Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Ngebut di Jalanan (POV Laila)


__ADS_3

Hari demi hari terus berlalu. Tak terasa sudah hampir satu bulan sudah aku bekerja sebagai pegawai di supermarket. Aku sudah mulai terbiasa dengan rutinitas pekerjaan ku di tempat ini. Dan aku senang karena aku tak menemukan teman yang rese lagi.


Hanya saja, untuk berjaga-jaga, aku memutuskan untuk tak berhubungan terlalu dekat dengan siapa pun lagi.


Pekerjaan ku sebagai pegawai minimarket membuat ku harus melalui pergantian shift kerja. Yakni shift pagi yang mulai dari jam delapan hingga jam empat. Serta shift malam yang dimulai sejak pukul empat sore hingga jam sepuluh malam.


Umumnya pergantian shift terjadi setiap seminggu sekali.


Minggu ini, aku melalui shift kerja malam. Syukurlah kini aku memiliki motor bebek yang menjadi andalan ku dalam perjalanan pulang dan berangkat menuju tempat kerja.


Aku baru saja membelinya sebelum aku memulai kerja shift malam untuk pertama kalinya pada pekan ke dua ku bekerja di supermarket. Beruntung nya aku. Karena bisa membeli motor second yang masih terlihat cukup gress dengan harga yang terbilang murah. Hanya sekitar dua setengah juta saja.


Motor ini kubeli berkat bantuan dari Rafael, senior ku yang juga bekerja di supermarket bersama ku. Kebetulan saja ada temannya yang sedang membutuhkan uang. Jadi ia rela menjual motor keluaran tiga tahun lalu itu kepada ku dengan harga yang cukup terjun miring.


Yah.. rejeki anak solehah lah ya, bisa dapat barang yang kualitasnya good dengan harga yang good pula. Hihihi.


Flash back 3 minggu yang lalu..


Di hari aku membeli si Merry (nama kesayangan untuk motor bebek ku ini), di hari itu juga aku belajar mengendarai motor untuk pertama kalinya.


Lagi-lagi aku ditolong oleh Rafael yang dengan sukarela mau meluangkan waktu untuk mengajari ku.


Dan karena aku memang seorang yang smart, aku tak membutuhkan waktu lama untuk bisa menguasai trik dan teknik untuk berkendara motor. Hanya sekitar dua jam saja, aku sudah lihai melewati jalan menikung apalagi jalan lurus.


Aku bahkan sudah berani memainkan gas. Sehingga terkadang aku iseng menantang diri ku sendiri untuk menggas kan motor ku hingga mencapai kecepatan tinggi. Sampai-sampai Rafael yang ikut membonceng di belakang ku tak henti-hentinya berteriak histeris saat aku mengebut di jalanan lurus yang sepi orang.


"Gila Lo, La! Jangan lagi-lagi deh ngebut di atas speedo 100km/jam! Lama-lama bisa cepat rusak itu nanti motor bebek Lo. Dia kan spek nya buat jalan santai, La!" Tegur Rafael kepadaku di akhir kursus singkat ku dengan nya.

__ADS_1


Aku menyengir lebar ke arah Rafael. Benar-benar merasa senang karena akhirnya bisa mengalami aksi mengebut yang sudah sejak lama ingin kulakukan.


"Seru banget ya naik motor itu!" Aku tak menggubris ucapan Rafael. Dan asik sendiri menceritakan pengalaman pertama ku mengebut tadi.


"Iya seru. Tapi gue kapok lah boncengan sama Lo, La. Lo tuh gila banget naik motor nya!" Seloroh Rafael yang menatap ku ngeri.


"Biasa aja kali, Raf! Udah yuk, pulang! Makasih loh ya, Raf! Nanti bakso semangkok mah aku beliin deh buat kamu!"


"Oke, La. Sama-sama. Ya udah. Gue kawal dari belakang ya, La. Gimana pun juga, ini pertama kalinya Lo naik motor ke jalanan. Gue mau mastiin aja Lo oke."


"Siap lah! Yuk!"


Dan akhirnya, Rafael mengawal ku pulang dari belakang dengan motor King nya. Sementara itu, untuk menenangkan Rafael, aku pun memutuskan untuk tak mengebut lagi.


'Nanti saja lah ngebut nya. Kalau aku lagi sendirian. Hihihi,' benak ku liar menyusun rencana.


Flashback selesai..


Hari ini aku akan menerima gaji pertama ku bekerja di supermarket. Besarnya memang masih kalah dengan gaji ku saat bekerja sebagai OB atau pun menjadi care taker nya almarhumah Oma Ruth. Namun masih cukup besar lah untuk mencukupi kebutuhan ku dan Mama selama satu bulan ke depan nya nanti.


Untuk pengambilan gaji, aku harus pergi ke gerai ATM terdekat. Karena gaji karyawan di sini selalu dikirim ke nomor rekening bank milik masing-masing karyawan.


Ku putuskan untuk mengambil gaji ku besok siang saja. Karena besok toh aku akan libur kerja.


Malam hari nya, seperti biasa, aku pulang jam sepuluh. Pada jam-jam segini, biasanya jalan raya sudah sepi nan lengang dari para pengendara mobil dan motor. Paling hanya beberapa karyawan seperti ku saja yang menikmati jalan raya di setiap malam hari nya.


Aku sengaja tak bergegas pulang. Karena ada hal yang ingin kulakukan terlebih dulu.

__ADS_1


Setelah hampir semua pegawai pulang, baru lah akhirnya kutancap gas motor ku untuk pulang.


Rencananya, aku ingin ngebut di jalanan. Anggap lah sebagai perayaan kecil untuk gaji pertama ku bekerja di supermarket. Hihihi.


Sebenarnya, pikiran untuk ngebut sudah bercokol di benak ku sejak lama sekali. Namun aku selalu mengurungkan nya. Biasanya aku hanya melajukan kendaraan di batas kecepatan 60 km/jam saja. Paling cepat ya 80km/jam.


Kali ini, aku ingin mencoba batas kecepatan motor ku hingga 100km/jam ke atas. Meski sebenarnya badan ku agak lelah juga sih setelah seharian bekerja. Namun aku akan tetap mencoba mengebut di perjalanan pulang ku malam ini.


Lagipula esok aku libur kerja, karena memang tanggal merah. Jadi biar besok saja sekalian aku mengistirahatkan badannya.


Dan jadilah akhirnya aku mengebut.


Awal mula, saat keluar dari area supermarket, aku masih memacu motor ku di batas kecepatan 30-40 km/jam. Namun, secara perlahan-lahan aku mulai menaikkan kecepatan motor ku saat kulihat jalanan yang mulai sepi.


Dan..


Waw! Rasanya menyegarkan sekali!


Perasaan jantung yang berdebar-debar saat melawan laju angin dengan kecepatan yang tinggi sungguh membuat ku kecanduan. Rasanya seperti aku lah sang ratu jalanan saat ini.


Bunyi desing motor serta kisikan angin yang kulawan dengan kecepatan penuh, menjadi satu-satu nya musik yang menyertai ku saat mengebut. Dan aku sungguh menyukainya! Ada juga suara-suara lain di kejauhan, namun aku tak menghiraukan nya. Saat ini, hanya ada aku dan Merry (motor ku) yang melawan angin saja!


Perjalanan pulang yang biasanya ku tempuh selama 40 menit, pun akhirnya dipersingkat hanya menjadi 20 menit an.


Dan, ketika aku hampir sampai di depan gang rumah ku, aku pun mulai menurunkan kecepatan motor ku. Sampai akhir nya ketika aku hendak berbelok masuk ke gang menuju rumah, aku dibuat terkejut dengan kemunculan sebuah mobil yang tiba-tiba saja menghalangi jalan motor ku.


Aku pun akhirnya berhenti dan mematikan mesin. Melihat mobil di depan ku itu, seketika aku jadi dag dig dug.

__ADS_1


Rasanya telah lama aku tak melihat mobil itu. Terlebih ketika seseorang di balik kemudi mobil itu keluar dan menatap ku tajam. Seketika itu pula aku diam mematung dan tak mampu bergerak sama sekali.


***


__ADS_2