
~Jika kamu disuruh memilih untuk mencintai atau dicintai, apa pilihan mu?
..
Kalau aku akan memilih untuk menciptakan opsi yang ketiga.
Yakni mencintai sekaligus juga dicintai oleh orang yang sama...~
✓Pilihan Cinta Laila
***
"Mark gak mau punya adik perempuan lagi! perempuan itu menyebalkan!" Mark pulang ke rumah sambil menggerutu.
"Hey! hey! hey! Kenapa ini anak Mama? pulang sekolah kok muka nya cemberut gini sih?" aku bertanya sambil berjongkok di depan putra sulung ku itu.
"Assalamu'alaikum! Mama!"
Tak lama kemudian Nila datang tergopoh-gopoh. Tangan Lala ditarik nya dengan begitu bersemangat.
"Wa'alaikum salam warohmatullah.. Wahh.. anak Mama yang shalihah udah pulang. Halo Lala sayang! apa kabar, Nak?" aku gantian memeluk Nila dan Lala sekilas.
"Halo Tante Mama.. Lala sehat," jawab Lala tak lagi cadel.
Aku meringis malu saat mendengar panggilan Lala kepada ku itu. Tante Mama. Padahal aku mengajari nya memanggil ku Tante. Tapi mungkin karena ia terbiasa mendengar Nila dan Mark memanggil ku Mama, sementara ia juga sebelum nya lama tak memiliki sosok Mama. Jadilah akhir nya ia memberi ku gelar itu.
"Hahaha! Kak La! anak-anak Kakak lucu banget sih! terutama si Cantik ini nih!" ucap Darman yang ikut masuk dari luar rumah.
Darman memang ku minta tolong untuk menjemput anak-anak pulang sekolah hari ini. Karena hari ini aku sedang kurang enak badan.
"Lucu gimana, Dar?" tanya ku penasaran. Tingkah apa lagi yang sudah dibuat oleh Nila si bungsu.
"Ya seperti biasa, Kak. Bikin rame di mana aja. Gimana, Kak? udah baikan?" tanya Darman sambil duduk di atas sofa tak jauh dari tempat ku duduk saat ini.
"Alhamdulillah.. udah lebih baik, Dar. Tadi habis berobat ke dokter Ira. Kata nya cuma kecapekan aja," jawab ku menjelaskan.
"Ooh.. kirain aku bakal punya calon ponakan baru," seloroh Darman mencandai ku.
Ku cubit saja pinggang adik tiri ku itu. Lalu mengalihkan pembicaraan ke topik awal.
Tapi aku tak lagi bertanya kepada Darman. Melainkan langsung bertanya ke Nila langsung.
"Memang nya Nila punya cerita apa tadi di sekolah? kok Kak Mark sampai jadi kesal begitu, Dek?" tanya ku santai.
Nila lalu menjawab.
__ADS_1
"Nila cuma bilang ke Eci. Kalau lain kali dia jangan ngasih cokelat ke Kak Mark. Soal nya Kak Mark gak suka. Kalau mau, kasih susu bantal aja. Kan Kak Mark suka minum itu!" tutur Nila dengan ekspresi serius.
"Mm.. Eci itu siapa, Dek?" tanya ku mengorek informasi.
"Eci itu teman sekelas Nila dan Lala, Ma. Dia itu suka sama Kak Mark. Fia sering banget nitipin cokelat batang ke Nila buat Kak Mark. Tapi Kak Mark gak pernah mau terima cokelat nya dan selalu dikasih lagi ke Nila. Nila kan bisa kegemukan, Ma, kalau sering makan cokelat. Nanti bisa gendut lagi kayak Teteh Nan.." seloroh Nila masih dengan ekspresi serius yang sama.
Teteh Nan yang dimaksud oleh Nila adalah putri sulung Nunik, yaitu Nania. Anak itu memang memiliki tubuh yang agak gempal dibanding anak seusia nya.
"Husshh.. gak boleh ngomong gitu ah, Dek. gimana kalau Teteh Nan dengar ucapan Nila? nanti Teteh Nan ngerasa sedih loh.." aku menegur putri ku itu.
Nila langsung menutup mulut nya dengan tangan nya sendiri. Penyesalan itu terlihat jelas di wajah Nila ku.
"Lagian kan Kak Mark udah sering bilang. Jangan suka jodoh-jodohin Kak Mark sama Eci, Nila! Kak Mark gak suka!" Mark setengah meneriaki adik kembar nya itu.
"Tapi kenapa gak boleh, Kak? Eci itu best friend nya Nila. Dia baik banget sama Nila dsn Lala, Kak. Dia sering bagi kue pukis ke kita. Baik banget kan, Ma?" Nila meminta dukungan ku atas argumen nya itu.
Di dekat ku, Darman terkekeh geli mendengar perbincangan bertema dewasa ini. Aku pun dibuat takjub oleh pembahasan Nila dan Mark yang sudah tahu tentang jodoh-jodohan.
'Kenapa anak-anak jaman sekarang begitu cepat dewasa ya omongan nya?' tanya batin ku tanpa suara.
Bingung haru berkata apa, akhirnya aku hanya bisa mengalihkan perhatian saja.
"Sudah.. jangan ribut-ribut. Gak apa-apa kalau mau berteman dengan siapa pun. Tapi Nila, kamu harus tahu. Kalau gak semua orang yang suka berbagi itu adalah orang baik. Ingat kan sama cerita Oma tentang penculik yang bagi permen ke anak kecil sebelum menculik nya?" aku mengingatkan Nila.
"Oh! gitu ya Ma? tapi Eci memang baik, Ma.." Nila tetap bersikukuh dnegan pendapat nya.
"Gak apa-apa! kata Mama juga gak apa-apa kan berteman ya, Ma? nolak rejeki itu kan gak boleh kata Tante Nunik juga. Itu tadabur nama nya!" celoteh Nila lagi tak mau kalah.
Darman tergelak. Pun jua aku yang hampir ingin tergelak jua saat mendengar ucapan terakhir Nila.
"Takabur, Sayang.. bukan tadabur.. Tadabur itu, merenungkan kehebatan Allah melalui semua ciptaan-Nya.. kalau menolak rejeki itu nama nya takabur.. sombong.." aku mengoreksi ucapan Nila.
"Tuh! sombong! Kak Mark sombong, Ma!" tuding Nila lagi pada Kakak nya.
"Mama! Nila tuh!"
Mark merajuk kepada ku.
Darman masih tergelak dalam tawa. Dan aku merasa kembali pusing menghadapi situasi ini.
Beruntung, detik berikut nya seseorang datang menyelamatkan ku.
"Hayo.. jangan pada gangguin Mama Laila nya dong. Kasihan tuh, kan Mama masih sakit."
Kiyano melangkah masuk dengan setelan jas kerja nya.
__ADS_1
Aku terkejut saat mendapati sosok nya pada jam segini bertandang ke rumah ku. Karena nya aku pun spontan saja bertanya.
"Kok udah pulang sih?" tanya ku kemudian.
"Main sebentar. Kata Mama Mutia kamu sakit. Maka nya aku ngerasa khawatir," jawab Kiyano.
"Papa!" Lala berseru senang. Di peluk nya kaki Kiyano begitu erat.
"Hay sayang.. baru pulang sekolah ya?" tanya Kiyano sambil mengangkat tubuh Lala ke atas. Membuat anak perempuan itu menjerit senang.
"Nila juga! Nila juga!" Nika pun ingin diangkat naik seperti Lala. Dan Kiyano langsung menuruti keinginan nya itu.
Tak lama kemudian, Mark ikut mendekat, tapi tak meminta untuk diangkat seperti Lala dan Nila.
Mungkin Mark mulai sadar kalau usia nya sudah terlalu besar untuk bersikap manja.
Saat ini Mark sudah duduk di bangku kelas empat. Sementara Lala dan Nila satu tingkat di bawah nya.
"Halo Mark! Jagoan Om sehat?" sapa Kiyano pada putra sulung ku itu.
"sehat Om!" jawab Mark dengan senyuman riang.
Mengamati interaksi kedua anak ku bersama Kiyano, aku jadi merasa lega. Seiya nya anak-anak mulai bisa menerima keberadaan Kiyano. Jadi aku tak perlu khawatir dengan kehidupan kami sebulan lagi.
"Jangan Om, dong panggil nya, Mark! kan sebentar lagi Om Kiyano mau nikah sama Mama Laila. jadi panggil nya harus ganti jadi Papa?" Darman mengoreksi ucapan Mark.
Aku menunduk malu. Bisa-bisa nya Darman bicara blak-blakan seperti itu di depan anak-anak dan Kiyano.
"Hmm.. usulan yang bagus itu, Paman!" Kiyano memuji ucapan Darman.
"Jadi semuanya nanti kompak panggil Papa ya!" Kiyano memberi titah.
"Siap Papa!" koor semua anak secara bersamaan.
Aku tertegun dan kembali dibuat haru. Dua bulan lalu Kiyano memang sudah melamar ku di acara ulang tahun ku yang ke 36 tahun. Di hadapan semua keluarga ku dia berani menyatakan cinta nya lagi untuk ke sekian kali nya. Dan pada akhirnya aku menerima juga cinta Kiyano kembali, tepat di tahun ke sembilan sejak wafat nya Erlan.
Aku mengingat ucapan Nunik kepada ku dulu.
'Jangan membatasi diri dengan pandangan yang terbatas, La.. Selalu siapkan diri mu untuk menghadapi apapun yang sudah dipersiapkan oleh takdir. Berlarut-larut hidup dalam masa lalu tak akan membawa mu ke mana-mana. Hanya penyesalan saja yang nanti akan kamu rasakan menjelang senja nya usia. Bersikap berani lah untuk memulai hidup mu yang baru. Dengan tak lupa untuk menyertai Allah di setiap kesempatan selalu. Aku mendukung mu untuk menikah lagi, La.. anak-anak membutuhkan figur Papa. Dan kamu pun membutuhkan seorang teman hidup untuk bercerita. Istikharah kan lah!' ucap Nunik dulu.
Ku pandang Kiyano dengan tatapan lurus. Dan aku menemukan keberanian lagi dalam diri ku untuk mencintai seseorang lagi.
Kiyano membalas senyuman ku. Dan kami terus saling membalas senyuman dalam diam, untuk waktu yang cukup lama.
Dalam hati, ku lirihkan sapa untuk Erlan.
__ADS_1
'Ridhai aku untuk mencintai lagi ya, Lan.. Dan aku akan tetap menyimpan nama mu di sudut hati ku yang terdalam. Tak terjamah oleh apapun atau siapa pun jua. Itu janji ku pada mu, Lan..'
***