
"Apa kabar, La?"
Aku terkejut saat mendapati sosok Nindi yang tiba-tiba saja telah berdiri di depan pintu WC umum.
Aku tak bergegas menyahut sapaan Nindi itu. Mulut ku rasanya malas sekali untuk berbincang-bincang dengan gadis penghianat di depan ku ini.
Akhirnya ku putuskan untuk mengabaikan Nindi dan berlalu pergi begitu saja. Namun, kata-kata Nindi berikutnya membuat langkah ku terhenti tiba-tiba.
"Aku gak sengaja bertemu dengan kepala Manajer di restoran dua malam yang lalu," ucap Nindi dengan suara lembut nya.
Kepala manajer yang dimaksud oleh Nindi mestilah Kiyano.
'Abaikan saja, La.. abaikan cewek harpy itu. Dia cuma mau bikin masalah aja sama kamu!' aku berusaha mengingatkan diri ku sendiri untuk mengabaikan Nindi. Namun, ucapan Nindi kemudian, kembali menggoda batin dan raga ku.
"Dia mau dinner sama wanita yang katamu tuh mantan istrinya. Tapi.." ucap Nindi menggantung.
Aku merasa kesal, namun juga penasaran dengan ucapan Nindi selanjutnya. Akhirnya aku hanya tetap berdiri diam di tempat, sambil bersiap mendengarkan berita apapun tentang Kiyano dari mulut mantan teman ku itu.
"Tapi waktu itu, kepala manajer ngenalin wanita itu sebagai istrinya. Apa jangan-jangan kamu bohong ya, La, biar bisa berhubungan sama kepala manajer. Padahal aslinya kamu tuh.. pelakor!" Desis Nindi menghina ku.
Seketika itu juga aku langsung berbalik menghadap Nindi.
"Jaga mulut kamu, Nin! Atau aku gak bakal segan-segan merobek mulut kamu yang busuk, sebusuk hati dan isi kepala kamu itu! Dasar sampah!" Aku balas menghina Nindi sambil memberinya jari telunjuk ku.
Nindi kemudian menepis jari telunjuk ku yang mengarah padanya, dengan kasar.
"Aku jelas lebih baik daripada pelakor ja lang seperti mu, La. Yang berani mencuri suami orang!"
"Dasar kau sampah tinj--!!"
"Laila! Apa yang kamu lakuin di sini, Sayang? Oh.. Nindi? Kamu juga ada di sini?"
Kemunculan Erlan tak jauh di samping ku sama sekali tak disadari oleh ku maupun Nindi.
Saat ku amati wajah Nindi, ekspresi di wajahnya berubah begitu cepat. Mulai dari pandangan benci yang ditujukannya untuk ku, lalu langsung berubah jadi terkejut dan tatapan lembut saat ia melihat Erlan yang datang mendekati kami.
"Erlan! Apa kabar?" Sapa Nindi dengan suara lembut dan sedikit mendayu-dayu.
'Cih! Cewek munafik! Sayang banget aku telat menyadari sifat dualisme nya itu. Kalau tahu dia se palsu ini, aku jelas gak bakal mau berteman sama dia!' dumel ku sendiri dalam hati.
"Baik.. Oh, kalian lagi lepas kangen ya, karena udah lama gak ketemu?" Terka Erlan dengan begitu polosnya.
__ADS_1
Aku mencebik dalam hati.
'Lepas kangen dia bilang?! Idihh.. amit-amit deh! Lepas tangan sih iya bisa jadi. Macam cakar-cakaran atau jambak menjambak rambut..' benak ku kembali mendumel liar.
Sementara itu, Nindi hanya membalas pertanyaan Erlan dengan senyuman kaku.
Aku kembali melirik ke arah Nindi. Dan ku dapati pandangan cinta dan memuja di mata wanita itu saat melihat ke Erlan. Aku pun teringat pada fakta kalau Nindi memang menyukai Erlan.
Dan, tiba-tiba saja terbersit sebuah pemikiran untuk membalas perlakuan Nindi kepada ku.
Secara tiba-tiba, aku bergelayut manja pada lengan kanan nya Erlan. Tak lupa juga aku berbicara pada kekasih ku itu dengan suara yang tak kalah mendayu seperti Nindi.
"Ah, Erlan ku Sayang.. kamu mestilah mencari ku kan, Sayang? Maaf ya.. Tadi aku gak sempat bilang ke kamu kalau aku udah kebelet pipis, tadi," ucap ku di dekat telinga Erlan.
Ku lirik kembali Nindi. Dan tampak jelas wajah nya terkejut melihat kemesraan ku dan juga Erlan. Lalu, dengan perlahan, keterkejutan itu berganti dengan ekspresi cemburu.
'Rasain loh! Panas, panas deh hati mu, Nind! Hahaha!' aku tertawa puas dalam hati.
"Mm.. Laila? Kamu sakit kah? Tumben banget, mmm..!"
Ku tutup mulut Erlan dengan cubitan pelan. Agar ia tak membongkar sikap janggal ku di depan Nindi.
"Lan-Lan.. habis ini, kita ke pantai yuk! Aku pingin belajar surfing sama kamu, Beb.." ucap ku sambil semakin bergelayutan di lengan Erlan.
Namun, sebelum Erlan sempat kembali berucap, suara Nindi memecah perhatian kami berdua.
"Ka..kalian berdua jadian, Lan?! Kamu.. kamu pacaran sama pelakor ini?!" Tanya Nindi dengan nada sedikit histeris..
Seketika itu pula, mata Erlan langsung menyorot tajam ke arah Nindi.
"Jaga ucapan mu Nind! Laila ku bukan seorang pelakor!" Kecam Erlan kepada Nindi.
"Tapi.. tapi dia memang pelakor, Lan! Laila sendiri yang cerita ke aku kalau dia udah jadi pelakor di antara hubungan pak Kepala Manajer dan istri nya. Sampai-sampai mereka hampir bercerai tapi gak jadi. Karena kemudian Laila sepertinya sadar diri dan--"
Aku kembali menyemprot Nindi. Gelayutan manja ku di lengan Erlan langsung saja ku lepas, dan aku pun langsung sedikit mendorong bahu wanita penghianat itu ke belakang.
"Dan aku menyesal banget udah cerita ke cewek penghianat macam kamu, Nind! Tega-tega nya kamu ceritain curhatan ku, ke semua orang di kantor! Sampai akhirnya aku gak tahan karena harus dapat cap pelakor yang sebenarnya gak ku lakukan sama sekali!" Ucap ku garang.
Kedua tangan ku kini terkepal di samping tubuh. Aku benar-benar menggunakan sisa kesabaran ku yang tak seberapa, untuk menahan diri dari menerjang Nindi dan muka menyebalkan nya itu!
Lalu, tiba-tiba saja sebuah tangan menggenggam tangan kiri ku yang terkepal begitu erat. Saat aku menengok, ku tangkap pengertian di wajah Erlan.
__ADS_1
Ditatap dengan pandangan meneduhkan seperti itu, dinding pertahanan ku pun hendak kembali jebol. Namun aku berusaha menahan sekuat tenaga untuk tak menangis di hadapan Nindi. Tak akan ku biarkan wanita itu merasa senang karena merasa telah berhasil menyakiti ku.
Kemudian, ku dengar Erlan kembali bicara.
"Aku gak menyangka, kalau wanita ramah dan perfeksionis seperti kamu itu memiliki sikap burik yamg tersembunyi. Syukurlah Laila ku cepat mengetahui sikap buruk mu itu. Sehingga ia tak akan tertular oleh perangai mu yang buruk!" Erlan kembali mengecam Nindi.
Sebelum Erlan selesai bicara, perhatian ku kembali terarah ke wajah Nindi. Dan kulihat, beragam ekspresi pun bermunculan di wajah ayu nya.
Mulai dari terluka, tak percaya, dan kemudian saat pandangan Nindi teralih kepada ku, bisa kurasakan perasaan marah dan benci yang begitu kuat menguar dari sorot matanya.
Aku bahkan tak menduga saat tiba-tiba saja Nindi menerjang dan mencoba melukai ku dengan kuku tangannya yang tajam. Beruntung Erlan sigap menjadikan punggung nya sebagai tameng. Dan begitu ku lirik Nindi sesaat kemudian, ia sudah jatuh tersungkur di atas rerumputan.
'Sepertinya Erlan baru saja mendorong nya,' terka ku tanpa suara.
Sorot mata Nindi, ku dapati benar-benar menunjukkan bahwa ia sungguh terluka atas sikap Erlan kepada nya.
"Erlan! Kenapa kamu pilih cewek gak bermoral ini sih?! Kenapa gak aku?! Sedari dulu tuh aku udah suka sama kamu!" Jerit Nindi dengan suara yang cukup menarik perhatian orang-orang di sekitar danau.
Aku berusaha menyembunyikan wajah ku ke dada nya Erlan. Rasanya malas benar untuk melihat aksi gila nya Nindi saat ini yang menjerit-jerit tak jelas di atas rumput.
Baru juga aku hendak melepaskan diri dari Erlan dan mengajaknya berlalu pergi, saat ku dengar Erlan kembali menyahuti ucapan Nindi tadi.
"Aku juga heran. Kenapa aku gak bisa punya perasaan sama cewek yang paling ku kagumi selama aku bekerja jadi OB. Padahal kamu itu cewek ideal banget loh Nind."
Ku tatap wajah Erlan yang kini menatap Nindi dengan pandangan dingin.
"Tapi syukurlah. Setidaknya saat ini aku merasa bersyukur karena telah jatuh cinta pada Laila, daripada kamu, Nind. Karena hati ku pun nyatanya bisa membedakan, mana cewek yang benar-benar baik, dan mana cewek yang benar-benar palsu sikap manis nya!" Kecam Erlan blak-blakan.
"Nindi, apa yang terjadi?! Kenapa kamu duduk di atas rumput?!" Sebuah suara barito tiba-tiba muncul dan menyeruak di antara percakapan kami bertiga.
Perhatian ku dan Erlan pun seketika terfokus pada seorang lelaki paruh baya berjenggot cukup lebat. Bapak-bapak itu lalu membantu Nindi untuk berdiri.
"Ah! Bapak nya Nindi!" Tanpa sadar, aku memekik cukup kencang.
Bapak-bapak di depan ku itu langsung memberiku tatapan tak suka. Dan aku juga menangkap kepanikan di wajah Nindi.
"Siapa maksud anda? Saya ini suami nya Nindi!" Ungkap sang bapak dengan suara lantang dan jelas.
Seketika, aku pun menganga dan menatap Nindi dengan pandangan tak percaya. Karena seingat ku dulu, Nindi tak menampik dugaan ku kalau lelaki di sampingnya itu adalah ayah nya.
'Apa dia malu, karena suami nya kelihatan seperti seumuran dengan bapak nya?!' aku kembali menerka tanpa suara...
__ADS_1
***