
Selesai shalat maghrib, aku menunggu dulu beberapa waktu hingga waktu maghrib lama berlalu. Setelah dirasa waktu maghrib telah lama berlalu, aku pun kembali menelpon Kiyano. Aku ingin mendengar kelanjutan ucapannya perihal Lala yang melihat Mark sendirian di jalanan.
Memikirkan nya saja sudah membuat hati ku getir. Apalagi jika aku benar melihat Mark sendirian? Entah apa sebenarnya yang ada dalam benak putra ku itu..
"Laila?" Sapa Kiyano dari seberang telepon.
"Ya, Kiy. Tolong ceritakan kembali, apa yang sudah kamu lihat tadi. Soal Mark.." aku meminta.
"Sebenarnya apa yang terjadi La? Jadi benar yang tadi kami lihat itu adalah Mark? Kenapa--"
Ku potong kalimat Kiyano dengan sebuah teguran.
"Ceritakan padaku apa yang kamu lihat dulu, Kiy. Baru setelahnya aku akan mengatakan kepada mu apa yang terjadi," ucap ku dengan nada memaksa.
"..."
"..."
"Baiklah. Jadi, tadi itu aku dan Lala baru pulang dari swalayan. Kebetulan kami memang melewati depan rumah kamu. Saat itu Lala lah yang melihat Mark pertama kali. Aku kan sedang menyetir mobil ya. Jadi aku baru melihat Mark saat mobil kami sudah melaju jauh," papar Kiyano bercerita.
"Dan saat itu Mark benar-benar hanya sendirian, Kiy?" Tanya ku memastikan.
"Ya. Tadi nya aku gak gakin juga kalau yang ku lihat itu Mark. Karena aku baru melihat anak mu sekali saja kan, La? Tapi karena Lala ngotot mengatakan kalau itu Mark, jadi nya aku langsung menanyakan nya ke kamu.."
"Mark sungguh hanya sendirian, Kiy?" Tanya ku tak sabar.
"Ya. Pada awal nya aku juga hanya melihat seorang anak kecil yang berdiri sendirian di pinggir jalan. Tapi lalu ada sebuah mobil silver berhenti di depan anak kecil itu. Seorang lelaki lalu turun dari dalam mobil, untuk membuka pintu penumpang di jok depan. Dan Anak kecil itu lalu ikut naik mobil bersama lelaki tadi."
"Apa kamu yakin kalau itu Mark, Kiy?" Tanyaku mengulangi.
"Nah. Aku lalu sengaja berhenti di pinggir jalan. Hanya untuk memastikan saja apa itu memang benar adalah Mark. Dan tak lama kemudian mobil silver tadi melewati ku."
Hati ku berdegup kencang. Menunggu kelanjutan fakta yang akan diungkap oleh Kiyano terkait benar tidak nya anak yang dilihatnya itu adalah Mark.
"Lalu?"
"Lalu saat mobil silver itu lewat, aku tak jelas melihat wajah anak lelaki itu, La.." ungkap Kiyano dengan nada menyesal. Bersamaan juga dengan hati ku yang kembali merasakan kecewa.
"Tapi aku jelas melihat profil lelaki yang mengajak anak kecil itu masuk ke dalam mobil nya," ungkap Kiyano kemudian.
Deg. Deg.
Secercah harapan muncul di benak ku. Meskipun Kiyano tak bisa memastikan kalau anak yang dilihatnya adalah Mark, entah kenapa aku mempunyai firasat kalau sesuatu yang akan diungkapkannya selanjutnya bisa membantu ku menemukan Mark, dan mungkin juga Nila.
"Siapa? Bagaimana rupa lelaki itu, Kiy? Apa kamu mengenalinya?!" Tanya ku menuntut.
"Ya. Aku mengenalinya, La. Aku pernah dua kali bertemu dengan nya."
"Dua kali? Apa itu berarti kamu gak benar-benar mengenalinya?" Aku menduga.
__ADS_1
"Mmm.. bisa dibilang begitu. Tapi kurasa kamu akan mengenalinya, La. Karena baru saja kemarin siang aku menjumpai nya di rumah mu," ungkap Kiyano pada akhirnya.
Deg. Deg.
"Siapa kamu bilang?! Lelaki tinggi berkacamata?!" Aku mengulang pernyataan Kiyano barusan. Tak ingin salah menangkap ucapan nya tadi.
"Iya. Itu lho. Lelaki yang memakai kaos turtle neck warna gelap yang main ke rumah kamu kemarin siang, La.. Namanya kalau aku gak salah ingat itu.."
"Az. Ki..?!" Tanpa sadar, aku langsung menyambung ucapan Kiyano.
'"Ya! Benar! Nama nya Azki. Kami sempat berbincang-bincang sih sebentar.."
Pikiran ku serasa buntu saat mendengar dari mulut Kiyano bahwa Azki lah yang telah dilihat nya bersama dengan Mark. Tanpa sadar, mulut ku ikut mengomentari ucapan Kiyano di telepon.
"Memangnya.. apa yang kalian bincang kan?" Tanya ku sambil lalu.
Sementara itu, benakku akhirnya merangkai semua peristiwa sejak aku dan anak-anak pergi ke kebun binatang.
Tentang sempat menghilang nya Azki bersamaan dengan menghilang nya Nila.
Tentang sikap Mark usai ditelepon oleh Azki siang tadi. Di mana Mark jadi terlihat lebih murung dari sebelum nya.
Dan juga gambar yang dibuat oleh Mark! Jelas-jelas pada gambar orang lidi yang menggandeng gambar Nila, ada dua lingkaran yang melingkari kedua mata orang lidi itu.
Tadi nya ku pikir kalau itu adalah mata. Meskipun pada gambar orang lidi lainnya Mark menggambarkannya dalam bentuk titik saja.
Tapi setelah kupikirkan baik-baik saat ini, bisa jadi itu adalah gambar kacamata! Seperti yang juga dikenakan oleh Azki dalam keseharian nya.
Aku pernah mendengar dari Erlan. Kalau Azki pernah menjuarai kompetisi hacker se nasional. Jadi untuk meretas cctv di mana pun, tentu itu akan jadi pekerjaan yang sangat mudah bagi pemuda itu, bukan?
'Ya Allah.. Azki! Benarkah ini, Yaa Rabb? Tapi.. tapi kenapa?? Apa sebenarnya tujuan ia melakukan ini?!' batin ku menjerit dalam diam.
Sementara itu, indera pendengaran ku terus menangkap kalimat demi kalimat yang disampaikan oleh Kiyano via telepon.
"Awalnya kami cuma basa-basi perkenalan aja sih. Tapi lalu aku bertanya soal Nila yang sempat kulihat sedang ia gendong kemarin-kemarin nya lagi," ucap Kiyano mengawali cerita nya.
"Tunggu dulu! Nila? Barusan kamu sebut nama Nila, Kiy?!" Aku memotong ucapan Kiyano, begitu ku dengar nama Nila disebut.
"Iya. nila. Kemarin lusa kan aku dan Lala main ke kebun binatang.."
"Kapan itu?"
"Hari Minggu.."
Deg. Deg.
'Itu adalah hari saat aku juga pergi ke kebun binatang bersama Azki dan yang lain nya! Hari saat Nila menghilang!' jerit batin ku lagi.
"Terus?" Sebongkah amarah mulai terbakar dalam hati ku. Bermula dari percikan kecil, hingga perlahan membesar dan terus membesar. Semua amarah ini kutujukan untuk Azki. Lelaki yang begitu ku percayai untuk dipanggil Papa oleh kedua anak ku!
__ADS_1
"Terus pas aku mau pulang, aku ngelihat Nila digendong sama Azki ke mobil nya. Tadi nya ku pikir itu bukan Nila. Karena rambut nya yang biasa dikuncir, saat itu malah ditutupi oleh topi pet."
"Warna hijau botol kah topi nya?" Aku menerka. Karena hari Minggu kemarin Azki memang memakai topi pet berwarna hijau botol.
Aku baru tersadar kalau sejak ia kembali dari kamar mandi (menurut pengakuan Azki), lelaki itu tak lagi mengenakan topi pet nya.
"Ya. Seperti nya memang warna nya itu," jawab Kiyano.
"Terus?" Tanya ku lagi mulai tak sabar.
"Terus aku lihat muka nya, dan aku langsung sadar kalau itu adalah Nila. Aku ingat banget sama muka Nila. Soal nya dia kopian muka kamu banget, La.." tutur Kiyano.
"..."
"..."
"Terus?" Aku tak menanggapi ucapan Kiyano sebelum nya. Dan meminta nya untuk lanjut bercerita.
"Terus aku sapa lelaki itu. Nanya dia siapa nya Nila. Tapi dia malah bentak aku dan bilang kalau anak yang dia gendong tuh bukan Nila.."
"Awalnya kupikir aku salah mengenali Nila. Tapi dengan pertemuan kedua kami kemarin, aku malah yakin kalau yang Azki gendong kemarin itu beneran Nila. Memang nya, dia itu siapa La? Seperti nya anak-anak kamu begitu dekat dengan Azki?" Tanya Kiyano menutup kalimat nya.
"Dia itu.. sahabat nya almarhum Erlan, Kiy.." ucap ku lugas dan tegas.
"...apa?!! Apa kata mu tadi, La?! al..almarhum?! Maksud kamu, Erlan,..dia.. sudah meninggal?! Aku gak tahu, La.." ucap Kiyano terkejut.
"Ya. Jangan dipikirkan. Kalau gitu, makasih ya Kiy. Aku--" baru juga aku hendak berpamitan, saat ku dengar Kiyano berkata.
"Tunggu dulu, La! Katakan dulu sebenarnya ada apa? Kamu janji untuk cerita yang sebenarnya tadi!" Tagih Kiyano kepada ku.
"..."
"..."
Terlebih dulu aku menghela napas letih. Baru setelah dirasa tenang, ku lanjutkan kembali cerita ku dalam satu kalimat panjang.
"Sebenarnya, sejak hari Minggu siang, Nila menghilang, Kiy. Dan tadi siang, Mark juga menghilang. Besar kemungkinan, saat ini keduanya ada bersama dengan Azki. Dan aku sekarang juga mau ke rumah nya dia untuk jemput anak-anak. Aku gak tahu, apa sebenarnya yang dia mau dengan membawa pergi anak-anak ku. Selama ini hubungan kami selalu baik.." ungkap ku panjang lebar.
"Apa?! Nila dan Mark menghilang?! Jangan gegabah, La! Jangan pergi menemui Azki sendirian. Bagaimana jika ia memiliki maksud jahat ke kamu dan anak-anak?" Kiyano menasihati ku.
"Tenang saja Kiy. Aku juga tak akan sebodoh itu pergi menemuinya seorang diri. Aku akan mengajak Papa dan juga adik ku, Darman. Aku ingin berbicara baik-baik dulu dengan Azki."
"Kenapa enggak lapor polisi? Bagaimana kalau terjadi situasi di luar kendali?!" Ucap Kiyano lagi memperingatkan ku.
"Itu.. akan ku pikirkan nanti. Sudah dulu ya, Kiy. Terima kasih untuk semuanya. Assalamu 'alaikum!"
Klik.
Dan sambungan telepon pun, terputus sudah.
__ADS_1
***