
Malam hari nya..
"Aku gak betah nih, Line pakai dress ini. Kita tukeran aja deh!" Aku kembali mengajukan protes kepada Arline atas pilihan baju nya untuk kupakai ke pesta Mama Ilmaya.
Saat ini aku mengenakan dress yang sebenarnya menutupi hampir seluruh tubuh ku. Lengan baju yang kupakai sepanjang pergelangan tangan. Dan panjang dress nya pun hingga semata kaki.
Tapi,ukuran baju yang sangat pas hingga membentuk badan sintal ku, serta warna dress yang merah menyala jelas sekali akan membuat ku jadi pusat perhatian acara malam nanti.
Apalagi ada tambahan hiasan bulu-bulu di bagian kerah yang mengitari leher ku, juga kedua pergelangan tangan ku. Aku jadi merasa seperti angsa yang salah tempat menghadiri acara pesta, jadi nya.
"Mana bisa, La? Baju ku kan sudah pasti lebih kecil dari kamu! Ya gak bakal muat lah!"
"Iishhk.. itu tadi orang butik nya ngarang banget sih! Masa iya aku cocok pakai baju begini sih? Jadi kayak bebek deh rasanya aku, Line!" Aku kembali menggerutu.
"Hihihi.. tapi kamu memang cantik banget kok La pakai dress itu. Macam artis telenovela yang cantik-cantik itu tuh. Kulit mu kan cantik banget La," Arline kembali memuji ku.
"Kentut tuh bau!" Aku mengumpat.
"Kulit cokelat gini kamu bilang cantik, Lin. Ada juga kulit kamu tuh yang putih itu tuh yang sering jadi incaran cowok-cowok Indonesia. Putih mulus merona!" Ucap ku kembali sambil bergaya seperti sedang beriklan.
"Hahaha! Lailaa.. laila. Kamu lucu banget deh! Kalau menurut ku sih kulit kamu lah yang nilai jual nya lebih mahal daripada kulit ku. Warna kulit mu kan eksotis banget, La!" Puji Arline lagi.
"Iya. Iya. Terus saja merayu. Maksud kamu biar aku gak minta ganti baju lagi kan? Biar aku bisa tampil kayak bebek kan di acara ultahnya Mama nanti!" Dumel ku menuduh Arline.
"Ya ampun, Non.. suudzon melulu sih, kamu. Kamu kan bestie nya aku, La. Gak mungkin lah aku biarin kamu tampil jelek di hadapan orang-orang. Tapi beneran La. Kamu cantik banget loh pake dress itu. Penampilan mu jadi super aduhai.." goda Arline.
"Aduhai kayak bebek lewat depan sungai kan, Line?" Ucap ku kembali pesimis.
"Bukan lah! Kok bahas soal bebek terus sih.. maksud ku tuh aduhai bohay.. hihihi"
"Dasar!"
"Nih. Kita udah sampai. Udah gak usah cemberut terus dong La. Kan mau ketemu mantan.. siapa tahu Erlan nanti nyesal berat karena putus dari kamu, setelah lihat penampilan mu yang aduhai ini.."
Aku tertegun saat nama Erlan kembali disebut. Aku memang belum menjelaskan secara rinci kepada Arline tentang kronologi putusnya aku dan Erlan. Jadi Arline sepertinya mengira kalau Erlan lah yang sudah membuat hubungan kami menjadi putus.
Meski begitu, kuputuskan untuk tak menjelaskan apapun kepada Arline. Aku belum siap. Atau.. entahlah. Rasa-rasanya bila aku harus membincangkan tentang putusnya hubungan ku dan Erlan, aku akan kembali menangis bombay seperti ketika di restoran waktu itu deh.
"La, ayo turun!" Ajak Arline yang sudah berada di luar pintu mobil mazda nya.
Tak lama kemudian aku pun ikut keluar.
"Hh.. Line.. Line.. pokoknya nanti malam kamu juga harus anterin aku pulang ya!" Aku kembali mengingatkan Arline pada janji nya.
Sebelum bernagkat, sebenarnya aku hendak mengendarai motor saja. Tapi Arline mencegah ku. Katanya ribet atau apa lah. Ia lalu berjanji akan mengantarkan ku sepulang pesta nanti.
__ADS_1
"Iya.. iya.. belum juga masuk, sudah sibuk bahas mau pulang. Ayolah La. Santai sedikit lah!"
"Arline?"
Aku dan Arline seketika menoleh ke belakang. Dan netra ku menangkap citra seorang wanita yang sangat cantik dalam balutan gaun warna baby cream. Sekilas, ia nampak seperti artis muda Ranty Maria dengan wajah oval nya itu.
"Oh! E.. Hay, Jess!" Sapa balik Arline terdengar kaku.
Aku menatap Arline dengan pandangan tanya. Namun Arline tampak bingung untuk menjelaskan identitas wanita cantik itu.
"Kita ke dalam nya bareng ya, Lin. Tadi Mami ku udah duluan ke dalam. Sementara aku ambil kado yang ketinggalan di mobil. Oh, ini teman mu, Lin? Hay, nama ku Jessika. Aku teman kecil nya Arline dan Erlan," ucap Jessika memperkenalkan diri.
"...Hay juga. Nama ku Laila."
"Oh! Jadi kamu pacar nya Erlan ya? Aku dengar lo tentang kamu dari bisik-bisik nya teman-teman," potong Jessika sambil menatap ku lebih seksama lagi.
Entah kenapa aku merasa tak nyaman dengan tatapan Jessika kepada ku. Meski di wajah nya selalu terhias dengan senyuman yang menawan hati.
"Oh ya?" Sahut ku kaku.
"Ya. Sudah dua atau tiga bulan kan kalian pacaran? Sayang sekali Erlan tak pernah memperkenalkan kita berdua. Padahal aku sih merasa senang jika bisa mengenal wanita yang sudah memikat hati nya," lanjut Jessika bermonolog.
"Oh.. tapi aku dan Erlan sekarang sudah..ppftt!"
Ucapan ku terpotong oleh tangan Arline yang membekap mulut ku dengan tiba-tiba.
"Itu, La.. mm.. aku baru ingat kalau kado kita juga ketinggalan kan ya di mobil!" Seru Arline terlihat gugup.
"Hah?!"
Jessika masih memberikan senyuman menawan nya kepada ku dan juga Arline. Ketika tiba-tiba saja Arline menarik tangan ku terburu-buru ke arah tempat kami pertama datang tadi.
"Maaf ya Jess! Kita ambil kado dulu yang ketinggalan. Kamu duluan aja masuk ke dalam ya!" Sapa Arline terburu-buru.
Kulirik Jessika yang emmandangi kepergian kami dengan pandangan bingung. Entah kenapa aku tak merasa kasihan karena telah meninggalkan wanita berwajah lugu itu sendirian.
Setelah jarak kami telah jauh dari Jessika, aku langsung menghentikan langkah ku. Kupaksa juga Arline untuk ikut berhenti melangkah.
"Apaan sih, Lin? Kok bohong segala kayak tadi. Kan tadi kado kita udah kamu titipin ke Pak Kiman? Ngapain juga kita sekarang balik ke tempat mobil sini sih?" Tanya ku mendumel.
"Itu.. mm.. duh! Gimana ya jelasin nya? Dasar nih Erlan! Bikin kerjaan aja!" Gerutu Arline bermonolog.
Melihat Arline yang tak bergegas menjawab pertanyaan ku, aku pun memutuskan untuk kembali berbalij dan menuju rumah. Meninggalkan Arline di belakang ku yang terburu-buru mengejar ku.
"La! Tunggu La!" Panggil Arline di belakang ku.
__ADS_1
Sayangnya, model baju yang ku kenakan saat ini berbentuk slimfit, jadi pergerakan ku pun menjadi terbatas. Pada akhirnya Arline bisa mengejar ku setelah beberapa waktu berlalu.
Arline kemudian mensejajari langkah ku menuju rumah.
"Laila! Pokoknya, kalau nanti Jessika dekatin kamu lagi, mending menghindar aja deh ya!" Ujar Arline penuh rahasia.
"Apaan sih? Ngapain juga aku harus menghindar? Aku kan gak punya hutang sama dia, Lin. Lagian kamu tuh over banget sih bersikap ke Jessika. Kulihat dia orangnya ramah kok!" Elak ku sambil tetap lurus melangkah.
"Iihh.. dikasih tahu malah ngeyel! Pokoknya, jangan dekat-dekat sama Jessika! Ya La, Ya?" Tuntut Arline kembali di samping ku.
"Memangnya dia itu siapa sih, Lin? Sampai aku harus jauh-jauh dari dia? Apa dia punya penyakit rabies gitu ya, sampai harus ku jauhi?" Tanya ku asal dengan pandangan lurus ke depan.
Di samping ku, lagi-lagi Arline terlihat ragu untuk menjawab.
"Dia itu.. "
"Pembunuh bayaran?" Ucap ku asal, setelah lama Arline terdiam.
"Bukan!"
"Terus siapa? Psikopat gila?" Terka ku lebih asal.
"Bukan La!"
"Oh! Aku tahu!" Tiba-tiba saja aku berhenti melangkah dan menghadapkan wajah ku ke arah Arline.
Arline pun ikut berhenti dan melihat ke arah ku jua.
Saat ini kami sudah berdiri beberapa langkah jarak nya dari muka pintu yang terbuka lebar. Dari luar tempat ku berpijak kini, kami sudah bisa mendengar alunan lagu lawas yang mengalun syahdu dari dalam ruangan pesta.
Belum apa-apa, aku sudah merasa mengantuk mendengar alunan lagu mellow itu.
"Kalau dia bukan pembunuh bayaran ataupun psikopat gila, berarti dia itu Mbak penjual gado-gado di kantin sekolah mu dulu ya? Kamu punya hutang ke dia ya, Lin?!" Seloroh ku diiringi tawa lepas.
"Sia lan kamu, La! Ngasal aja sih ngomong! Mana ada penjual gado-gado secantik Jessika? Kalau omongan mu di dengar nya, bisa gawat nanti dunia!" Dumel Arline misah misuh.
"Ya terus dia siapa dong? Tinggal jawab aja kok susah banget sih!"
"Dia itu.."
Tiba-tiba saja Arline mendekatkan kepala nya ke kepala ku. Ia lalu berbisik di telinga.
"Dia itu cewek yang pernah mau ditunangin sama Erlan, tapi ditolak Erlan mentah-mentah. Sampai-sampai Papa marah dan Erlan minggat dari rumah dua tahun yang lalu, La.."
Aku terkejut. Benar-benar terkejut.
__ADS_1
***