Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Kecupan (POV Laila)


__ADS_3

Merasa sedikit gugup, aku malah semakin diam terpaku. Tak tahu harus melakukan apa kala wajah Erlan yang kian mendekat ke wajah ku. Sampai kemudian..


"Huaaaaahhhmmm..." Aku menguap lebar. Benar-benar menguap lebar di depan wajah Erlan yang tadi sempat berjarak sepuluh senti saja dari wajah ku.


Seketika suasana roman yang sempat tercipta pun jadi ambyar. Dan Erlan mengeluh langsung kepada ku.


"Ya ampun, La. Kamu di rumah sempat makan jengkol ya? Kok bau jengkol sih?" Keluh Erlan sambil mengusap wajah nya berkali-kali.


Sementara itu aku masih dalam posisi ku yang sama. Menopangkan kepala ku di atas lutut yang terangkat sambil menoleh ke arah Erlan. Aku menyadari kalau Erlan berusaha menutupi rasa malu nya karena aku telah menolak halus pedekate nya barusan.


"Iya. Tadi siang emak bikin gorengan bakwan jengkol. Enak lho, Lan!" Sahut ku mengiyakan.


"Kamu tuh ya. Jadi cewek jangan kelewat bar bar napa? Kalau menguap tuh mulut nya ditutup. Jangan malah mangap lebar kayak kuda nil," gerutu Erlan lagi.


Aku menyengir kuda. Berusaha mengirimkan kalimat maaf ku pada Erlan lewat senyuman yang kuberikan.


"Woy, Laila Majnun! Giliran Lo nih sekarang! Jangan asik asikan aja sama Erlan napa? Kita masih ada nih di sini!" Aku mendengar suara Bagas yang memanggil ku.


Merasa sebal dengan mulut kompor nya itu, spontan saja ku lempar sebuah ranting kecil ke arah Bagas. Sayang sekali, ia berhasil menangkap nya. Aku sih berharap sekali ranting yang ku lempar tadi bisa tepat masuk ke dalam mulut lelaki tengil itu untuk menyumbat mulut nya yang kelewat suka meledug tak enak.


"Kok udah bagian aku aja sih?" Aku langsung protes.


"Maka nya, dari tadi lihatin dong tuh botol. Mulut nya kan ngarah ke Lo, La. Ya jadi sekarang giliran Lo lah!"


Aku menengok ke arah botol di pertengahan lingkaran ini. Dan ternyata benar. Mulut botol itu memang mengarah pada ku.


"Jadi, Lo mau Truth or Dare?" Tanya Bagas to the point.


"Hmm.. truth aja deh. Gak berani lah dare. Soalnya ide dare di kepala kamu tuh rada ekstrim," komentar ku atas tantangan dare yang tadi dilemparkan oleh Bagas kepada Theo. Di mana Bagas menantang Theo untuk mencium pacar nya di depan kami.


'Gila benar kan, si Bagas itu!' gumam ku dalam hati.


"Oke. Siap-siap ya, Non!" Ucap Bagas sambil mengusap-usapkan kedua telapak tangan nya. Membuat ku langsung merasa was was pada apa yang akan ditanyakan oleh pemuda tengil itu.


"Kapan ciuman pertama Lo terjadi?" Tanya Bagas dengan cengiran yang membuat ku sebal.


"Belum pernah," jawab ku langsung. Tapi lalu aku teringat dengan ciuman yang dicuri Kiyano dari ku sewaktu di mobil.


'Cih. Itu mah gak masuk hitungan! kena pelanggaran HAM soalnya!' gerutu ku dalam hati.


"Hah? Lo belum pernah ciuman? Berarti Lo belum pernah pacaran dong ya? Masa iya?!" Tanya Bagas tak percaya.


"Itu pertanyaan ke dua. Aturan nya kan cuma satu pertanyaan atau satu tantangan aja di game ini. Jadi, aku no komen untuk pertanyaan ke dua kamu ya, Gas," jawab ku dengan nada menang.


"Sial. Oke. Lo bener!"

__ADS_1


Dan Bagas pun kembali memutar botol nya. Sayang nya, mulut botol kembali mengarah kepada ku. Membuat Bagas seketika kembali menyengir kuda. Sementara aku langsung cemberut macam burung perkutut.


"Hahaha! Lo lagi ya, La! Hmm.. siapa cowok yang lagi dekat sama Lo sekarang ini?" Tanya Bagas kembali.


Aku terdiam sejenak beberapa waktu. Dan mendadak perhatian semua orang jadi terarah kepada ku.


"Ya, Erlan!" Jawab ku lantang.


Mendadak suasana terasa lengang. Sementara aku menangkap senyuman-senyuman kecil di wajah orang-orang di sekitar ku saat ini. Aku pun melanjutkan kalimat ku lagi.


"Kamu gak lihat apa si Erlan jelas banget duduk paling dekat sama aku, Gas. Mata mu mulai ngantuk ya!" Aku meledek rekan kerja ku itu.


Serta merta gelak tawa pun pecah membahana. Dan aku menyengir lebar karena berhasil mengerjai Bagas.


Aku memang diapit oleh Erlan di samping kanan ku, serta Mbak Arum di samping kiri ku. Jadi jawaban ku tadi cukup masuk akal juga bukan? Memang Erlan lah cowok yang sedang dekat dengan ku saat ini. Hihihi.


Di samping ku, Erlan mengacak-acak pelan rambut ku. Dan aku memberinya sebuah senyuman manis.


"Kampreet Lo, La!" Dumel Bagas merajuk, usai ku kerjai.


Kemudian, Bagas kembali memutar botol. Kali ini, sasaran berikutnya ternyata adalah Erlan.


Seolah mendapatkan mangsa yang lezat, Bagas langsung kembali tersenyum lebar.


"Wah! Seru nih dapat Erlan! Siap-siap ya, Lan!"


"Ya ampun, La.. tega nya dirimu memfitnah ku," sahut Bagas dengan gaya lebay.


"Lha iya kan? Gantian lah, seharusnya tadi Theo dan aku juga gantian ikut muterin botol kan?" Aku kembali mengajukan protes.


"Iya. Iya. Nanti gantian kamu deh! Tapi satu lagi aja nih ya. Tanggung banget nih. Masa iya didiskualifikasi sih putaran botol nya?" Mohon Bagas dengan muka bertekuk mengenaskan.


"Oke lah. Tapi berarti nanti gantian Erlan ya yang muterin botol nya!" Ucap ku lagi.


"Iya, Ndoro putri.. Laila.. Laila.. gue pikir seminggu ini Lo udah jadi pendiam macam Nindi. Ternyata mulut cabe Lo masih aja pedes ya!" Komplain Bagas.


Aku tak menghiraukan ucapannya itu.


"Jadi, Lan.. gue mau tanya,"


"Eh! Erlan kan belum bilang kalau dia mau ditanya?! Tanya dulu lah dia mau truth or dare!" Protes ku kembali.


"Aduh ya ampun. Iya iya gue lupa. Lo sih dari tadi ngomel aja. Jadinya gue lupa kan, La! Udah ah The! Lo aja yang lanjutin! Daripada gue disemprot melulu sama Laila!" Gerutu Bagas kemudian.


Kembali gelak tawa pun pecah di antara lingkaran orang yang bermain truth or dare ini.

__ADS_1


Akhirnya Theo melanjutkan permainan.


"Lo mau truth or dare, Lan?"


"Mm.. truth!"


"Siapa cewek yang lagi Lo suka?" tanya Theo to the point.


Mendadak, suasana jadi hening. Dan entah kenapa aku merasakan gugup kala mendengar pertanyaan Theo itu.


"Dare aja deh!" Ucap Erlan tiba-tiba.


"Cium salah satu cewek yang ada di lingkaran ini. Wajib ya! Lo gak bisa minta ganti truth lagi!" Ancam Theo kepada Erlan.


Dan aku tiba-tiba kembali merasa gugup. Sehingga aku tak berani menoleh sedikit pun ke arah Erlan.


"Gak bisa diganti ya, tantangan nya?" Erlan menawar.


"Enggak bisa. Ayo, Lan! Gue aja tadi berani kok cium Hana di depan kalian!" Seru Theo dengan ekspresi jahil di wajah nya.


Dan seseorang menyeletuk, "Itu sih emang kemauannya Lo banget kan The! Secara, Hana tuh pacar Lo!"


Theo balas menyengir dan kembali mengingatkan Erlan.


"Come on Bro (ayolah Bro)! Cuma cium doang kok. Apa susah nya sih?"


Ba dump. Ba dump.


Mendadak jantungku berdentum-dentum.


Ba dump. Ba dump.


Terlebih ketika tiba-tiba Erlan mengarahkan tubuh nya kepada ku dan memanggil ku.


"Laila.. maaf ya. Aku.."


Erlan tak melanjutkan kalimat nya. Ia langsung meraih wajah ku dengan kedua tangan nya. Lalu semakin mendekatkan wajah nya ke wajah ku.


Ba dump. Ba dump.


Aku seolah menjadi patung. Tak mampu bergerak atau sekedar mengedipkan mata. Ku tatap Erlan dengan pandangan penuh tanya. Benarkah apa yang akan dilakukannya ini termasuk ke dalam bagian permainan ini, atau bukan.


Erlan kian mendekatkan wajah nya. Dan...


Cup.

__ADS_1


Erlan pun mencium ku tepat di pertengahan dahi.


***


__ADS_2