Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Hadiah dari Sang Bos (POV Laila)


__ADS_3

"Kok muka mu seram gitu sih, La? Jangan-jangan Nindi tadi kabur ngelihat ekspresi mu itu!" Seloroh Erlan kembali.


Aku masih memelototi pemuda yang tahu-tahu telah berdiri di samping ku itu. Masih merasa kesal karena keteledorannya tadi di basecamp yang telah membuka aib ku di hadapan para staf OB yang lain.


Menyadari kalau aku marah pada nya, Erlan buru-buru memasang ekspresi menyesal di wajah nya.


"Kamu marah soal tadi ya? Maaf La.. aku keceplosan.. gak sengaja beneran! Jangan marah lama-lama lah, La.. ku antar kamu pulang deh yuk, sekarang?" Mohon Erlan.


Aku masih cemberut. Kesal benar dengan Erlan si Cabe Ijo.


"Sampe rumah! Aku anterin kamu sampe rumah deh, La! Please jangan marah lagi ya, ya?" Mohon Erlan dengan mengiba-iba.


Pemuda itu tampak menyesali benar sikapnya tadi. Ia membungkuk sambil menangkup kan kedua tangannya di hadapan ku kini.


"Hhh.. iya. Iya. Lail maafin deh. Lagian kamu beneran gak sengaja kan?!" Selidik ku menatap tajam Erlan.


"Iya. Beneran! Aku gak sengaja kelepasan ngomong tadi itu, La.." ucap Erlan kembali meyakinkan.


"Ya udah. Pulang yuk ah. Kamu beneran mau anterin aku sampe pulang ke rumah? Rumah kita kan beda arah, Lan."


"Iya, gak apa-apa. Anggap aja ini sebagai permintaan maaf ku, La. Yuk pulang sekarang. Biar gak kemalaman pulang nya. Tunggu bentar di gerbang, ya! Aku mau ngeluarin motor dulu."


Dan Erlan lalu setengah berlari menuju area parkir. Sementara aku berjalan gontai ke dekat gerbang. Setelah nya, Erlan benar mengantarkan ku pulang sampai ke rumah. Walau pun tidak sampai depan kontrakan ku sih. Karena aku memintanya untuk mengantarkan ku sampai di depan gang yang mau menuju kontrakan tempat ku tinggal.


"Sampai sini aja La? Rumah kamu yang mana?" Tanya Erlan sambil menengok ke arah rumah-rumah di dekat gang.


"Rumah ku masuk ke dalam gang situ tuh, Lan. Kasihan kamu kalau anterin sampe depan kontrakan ku. Gang nya sempit banget kan tuh!" Aku melontar alasan.


Padahal sebenarnya aku merasa risih juga kalau Erlan sampai mengantarkan ku hingga ke depan kontrakan. Khawatir itu akan jadi gunjingan para tetangga ku yang comel nya luar biasa.


Sudah terbayang di benak ku pertanyaan Ceu Edah nanti bilamana ia melihat ku berboncengan dengan Erlan.


'Itu siapa, Neng Laila? Calon nya ya?' dan kemudian, pertanyaan-pertanyaan lain pun akan merembet ditanyakan pula.


'Gaji calon nya berapa, Neng? Masih lajang kan, apa udah duda? Orang kaya ya kayaknya. Dilihat dari motor nya yang bagus pisan. Sering-sering atuh diajak main ke sini..' dan bla bla bla..


Tak akan habis omongan tetangga ku yang comel itu. Seperti yang pernah dilakukannya tempo hari perihal calon nya Nunik yang datang di hari lamaran mereka. Ceu Edah pun memberondongi Nunik dengan sejuta pertanyaan perihal Mas Aryo nya. Sungguh, kepo benar emak dua anak itu.


"Oh.. yaudah. Aku pamit ya La. Met istirahat ya. Jumpa hari Senin, La!" Pamit Erlan kemudian.


Aku tak menunggu hingga sosok Erlan menghilang di kejauhan. Dengan langkah bergegas, aku langsung melewati gang sempit di hadapan ku itu untuk menuju kontrakan ku.


'Capek benar rasanya hari ini!' keluh ku dalam hati.


***


Hari Senin nya, aku berangkat kerja masih dengan membawa sisa rasa pegal di sekujur kaki. Beberapa koyo cabe bahkan masih terpasang di beberapa bagian kaki ku yang terasa pegal. Sensasi panas dari koyo cabe itu setidak nya bisa mengurangi rasa pegal dan linu yang kurasakan.

__ADS_1


'Umur berapa sih aku? Baru juga 25 tahun, tapi udah kayak nenek-nenek, pake koyo cabe segala. Ini gara-gara si Keong nih! Mulut nya emang beracun! Otak nya juga beracun!' dumel ku dengan mata yang masih mengantuk.


Lalu, tiba-tiba saja, akibat mata yang terkadang memejam terlalu lama, aku tak sengaja malah menubruk seseorang di hadapan ku.


Bruk!


"Duh! Maaf gak sengaja! Mataku merem ta.." ucapan ku tergantung kala ku lihat wajah orang yang ku tabrak.


"Keong?!"


'Apes benar sih pagi-pagi gini ketemu nih orang. Apa aku jarang sedekah kali ya, maka nya sering banget apes gini!' aku membatin.


"Keong?" Tanya kepala manajer ku itu dengan ekspresi bertanya.


Dan aku langsung membelalakkan kedua mata. Sepertinya tadi aku tak sadar memanggil Bos ku itu dengan panggilan khusus ku untuk nya. Si Keong Racun.


'Ampun deh, La! Ini mulut mesti dilakban aja kali ya! Bikin eror melulu siiih!' omel ku pada diri sendiri sambil menepuk mulut ku berkali-kali.


Sesaat kemudian, Bos ku itu lalu membalikkan badan. Dan langsung masuk ke dalam lift. Meninggalkan ku yang masih menekuri kekhilafan ku yang sering terjadi ini.


Kekalutan ku itu kubawa hingga ke dalam base camp. Sampai-sampai Nindi yang sudah terlebih dulu datang, melayangkan pandangan aneh ke arah ku.


"Kamu kenapa La? Kok muka nya udah kusut sih sepagi ini?"


Menanggapi pertanyaan Nindi, terlebih dulu aku menghela napas.


Nindi kembali memberi ku pandangan simpatik.


"Kamu kentut lagi di depan manajer kepala?" Terka Nindi dengan pandangan kasihan.


"Bukan!!" Sontak saja aku langsung menggeleng kencang berkali-kali.


"Apaan?! Nila kentut lagi di depan kepala manajer, Nin? Bua hahahahaa!!" Suara Bagas yang tiba-tiba saja muncul di muka pintu, sedikit mengejutkan ku dan Nindi.


"Bukan, Bagas! Jangan asal meleduk deh! Dan aku bukan ikan Nila! Jangan sampe panggil aku dengan nama-nama ikan lain nya! Nama ku Laila, Gas.. La..i..la..!" Omel ku pada Bagas.


"Lha itu tadi Nindi ngomong apa?" Tanya Bagas dengan cengiran menyebalkan di wajah nya yang pas-pas an itu.


"Bukan apa-apa! Gak usah kepo deh!"gerutu ku kesal.


"Duile.. adek ku yang satu ini marah. Maafin Abang ya, Dek. Abang gak bermaksud bikin adek marah kok!"ucap Bagas dengan nada menggoda.


"Auk ah! Sono jualan bakso aja deh, Bang! Dari pada meleduk dan kepo melulu sama urusan orang!" Omel ku lagi.


Dan aku pun langsung berlalu pergi menuju ruang pantry. Meninggalkan Bagas dan permintaan maaf nya yang ku yakin pastilah hanya setengah hati.


Kesal benar rasanya pagi ini. Ketemu si Keong, bikin eror. Ketemu si kompor meleduk, dia nya meleduk terus. Dan sekarang aku harus membuat kopi hitam untuk ku antarkan lagi ke lantai tujuh. Menjumpai wajah si Keong yang menyebalkan itu!

__ADS_1


'Hu uh!' keluh ku dalam hati.


***


Sesampainya di lantai tujuh, aku terlebih dahulu mengetuk pintu sang Bos. Begitu ku dengar suaranya yang mempersilahkan ku masuk, aku pun langsung mendorong pelan pintu ruang kerja sang Bos dan mendekati meja nya.


Kulihat si Keong sedang memandangi sesuatu di layar lap top yang ada di atas meja. Entah apa. Tapi saat ku amati baik-baik, pandangannya tampak sendu. Merasa penasaran, aku pun melangkah ke belakang meja nya untuk melihat layar lap top nya.


Namun, belum sempat aku melirik ke arah layar laptop sang Bos,saat tiba-tiba saja si Keong menutup layar lap top nya. Sehingga aku tak lagi bisa melihat apa yang tertampil di layar sana.


"Ngapain kamu ke belakang situ?!" Omel si Keong tiba-tiba.


Aku langsung mengangkat tangan kanan ku yang terburu-buru mengeluarkan lap dari saku baju ku. Lalu berpura-pura mengelap kaca yang ada di samping meja kerja lelaki itu.


"Sa..saya mau ngelapin kaca, Pak! Tadi kayaknya ada noda!" Aku mengeluarkan dalih.


Si Keong lalu memberiku tatapan tajam. Membuat ku langsung merasakan panas dingin. Aku khawatir jika ia akan kembali memberiku hukuman naik-turun tangga. Jika sampai begitu, fiks sudah, lebih baik aku berhenti saja dari kerja rodi yang menguras keringat dan batin ini.


Namun, ucapan si Keong kemudian membuat ku tertegun. Dengan ekspresi yang tampak seperti sedang berpikir keras, si Keong kemudian berucap.


"Kamu pergi lah. Jangan antar kopi untuk saya lagi. Biarkan staf OB yang lain yang datang ke sini." Ucap nya dengan nada netral.


Aku tertegun selama beberapa waktu untuk mencerna ucapan Bos ku itu.


Setelah cukup lama terdiam, aku lalu mengungkapkan isi pikiran ku.


"Apa itu berarti saya di.. di.. pecat, Pak?" Tanya ku dengan tangisan yang hampir tumpah.


Ku lihat si Keong menganga selama sedetik. Sebelum akhirnya kembali berujar.


"Siapa yang pecat kamu? Saya cuma gak mau lihat muka kamu yang asem itu! Jadi besok-besok jangan antar kan kopi lagi ke sini. Suruh staf OB lain yang mengantarkan! Sudah, kamu pergi sana!" Usir Bos ku kemudian.


Seketika, tangis ku tak jadi tumpah. Aku justru langsung tersenyum sumringah. Senang benar dengan hadiah yang diberikan oleh si Keong kepadaku ini di pagi ini.


'Kalau gitu, aku gak perlu ketemu si Keong lagi! Yeyy! Rejeki nomplok!!' hati ku senang bukan main.


"Baik, Pak! Siap, Pak! Dengan senang hati, saya akan pergi, Pak! Bapak baik-baik ya, Pak! Tenang saja, Pak! Besok-besok Bapak gak akan lihat muka asem saya lagi! Terima kasih ya, Pak!" Ucap ku berpamitan dengan kalimat sambutan yang membuat Bos ku itu kembali ternganga.


Aku tak sempat melihat lama-lama ke arah Bos ku itu lagi. Karena aku langsung melesat keluar ruangan dengan hati yang membuncah oleh perasaan bahagia.


"Indah benar hari ini! Pulang nanti, makan mie ayam mercon ah!" gumam ku dengan suara yang tak pelan.


Membuat beberapa pasang mata menatap ku aneh. Namun aku tak mempedulikannya. Karena aku terlalu senang dengan apa yang akan ku hadapi esok esok hari nanti. Tak perlu lagi aku melihat wajah bos songong ku yang menyebalkan itu.


"Yeay!" Aku pun bersorak kencang.


***

__ADS_1


__ADS_2