Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Mark Pergi (POV Laila)


__ADS_3

Di hari ke tiga menghilang nya Nila..


Aku masih menunggu kabar dari mana pun tentang keberadaan Nila. Sayang nya, waktu yang ku habiskan untuk menunggu tak jua mendapatkan hasil yang ku harapkan.


Nila masih menghilang. Dan benak ku semakin cemas dengan semakin berlalu nya hari.


Arline sudah ku beritahu perihal menghilang nya Nila, sejak kemarin. Dan ia pun sama cemas dan panik nya seperti ku. Namun aku meminta Arline untuk merahasiakan kabar ini dari orang tuanya (aka mertua ku).


Aku berharap Nila bisa pulang sebelum Mama Ilmaya dan Papa Gilberth mengetahui kabar menghilang nya ia.


Demam Mark sudah turun. Bersamaan juga dengan nafsu makan nya juga yang ikut menurun. Beberapa kali aku menangkap igauan Mark tentang Nila saat ia tertidur.


Dan hati ku menjadi jerih melihat putra ku itu merindukan adik kembar nya, Nila.


'Di mana kamu, Nak?' batin ku menggalau sendirian.


Di hari ke tiga ini, aku memutuskan untuk tetap berada di rumah menemani Mark. Putra ku itu terlihat murung sedari siang tadi. Padahal ia baru saja menerima telepon dari Papa Azki nya.


Sepertinya kerinduan nya kepada Nila membuat nya tak bersemangat meski Papa favorit nya itu menghibur nya lewat telepon.


"Masih belum ada kabar dari kantor polisi, Mbak?" Tanya Azki via telepon.


"Belum, Az. Aku makin khawatir. Apalagi barusan ada berita seram di televisi. Tentang ditemukannya seorang anak yang jadi korban kekerasan orang tak dikenal. Jasadnya ditemukan di tempat sampah. Aku takut bila Nila.."


Azki buru-buru memotong ucapan ku.


"Jangan berpikir yang buruk-buruk dulu, Mbak. Yakin saja, kalau Nila bersama dengan orang yang baik saat ini," ucap Azki menghibur ku.


"Tapi ini sudah hari ke tiga, Az?! Orang baik tentu akan melaporkan pada polisi kan kalau mereka menemukan Nila!" Ucap ku sedikit histeris.


"Mbak La.."


"..hhh.. sorry. Aku cuma lagi kacau aja," ucap ku asal.


"Kamu lagi kerja, Az?" Tanya ku sambil lalu.


"Iya. Ini lagi agak nyantai. Mungkin besok lusa saya bisa ambil cuti untuk bantu cari Nila, Mbak.." ucap Azki lagi.


"Begitu? Hmm.. Nunik nawarin, untuk pasang foto Nila di medsos. Barang kali ada netizen yang lihat dia di mana gitu. Siapa yang tahu. Tapi ku pikir itu agak.. berlebihan sih ya. Kalau begitu nanti muka Nila ke ekspos besar-besaran. Kasihan.. Nila kan masih anak-anak.." ucap ku bimbang.


"Iya. Sepertinya itu memang ide yang kurang baik juga, Mbak. Khawatir kalau Nila nanti sudah ditemukan, malah jadi bahan omongan teman-teman di sekolah nya," imbuh Azki.


"Iya kan, ya.. hh.."


"Maaf Mbak La. Saya tutup dulu ya telepon nya!"


Klik.


Aku tertegun. Merasa heran karena Azki terburu-buru menutup panggilan telepon nya. Tapi mungkin dia sudah masuk jam kerja nya lagi. Jadi aku pun mengalihkan perhatian ku ke hal yang lain.


Saat ini, aku sedang menemani Mark menggambar di ruang tengah.


Sementara Mark menggambar, aku memutuskan untuk kembali menelpon nomor kantor kepolisian yang kusimpan.

__ADS_1


Aku bermaksud untuk menanyakan kabar tentang Nila.


"Selamat siang, Pak! Saya Laila, yang kemarin membuat laporan kehilangan anak," ucap ku mengawali.


Aku sengaja menjauhkan diri ku dari Mark, agar ia tak ikut mendengar perbincangan ku. Kini aku berdiri menghadap keluar jendela.


Pandangan ku menatap halaman belakang rumah ku yang terlihat indah oleh jalinan taman bunga karya Papa ku.


Sambil menatap halaman belakang, aku lanjut kembali bicara.


"Atas nama siapa ya korban nya?" Tanya polisi di seberang telepon.


"Lanila Ishtar, Pak!"


"Mohon tunggu sebentar. Panggilan Nyonya akan saya alihkan ke bagian divisi yang menangani kasus Nyonya," ucap polisi itu kembali.


"Baik, Pak.."


Sekitar satu menit kemudian, suara lelaki yang berbeda, terdengar dari lubang speaker ponsel ku.


"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?"


"Begini, Pak. Saya Laila. Ingin menanyakan perkembangan kasus menghilangnya putri saya," ucap ku mengulangi.


"Boleh tahu, siapa nama putri Nyonya yang menghilang?"


Dan aku kembali mengulangi jawaban ku.


"Lanila Ishtar, Pak!"


"Benar, Pak!"


"Mohon maaf, Nyonya. Hingga saat ini, pihak kami masih melakukan pencarian. Harap bersabar menunggu kabar selanjut nya dari kami," ucap Pak polisi dengan sabar.


Harapan ku kembali pupus. Nila ku masih juga belum ditemukan.


"Kira-kira, sampai berapa lama ya, Pak, saya harus menunggu? Maksud saya, saya takut jika anak saya kenapa-kenapa di luar sana sendirian," ucap ku kalut.


"Tenangkan diri Nyonya terlebih dulu. Satu-satu nya tindakan yang bisa Nyonya lakukan saat ini adalah bersabar menunggu kabar dari kami. Dan jika nanti ada pihak yang menelpon Nyonya untuk meminta uang tebusan, segera laporkan kepada kami. Jangan bertindak gegabah!"


"Begitu ya, Pak.. baiklah. Terima kasih pak."


"Sama-sama Nyonya. Ada lagi yang bisa saya bantu?" Tanya sang pak polisi dengan ramah.


"Enggak.. gak ada, Pak. Selamat siang!"


Klik. Sambungan telepon pun terputus.


Pandangan ku kosong menatap layar ponsel ku selama beberapa waktu. Pikiran ku terlalu cemas memikirkan keberadaan Nila saat ini.


Sehingga aku tak menyadari keberadaan Mark yang tak lagi ada di ruangan yang sama dengan ku.


Aku mengedipkan kedua mata ku berkali-kali. Mengira kalau Mark mungkin pergi ke dapur untuk mengambil air minum.

__ADS_1


Putra ku itu memang sudah cukup mandiri dan juga peka hati. Mungkin tadi dilihatnya aku sibuk menelpon, sehingga Mark memutuskan untuk mengambil sendiri air minum ke dapur.


Aku pun menyusul Mark ke dapur.


Begitu sudah di dekat dapur, ku panggil nama putra ku itu sekali.


"Mark!"


Namun Mark tak menyahut.


Saat langkah ku sudah memasuki area dapur, aku dibuat heran karena Mark ternyata tak ada di dapur.


"Nyonya mencari Aden Mark?" Tanya Bik Inem yang sedang memasak bubur untuk Mark.


"Iya Bi."


"Tadi sih saya papasan sama si Aden di depan. Katanya mau jalan-jalan sebentar," ucap Bik Inem.


"Jalan-jalan? Siang begini, Bi? Sama siapa? Ke mana?" Tanya ku berturut-turut.


"Bilangnya sih ke halaman belakang rumah, Nyonya. Mau lihat serangga. Tadi sih sendirian.." ucap Bik Inem lagi.


"Makasih ya, Bi.."


Dengan perasaan bingung, aku melangkah menuju halaman belakang untuk menjumpai Mark. Namun, lagi-lagi pencarian ku berakhir percuma. Mark juga tak ada di halaman belakang rumah.


"Mark! Mark! Kamu di mana, Nak?" Panggil ku berkali-kali.


Aku kembali ke dalam rumah, dan kembali memanggil nama putra ku itu. Namun panggilan ku tak jua mendapat sahutan dari Mark.


Aku pun mulai dihinggapi rasa cemas yang baru.


Dengan tergesa-gesa, aku menengok ke setiap ruangan di rumah sambil memanggil putra ku itu berkali-kali.


"Mark! Mark! Kamu di mana sayang?!"


"Laila?! Kamu kenapa teriak-teriak gitu? Bukan nya tadi Mark ada di kamar nya sama kamu?" Tanya Mama yang baru terbangun dari tidur siang nya.


Di belakang Mama, Papa pun sama bingung nya menatap ku.


"Mark ke mana, La?" Tanya Papa juga.


"Tadi.. tadi Mark ada di kamar sama Lail.. dia lagi ngegambar. Laila cuma nelpon sebentar ke kantor polisi untuk nanyain info tentang Nila. Tapi, selesai nelpon, tahu-tahu Mark udah gak ada, Ma! Pa! Mark hilang juga!" Tutur ku dengan nada panik.


Mama dan Papa seketika terkejut usai mendengar cerita ku.


"Mark menghilang?! Jangan ngaco ah, La! Ayo kita cari sekali lagi!" Ajak Papa dengan raut khawatir pula.


Pada akhirnya, aku, Mama, Papa dan semua orang di rumah ku sibuk mencari Mark di mana pun. Sayang nya kami tak jua menemukan Mark.


Baru setelah kami mengecek cctv sajalah akhirnya kami mengetahui di mana Mark berada.


Karena dari layar tv yang menampilkan rekaman cctv siang ini, terlihat jelas kalau Mark berjalan sendirian keluar, melewati gerbang rumah. Menuju jalan besar di luar sana.

__ADS_1


"Ke mana Mark pergi?!" Itu lah satu-satu nya pertanyaan yang bersarang dalam hati kami semuanya saat itu.


***


__ADS_2