
"Heyy! Dari tadi diajakin ngobrol malah nge lag. Ngantuk atau kenapa sih, Kak?" Aku disadarkan oleh toyoran Arline pada bahu ku.
Saat ini aku dan anak-anak berada di rumah Mama Ilmaya. Kami langsung pergi ke rumah mertua ku ini setelah Kiyano dan Lala pulang.
Aku masih teringat dengan pertemuan ku kembali dengan Kiyano di rumah ku tadi.
Sebuah pertemuan yang cukup membuat ku merasa tak nyaman. Entah karena apa.
Kuteliti lagi perasaan ku terhadap Kiyano. Dan aneh nya, benak ku selalu mengingatkan ku juga kepada sosok almarhum Erlan.
Aku jelas sangat mencintai Erlan. Sementara perasaanku terhadap Kiyano..entah lah. Mungkin benak ku hanya sempat bernostalgia saja, tadi.
Yang jelas, bagi ku Kiyano adalah masa lalu yang telah ku tinggalkan. Dan yang bisa ku lihat di masa depan ku saat ini hanya lah aku hidup bahagia bersama Mark dan juga Nila.
"Kamu ngomong apa tadi, Lin? Sorry. Lagi gak fokus," aku meminta maaf kepada Arline.
"Ada masalah, kah Kak, di butik?" Tanya Arline peduli.
"Enggak ada. Justru lagi happy malah," ucap ku misterius.
"Happy kenapa nih? Roman-roman nya bakal dapat traktiran nih!" Seloroh Arline.
"Masa iya kamu yang udah jadi CEO di perusahaan skala internasional masih nagih traktiran ke aku yang cuma usahawan kecil sih? Gak malu apa!" Canda ku mengalir alami.
"Gak ada syarat nya seseorang harus gak mampu dulu, biar bisa dapat traktiran. Apalagi cewek. Kalau dapat yang gretesong kan rasa-rasa dapat jackpot ya! Hahaha!"
"Itu sih kamu, Lin! Aku mah enggak lah ya."
"Jaim..! siapa ya yang dulu senang banget ngumpulin kupon makanan gratis di restaurant. Padahal udah punya suami yang kaya raya?" Ledek Arline.
Diingatkan tentang masa lalu ku dulu, aku jadi ingin tersenyum.
Dan lagi-lagi aku diingatkan tentang masa-masa ku bersama Erlan. Tanpa sadar, aku menghela napas dengan kasar.
Arline cepat tanggap. Ia langsung saja berkomentar.
"Kamu masih sering keingetan sama Erlan ya, La?"
__ADS_1
Aku tertegun.
Telah cukup lama Arline tak memanggil nama ku langsung. Entah oleh sebab apa, sejak kepergian Erlan, Arline ganti memanggil ku dengan panggilan 'Kakak'.
Padahal sebelum-sebelum nya, meski aku sudah menikah dengan kakak kembaran nya itu, Arline masih selalu memanggil ku Laila.
"Yah.. sesekali," jawab ku asal.
Arline ikut terdiam.
"Sama. Kadang kala aku juga keingetan sama dia. Rasa-rasanya masih kayak mimpi aja. Gak nyangka banget kalau dia bakal pergi secepat itu."
Aku tak menyahut apa-apa. Kami berdua memilih untuk menikmati semilir angin sore di teras depan rumah saat ini. Sementara kedua ishtar ku sedang melihat ikan di kolam belakang bersama Oma dan Opa nya.
"Kamu pernah kepikiran untuk menikah lagi gak sih, La?" Tanya Arline tiba-tiba.
"Huh? Siapa yang mau menikah lagi, Line? Tanya ku memastikan karena sesaat tadi aku kembali melamun.
"Ya kamu. Aku sebenarnya agak gak rela juga sih kalau kamu ngelupain Erlan dan menikah lagi sama cowok lain. Tapi, setelah ku pikir baik-baik, kamu mungkin sebaik nya menikah lagi, La," Arline memberikan usulan.
"Kasihan anak-anak, La. Mereka seperti nya butuh figur seorang Papa," Arline berkomentar.
Dan benak ku pun kembali melayang ke beberapa kesempatan saat Nila mengatakan tentang keinginan nya untuk memiliki Papa.
Mengingat hal itu, hati ku menjadi bimbang. Apakah keengganan ku untuk berhubungan serius dengan lelaki lagi, kira nya telah memberikan efek yang baik atau buruk bagi kedua anak ku?
"Jika memang kamu sudah siap, tak apa-apa, La. Menikah lagi saja lah. Toh sudah ada calon nya yang kurasa cocok untuk mu," ujar Arline sambil tersenyum miring.
Aku mengerutkan dahi, kebingungan.
"Maksud kamu siapa, Lin?" Tanya ku.
"Lha itu.. Papa Azki. Kayak nya dia juga tertarik sama kamu kok, La."
"Ngaco kamu, Lin! Azki dan aku tuh cuma berteman aja!" Aku mengelak.
"Ya tinggal diseriusin aja kan gampang. Dari teman, menjadi pasangan. Gitu aja kok repot!"
__ADS_1
"Hhh.. dia itu lebih muda dari ku, Lin," aku beralasan.
"Umur nya sama kayak Erlan. Tapi kamu juga dulu mau sama kakak ku, La."
"Tapi dulu aku dan Erlan sama-sama single, Line.sementara sekarang aku tuh udah.."
"Jendes?" Sambung Arline, memotong ucapan ku.
"Apa masalah nya janda menikahi brondong, La? Bukan nya rasul kita juga single ya pas nikahin istri pertama nya dulu?" Arline berargumen.
Benar. Memang benar apa yang dikatakan oleh Arline itu. Baginda rasul saw. pun dulu menikah di usia nya yang ke 25 tahun. Beliau yang masih single lalu melabuhkan pilihan nya untuk menerima lamaran dari Bunda Khadijah radiyallahu 'anha.
Bunda khadijah ra. Adalah seorang janda dua anak yang juga terkenal sebagai saudagar kaya di kabilah Quraisy saat itu.
Nabi Muhammad saw. menerima pinangan Bunda Khadijah ra. tanpa melihat status pernikahan atau pun usia nya. Melainkan lebih ke akhlak Bunda Khadijah juga yang dikenal begitu dermawan, jujur dan jauh dari kemaksiatan pada masa nya.
"Hh.. gak tahu lah, Liné. Aku belum kepikiran tuk ke arah sana. Saat ini aku masih fokus sama kebahagiaan anak-anak dan juga kemajuan butik La Luna. Urusan asmara sih aku gak tertarik saat ini."
Baru juga selesai mengatakan keengganan ku tentang pernikahan. Tiba-tiba saja sebentuk wajah milik Kiyano melintas ke pikiran ku.
Blitz..
Tak ada debur rasa yang persis seperti dulu. Hanya sedikit perasaan ekstatik yang buru-buru ku tepis jauh-jauh.
'Aku dan Kiyano telah lama berakhir...lagi pula.. dia sudah memiliki Lala dan juga Bella saat ini..' batin ku mengingatkan ku pada satu fakta yang tak terbantahkan itu.
***
Malam hari nya, aku menginap di rumah Mama Ilmaya. Aku cukup sering menginap di kamar lama ku bersama Erlan dulu. Meski pun teman tidur ku kini bukan lah Erlan lagi. Melainkan Mark dan Nila.
Meski begitu, malam ini entah kenapa anak-anak ingin tidur bersama Oma dan Opa nya. Jadi mau tak mau aku pun akhirnya harus tidur seorang diri di dalam kamar yang luas itu.
Malam yang dingin, serta pencahayaan sinar rembulan yang menelusup masuk melalui kaca besar yang mengarah keluar, mengantarkan ku masuk ke dalam mimpi yang sungguh ku harap-harapkan.
Ya. Aku memimpikan Erlan di malam yang dingin ini.
***
__ADS_1