Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Kunjungan Erlan (POV Laila)


__ADS_3

Malam hari nya, saat aku hendak memejamkan kedua mata, sebuah pesan masuk ke aplikasi chat di ponsel ku. Begitu kulihat, ternyata Erlan lah yang mengirimkan pesan.


Isi pesan: Perut mulas sehabis makan nangka, meski pun malas akhirnya kaki melangkah juga.


"Hmm..? Ini pantun ya?" Gumam ku sendiri.


Setelah berpikir beberapa saat, pada akhirnya ku putuskan untuk mengabaikan pesan nya Erlan itu. Lagipula itu pesan yang tak jelas.


Ku letakkan kembali ponsel ku ke kasur di dekat kaki. Dan selanjutnya ku pejam kan kedua mata ku lagi.


Baru juga membaca basmalah, ponsel ku lagi-lagi bergetar. Merasa terusik, akhirnya aku pun kembali bangun untuk melihat identitas si pengirim pesan yang terbaru. Dan ternyata dia adalah Erlan lagi.


Isi pesan: beli kain naik odong-odong. tolong bukain pintu nya dong!


"Huh? Apa an sih si Erlan ini!"


Karena penasaran, akhirnya aku membalas pesan nya itu.


Isi pesan ku: Apa an sih, Lan? Ngantuk tahu. Mau tidur. Kalau gak ada yang penting-penting banget, please deh jangan ngajak main pantun ya. Jaka sembung makan delan. Bisa gak nyambung, nanti Lan!


Status pesan: terkirim.


(Delan \= terasi)


Aku tak langsung mengembalikan ponsel ku ke dekat kaki. Karena aku sudah menduga kalau Erlan mesti lah akan membalas pesan ku lagi.


Dan..zztt.. zztt.. benar saja. Lagi-lagi pesan dari pemuda itu masuk ke aplikasi chat di ponsel ku.


Isi pesan: aku di depan rumah kamu, La. Kok kayaknya sepi banget sih? Ini kan baru jam setengah sembilan..


"Hah?!"


Seketika itu juga aku terbangun. Dengan terburu-buru, aku langsung berlari ke luar pintu kamar lalu ke pintu depan. Dan, begitu ku buka pintu depan, aku sungguh dibuat terkejut dengan keberadaan Erlan yang berdiri di depan teras rumah ku.


"Erlan?! Ngapain malam-malam ke sini?"


"Mau masti in sesuatu."


Dan selanjutnya, Erlan memandang ku beberapa detik dalam diam. Setelahnya, ia tiba-tiba saja tersenyum cerah dan berkata, "Syukurlah.. ku pikir tadi kamu marah pada ku, La."


"Hah? Apa an sih, Lan? Gak jelas banget. Kalau gak ada yang penting, udah sana pulang. Aku juga mau tidur nih."

__ADS_1


"Kan masih sore, La. Baru juga jam setengah sembilan."


"Iya sore. Tapi kalau mata ku udah ngantuk gimana coba? Lagipula besok kan aku juga masih harus kerja pagi-pagi. Memang nya besok kamu gak kerja apa?"


"Aku.."


"Oh iya! Aku lupa. Kamu kan kerja di kantor sendiri ya. Jadi bisa sesuka hati mu juga datang nya. Kalau begitu, maaf ya Pak Bos, pamit duluan tidur nih!"


Dengan hati yang kesal, aku langsung menutup kembali pintu rumah ku. Namun tak sampai berhasil aku menutup pintu saat Erlan yang lagi-lagi menghadang ku. Kali ini ia menggunakan tangan nya untuk menahan pintu.


Tak ayal, tangan nya pun harus menjadi korban gencetan pintu yang hendak ku tutup tadi.


"Aw! Aduduh!"


Dengan spontan, ku buka kembali pintu nya untuk melihat tangan Erlan yang terluka.


"Maaf! Maaf banget, Lan! Lagian kamu nya juga sih! Udah tahu pintu mau ditutup, tapi malah halang-halangin. Jadi terjepit kan!" Omel ku sambil membantu Erlan meniup-niup tangan nya yang sakit.


"... Kamu ini niat mau bantuin atau ngomelin sih, La?" Tanya Erlan kemudian.


Diledek seperti itu, aku jadi reflek menepuk tangan Erlan yang tadi terjepit karena kesal kepadanya. Sehingga membuat pemuda itu kembali mengaduh. Itu membuat ku lagi-lagi menyesal dalam rasa bersalah ku padanya.


Pada akhirnya, aku mempersilahkan Erlan untuk duduk di depan teras. Sementara aku ke dalam rumah untuk mengambil revanol.


Setelah membalut tangan Erlan yang terluka dengan kain yang sudah dibaluri dengan revanol, aku juga menyuguhi nya dengan segelas air putih. Kami berdua pun akhirnya duduk berdua di depan teras rumah.


"Mama juga udah tidur, La?" Tanya Erlan tiba-tiba.


"Enggak. Mama belum pulang. Kata nya sih diminta menginap di rumah majikan nya, karena majikan nya lagi sendirian di rumah," jawab ku acuh.


"Ooh.."


"Hoaaahhmm..." Aku menguap lebar. Dan kemudian dibuat terkejut oleh Erlan yang tiba-tiba menutup mulut ku dengan tangannya.


"Ditutup La.. kalau enggak, nanti itu bisa jadi jalan masuk nya setan loh.."


Aku menepis tangan nya Erlan dan menggantinya dengan tangan ku sendiri.


"Jadi, mau apa kamu ke sini?" Tanya ku sambil menahan kantuk.


"Mau mastiin aja sih. Kamu masih marah gak sama aku."

__ADS_1


"Hah?"


Dan aku pun ternganga. Tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar dari mulutnya Erlan.


"Iya. Tadi sore tuh kayak nya kamu kesal banget waktu aku mau anterin Jessika pulang. Ku pikir kamu tadi cemburu.."


"Dih! Aku? Cemburu? Sama isi dompet kamu yang tebal itu sih iya aku cemburu! Jangan ke ge eran deh, Lan!"


Tiba-tiba saja aku merasa gerah. Padahal saat ini kan aku sedang memakai piyama ku yang berlengan pendek..


'eehhh???! Ya ampun, Laila! Lupa banget ya kalau aku sekarang tuh masih pake kolor dan piyama pink motif patrik star! Belum lagi rambut ku yang mesti lah awut-awutan!' aduduh!' jerit ngeri ku dalam hati.


Dengan spontan ku raih rambut di kepala ku. Dan benar saja. Berdasarkan rabaan tangan ku pada tali rambut yang miring-miring tak jelas, aku sudah langsung bisa membayangkan bagaimana rupa penampilan ku saat ini.


"Uhuk! Akhirnya, nyadar juga. Sebenarnya dari tadi tuh aku udah mau ingetin sih, La. Tapi situasinya gak mendukung. Kamu nya nge gas terus sih dari tadi," ucap Erlan kemudian.


Aku langsung saja memelototi mantan ku itu. Tega benar dirinya membuat ku abai dengan penampilan ku sendiri.


Merasa malu sekaligus menjaga gengsi, terlebih dulu aku berdehem. Kemudian melepas ikatan rambut yang sudah miring-miring tak karuan. Hingga akhirnya rambut ku pun tergerai bebas macam surai nya sang raja rimba.


'Ah! Biarlah! Yang penting pede!'


Selanjutnya, aku sengaja menyilangkan kedua kaki ku untuk menutupi gambar patrick star yang tampak jelas jika kaki ku diluruskan. Namun, detik berikutnya, aku tak menyangka akan dibuat malu oleh celana yang sedang kukenakan saat ini.


Celana kolor yang panjang nya selutut ini, tiba-tiba saja sobek akibat tersangkut pada pinggiran kursi yang paku nya agak menonjol ke luar.


Sreekkk..


'Alamak! Dosa apa sih sampe aku bisa kena apes terus menerus?' sesal jerit ku di dalam hati.


Aku menunduk malu. Kali ini tak lagi bisa bergaya kelewat pede di hadapan Erlan. Sementara itu kudengar Erlan menahan tawa nya dengan terbatuk kecil.


Tapi memang dasar Erlan itu seorang yang gentle, jadi dia tak membuat ku jadi merasa lebih malu dari yang sudah ku rasakan saat ini.


Dalam diam Erlan melepas jaket yang dikenakannya, lalu memberi nya kepada ku.


"Ikatkan jaket ini di pinggang, sebelum kamu berdiri ya, La."


Dan selanjut nya, Erlan melihat ke arah yang lain saat aku terburu-buru berdiri dan mengikatkan jaket nya ke pinggang ku.


"Sebentar. Aku ke dalam dulu ya, Lan. Mau.. mm.. ganti."

__ADS_1


Dan aku pun bergegas masuk ke dalam rumah. Membawa rasa malu dan harga diri ku yang sudah terjun bebas entah sedalam apa.


***


__ADS_2