Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Lupa Suami Sendiri (POV Laila)


__ADS_3

Keesokan paginya, aku terbangun dengan perasaan berat saat membuka kedua mata. Untuk sesaat, aku sempat linglung tak mengerti, oleh sebab apa mata ku jadi terasa membengkak.


Ku tengok jam di dinding, dan aku terkejut karena ternyata baru jam empat pagi. Tak biasa-biasanya aku terbangun pada jam seperti ini. Karena biasanya aku terbangun sekitar jam setengah enam. Itu pun setelah diteriaki oleh Mama dalam waktu yang cukup lama.


Saat membuka kedua mata, posisi ku masih rebahan dan menatap langit-langit kamar. Selama lima menit berikutnya, pikiran ku masih melanglang buana di dunia mimpi yang tak kuingat sama sekali.


Tapi tunggu dulu! Kurasa aku mengingat mimpi ku semalam tadi.


Aku bermimpi kalau aku telah menikah dengan Erlan. Dan saat prosesi ijab kabul hendak diucapkan, tahu-tahu muncul penjaga kebun di rumah nya Erlan yang mengaku sebagai Papa ku yang telah lama menghilang.


Sungguh, drama sekali mimpi ku itu.


"Kamu memang biasanya suka bengong gini ya, sehabis tidur, Yang?"


"Aarrghhhh!!!"


Aku spontan berteriak kaget saat mendengar suara Erlan yang terdengar sangat dekat di telinga ku. Langsung saja ku tolehkan wajah ke kanan, dan ku dapati di sanalah Erlan berada. Duduk bersandar pada dinding di atas kasur tempat ku masih rebahan tidur.


Erlan menatap ku lekat-lekat hanya debgan menggunakan kaos dalam dan celana kolor saja.


Merasa geram karena ia berani menyusup ke kamar ku, langsung saja ku ambil bantal guling yang beratnya lumayan untuk menggepeng kan kerupuk kaleng, lalu ku pukul-pukul kan ke arah Erlan.


"Aww! Aww! Ampun! Ampun! Ya ampun Yang! Ini aku, Erlan, suami kamu sendiri!!" Teriak Erlan di sela-sela jerit sakit nya.


"Suami apa--"


Aku tersentak kaget. Baru teringat kalau ternyata kejadian yang ku anggap mimpi semalam tadi itu bukanlah mimpi.


Aku memang telah menikah dengan Erlan. Menikah siri. Ditambah juga dengan kemunculan Papa kandung ku yang telah lama menghilang. Dan dia benar adalah penjaga taman di rumah besar keluarga nya Erlan.


'Ya-am-pun!!! Lailadun.. Lailadun.. masa sama suami sendiri kamu lupa sih?!!' aku menghardik diri ku sendiri di dalam hati.


Dengan perasaan malu yang teramat sangat, aku langsung duduk bersimpuh di depan Erlan. Selanjutnya, ku sungkem punggung tangan nya Erlan dengan takjim. Sambil berkata dengan nada paling lembut yang pernah keluar dari mulut ku.


"Lan-lan.. maksud ku, Sayang.. maaf ya.. tadi itu aku kayak nya ngelindur. Jadi kupikir kamu itu penyusup yang masuk ke kamar ku.. jadi, aku.. mm.. minta maaf, ya?" Ucap ku dengan kepala yang masih tertunduk malu.


Saat beberapa detik berlalu tanpa sahutan dari Erlan, aku pun akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat wajah ku. Tampaklah oleh ku Erlan yang menatap ngeri ke arah ku.


Aku mengernyit. Merasa bingung karena menerima ekspresi takut di wajah Erlan itu. Alhasil ku beranikan diriku untuk bertanya kepada nya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Lan..ehm! Ehm! Sayang?"


Aku menegur diri ku sendiri yang masih sering lupa untuk memanggil Erlan dengan panggilan sayang. Ku rasa selama beberapa waktu ke depan aku masih akan sering melakukan kesalahan ini.


Erlan lalu menyentuhkan punggung tangan nya ke permukaan dahi ku.


"Apaan sih?" Refleks, ku tepis tangan nya Erlan itu. Namun aku langsung menyesal karena telah bersikap kasar kepada Erlan. Jadi aku pun kembali mencium punggung tangan suami ku itu.


Setelah saling beradu pandang untuk waktu yang cukup lama, kudengar Erlan berdehem. Dan barulah kemudian ia bicara.


"Kamu kenapa, Yang? Kok.. tiba-tiba banget panggil aku Sayang?" Tanya Erlan dengan ekspresi bingung di wajah nya.


Aku mengernyit bingung.


"Memang nya kamu gak suka kalau aku panggil sayang?" Aku bertanya.


"Suka. Suka sih. Tapi aneh aja gitu, Yang. Tiba-tiba banget. Apa kamu salah minum obat, Yang?" Tanya Erlan dengan raut khawatir yang terlihat nyata di wajah nya.


Gemas dan kesal dengan kelakar nya Erlan, ku cubit saja lengan atas suami ku itu dengan pelan.


"Hey! Nah! Ini baru Laila ku sayang. Yang suka main cubit-cubitan ini nih baru Laila ku."


"Dasar--"


'Sabar, La.. sabar.. ingat kata Nunik.. jadi seorang istri itu harus sabar dan bertutur kata lemah lembut. Jangan sampai suami mu murka. Karena kalau suami mu murka sama kamu, maka Allah pun akan ijut murka juga. Jernih.. jernih.. jernihin pikiran dulu ya La..' batin ku bermonolog.


"Hum? Kenapa, Yang?" Tanya Erlan yang hampir mendengar umpatan ku baruan.


Aku langsung menyengir lebar, untuk menutupi kekesalanku pada Erlan dan diriku sendiri.


"Duh Yang! Kamu kenapa sih, dari tadi udah bikin aku merinding aja. Senyum-senyum sendiri. Kamu Laila kan? Bukan si unti..?" Tanya Erlan dengan pandangan takut-takut.


Merasa tak lagi bisa menahan diri, aku pun akhirnya berteriak kesal juga.


"Erlan! Kamu tuh dibaikin bukannya senang, malah ngeledekin aku kesurupan lagi! Aku tuh mau jadi istri yang baik tahu buat kamu!" Omel ku sambil melempar bantal ke arah nya.


"Udah suaah payah ngomong lemah lembut. Tapi malah dikatain kesurupan. Kebangetan banget sih kamu, Lan!" Dumel ku dengan suara yang lebih pelan.


Kulirok Erlan, yang kini ternganga memandang ku.

__ADS_1


Melihat wajah bo doh nya itu, aku kembali menyarangkan cubitan andalan ku ke lengan dan pinggang nya Erlan. Peduli amat lah dengan nasihat Nunik! Erlan nya sendiri merasa aneh kalau aku tiba-tiba jadi baik!


"Aww!! Aww!! Ahahahaa!! Ampun, Yang! Ampun!! Aduh!"


Aku tersentak kaget. Manakala Erlan menarik pinggang ku hingga menimpa tubuh nya. Karena tak mampu menahan beban tubuh ku, Erlan akhirnya tersungkur ke belakang. Dan kepalanya pun membentur dinding di bagian kepala kasur.


Tanpa sadar, posisi kami tiba-tiba saja jadi sangat intim. Dengan aku yang menimpa tubuh Erlan di atas nya. Dan wajah ku pun jadi teramat dekat dengan wajah nya pula.


Ba dump. Ba dump.


Jantung ku berdentum-dentum.


Ba dump. Ba dump.


Entah kenapa dan bagaimana, aku merasakan tarikan pada wajah ku. Hingga secara perlahan, jarak di antara kedua wajah kami pun kian terkikis hingga hampir tak lagi berjarak.


Aku bisa melihat titik-titik hitam tahi lalat yang tersebar acak di beberapa area wajah nya Erlan. Aku baru sadar, kalau Erlan ternyata memiliki banyak tahi lalat kecil di bagian kening dan wajah nya.


"Laila.."


Ku dengar suara Erlan memanggil ku lembut. Dan aku merasa seperti tersengat listrik saja rasanya. Sekujur tubuh ku merasakan getaran yang tak pernah ku rasakan sebelum nya saat panggilan Erlan menelusuk ke relung hati ku.


'Perasaan apa ini? Kenapa perut ku rasanya geli ya? Kedua tangan ku pun rasanya gatal. Aku ingin meraih sesiatu. Atau mencengkeram sesuatu. Aku merasa dadaku sesak sekali, saat ini,' monolog ku dalam hati.


Tes..


Tes..


Tanpa ku sadari, kedua mataku telah menitikkan air mata. Aku terkejut. Begitu pun dengan Erlan yang melihat ku tiba-tiba menangis.


Erlan lalu membenarkan posisinya hingga ia duduk sambil memangku ku. Sementara aku tak bisa menahan derai air mata yang terus mengaliri kedua pipi ini.


'Kenapa? Kenapa aku menangis? Perasaan apa ini? Aku tak merasa sedih. Tapi aku juga tak yakin apakah yang kurasakan ini adalah bahagia?' lanjut monolog ku dalam hati.


"Hushh.. Jangan menangis, Yang.. please jangan lagi menangis.. kasih tahu aku, apa yang kamu mau? Apa kamu gak mau kalau aku tidur sekamar sama kamu? Iya gak apa-apa. Kalau gitu aku keluar kamar deh ya," seru Erlan seraya hendak memindahkan ku ke atas kasur.


Aneh nya, aku justru menahan leher Erlan agar tak melepaskan ku dari pangkuan nya. Aku tak ingin ditinggalkan oleh nya. Aku ingin bersamanya.


"Enggak! Jangan pergi!" Aku memohon kepada Erlan di sela isak tangis ku yang pelan.

__ADS_1


Pada akhirnya, Erlan tak jadi beranjak pergi. Dan ia membiarkan ku menangis puas di bahu dan dada bidang nya. Hingga kaos dalam yang ia kenakan, jadi basah semua di bagian depan nya oleh genangan air mata ku.


***


__ADS_2