Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Tersadar (POV Laila)


__ADS_3

"Heran deh gue. Kenapa juga gue bisa suka sama cewek kasar macam Lo ya?!" Ucap Kiyano lagi dengan wajah frustasi.


"Bbuahahaahaa!" Suara tawa yang pecah di dekat pintu, spontan saja membuatku menoleh. Dan ternyata itu adalah Bagas, yang terlihat mengintip di luar pintu.


'Sialan! Si kompor malah berani ngetawain aku lagi! Gara-gara si Keong nih ngomong gak jelas! Bilang cinta, tapi malah ngejelek-jelekin aku!' dumel ku dalam hati.


Bagas tak berlama-lama menertawakan ku. Karena kemudian ku dengar Si Keong memarahinya.


"Teruslah tertawa. Tapi akan saya pastikan, besok kamu bakal nangis nerima gaji terakhir kamu!" Ancam si Keong.


Aku tersenyum menang. Merasa sedikit terhibur atas ancaman si Keong pada Si Kompor Bagas.


'Rasain kamu, Gas! Jangan berani-berani kamu ngeledekin aku lagi! Soalnya aku punya co--ehh?? Bentar-bentar-bentar! Barusan aku mau manggil si Keong cowokku? Dih.. Lail. lail.. eling, il.. eling!' aku memperingatkan diri ku sendiri.


Lamunan ku itu terhenti ketika sebuah sentilan pelan melayang ke dahi ku. Saat ku angkat wajah, ternyata si Keong lah yang baru saja menyentil ku. Dan aku juga terkejut ketika ku dapati jarak kami kini tak lebih dari satu meter.


Spontan aku melangkah mundur.


"Jangan macam-macam kamu, Key--ehh, Kiy! Kita gak cuma berduaan sekarang. Jadi, ehh?? Di mana yang lain??" Aku kembali dibuat terkejut saat mendapati kalau teman-teman ku ternyata sudah keluar dari Basecamp. Entah sejak kapan.


Terlebih pintu basecamp pun tertutup. Alhasil aku pun kembali terjebak berduaan dengan si Keong.


Seolah mengerti dengan apa yang hendak ku lakukan, si Keong langsung saja berjalan cepat menuju pintu dan berjaga di sana. Membuat ku jadi kalang kabut tak tahu lagi harus lari ke mana.


"Gila kamu, Kiy! Mau kamu apa sih? Biarin aku pergi! Atau.." ku layangkan pandangan ke segala arah. Namun tak ada celah untuk ku bisa keluar dari ruangan ini. Alhasil aku hanya bisa mundur sejauh mungkin dari tempat si Keong berada.


Ku lihat si Keong menghela napas letih.


"Laila.. pliss. Jangan kuras emosi gue lebih dari ini. Gue tuh beneran suka sama Lo, La.." aku si Keong kembali, dengan nada suara yang lebih lembut.


"Terus? Apa aku harus bilang kalau aku juga suka kamu gitu, hah?!" Jawab ku pedas.

__ADS_1


Sebelah alis si Keong terangkat naik. Ia tampak sangsi atas apa yang baru saja ku ucapkan.


"Memang nya Lo gak suka gue, hmm?" Tanya si Keong.


"Ya iya lah! Mana mungkin aku suka sama cowok pemaksa, brutal, dan..dan.. egois kayak kamu! Gak semua perasaan suka itu harus dibalas dengan rasa suka juga, kali! Kalau kamu masih maksa juga, itu nama nya kamu egois! Rakus!" Umpat ku asal-asalan.


Usai mengatakan kalimat penuh umpatan itu, entah kenapa aku merasa sedikit menyesal.


'Duh, La! Mulut mu sembarangan ngomong lagi! Diem aja napa sih La! Kalau si Keong tambah ngamuk kan gawat!' kembali ku tegur diri sendiri.


Benar saja. Ku lihat si Keong memicingkan kedua mata nya. Dan perlahan, ia pun mendekati tempat ku berada.


"Stop! Ber..berhenti di sana! Aku..aku..minta maaf! Iya. Aku minta maaf! Maaf kalau ucapan ku menyinggung kamu, Key, ehh, Kiy! Please.. bisa kita ngobrol baik-baik kan?" Mohon ku dengan nada yang kubuat lebih lembut.


Si Keong tetap saja melangkah mendekati ku. Sementara aku yang terus mundur, pada akhirnya terhimpit juga di antara tubuh si Keong dan dinding di belakang ku. Mata si Keong masih menatap tajam ke dalam mata ku.


"Lo bilang, Lo gak suka sama gue, hmm?" Tanya si Keong dengan suara yang nyaris berbisik.


Terlebih dulu aku menelan ludah. "I..iya. aku memang gak..gak suka sama kamu, Kiy. Tapi.. tapi kita bisa berteman, kan?" Aku mencoba bernegosiasi.


Namun Si Keong tak menghiraukan tawaran ku. Ia kembali mengucapkan kalimat tantangan yang sulit untuk ku tolak.


"Kalau begitu, buktikan! Buktikan kalau Lo memang gak suka sama gue, buktikan itu!" Tantang Si Keong dengan suara masih berupa bisikan.


Selama sesaat pikiran ku terasa buntu. Aku hampir-hampir tenggelam dalam lamunan ku sendiri kala menikmati wajah tampan di depan ku ini.


'Kulit nya asli mulus banget sih..iisshhhkk! laila! Fokus, La! Fokus!' aku buru-buru menegur diri ku.


"Gimana cara buktiin nya?" Tanya ku dengan kegugupan yang mulai merajai diri.


Pandangan Kiyano lalu berubah lembut. Lalu, wajah nya kian mendekati wajah ku.

__ADS_1


Ba dump.


Ba dump.


Kali ini, mulut ku seolah terkunci dan aku tak bisa mengeluarkan suara penentangan ku atas apa yang akan pemuda itu lakukan. Aku malah menyaksikan dan menikmati saat-saat Si Keong hendak menci um ku kembali.


"Seperti ini.." bisik nya lembut.


Dan, si Keong pun mencium ku kembali. Sementara aku terdiam membeku dengan apa yang ku hadapi kini. Aku tertegun dan merasakan, kalau ciuman ke tiga ini mirip seperti ciuman pertama kami di dalam mobil, saat pertama kali nya ia mengantarkan ku dan Erlan pulang.


Ciu man ini terasa begitu lembut, dalam, nan menghanyutkan. Aku bahkan merasa seperti berada di tempat yang paling hening dan damai saat ini juga.


Meski jantung ku berdentum-dentum tak karuan, aku menyukainya.


Meski seolah ada kupu-kupu yang menggelitiki bagian bawah perut ku, aku juga menyukai nya.


Meski aku merasakan sesak di dada dan ingin meminta lebih dari ciu man ini, aku masih menyukai sensasi nya.


Sampai tiba-tiba saja ciu man ini berakhir. Dan aku merasakan kehampaan mulai menguasai hati ku.


Kemudian tahu-tahu kepala dan bahu ku ditarik hingga akhirnya aku berada dalam pelukan si Keong, baru lah kehampaan itu menghilang pergi. Rasanya aku telah menemukan rumah ku yang damai, saat berada di pelukan ini.


Dan aku tak ingin melepaskan diri.


"Lo jelas suka gue, La.. Lo juga suka gue.." bisik Si Keong yang terdengar begitu merdu nan syahdu di telinga ku.


Aku tertegun, dan berpikir cukup lama. Sementara di luar sana adzan mahhrib mulai terdengar berkumandang. Aku masih sibuk mencerna kenyataan yang baru ku sadari kini.


'Ku rasa aku memang sudah menyukai Kiyano. Entah sejak kapan..' batin ku membaitkan lirih.


***

__ADS_1


__ADS_2