
Aku diam terpaku manakala melihat pengemudi mobil di depan ku itu keluar dari dalam mobil.
'Alamak! Gimana ini?' benak ku sudah cukup panik. Sehingga membuat ku tak bisa bergerak sama sekali.
Aku bahkan tak ingat untuk segera turun dari atas motor yang ku duduki kini. Karena perasaan cemas dan takut yang mulai menguasai diri.
"Selamat malam! Bisa tolong turun sebentar?" Ucap lelaki muda berpakaian polantas di depan ku itu.
"I.. iya, Pak!"
Aku pun akhirnya turun dari jok si Merry. Lalu berdiri gugup di depan polisi di depan ku itu. Sebuah buku catatan kecil tiba-tiba saja dikeluarkan oleh pak polisi itu dari saku rompi nya.
"Bisa tolong tunjukkan identitas dan STNK nya?" Pinta Pakpol lagi.
(Pakpol: Pak Polisi)
"Ada Pak!"
Dengan gugup, aku lalu mengeluarkan dompet dari dalam ransel kecil yang kubawa. Kemudian, ku tunjukkan lah SIM dan STNK yang diminta oleh sang Pakpol.
Pakpol itu lalu mempelajari SIM dan STNK ku baik-baik. Ia lalu mencatatkan sesuatu pada buku notes nya. Melihat itu, jantung ku makin dag dig dug tak karuan.
"Mm.. salah saya apa ya, Pak?" Tanya ku mencoba berani.
Sang Pakpol menatap ku tajam, sebelum akhirnya menjawab.
"Sudah jelas bukan? Anda telah berkendara dengan kecepatan tinggi, tanpa mengenakan helm," ucap sang Pakpol terlihat merasa benar.
Seketika itu juga aku langsung meraih kepala ku.
Benar sekali ucapan Pakpol tadi. Aku memang tak sedang mengenakan helm saat ini.
Helm ku kemarin itu dikencingi oleh kucing liar yang sering main ke rumah. Itu baru ku ketahui ketika aku hendak berangkat kerja sore hari tadi.
Sayang nya karena waktu yang mepet, alhasil ku putuskan untuk tak mengenakan helm saja. Toh hanya sehari ini aku tak mengenakannya. Ku pikir tak akan apa-apa, karena banyak dari pengendara lain pun yang tidak mengenakan helm di jalanan yang biasa ku lewati dari rumah menuju supermarket.
__ADS_1
"Tapi biasanya juga gak apa-apa, Pak. Gak pakai helm.." aku mengajukan protes.
"Ohh. Berarti Anda memang biasanya juga tidak mengenakan helm?" Tuding sang Pakpol, lalu mencatat beberapa kata lagi di notes nya.
Kuduga, Sang Pakpol mungkin menuliskan tambahan kesalahan ku menjadi lebih berat. Haish..
'Aduh, La! Kenapa ngomong gitu sih! Kan makin runyam ini!' aku mengomeli diri ku sendiri di dalam hati.
"Ehh?!! Enggak, Pak! Biasanya sih saya pakai helm. Tapi itu si kucing garong ngencingin helm saya, jd helm sy kotor."
"Kalau gitu, pakai helm yang lain kan bisa, Mbak."
"Enggak ada, Pak. Itu helm saya satu-satunya. Saya gak mampu beli helm lagi, Pak. Gaji saya pas-pasan banget buat bayar kontrakan dan makan.."
Aku mencoba bersikap seperti orang yang menyedihkan kini. Berharap sang Pakpol mengasihani ku dan mau memaafkan kesalahan ku kali ini.
'dan jajan, dan beli emas digital..' lanjut ku menambahkan dalam hati. Hihihi.
"Walau apapun yang terjadi, berkendaraan di jalanan itu wajib mengenakan helm ya, Mbak. Itu kan demi keselamatan Mbak nya sendiri. Dan lain kali, kurangi juga kecepatan berkendara nya, ya. Mbak sepertinya baru pulang kerja, bukan?"
"Iya, Pak.. kebauan banget ya saya habis kerja nya?" Seloroh ku asal.
"Kalau begitu, Mbak pastilah merasa capek kan? Ketika fisik lelah, hindari mengebut di jalanan. Karena saat itu kefokusan berkendara terbilang rendah dibanding ketika fisik Mbak masih segar. Khawatir jika fokus kurang karena badan yang lelah, akan menyebabkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti kecelakaan misalnya,"
"Idih. Amit-amit. Jangan nyumpahin gitu dong, Pak!" Aku spontan berkomentar. Namun dengan cepat langsung ku sesali.
'Diam, napa, il! Ini mulut gatal amat sih tuk komentar terus!' lagi-lagi aku mendumel pada diri sendiri.
"Nyatanya saya bicara soal fakta ya, Mbak. Jadi saya harap, Mbak nya bisa lebih hati-hati dan mawas diri lagi ke depannya nanti ya, Mbak."
"Iya, Pakpol. Eh, Pak Polisi maksud nya."
"Sementara ini, STNK dan SIM saya sita dulu ya, Mbak. Tolong nanti Mbak nya pergi ke kantor polisi untuk mengurus pelanggaran tilang yang Mbak lakukan tadi."
"Duh, gak bisa jalan damai aja apa, Pak?" Aku mencoba bernego.
__ADS_1
"Maaf, Mbak. Pelanggaran Mbak ini harus diberi tindakan hukum yang sesuai. Tidak sulit kok. mbak hanya perlu pergi ke kantor polisi dan mengurus nya selama lima belas menit saja. Adapun denda nya sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah."
"Hah?! Masa iya gak pake helm bisa kena denda segitu pak?!" Aku menyahut tak percaya.
"Menurut pasal 29 ayat 1 dikatakan, bahwa setiap pengendara atau penumpang sepeda motor yang tak mengenakan helm standar nasional maka akan dikenakan pidana kurungan selama satu bulan atau denda paling banyak 250 ribu rupiah. Anda bisa memilih tindakan yang mana."
Aku terhenyak kaget. Tak menyangka kalau aku harus mengeluarkan isi kocek sebanyak itu. Sayang sekali aku tak membawa uang sebanyak itu di dompet ku kini. Karena aku memang belum mengambil uang gajian ku di ATM.
"Jadi besok saya harus ke kantor polisi gitu ya Pak?"
"Untuk besok, sayangnya kantor tidak membuka pelayanan. Jadi Mbak nya bisa datang pada hari Senin nya nanti."
"Yah. Hari senin kan saya kerja shift pagi, Pak. Mana bisa saya pergi kesana. Gak mungkin juga kan saya bolos kerja, Pak. Bisa-bisa saya dipecat nanti!" Aku beralasan.
"Mohon maaf ya, Mbak. Kebijakannya memang seperti itu. Untuk tanggal merah kantor memang tidak membuka pelayanan administrasi terkait kasus Mbak nya ini."
"Kalau saya bayar sekarang ke Bapak aja gimana, Pak? Gocap aja ya, Pak? Di dompet saya adanya segitu doang, Pak.." aku memelas.
Sayangnya, sang Pakpol tak bergeming dengan sogokan ku.
"Maaf ya, Mbak. Kalau gitu, saya permisi dulu. Ini surat tilang Mbak. Dan hari Senin nanti, Mbak nya bisa datang ke kantor untuk mengambil SIM dan STNK nya ya."
Sang Pakpol langsung saja berbalik pergi meninggalkan ku. Yang kemudian langsung kukejar secepat ku bisa.
"Tunggu dulu, Pak! Tolong lah kasihani saya, Pak. Saya kasih cepe deh.. tapi saya ngasih gocap dulu nih ke Bapak, gocapnya lagi saya ambil dulu ke rumah saya. Rumah saya dekat kok, Pak. Masuk ke gang yang itu tuh. Gak jauh!" Aku kembali mengiba-iba.
"Maaf, permisi, Mbak!"
Sang Pakpol tak menghiraukan aku yang mengiba-iba. Makin kesal saja lah jadinya aku.
'Apes banget sih malam ini!' dumel ku sendiri dalam hati.
Aku masih mencoba menahan lengan pakpol untuk memasuki mobil nya. Namun sang pakpol mencoba melepaskan cengkeraman tangan ku dengan begitu mudah nya.
Tiba-tiba saja, saat aku masih sibuk tarik menarik tangannya pakpol, terdengar suara dari arah belakang ku.
__ADS_1
"Laila? Kamu kenapa?"
***