Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
I Love You, La.. (POV Kiyano)


__ADS_3

Flash back beberapa jam yang lalu..


Aku merasa seperti zombi. Rutinitas kerja ku masih kulakukan setiap harinya. Pergi kerja, pulang, tidur. Pergi kerja, pulang, tidur.


Selalu seperti itu. Kulalui semua hal itu dengan perasaan yang hampa. Sejak terakhir kali nya aku bertemu dengan Laila. My queen of night (sang ratu malam ku)..


Terakhir kali kami bertemu, ku lihat Laila sedang bersenda gurau dengan lelaki yang amat ku kenal baik, Erlan. Entah bagaimana Laila bisa bersama dengan Erlan? Padahal kudengar Erlan telah lama berhenti kerja sebagai OB, jauh sebelum Laila juga mengajukan pengunduran diri.


'Apa mereka masih sering berhubungan via telepon?' aku sibuk menerka-nerka.


Hari itu, aku mencoba untuk mengajak Laila bicara. Aku ingin menjelaskan segalanya perihal aku dan Bella tanpa ada lagi yang akan ku tutupi dari nya. Namun Laila menolak ku. Dan ia memilih untuk pergi meninggalkan ku bersama Erlan.


Aku pun cemburu. Dan pada akhirnya, perkelahian antara aku dan Erlan pun tak terelakkan. Sayangnya aku kalah dari pemuda breng sek itu!


Karena dari sekian banyaknya serangan ku pada Erlan, aku hanya mampu menyarangkan tak lebih dari lima pukulan saja. Sementara Erlan hampir selalu berhasil melayangkan pukulannnya di setiap usahanya dalam menyerang ku.


'Sial! Sial! Sial!'


Aku tiba-tiba saja jadi berharap kalau aku belajar seni beladiri. Sehingga aku tak berakhir menyedihkan di bawah pukulan-pukulan Erlan saat itu.


Terlebih kemudian, secara tak sengaja pukulan ku malah mengenai Laila. Sementara Erlan berhasil menghindar tak memukul Laila, ketika wanita ku itu tiba-tiba muncul di antara aku dan Erlan.


Kutatap tak percaya tangan ku itu. Aku sungguh menyesal karena lagi-lagi aku hanya mampu membuat Laila ku terluka. Entah itu luka hati ataupun luka fisik. Hanya luka dan luka saja yang ku berikan kepada nya.


Aku sungguh menyesal dan hampir membenci diri ku sendiri. Sampai kemudian Laila pun pergi. Sementara aku masih menatap tak percaya pada tangan ku sendiri yang telah melukai nya. Meski aku sungguh tak sengaja.


Sejak hari itu, entah bagaimana aku memutuskan untuk menghindari Laila. Aku terlalu malu dan merasa bersalah pada Laila ku. Sehingga aku sempat berpikir untuk melepaskan Laila tuk pergi.


Keadaan ini terus berlangsung hingga berbulan-bulan lama nya.


...


Memang, aku masih menjalani rutinitas ku. Namun hati ku tak lagi terasa hidup sejak kepergian Laila. Aku bagaikan robot yang bekerja sesuai dengan sistem yang telah diaturkan padaku, namun aku tak mengerti dengan makna sistem itu sendiri.

__ADS_1


Hidup ku sungguh tak bermakna tanpa kehadiran Laila lagi.


Flash back selesai.


Sampai kemudian takdir kembali mempertemukan kami semalam tadi. Saat aku baru saja pulang dari menjenguk Bella.


Bella.. diam-diam ternyata Bella menderita penyakit kanker serviks stadium 3 sejak hampir satu tahun yang lalu. Ternyata alasan Bella dulu berubah adalah karena ia terlalu risau memikirkan penyakitnya itu.


Aku pun menyayangkan kenapa Bella tak segera menceritakan tentang penyakitnya itu. Padahal kan aku suami nya. Dan Bella juga menyatakan penyesalannya kepadaku. Terlebih karena ketidak terusterangan nya itulah yang telah menyebabkan pernikahan kami menjadi retak.


Pada akhirnya secara perlahan aku mulai memaafkan Bella. Mama Ira, ibu kandung sekaligus mertua ku dulu sering kali memberi ku kabar perihal perjalanan kemo dan operasi yang harus dijalani oleh Bella.


Mendengar cerita Mama Ira, aku jadi merasa iba pada mantan istri ku itu. Sampai akhirnya aku pun memutuskan untuk kembali rujuk dengan Bella sejak dua bulan yang lalu.


Hal ini ku lakukan atas permohonan dari ibu mertua ku dulu, yakni Mama Ira.


Mama Ira memohon berkali-kali kepada ku untuk kembali rujuk dengan Bella. Agar semangat hidup Bella bisa kembali meningkat.


Aku tak lagi merasa sakit saat mengingat kejadian Bella yang berciuman dengan Bayu. Karena benak ku senantiasa tertuju pada Laila yang telah pergi meninggalkan ku.


Tapi, suatu ketika Mama Ira datang memohon sambil berlutut di depan kaki ku. Ia mengatakan kalau kondisi kesehatan Bella tiba-tiba saja menurun drastis.


Memang, menurut Mama Ira, kesehatan Bella mulai menurun sejak putusan sidang telah mensahkan perceraian di antara kami. Sejak aku tak lagi menyandang status suami nya di mata hukum negara, Bella mulai sering lalai meminum obat nya.


Hingga akhirnya Bella sempat berada dalam kondisi kritis karena sulit makan dan minum obat.


Pada akhirnya, dengan dasar rasa kasih ku dulu kepada Bella dan juga rasa hormat ku pada Mama Ira, aku pun menyetujui untuk kembali rujuk dengan Bella. Itu pun hanya secada sirri saja, satu-satu nya syarat yang kuajukan pada Mama Ira.


Mama Ira mengiyakan permintaan ku. Dan ia juga meminta untuk merahasiakan pertemuan kami dari Bella.


Mama Ira tak ingin Bella mengetahui kalau dia lah yang sudah menceritakan tentang penyakit yang diderita oleh putri nya itu. Karena memang, hingga aku meminta rujuk, Bella tak pernah sekali pun membincangkan perihal penyakit nya itu kepada ku.


Bella baru mengatakan tentang penyakit yang dideritanya, saat aku meminta rujuk kepada nya. Jadilah akhirnya selama dua bulan ini aku bolak-balik ke kota A untuk menjenguk Bella.

__ADS_1


Sebenarnya Bella ingin tinggal dengan ku di kota B. Namun aku melarang nya. Ku berikan alasan kalau segala pengobatan terbaik untuk penyakitnya itu ada di kota A. Jadi biarlah aku saja yang sering menjenguknya di setiap akhir pekan tiba. Dan Bella pun menerima alasan ku itu.


Padahal sebenarnya ada alasan lain dibalik keputusan ku itu. Yakni aku belum bisa melepaskan benak ku dari Laila. Karenanya aku merasa bersalah setiap kali Bella menunjukkan kemesraannya kepada ku. Sehingga lebih sering aku menghindar dari menyentuh istri ku itu.


Lalu semalam tadi, aku akhirnya kembali bertemu dengan Laila. Perasaan cinta dan rindu yang kutujukan pada wanita berparas manis itu pun seketika menggempur batin dan rasa ku dengan begitu kuatnya.


Padahal sejak aku kembali rujuk dengan Bella, ku putuskan untuk melupakan perasaan ku kepada Laila. Namun entah kenapa, saat aku melihatnya lagi secara tak sengaja, aku malah digempur oleh perasaan cinta ku kepadanya.


Aku menolak melupakan cinta ku pada Laila. Karena aku masih mencintai nya. Dan aku pun yakin, jika Laila juga memiliki rasa yang sama terhadap ku. Bahwasanya ia juga masih mencintai ku sekuat cinta nya dulu kepada ku.


Akhirnya sepanjang malam itu aku berpikir dalam-dalam. Dan aku pun sampai pada keputusan untuk menemui Laila sekali lagi.


Akan kukatakan segalanya pada Laila. Bagaimana perjalanan pernikahan ku dengan Bella bahkan hingga alasan ku rujuk kembali dengannya pun akan ku ceritakan jua kepada Laila.


Aku berharap, minimal aku bisa menerima maafnya Laila. Syukur-syukur ia mau menerima tawaran ku untuk menikahinya. Dengan status pernikahan kami yang akan kubuat sah secara hukum agama dan juga negara.


Gila? Yah. Aku memang sudah gila karena terlalu cinta pada Laila ku. Karena ku sadari kini, kalau cinta ku padanya sudah mengakar terlalu dalam di hati ku.


Menjauh dari Laila hanya akan menguras daya semangat ku saja dalam hidup. Karena aku tak mampu untuk berpisah darinya lagi.


Sayangnya, saat keesokan paginya aku menemui Laila di rumah nya. Lagi-lagi Laila malah marah terlebih dulu tanpa mau mendengarkan perkataan ku.


Ku ketuk pintu rumahnya berkali-kali. Ku ceritakan sedikit tentang penyakit Bella pada Laila melalui balik pintu. Namun Laila tak kunjung keluar untuk menemui ku.


Sampai akhirnya kudengar isak tangis nya yang menghujam dan menyakiti hati ku dari balik pintu yang kuketuk, baru lah aku tersadar kalau lagi-lagi aku telah menyakiti cinta ku.


Lagi-lagi aku telah menyakiti hati Laila ku.


Hingga akhirnya, dengan langkah gontai aku pun berlalu pulang, membawa sekeping hati ku yang terasa remuk redam, pecah dan tak lagi utuh.


'I love you, La.. i love you..' rapal ku dalam hati, mengiringi langkah ku yang berbalik pergi.


***

__ADS_1


__ADS_2