku terenyuh sedih. Sadar kalau kedua anak ku itu telah memiliki bonding (ikatan) yang kuat dengan Azki. Dan itu tak bisa kuanggap sepele.


Aku menghela napas. Sedikit diliputi kesedihan atas nasib yatim yang harus dialami oleh Mark dan juga Nila. Tapi buru-buru ku tepis rasa sedih itu. Karena aku tahu, tak ada faedah nya juga bila aku melarutkan diri dalam rasa sedih berkepanjangan ini.


"Halo bintang-bintang kecil nya Papa Azki! Gimana kabar kalian? Semuanya sehat?" Tanya Azki dengan mata yang ia sejajarkan dengan anak-anak.


Melihat Azki yang berinteraksi dengan kedua anak ku, aku merasa sangat berterima kasih kepada nya. Karena Azki yang sebenarnya sangat sibuk karena menjadi programmer di sebuah perusahaan berbasis IT, mau meluangkan waktu nya untuk mengunjungi Mark dan Nila hingga 2 atau 3 kali setiap minggu nya.


Azki pernah mengatakan kepadaku, kalau ia merasa senang saat berinteraksi dengan kedua anak ku. Karena anak-anak selalu mengingatkannya kepada Erlan, best buddy nya.

__ADS_1


Azki juga pernah bercerita kalau Erlan lah yang telah menyelamatkan nya dari depresi akut usai ia menemukan ibu nya gan tung diri di rumah nya yang dulu.


Alasan ibunda Azki melakukan itu adalah karena permasalahan ekonomi. Begitu cerita Azki, dulu.


Di saat titik terendah dalam hidup nya itu lah Azki bertemu dengan Erlan. Kemudian Erlan mengajak nya membentuk Rumah Singgah bagi para anak jalanan. Dan dari sana lah Azki bisa menyadari kalau ada banyak orang lain yang jauh lebih tidak beruntung dari dirinya sendiri.


Dulu Erlan sering mengatakan kepadanya seperti ini, "Kita semua diberikan hidup yang sama sebanyak satu kali, Az. Mau berakhir seperti apa kita nanti, semuanya itu tergantung mind set (cara berpikir) kita sendiri tentang masa depan. Kalau kamu pingin nyemplung ke comberan, ya kamu tinggal lompat aja kan ke comberan. Kalau kamu mau makan pisang goreng kan pastilah mikir untuk cari tukang pisang goreng. Gak mungkin juga kan kalau kamu nyari tukang sedot pipa. Yang ada malah nanti kamu temuin deh ampas makanan berbentuk pisang atau malah bubur nanti nya!" Begitu lah Azki meniru ucapan Erlan dulu.


Saat mendengar ucapan Erlan yang ditirukan oleh Azki dulu itu, aku langsung terbahak dalam tawa. Memang dasar suami ku itu, tak pandai dalam memilih kata.


Bisa-bisa nya dia mengambil topik tinja sebagai bahan contoh dalam memberikan nasihat nya! Tapi aku pun bisa menangkap maksud di balik kalimat nyeleneh nya Erlan itu.


Bahwasanya dalam hidup ini kita harus memiliki tujuan. Bila satu tujuan telah berakhir, maka harus dibuat tujuan yang lain. Dan begitu seterus nya.


Selagi kita masih diberi kesempatan hidup di dunia ini, kita harus selalu bergerak, bergerak, dan bergerak.


Sesekali boleh lah kita beristirahat. Tapi jangan lalai dalam masa istirahat itu, hingga terlupa pada tujuan yang telah kita tetapkan.


Karena orang yang tak memiliki tujuan dalam hidup nya, maka ia akan diombang-ambingkan dalam keasikan dunia. Lalai dengan kewajiban-kewajiban yang dimilikinya. Serta habislah waktu yang dimilikinya dengan percuma.


"Hari Minggu nanti, saya boleh ajak anak-anak main gak Mbak ke kebun binatang?" Tanya Azki tiba-tiba.


Mark dan Nila yang mendengar pertanyaan Papa Azki nya itu langsung merengek kepada ku untuk membolehkan mereka pergi dengan Papa nya.


"Boleh aja sih. Kalian mau ke sana bertiga?" Tanya ku spontan.


"Kalau Mbak Laila mau ikut juga boleh. Jadi kita healing time berempat," sahut Azki.


Biasanya aku melepas kedua anak ku untuk ikut pergi ke rumah Azki. Baru kali ini lah Azki meminta ijin untuk pergi ke tempat wisata umum.


Aku jadi merasa khawatir bila harus melepaskan anak-anak hanya dengan Azki saja. Khawatir itu terlalu merepotkan bagi pemuda itu, nanti nya.


Setelah kupikirkan baik-baik, akhirnya aku memutuskan untuk ikut bersama mereka.

__ADS_1


"Iya deh. Aku juga ikut!" Ucap ku pada akhirnya.


Mark dan Nila langsung bersorak senang. Kemudian Mark kembali ke tempat duduk nya tadi dan bermain lego dengan baby Go.


Sementara Nila juga kembali ke tempat nya bermain bersama Angkasa. Keduanya lagi-lagi ribut. Kali ini Nila yang berulah. Karena ia pamer ke Angkasa tentang rencana jalan-jalan nya itu.


"Yee! Nila mau ke kebun binatang loh, Ang! Ang mah enggak!" Pamer Nila.


Angkasa yang iri langsung merajuk kepada Nunik.


"Bunda.. Ang juga mau ke kebun binatang kayak Nila!" Rajuk Angkasa.


Melihat Nila bersorak-sorak, aku langsung menegur putri ku itu. Sementara Nunik sibuk menentramkan hati putra ke dua nya. Dan Azki yang menyadari kalau ide ke kebun binatang itu datang dari nya, langsung saja mengusulkan ide yang lain.


"Kenapa enggak pergi sekalian aja Mbak Nun? Kita ke kebun binatang ramai-ramai!" Ujar Azki mengusulkan ide nya.


"Wah.. iya. Boleh juga tuh Nun ide nya. Sesekali kita healing time bareng lah ramai-ramai ya!" Aku mendukung ide nya Azki.


"Tentang itu, Minggu depan ya, Az? Nanti deh ya. Nun tanya dulu ke Mas Aryo. Kira-kira mau atau enggak nya nanti Nun kabarin lagi," jawab Nunik.


"Ikut Bunda!!" Oceh Angkasa di pangkuan Nunik.


"Iya, Sayang. Nanti kita tanya Ayah dulu ya. Kalau Ayah libur, kita baru bisa ikut pergi sama-sama Tante Laila ya," Nunik berusaha menenangkan Angkasa.


"Ang gak mau ikut Tante Laila! Ang mau nya sama Nila aja!" Oceh Angkasa begitu menggemaskan.


Mendengar kalimat Angkasa itu, serentak kami langsung saja tertawa. Dan tawa kami semakin pecah manakala kami mendengar Nila yang berkata,


"Itu sama aja lah, Angka.. kan Nila anak nya Mama Laila. Jadi nanti Nila ikut sama Mama lah ya, Ma!" Ucap Nila sok bijak.


Angkasa langsung terdiam. Dan, setelah terlihat berpikir serius, Angkasa langsung kembali berkata.


"Kalau gitu Ang mau sama Tante Laila ya, Bunda!" Imbuh Angkasa.

__ADS_1


***


__ADS_2