Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Rahasia Erlan (POV Laila)


__ADS_3

Acara pesta berlangsung sangat meriah. Di sisi utara rumah, berdiri sebuah panggung kecil dimana beberapa penyanyi lawas yang cukup terkenal sedang menyumbang lagu tembang kenangan. Aku masih berdiri di dekat kursi roda Oma Ruth.


Meski tugas ku hanya sesekali mendorong kursi Oma dan menemaninya sepanjang acara pesta berlangsung, hati ku rasanya jemu juga. Terlebih lagu lawas yang umumnya mendayu-dayu itu mengalun merdu ke telinga ku. Serasa sedang di ninabobokan saja, deh.


Di beberapa kesempatan, ada beberapa tamu pria yang ingin melakukan pedekate pada ku. Tapi aku sengaja mengacuhkan mereka dan memasang muka garang. Jadi para lelaki itu pun kabur sebelum sempat menyapa ku.


Pada suatu kesempatan, aku yang benar-benar mengantuk, tak lagi bisa menahan diri untuk tak menguap. Aku pun menguap lebar. Namun, tiba-tiba saja sebuah potongan cake menyumpal mulut ku yang menganga.


Langsung saja aku menoleh ke kanan, di mana kulihat Erlan menyengir kepada ku.


Setelah kukunyah potongan cake itu dan menelannya hingga habis, langsung saja ku semprot Erlan dengan omelan.


"Jahil banget sih!" Aku mengomel.


"Masih kalah jahil dari kamu lah, La. Waktu itu kamu malah masukin pisang goreng yang dicocol kecap ke mulut ku, pas aku lagi menguap. Mana aneh tahu rasanya!" Balas mengomel Erlan.


Mengingat kejadian itu, aku jadi menyengir kuda.


"Ya ampun, Lan. Dendam banget sih. Itu kan kejadiannya udah lama banget.. waktu kita masih kerja jadi OB kan?"


"Biar kata udah lama, tapi aku masih inget rasanya. Aneh banget La!"


"Ahh.. udah ah. Ganti topik. Ngomong-ngomong, penampilan mu lumayan keren malam ini. Salah-salah aku bisa ngira kamu Tuan Muda di rumah ini lagi, menilai penampilan mu yang sekarang!" Aku memuji Erlan.


Erlan terbatuk kecil. Agaknya ia merasa malu dengan pujian ku itu. Melihat gelagat nya, aku jadi iseng untuk menggodanya lagi.


Aku sengaja merapatkan tubuh ku ke sisi Erlan, lalu berbisik ke telinganya dengan nada yang mendayu-dayu.


"Kalau kamu yang jadi Tuan Muda nya, aku mau kok sama kamu!"


Buru-buru aku menjauhkan diri untuk melihat hasil perbuatan ku. Dan aku merasa puas. Saat kulihat wajah Erlan yang kemerahan macam kepiting rebus saja. Hahaha..


Perhatian ku lalu beralih ke arah panggung. Menyaksikan salah satu penyanyi wanita senior yang masih menyanyikan lagu lawas.


"Hoahm.. ngantuk banget sih. Padahal baru jam delapan malam," aku mengeluh.


Kulihat Oma yang masih tampak segar menatap ke pemandangan sekitar. Tak lama, Erlan kembali bicara, "kupegang ucapan mu ya, La!"

__ADS_1


"Huh?" Aku menoleh tak mengerti. Namun Erlan tak menjelaskan apapun lagi. Ia hanya memandangiku dengan pandangan yang membuat jantung ku berdegup tak menentu.


Ba dump.


Ba dump.


Sebelum akhirnya ia pamit hendak pergi ke toilet.


Ku tatap kepergian Erlan dengan pandangan bertanya. Aku merasa ada yang aneh dengan Erlan akhir-akhir ini.


"Gak mungkin kan dia masih nyimpan rasa ke aku? Setelah semua penolakan dan sikap bar bar ku padanya?" Gumam ku pada angin kosong.


Sekitar jam setengah sembilan malam, MC memanggil seluruh keluarga inti untuk naik ke atas panggung. Akan ada acara tiup lilin dan pemotongan kue sesaat lagi.


Aku sebagai pendamping Oma pun mau tak mau ikut naik ke atas panggung. Namun, begitu sudah ada di atas panggung, aku terkejut saat mendapati adanya satu sosok yang ikut mengelinap ke atas panggung selain keluarga inti.


Jadi, di panggung itu ada Oma, aku, Tuan Gilberth, Mama Ilmaya, Arline dan juga.. Erlan.


Mendapati mata ku fokus kepada nya, Erlan langsung berjalan hingga berdiri di dekat ku.


Erlan tak menyahut dan hanya memberiku senyuman miring. Ia kembali beringsut mendekati ku.


"Cabe Ijo! Ngapain kamu ikutan naik?! Gak sopan banget sih!" Aku masih menegur Erlan agar ia segera turun dari panggung.


Kesal dengan teman ku itu, langsung saja kuinjak kuat-kuat kakinya Erlan. Sampai ia berteriak kesakitan dengan suara yang cukup kencang.


"Aww!!"


Seketika itu juga semua orang di panggung serta beberapa tamu yang berada dekat dengan panggung menoleh ke arah Erlan. Aku sendiri sudah memasang ekspresi wajah datar, agar terhindar dari perhatian semua orang.


"Kenapa sih, Lan? Udah jangan berisik!" Tegur Mama Ilmaya pada teman ku itu.


'Hahaha! Kena kamu, Lan! Paling juga nanti disuruh turun panggung!' aku berhaha hihi dalam hati.


Tapi, setelah lama waktu berlalu dan tak ada dari Mama Ilmaya, Papa Gilberth, Ataupun Arline yang menyuruh Erlan turun dari panggung, aku pun jadi heran dan bingung.


'eh? Apa Erlan sekarang jadi body guard juga gitu ya? Makanya dibiarin naik juga ke atas panggung untuk jaga keamanan keluarga ini?' benak ku bertanya-tanya.

__ADS_1


Tak ingin ambil pusing, aku pun meninggalkan pemikiran terkaot Erlan dan memilih untuk memandang kerlip bintang di langit malam. Cuaca langit cukup bersih hari ini sehingga ada banyak bintang yang bisa terlihat dengan mata telan jang.


Kemudian, suara MC tiba-tiba saja meresap masuk melewati celah kuping ku.


"Dan mari kita dengarkan juga prakata dari cucu tersayang Oma Ruth, si kembar Erlan dan Arline! Kepadanya dipersilahkan.."


'...'


Sesaat aku diam termangu. Namun kemudian aku langsung menatap nanar pada Erlan dan juga Arline yang melangkah maju ke samping Oma Ruth.


Saat itulah aku baru benar-benar mengamati wajah samping Erlan dan juga Arline. Dan kesadaran itu memukul telak kecerdasan ku yang kubanggakan.


'Mereka itu saudara kembar! Jadi Erlan itu kakak nya Arline?! Tapi..tapi..!!' aku tak mampu berpikir lebih lanjut.


Benak ku masih sibuk mencerna semua percakapan dan kejadian bersama Erlan dan Arline selama beberapa bulan ini.


Dan aku akhirnya menyadari, kalau selama ini sebenarnya ada banyak clue yang menjelaskan kalau Erlan adalah putra sulung dari Mama Ilmaya dan Om Gilberth. Tapi aku mengabaikan nya. Dan alam sadar ku menolak untuk mengakui nya.


Teringat kembali oleh ku semua hinaan ku terhadap Erlan si Cabe Ijo di depan keluarganya, tanpa ku tahu kalau aku telah menjelek-jelekkan salah satu anggota keluarga mereka.


'?!!!'


Tiba-tiba, kurasakan re masan lembut pada tangan ku yang berada di samping tubuh. Aku menoleh dan bertatapan dengan mata Mama Ilmaya.


"Maaf ya, La. Mama sebenarnya gak mau ikut berbohong sama kamu soal Erlan. Tapi anak itu tuh, katanya malu kalau identitas asli nya ketahuan sama kamu. Apalagi kalian pernah kerja bareng jadi OB kan?" Tutur Mama Ilmaya menjelaskan.


"..."


'Iya, dia jadi gak malu! Tapi kan sekarang aku yang jadi malu sama Mama Ilmaya dan semuanya! Awas ya kamu Cabe!' ancam ku geram teruntuk Erlan.


Aku tak tahu harus menyahuti ucapan Mama Ilmaya dengan jawaban yang bagaimana. Benakku masih terlaku syok dan sibuk mendaftarkan semua kejadian memalukan yang telah kuperbuat perihal identitas Erlan ini.


Pada akhirnya aku hanya mengangguk kaku dan memberikan senyuman tipis pada Mama Ilmaya. Setelah nya, kulayangkan pandangan tajam ke belakang kepala pemuda yang sudah mempermainkan IQ ku selama beberapa bulan ini.


'CABE IJOOOO!!!' aku mengamuk tanpa suara.


***

__ADS_1


__ADS_2