
Akibat tertangkap basah oleh Nunik dan Aryo, aku dan Erlan pun akhirnya disidang oleh kedua hakim norma agama itu.
Selama hampir setengah jam berikutnya Nunik dan Mas Aryo menceramahi aku dan erlan soal menjaga marwah dan menghindar dari perbuatan zina.
Duh. Intinya pembahasan mereka itu ya soal ketidak setujuan mereka terkait aksi sentuh-menyentuh yang dilakukan oleh aku dan juga Erlan. Karena status kami yang masih belum menikah saat ini.
Dan ujung dari ceramah kedua nya itu adalah sebuah saran agar aku dan Erlan segera menikah siri, demi terhindar dari berbuat dosa serupa.
Ya ampun! Nikah siri!
"Tapi kan kami mau nikah sebentar lagi, Mas. Cuma sebulan lagi.." aku mencoba membuat alasan untuk menolak saran dari Nunik dan suaminya itu.
"Dan selama waktu satu bulan itu, kalian masih bisa menambah dosa seperti yang baru saja kalian lakukan tadi, Mbak. Mohon maaf. Niat kami hanyalah demi kebaikan kalian berdua. Jadi kami menyarankan agar kalian menikah siri saja terlebih dahulu. Baru satu bulan kemudian, kalian hanya perlu mengadakan acara resepsi nya saja," tutur Mas Aryo menjelaskan pendapat nya.
"Nun.." aku mencoba membujuk Nunik.
Sayang nya sang bumil masih terlihat kesal dan kecewa karena aku telah mengabaikan pesan nya soal menjaga jarak dari Erlan. Ia menatapku diam selama beberapa waktu. Sebelum akhirnya menghela napas dalam-dalam dan berkata.
"Ini jalan yang terbaik, il," imbuh Nunik.
"Baik lah. Saya akan menerima usulan dari kalian," imbuh Erlan pula kemudian.
Aku langsung melotot kaget pada calon suami ku itu.
"Erlan!" Aku memberi Erlan pandangan sebal.
Erlan terlihat bimbang sejenak, namun kemudian pandangannya mantap menatap ku dalam-dalam.
"Apa salahnya juga sih, La. Cuma lebih cepat sebulan aja kan nikah nya. Kamu masih boleh bekerja kok selama sebulan nanti. Tapi setelah acara resepsi, kita kembali ke kesepakatan awal kita," ujar Erlan merayu ku.
Ku pandang Erlan dalam-dalam. Dan aku memikirkan rencana menikah siri ini dari berbagai sisi. Setelah mempertimbangkan saran ini dalam tempo yang sangat singkat, aku pun sepemikiran juga dengan Erlan.
Memang tak ada salah nya jika kami menikah siri terlebih dahulu. Tapi kan ada banyak hal lain yang perlu dibincangkan juga.
Aku melirik ke arah Nunik. Dan sepertinya Nunik mengerti dengan maksud ku. Ia pun lalu berpamitan dengan Mas Aryo.
__ADS_1
"Kami akan meninggalkan kalian untuk berdiskusi. Tapi Nun harap, Lail bisa mengerti kebaikan yang ada di balik saran kami ini ya, il," ucap Nunik seraya memeluk ku erat.
"Iya. Makasih ya, Nun. Aku akan obrolin dulu sama Erlan," bisik ku balik di telinga Nunik.
Dan kemudian Nunik dan Aryo pun meninggalkan ku dan Erlan berdua di mini kafe yang ada di mall sana. Setelah sebelumnya kembali mengingatkan kami agar segera pulang sebelum malam tiba.
Ku lepas kepergian Nunik dan aryo dengan pandangan tercenung.
"Yang.. Laila Sayang.." panggil Erlan kemudian.
"Huh? Lan.. kamu serius soal menikah siri itu?" Tanya ku dengan pandangan serius.
"Iya, Yang. Setelah kupikir baik-baik, memang kita mungkin sebaiknya menikah saja lebih dulu. Itu juga kan memudahkan aku yang masih harus bolak-balik jemput kamu dari tempat kerja. Kalau kita menikah dulu kan, nanti nya kita tinggal se rumah. Jadi aku gak kecapean bolak-balik pulang kan ya?" Ujar Erlan memberikan alasan.
"Hmm.. iya juga sih. Tapi nanti Mama.." aku ragu-ragu bicara.
"Mama siapa? Dan kenapa Yang?" Tanya Erlan.
"Mama ku, Lan.. Mama Mutia. Nanti mama bakalan sepi dong kalau aku ikut tinggal di apartemen kamu," aku mengungkapkan kekhawatiran ku kepada Erlan.
"Hhh.. dengerin aku ya, Yang. Pertama, aku mau kamu gak lagi mikir 'orang tua aku' atau 'orang tua kamu'. Yang ada tuh setelah kita menikah nanti ya semuanya jadi 'orang tua kita'."
"Untuk satu bulan ini aku yang akan ikut tinggal bareng kamu sama Mama Mutia. Jadi stop khawatir berlebihan ya, Yang."
Ku pandangi wajah Erlan yang teduh nan tampan. Aku terharu dengan kalimat yang diucapkan oleh Erlan sesaat tadi. Dan aku tiba-tiba merasa sangat beruntung karena bisa menjadi istri untuk pemuda di hadapan ku ini.
Sesaat kemudian, aku pun akhirnya berkata.
"Oke. Jadi, cuma ada orang tua kita ya.."
Dan detik berikut nya, aku pun tergoda untuk menjahili Erlan.
"Jadi nanti kamu mau ikut aku tinggal di rumah orang tua kita, Lan? Terus nanti kalau orang tua kita lain nya cemburu sama orang tua kita, kita mau kasih jawaban apa ke mereka dong? Masa iya kita tinggal selang seling di rumah orang tua kita, terus besok nya tinggal di rumah orang tua kita?" Ucap ku njelimet.
Selesai mendengar ucapan ku yang njelimet itu, Erlan pun ternganga. Dengan wajah kebingungan, Erlan pun bertanya.
__ADS_1
"Maksud kamu, orang tua kita tuh yang mana aja sih?"
Dan aku langsung saja tertawa bahak. Membuat Erlan ikut tersenyum kecil kala melihat ku tertawa.
"Dasar! Kita kan bisa tambahin nama ke gelar nya mereka, Yang. Misal Mama Ilmaya atau Mama Mutia. Gitu loh, Yang.." Erlan memberi usul.
"Oke. Oke. Bisa diatur itu lah! Hihihi.. ya udah. Aku setuju deh sama usulan nya Nunik dan Mas Aryo. Dipikir-pikir lagi, kalau kita udah menikah kan, nanti dua hakim itu gak bakal punya alasan untuk ceramahin kita lagi kan ya, Lan?" Aku mengungkapkan alasan ku menyetujui saran menikah siri.
"Laila.. Laila.. maksud mereka menegur itu kan baik.."
"Iya. Iya. Aku juga tahu, Pak Ustadz," buru-buru kupotong kalimat nya Erlan.
Dan Erlan menggeleng-gelengkan kepala nya menghadapi sikap ku yang asal memotong ucapan nya itu.
"Jadi, kamu juga setuju untuk menikah siri juga kan, Yang?" Tanya Erlan memastikan.
"Iya. Aku setuju. Tapi beneran ya, Lan. Aku masih boleh bekerja untuk satu bulan ke depan?!" Aku mengingatkan Erlan pada janji nya.
"Iya. Aku janji, Yang. Kamu boleh kok bekerja sampai bulan depan. Tapi nanti sesudah acara resepsi, kamu juga harus pegang janji kamu ya?" Gantian Erlan mengingatkan ku.
"Iya. Insya Allah aku akan menepati janji ku, Lan. Terus, kapan kita mau nikah?" Tanya ku kepada Erlan.
Erlan lalu memberiku tatapan menilai. Entah apa yang ada di pikiran calon suami ku itu. Saat ia memberiku jawaban yang sungguh mengejutkan.
"Malam ini juga boleh!" Jawab Erlan dengan pandangan serius.
"Hah?! Yang benar saja, Lan?! Gak bisa lah!" Aku menolak usulan Erlan dengan sangat cepat.
"Bisa aja. Kan tinggal minta tolong ke ustadz. Terus kumpulin keluarga. Keluarga inti aja. Udah deh sah. Gampang kan?"
"Gampang gundul kepala mu!" Aku mengumpat.
"Lho? Kenapa enggak, Yang? Bukankah lebih cepat itu akan lebih baik?" Sahut Erlan seraya menaik-turunkan kedua alisnya itu dengan manik mata yang mengandung jenaka.
Dan seketika itu pula, aku langsung menyesali keputusan ku untuk menyetujui usulan Nunik dan Mas Aryo untuk menikah siri dengan Erlan.
__ADS_1
'ide ini sungguhan gila!' umpat ku hening di dalam hati.
***