Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Dijodohkan dengan Azki (POV Laila)


__ADS_3

"Lail akhir-akhir ini berubah.. Lail jadi lebih terlihat..damai. Menurut Nun," ucap Nunik tiba-tiba, saat anak-anak sedang asik memakan cookies nya.


"Ya kan, Buk De?" Seru Nunik kepada Mama yang terlihat hendak kembali ke belakang rumah. Papa Ulum saat ini sedang menanam bibit pohon baru yang baru di belinya bersama Mama di kota C kemarin.


Mama membalikkan badan, menatap ku hangat dan mengiyakan pernyataan Nunik tadi.


"Iya. Kamu lebih terlihat bahagia akhir-akhir ini, La. Bahagia yang sebenarnya bahagia.."


Aku tertegun. Menyadari kalau perubahan ku sejak mendapatkan mimpi burung dan Erlan itu ternyata disadari juga oleh orang-orang terdekat ku. Entah kenapa, aku jadi merasa bersalah kepada mereka.


Dengan kepala sedikit tertunduk malu, aku pun meminta maaf.


"Maaf ya, udah bikin kalian khawatir selama ini," ucap ku kemudian.


"Gak apa-apa, il. Nun ngerasa oke oke aja kok," ujar Nunik.


Sementara itu, Mama berjalan menghampiri ku lalu memeluk ku singkat.


"Gak apa-apa Nak. Wajar kok bila seorang ibu mengkhawatirkan anak nya. Kamu juga merasakannya sendiri kan?" Ujar Mama sambil menatap ke arah anak-anak berada.


Aku menyadari kebenaran ucapan Mama itu.


Memang benar. Seorang ibu memang akan selalu mengkhawatirkan anak-anak nya. Dan aku sudah merasakannya sendiri selama enam tahun ku membesarkan Mark dan Nila tanpa Erlan di sisi.


Bahkan jikalau pun Erlan masih ada, aku pastilah akan tetap mengkhawatirkan tentang Mark dan juga Nila. Terutama adalah di masa dua tahun pertama usia mereka.


Saat di mana anak-anak masih sering sakit-sakitan. Entah itu demam, panas karena tumbuh gigi, sakit usai terjatuh karena belajar duduk, merangkak, berdiri dan berjalan. Aku telah melalui semua proses itu.


Dan masa-masa dua tahun itu memang adalah masa terberat bagi ku dalam menjadi seorang ibu.


Syukurlah aku tak menjalani nya seorang diri. Karena aku masih memiliki Kedua Mama dan Papa yang menyayangi ku dan juga menyayangi kedua anak ku, adik sambung ku dan juga kedua adik ipar ku, serta banyak orang lainnya yang ikut membantu ku dalam melakoni peran ku sebagai seorang ibu. Seperti Nunik dan keluarga nya, Azki, serta para asisten di rumah ku.


Aku sangat berhutang budi kepada mereka semua nya yang telah menemani ku menjalani peran sebagai ibu muda tunggal yang masih kurang berpengalaman dalam banyak hal.


"Makasih Ma.. Nun.." ucap ku lagi. Kali ini sambil menatap langsung dan bergantian ke arah Mama dan juga Nunik.


Nunik membalas ucapan ku dengan senyuman nya. Sementara Mama membalas ucapan ku dengan kata-kata menentramkan nya.


"Sama-sama Sayang. Yang paling penting adalah kamu bisa merasa bahagia sekarang. Jangan hanya memikirkan kebahagiaan Mark dan Nila saja. Tapi pikirkan juga kebahagiaan mu ke depan nya nanti, Nak. Apa kamu yakin, kondisi mu sekarang ini sudah cukup bahagia? Kenapa kamu tidak membiarkan orang lain berjuang untuk membahagiakan mu lagi? Seperti yang dilakukan dulu oleh almarhum.." ucap Mama Mutia.

__ADS_1


Aku tertegun.


"Maksud Mama?" Tanya ku perlahan.


Mama tak menjawab. Ia mengusap pelan kepala ku dan memberikan senyuman misterius ke arah Nunik.


Entah kenapa aku mencium aroma persekongkolan antara Nunik dan juga Mama. Seperti keduanya sedang menyembunyikan sesuatu dari ku.


"Sudah ya. Mama mau bantu Papa mu dulu di halaman belakang. Kasihan kan kalau nyiram semua tanaman sendirian.." ucap Mama sambil beranjak bangun.


Aku menatap bingung kepergian Mama yang menghilang ke area belakang rumah. Setelah mata ku tak lagi bisa menangkap sosok Mama, ku alihkan perhatian ku kepada Nunik.


Aku tahu, Nunik pastilah akan memberikan ku jawaban yang jelas. Karena Nunik selalu berkata jujur kepada ku sedari dulu.


"Maksud Mama apa, Nun? Apa kamu tahu sesuatu?"


Nunik langsung terlihat gugup. Mata nya ia alihkan dari tatapan ku yang mengikat. Aku tertegun. Tak menyangka kalau Nunik tak akan langsung menjawab pertanyaan ku seperti biasanya ia.


Dengan memaksa, aku kembali bertanya kepada sahabat ku itu.


"Bilang aja Nun. Kamu kenal aku kan?" Aku meminta Nunik untuk berkata jujur.


"Lail gak kepikiran untuk menikah lagi kah, il?" Tanya Nunik tiba-tiba.


'Tentang pernikahan lagi?' gumam batin ku.


"Memangnya harus ya?" Tanya ku balik dengan sikap acuh.


"Ya menurut Nun sih kayak nya harus ya.." ucap Nunik dengan kalimat ambigu.


"Menurut Mama ku juga gitu ya, Nun?" Ku ucap kan dugaan ku terkait pendapat Mama tentang status pernikahan ku saat ini.


"Yah.. kira-kira gitu deh."


"Memangnya kenapa aku harus menikah lagi, coba?" Tanya ku menantang.


Nunik terlihat menghela napas. Baru kemudian menjabarkan pendapat nya.


"Lail kepikiran gak sama masa depan nya anak-anak kalau mereka besar tanpa figur seorang Papa?" Tanya Nunik tiba-tiba.

__ADS_1


'Lagi-lagi alasan nya demi anak-anak..' gumam batin ku lagi.


"Memang nya anak-anak gak bisa bahagia cuma dengan aku sebagai ibu sekaligus juga papa nya, Nun?" Tanya ku lagi.


"Bahagia..? ya.. bisa. Mereka mungkin akan merasa bahagia."


Aku tersenyum kala mendengar jawaban Nunik itu. Tapi senyuman ku membeku manakala ku dengar kalimat Nunik berikut nya.


"Bahagia.. tapi gak utuh. Menurut penelitian ya, il. Seorang anak yang punya bonding yang kuat sama Papa nya bisa memiliki tingkat kecerdasan yang lebih di atas rata-rata dibanding anak yang gak dekat sama papa nya lho, il," ujar Nunik.


"Iya kah?" Tanya ku sangsi.


"Iya. Baca aja di gugel. Banyak kok artikel nya. Nunik lupa," Nunik mengaku jujur.


Aku terkekeh pelan mendengar pengakuan terakhir nya Nunik itu. Sahabat ku itu memang mulai sering terlupa sejak ia melahirkan Angkasa.


Mungkin otak brilian nya itu mulai tumpul karena ia yang tak lagi mengajar karena memilih sibuk mendidik anak-anak nya sendiri saat ini. Ya. Nunik telah lama menjadi ibu rumah tangga 24 jam sehari kini.


"Hmm.. oke. Nanti ku baca deh di gugel. Semisal memang benar, tapi kan ada banyak figur Papa juga di sekitar mereka, Nun. Ada Papa Ulum, Papa Gilberth.."


"Mereka bukan nya Papa, il. Mereka itu kakek nya anak-anak. Jangan ngaco deh!"


"Kalau Darman gimana? Anak-anak kan juga sering main sama dia. Suami mu juga kan?"


"Maksud Lail, Lail mau Mas Aryo jadi Papa nya anak-anak mu, il?" Tanya Nunik dengan alis terangkat.


Aku langsung ingin menampar mulut ku sendiri karena telah ceroboh berucap.


"Bukan begitu maksud ku, Nun! Maksud ku itu, kan ada banyak sosok lelaki juga di sekitar anak-anak. Azki juga kan dipanggil Papa sama anak-anak. Jadi udah cukup dong!" Aku mengemukakan pendapat ku dengan terburu-buru.


"Nah! Kenapa gak sekalian diresmiin aja sekalian hubungan kamu dan Azki. Jadi anak-anak bisa punya Papa yang sebenarnya, il?!" Seru Nunik menemukan celah dalam ucapan ku tadi.


Dan aku pun terhenyak. Tak menyangka kalau aku akan masuk dalam perangkap kalimat nya Nunik.


Aku menduga, memang Azki lah yang menjadi tujuan Nunik dalam pembicaraan terkait pernikahan saat ini. Dan seperti nya, Mama pun memiliki pendapat yang tak jauh berbeda dengan sahabat ku itu.


'Jangan dia lagi.. kenapa sih semua orang sibuk jodoh-jodohin aku sama Azki?' aku pun mengeluh dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2