Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Ciuman Setelah Pesta (POV Laila)


__ADS_3

"Hey!"


"Adala dada ma dada! Aishh! Erlan! Jahil banget sih! Kaget tahu!"


Aku menyerang lengan dan pinggang Erlan dengan cubitan-cubitan andalan ku. Jahil sekali lelaki itu karena telah mengagetkan ku yang sedang sendirian melamun di ruang dapur.


Saat ini, jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Acara pesta telah berakhir sekitar satu jam yang lalu. Aku pun diminta untuk menginap dulu semalam ini. Aku yang sudah berbaring di salah satu ruang tamu, tiba-tiba saja merasa kehausan tak lama setelah pesta usai. Akhirnya ku putuskan untuk melipir sebentar ke dapur.


Tak sengaja, ketika sendirian di dapur aku malah teringat dengan perbincangan ku dengan Bella tadi.


Flash back dua jam yang lalu..


"Aku ingin tahu, wanita seperti apa yang bisa membuat Mas Kiyan jatuh cinta dengan begitu mudah nya. Hanya dalam waktu satu bulan saja Mas Kiyan mengaku kepada ku kalau ia mulai menyukai wanita lain. Sementara aku sendiri perlu waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan perhatian nya, dulu. Karena itu lah, La. Begitu aku tahu kalau kamu lah yang sudah disukai oleh Mas Kiyan , aku pun mendekati mu diam-diam," ungkap Bella dengan jujur.


Ku amati lekat-lekat wajah Bella yang terlihat menyedihkan menurut ku.


"Lalu? Kamu puas setelah menilai ku diam-diam hah?" Tanya ku sarkastis.


"Hh.. jujur. Aku merasa bingung dengan pilihan Kiyano, La. Maaf, aku gak bermaksud untuk menyinggung kamu. Tapi aku masih gak bisa mengerti hal apa yang membuatnya bisa langsung jatuh cinta sama kamu," ucap Bella terburu-buru.


"Gak apa-apa. Aku udah kebal kok disinggung dan disungging," jawab ku masih bernada sinis.


"Lagipula, Bell. Soal cinta kita gak pernah bisa menebaknya dengan pasti, kan? Bisa jadi perasaan Kiyano ke aku cuma sesaat aja. Pelarian doang sebelum balik lagi ke kamu. Gitu juga kan yang kamu mau?" ucap ku lebih lanjut.


Bella memandang ku lekat-lekat. Mencoba mencari kesungguhan atas apa yang baru saja ku ucap. Dan aku pun menjabarkan hati ku pada nya melalu tatapan lurus ku ke matanya. Hingga beberapa saat kemudian, ia lanjut bicara.


"Yah.. aku berharap kita bisa jadi teman dekat yang sebensrnya, La. Walau pun kamu juga punya beberapa kekurangan, tapi aku cukup nyaman berteman dengan mu,"


'hh.. niat berteman tapi kok bahas soal kekurangan sih?!' aku mendumel dalam hati.


"To the point aja, Bell. Hal penting apa yang mau kamu omongin ke aku? Apa cuma ini aja?" Tanya ku lugas.


Bella kembali terdiam selama beberapa detik. Sebelum tiba-tiba saja mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan ku.


"Aku dan Kiyano kembali rujuk, La."


"..."


"..."


Flashback off.


"Hey! La, kok ngelamun lagi sih?"

__ADS_1


Aku kembali tersadar saat Erlan menyentil dahi ku pelan.


"Hh.. apa sih, Lan? Udah malam kok masih keluyuran sih. Memangnya kamu gak ngantuk apa?" Tanya ku mengalihkan perhatian.


"Lha kamu sendiri juga ngapain keluyuran di dapur malam-malam gini? Laper ya?" Erlan asal menebak.


"Enggak kok. Cuma haus aja!" Sergah ku cepat. Namun kemudian, terdengar suara dari arah perut ku.


'Kuruyuk..'


"..."


"..."


"Hahaha.. perut mu gak akan pernah bisa berbohong ya, La. Aku bantu berburu makanan, ya?" Tawar Erlan.


Aku tak menyahut. Masih merasa malu karena telah dipermalukan dengan begitu nista oleh perut ku sendiri.


Tapi, begitu kulihat Erlan sibuk mencari-cari makanan di dalam kulkas, aku jadi teringat dengan sesuatu hal.


"Biar aku cari sendiri deh, Lan. Atau.. apa sekarang aku harus memanggil mu Tuan Muda, Lan?" tiba-tiba saja aku bertanya.


Erlan sepertinya terkejut dengan pertanyaan ku, karena sedetik kemudian kepala nya terantuk pintu atas kulkas.


Ia kembali mengambil beberapa bungkus roti dan juga susu kotak dari dalam kulkas. Lalu menyodorkan nya kepada ku.


Aku mengambil susu kotak dari tangan Erlan lalu langsung menyeruputnya.


'slurp...'


"Tapi kalau kamu mau menganggap ku lebih dari teman juga boleh kok," ucap Erlan menambahkan, dengan tiba-tiba.


Aku tersedak.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


Erlan langsung mendekati ku dan menyodorkan ku segelas air putih.


Aku menerima nya dan langsung menenggak separuh isi nya.


"Apaan sih?! Ngomong gak jelas banget!" Aku mendumel pelan sambil membuka bungkusan roti pertama.


Begitu bungkusannya berhasil ku buka, aku langsung menggigitnya dengan nikmat.

__ADS_1


"Mmm.. cokelat, gak suka. Buat kamu aja deh, Lan."


Kuberikan roti yang sudah kugigit sekali itu untuk Erlan. Dan ia menerimanya dengan pandangan yang sedikit enggan.


Aku tak memerdulikan pendapat Erlan. Dan langsung membuka bungkusan roti yang kedua. Terlebih dulu aku sudah membaca label rasa nya. Strawberry. Aku suka rasa masam nya strawberry.


Selanjutnya, kulahap roti rasa strawberry itu hingga tandas. Dan ku lihat, Erlan pun ikut menghabiskan roti cokelas sisa an ku tadi pada akhirnya.


"Roti cokelat nya enak kok, La," komentar Erlan.


"Gak suka. Aku kan udah manis. Kalau makan cokelat, nanti kemanisan, Lan. Bisa diabetes nanti aku!" Seloroh ku asal.


"Bruuutt!" Erlan menyemburkan makanan nya tepat ke wajah ku.


"ERLAAN!! Gak sopan banget sih!" Aku mengomel-omel.


"Buahaha..maaf, La! Maaf! Hahaha!! Habis nya kamu tuh ya! Sifat narsis mu itu tuh kayaknya perlu dicek deh ke dokter. Khawatir kalau dibiarin, lama-lama bisa bikin kamu jd ODGJ!" Seloroh Erlan disela derai tawa nya.


"Apa an sih OD OD tuh? Uughh.. apes banget ya aku! Kena semburan lahar plus acai nya kamu, dasar Cabe Ijo!" Aku mengumpat Erlan sambil membersihkan sisa muncratan nya Erlan di wajah ku.


"Hahahaha.. ODGJ tuh Orang dengan Gangguan-- aduh!"


Belum selesai Erlan menjelaskan, aku langsung mencubit mulut nya yang ember itu.


"Lagian, kalau ngomong tuh jangan sembarangan, bisa kan?! Tisu mana sih tisu?" Pinta ku pada Erlan untuk mencari tisu.


Erlan membantu ku mengambil tisu, lalu tanpa kuminta langsung saja mengelap wajah ku yang masih terasa lengket di beberapa bagian.


Untuk memudahkan Erlan, aku langsung saja menengadahkan wajah ku agak ke atas dan memejamkan kedua mata.


Selama beberapa waktu kurasakan tangan Erlan sibuk mengelap beberapa titik di bagian wajah ku. Namun, suatu waktu kemudian aku tak lagi merasakan gerakan Erlan.


Tapi tangan pemuda itu malah berhenti mengelap di bagian dekat rahang ku dalam waktu yang terlalu lama. Sehingga aku pun langsung membuka kedua mata ku untuk bertanya, "udah bersih?"


Deg. Deg.


Deg. Deg.


Entah sejak kapan, Erlan mulai mengikis jarak di antara kami. Tahu-tahu begitu kubuka kedua mata, wajah nya sudah berada teramat dekat dengan wajah ku.


Aku bahkan tak sempat terkejut saat Erlan langsung menempelkan bibir nya yang dingin tepat ke atas bibir ku. Dan aneh nya, aku tak menolak nya.


***

__ADS_1


__ADS_2