Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Kedatangan Bella (POV Kiyano)


__ADS_3

Flash back Sabtu pagi nya di apartemen Kiyano.


Jam empat sore nanti, rencana nya aku akan bertolak pulang ke kota A untuk menemui Bella. Kepulangan ku ke sana adalah rencana mendadak yang muncul usai aku memantapkan keputusan ku perihal kelanjutan pernikahan ku dengan Bella.


Rasanya masih seperti mimpi saja semua yang ku alami ini. Karena aku masih sulit untuk mempercayai kenyataan bahwa Bella telah mengkhianati pernikahan kami. Dengan kakak ipar ku, Bayu, pula!


Selama satu minggu ini, Bella sering menelpon ku. Beberapa panggilan nya tak sempat ku angkat saat aku sedang berada di kantor. Beberapa panggilan nya yang lain juga sempat ku angkat. Meski lebih sering percakapan kami kini terasa garing bagi ku.


Bella mungkin menyadari ada yang berbeda dengan ku. Karena semalam tadi ia sempat bertanya, adakah hal yang mengganggu ku selama tinggal di kota B ini? Dan aku hanya memberikan jawaban ambigu. Bahwasanya aku merasa sedang letih.


Aku tak sepenuhnya berbohong dengan jawaban ku itu. Karena aku memang mulai merasa letih karena memikirkan permasalahan di antara aku dan Bella. Tapi, bagaimana pun juga, aku akan menemui Bella sore nanti.


Aku akan memberikan kesempatan pada Bella untuk menjelaskan segalanya dengan mulutnya sendiri. Aku ingin tahu, apa yang akan dikatakan Bella nanti, saat ia mendengar kesaksian ku atas kejadian di malam Minggu yang lalu di dapur. Apakah Bella akan menyanggah atau mengakui nya.


Ahh.. peras benar rasanya mencintai tapi dikhianati. Jika aku boleh meminta, ada sebagian kecil dalam diri ku yang berharap kalau aku tak pernah melihat kemesraan Bella dan Bayu. Biarlah jika memang mereka berkhianat, aku mungkin akan tetap baik-baik saja. Sepanjang aku tak mengetahui nya.


Tapi lalu akal sehat ku menampar ku keras. Bodoh benar jika aku masih ingin menjadi kambing yang ditutupi kedua matanya tanpa menyadari kalau ia akan disembelih. Bodoh benar jika aku sampai membiarkan diri ku mati perlahan oleh sebab racun cinta yang membutakan.


Dan aku tak ingin menjadi si bodoh yang selalu dikadali selamanya. I am a man. And i hold my very own destiny! (Aku adalah seorang lelaki. Dan aku memegang kendali atas takdir ku sendiri)!


Sekitar jam sebelas, saat aku sedang membaca beberapa dokumen penting perusahaan, bel apartemen ku tiba-tiba berbunyi.


Mula nya aku mengira kalau itu adalah delivery man. Karena aku memang sudah memesan makanan secara on line. Namun begitu aku membuka pintu, aku sangat-sangat terkejut saat mendapati Bella yang sudah berdiri di depan pintu sambil melayangkan senyuman canggung kepada ku.


***


"Jadi, Mas Kiyan tinggal di sini.. apartemen nya bagus. Walau agak sepi juga ya," ucap Bella mengomentari tempat tinggal ku usai mengecek ke setiap ruangan.

__ADS_1


Aku tak membalas komentar Bella. Hanya mengiringi langkah nya yang menengok ke setiap ruangan satu persatu, dalam diam.


Setelah kami tiba di dapur, aku menawari nya minum.


"Kamu mau minum?" Tanya ku dengan nada sedikit datar.


Benak ku masih cukup terkejut dengan kedatangan Bella yang tiba-tiba ini. Padahal semalam kami masih saling menelepon. Tapi Bella tak mengatakan tentang rencana nya mengunjungi ku siang ini.


"Boleh. Biar Adek ambil sendiri, Mas."


Bella lalu membuka kulkas satu pintu ku, kemudian berkomentar. "Ku lihat, gak ada makanan apapun di kulkas. Mas selalu beli makanan jadi ya?" Tanya Bella perhatian.


Aku duduk di salah satu bangku tinggi yang ada di dapur. Sebelum menyahuti komentar Bella tadi.


"Mau gimana lagi? Memang aku tinggal sendiri kan di sini."


Dingin. Datar. Kunilai percakapan ku dan Bella terasa hambar. Dan sepertinya Bella pun merasakan hal yang sama. Karena detik kemudian, ia bersandar pada dinding di dapur dan menatap ku lekat-lekat.


Pada akhirnya, Bella lah yang memutuskan koneksi mata di antara kami berdua. Tapi ia lalu mendekati ku dan kemudian memeluk ku.


Kala kulit tangan kami bersentuhan kembali setelah melalui perpisahan yang cukup lama, aku tak bisa menampik rasa rindu yang kembali muncul dan menguras batin juga rasa. Bagaimana pun juga, aku telah mengenal dan mencintai Bella cukup lama.


Aku mengenal Bella sedari kami masih duduk di bangku SMA. Dan kami mulai berpacaran ketika aku sedang dalam kondisi ku yang paling terpuruk. Di saat Ayah ku tiba-tiba meninggal dunia karena menjadi korban tabrak lari.


Aku sebagai si sulung dari tiga bersaudara, dengan dua adik yang saat itu masih berusia empat dan satu tahun, langsung merasakan benar, beban yang telah ditinggalkan oleh mendiang Ayah.


Saat kejadian tabrakan itu terjadi, aku baru saja selesai menghadapi ujian terakhir sekolah. Di saat teman-teman ku menunggu kabar kelulusan dengan bersantai dan jalan-jalan, aku sudah sibuk membantu Ibu ku mencari nafkah untuk makan kami berempat.

__ADS_1


Di saat masa paling berat ku itu lah Bella yang adalah primadona di sekolah ku tiba-tiba saja hadir dan menawarkan penyertaan nya. Bella sering datang mengunjungi ku di tempat kerja meski hanya sekedar untuk bertemu atau terkadang juga membawakan ku bekal makanan.


Bella begitu setia menjumpai ku hari demi hari nya. Hingga akhirnya enam bulan kemudian kami pun akhirnya resmi jadian.


Aku luluh oleh kebaikan, kesabaran, dan kelemah lembutan yang ditunjukkan oleh Bella kepada ku juga keluarga ku.


Dan akhirnya, enam tahun kemudian, aku pun meminang Bella menjadi istri ku. Saat itu usia kami sama-sama 24 tahun. Sampai akhirnya usia pernikahan kami kini sudah memasuki usia tiga tahun, berarti aku sudah mengenal Bella selama kurang lebih dua belas tahun lamanya.


"Adek rindu sama Mas Kiyan.. hampir tiga minggu kita terakhir ketemu, Mas," ucap Bella dengan nada sendu pada dada bidang ku.


Aku memejamkan kedua mata. Mencoba menepis rasa perih yang kembali hendak menyiksa. Ku tabahkan lagi hati ku, usai mendengar kalimat terkesan penuh cinta dari Bella itu untuk ku.


Jika dulu aku akan selalu menyahut ucapan Bella dengan kalimat serupa. Kini mulut ku terasa kelu bahkan hanya untuk mengucap satu kata saja.


Peras.. hati ku mulai terasa kebas dari merasai cinta, kini.


"Mas?" Bella menengadahkan kepala nya ke atas. Menatap lurus pada wajah ku yang menatap ke depan dengan pandangan kosong.


"Mas Kiyan? Mas kenapa? Akhir-akhir ini adek ngerasa ada yang beda dari Mas Kiyan. Apa Mas ada masalah?" Tanya Bella dengan pertanyaan yang beruntun.


"Hhh.." ku hela napas cukup dalam. Sebelum akhirnya ku lepaskan pelukan Bella dengan gerakan sepelan mungkin.


Walau Bella telah menyakiti ku, aku tetap tak bisa membalas Bella dengan perlakuan yang sama. Rasa cinta ku kepada nya membuat ku langsung bisa memaafkan kesalahan nya. Meski aku jelas tak akan bisa melupakan nya.


"Bella.. ada yang mau Mas omongin," aku pun memulai pembicaraan serius kami.


"Mas..?"

__ADS_1


Susah payah aku menelan ludah. Mencoba memulai pembicaraan yang paling tak ingin ku lakukan, namun tak lagi bisa ku hindari.


***


__ADS_2