Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Kunjungan Kiyano dan Lala (POV Laila)


__ADS_3

Aku keluar dari dalam mobil. Dan menunggu Kiyano yang berjalan menghampiri ku. Ia membawa serta Lala di samping nya.


"Tante Baik!" Sapa Lala yang langsung menghambur berlari, memeluk pinggang ku.


Aku melepas pelukan Lala, berjongkok di depan anak perempuan itu dan menyapa nya dengan ramah.


"Halo Lala.. Lala sehat, Sayang?" Aku menyapa anak perempuan Kiyano itu.


"Sehat Tante. Lala mau main sama Nila dan Ka Mak!" Seru Lala bersemangat.


Aku tertegun. Mendengar nama Nila disebut, rasa kebas itu kembali menghimpit seluruh batin dan rasa ku.


Tak kuasa untuk berkata-kata, aku hanya bisa memeluk Lala dalam diam. Dan saat aku memeluk bocah itu, rasanya mirip seperti saat aku memeluk Nila ku.


Tubuh mereka memang sama mungil nya. Dan rasa rindu ku terhadap Nila pun akhirnya sedikit terobati saat ku peluk putri nya Kiyano ini.


Setelah merasa lebih tenang, ku lepas pelukan ku pada tubuh Lala. Lalu mengatakan pada bocah lima tahun itu.


"Mark nya lagi sakit Sayang.. jadi mungkin lain kali aja ya main nya," aku membujuk Lala.


"Ka Mak sakit? Nila juga?" Tanya Lala dengan pandangan murung.


Lagi-lagi ditanya tentang Nila, aku kembali digempur oleh rasa sedih yang sama. Meski begitu, wajah bocah di depan ku itu memaksa ku untuk bersikap tegar.


"Nila gak sakit, Sayang. Cuma lagi main aja.." ucap ku berbohong.


Meski begitu, aku berharap Nila memang sedang bermain saat ini. Daripada ia ketakutan sendirian entah di mana? Aku jelas lebih memilih Nila ku bermain dan bahagia di manapun ia berada saat ini.


"Lala mau lihat Ka Mak? Boleh, Tante?" Pinta Lala kemudian.


"Lala..!" Kiyano menegur Lala. Merasa kalau putri nya telah kelewatan meminta sesuatu kepada ku.


Dan aku langsung menggeleng ke arah Kiyano. Mengisyaratkan kalau ia tak perlu menegur putri nya seperti itu.


Ku pandangi kembali wajah mungil nya Lala. Dan aku mendapati mata Lala yang memohon sangat kepada ku. Hal ini membuat ku tak kuasa menepis keinginan putri nya Kiyano itu untuk menjumpai Mark.


"Boleh.. tapi lihat dari jauh aja ya, Sayang.. soalnya Mark kan lagi sakit. Jadi harus banyak tidur dulu biar cepat sembuh," aku berkompromi dengan Lala.


"Iya, Tante.." seru Lala dengan hati yang riang.


"Laila!" Kiyano memanggil ku saat aku hendak menggandeng Lala masuk ke rumah.

__ADS_1


Aku pun berbalik untuk menghadap pada Kiyano lagi.


"Kenapa lagi, Kiy?" Tanya ku tak sabar.


Aku sebenarnya sudah sangat letih sore ini. Aku ingin segera menjumpai Mark, menemukan Nila dan tidur bersama lagi dengan kedua anak ku.


Namun apalah daya, semua keinginan ku itu belum bisa terpenuhi. Seperti Nila yang hingga kini masih tak diketahui keberadaan nya di mana.


"Maaf ya aku ngerepotin kamu. Soalnya Lala juga baru sembuh dari demam. Dan kemarin aku udah janji untuk memenuhi satu permintaan nya. Dan dia ternyata pingin banget main ke sini lagi.. aku gak bisa.." Kiyano terlihat kesulitan melanjutkan ucapan nya lagi.


"Gak apa-apa, Kiy. Namanya juga anak-anak ya. Kalau permintaan nya gak aneh-aneh, ya gak apa-apa diturutin aja. Dan... Aku? Kamu? Seingat ku, dulu bahasa mu elo gue deh. Sejak kapan berubah jadi aku kamu?"


Tanpa menunggu jawaban dari Kiyano, Aku langsung saja membalikkan badan ku dan melanjutkan langkah ku lagi memasuki rumah. Bersama Lala yang ku gandeng di sisi kiri ku.


"Laila, kamu sudah pulang, Nak?" Suara Mama Mutia terdengar dari arah belakang rumah.


Benar saja. Tak lama kemudian kulihat sosok Mama yang keluar dari pintu belakang rumah.


"Iya, Ma.." aku menyahut.


"Oh! Nila!! Ehh.. bukan Nila??" Mama sempat mengira Lala yang sedang ku gandeng sebagai Nila. Namun kemudian, ku lihat kekecewaan melintas di wajah Mama.


"Dia siapa, La?" Tanya Mama kepada ku.


"Dia.." aku ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Mama dengan sejujurnya atau tidak.


Karena nya aku langsung menoleh ke belakang ku. Dan aku terkejut karena ternyata Kiyano tak mengikuti ku masuk ke dalam rumah.


Seperti nya lelaki itu bertahan di luar rumah. Mungkin karena tadi aku lupa menawarkan nya untuk masuk juga.


"Kamu cari siapa, La?" Tanya Mama kembali.


"Ini Ma.. ini tuh Lala. Anak nya Kiyano," jawab ku jujur pada akhirnya.


"Kiyano?! Dia sudah punya anak juga?? Tapi, bagaimana kalian bisa bertemu lagi?" Tanya Mama penasaran.


"Itu panjang cerita nya, Ma.." aku beralasan.


Kemudian, Lala yang melihat perubahan ekspresi di wajah Mama langsung ketakutan. Ia langsung saja bersembunyi di belakang ku.


Mama yang menyadari kekhilafan nya itu langsung mengoreksi sikap nya.

__ADS_1


Dengan suara lemah lembut, Mama berjalan mendekati Lala. Kemudian menyapa nya.


"Halo, Sayang.. maafin Oma ya tadi suara Oma terlalu kencang. Oma gak marah sama kamu kok.. nama kamu siapa, Nak?" Tanya Mama bersimpati.


Dengan suara pelan, Lala pun menyahut.


"Lala, Nek.."


"Panggil Oma aja ya, Sayang.." tegur Mama sambil tersenyum.


"O..ma.." ucap Lala menuruti kata Mama.


"Anak pintar!" Puji Mama sambil menepuk pelan kepala nya Lala.


Setelah itu Mama berdiri dan kembali berkata kepada ku.


"Kamu harus menjelaskan semuanya nanti ke Mama, La. Bagaimana pun juga, Mama gak mau kamu mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu. Terlebih saat ini Kiyano juga sudah mempunyai anak dengan istri nya itu!" Tegur Mama kepada ku.


Aku mengerti benar dengan kesalahan yang dimaksud oleh Mama. Yaitu saat aku tak sengaja menjadi pelakor di antara hubungan Kiyano dengan Bella.


Aku pun tak akan membiarkan diri ku mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu. Aku jelas tak akan sebodoh itu.


"Iya Ma. Nanti Laila jelaskan semua nya. Lala ke sini untuk menengok Mark saja kok, Ma.." ungkap ku menjelaskan.


"Begitu.. ya sudah. Kalau gitu, Mama mau ke depan dulu ya. Mau bantu nyiramin tanaman di depan," imbuh Mama kemudian.


Tapi kemudian aku terburu-buru memanggil Mama lagi.


"Ma!" Panggil ku bernada gugup.


"Apa, La?"


"Itu.. kayak nya Kiyano masih nungguin di depan rumah, deh. Dia tadi yang anterin Lala ke sini.." aku berkata jujur.


Akan lebih baik jika aku memperingatkan Mama soal keberadaan Kiyano di halaman rumah kami. Entah bagaimana reaksi Mama terhadap lelaki itu nanti nya, aku tak peduli.


Ku lihat Mama yang sempat tertegun selama beberapa saat. Jadi ku putuskan untuk langsung saja mengajak Lala menengok Mark di kamar nya.


Tak lagi menengok ke belakang. Ke arah Mama yang masih terdiam mematung di tempat nya berdiri sesaat tadi.


***

__ADS_1


__ADS_2