Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Menggalau (POV Laila)


__ADS_3

Usai melihat rekaman cctv, aku pun bergegas mencari Mark keluar rumah. Sayang nya sosok putra ku itu tak lagi terlihat di mana pun.


Aku berputus asa. Tak mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan oleh putra ku itu saat ia pergi keluar rumah seorang diri. Tak mungkin juga kan bila ia hendak mencari Nila, sendirian?


Mama, Papa dan juga Darman yang baru pulang dari kampus pada sore hari nya ikut membantu ku mencari keberadaan Mark.


Sayang nya posisi rumah ku berada di area hunian yang masih terbilang sepi dari keberadaan tetangga. Jadi aku tak bisa melihat lanjutan rekaman cctv yang menunjukkan ke arah mana Mark sebenarnya pergi.


Menjelang maghrib, aku kembali pulang ke rumah dengan langkah gontai. Mama dan Papa pun terlihat sama sedih nya seperti ku.


Sudah lah Nila belum juga ku temukan, kini Mark malah ikut menghilang pula.


Ku rutuki kelalaian ku dalam menjadi seorang ibu bagi kedua anak ku. Aku tak bisa menjaga mereka dengan baik. Sehingga kini, aku harus kehilangan kedua anak ku itu.


Selepas maghrib, aku mengabari Nunik soal menghilang nya Mark. Dan sahabat ku itu sangat terkejut dengan berita yang ku sampaikan ini.


"Pergi ke mana Mark, il? Rasa-rasanya Nun sulit percaya kalau Mark berani pergi keluar sendirian tanpa bilang dulu ke kamu. Atau.. apa ada orang yang meminta Mark untuk pergi seperti itu? Kalau benar begitu, orang itu haruslah orang yang sangat dekat dengan Mark, il," tutur Nunik berargumen.


Aku tertegun saat memahami maksud kalimat Nunik tadi.


"Orang terdekat? Maksud kamu siapa, Nun?"


"Gak tahu juga sih, il. Tapi secara psikologi, memang tindakan Mark itu gak bisa dijelaskan oleh alasan lain kecuali oleh alasan kalau dia memang diminta oleh orang yang dekat dengan nya, il," ucap Nunik menguatkan argumentasi nya.


Kemudian netra ku menangkap sesuatu di ujung penglihatan ku ini. Dengan ponsel yang masih menempel ke dekat telinga, aku mendengarkan Nunik yang kembali bicara. Sementara aku mendekati meja belajarnya Mark. Tempai berbagai buku dan krayon berserakan di meja belajar nya.


Lalu, pada buku gambar yang tadi digambar oleh Mark, aku melihat hasil gambar putra ku itu.


Gambar yang dibuat Mark memang masih berbentuk seperti oretan kasar saja. Meski begitu aku merasa tertarik dengan hasil gambar putra ku itu.


Mark menggambar empat orang lidi. Dua diantaranya berukuran kecil, sementara dua yang lainnya berukuran besar.


Masing-masing orang lidi yang besar menggandeng satu orang lidi yang berukuran kecil.


Yang menarik perhatian ku adalah aku langsung teringat pada Nila ku saat melihat gambar satu orang lidi berukuran kecil yang seperti bersembunyi di belakang orang lidi yang besar. Karena ada dua kuncir di bagian kepala orang lidi yang kecil. Sama seperti gaya rambut Nila ku dalam keseharian nya.


Orang lidi yang besar yang menggandeng orang lidi kecil lain nya seperti nya juga adalah perempuan. Dan aku langsung menduga kalau itu adalah gambar diriku, dengan bentuk segitiga yang mengelilingi bagian kepala nya. Mungkin itu seperti hijab yang menutupi rambut ku.

__ADS_1


Pada kertas itu, aku terlihat bersedih dengan titik-titik memanjang di bawah mata ku. Aku juga menduga sosok orang lidi kecil yang sedang kugandeng adalah Mark.


Karena nya, aku bertanya-tanya. Tentang siapa sebenarnya sosok orang lidi besar yang menyembunyikan Nila di belakang nya?


Entah kenapa aku merasa yakin kalau ada sesuatu yang ingin Mark sampaikan kepada ku melalui gambar nya ini.


Aku pun menduga-duga kalau Mark mungkin mengetahui di mana sebenarnya Nila berada. Tapi aku juga tak terlalu yakin, karena sebelumnya aku telah bertanya pada putra ku itu tentang keberadaan Nila. Dan Mark menjawab kalau ia tak tahu.


Mark bukanlah anak pembohong. Aku kenal betul karakter putra ku itu. Dia memang anak yang pendiam, namun Mark bukanlah anak yang pembohong.


Mark sangat menyayangi Nila. Itu bisa kulihat dari sikap keseharian nya yang sering bersikap menjaga adik kembaran nya itu dari berbagai bahaya.


Sayang nya Mark tak bisa menjaga Nila di hari menghilang nya putri ku itu. Oleh sebab kelalaian ku sendiri dalam menjaga Nila ku.


Di saat aku merenungkan siapa sebenarnya sosok orang lidi lainnya yang digambarkan Mark telah menyembunyikan Nila, aku menerima panggilan telepon. Penelepon nya adalah Kiyano.


Saat menatap nama Kiyano di layar ponsel ku itu, tiba-tiba saja aku teringat dengan kalimat Azki tentang Kiyano.


Betapa amat kebetulan nya Kiyano yang muncul di saat aku sedang mengalami kehilangan Nila. Pun juga dengan saat ini, saat aku sedang kebingungan memikirkan ke mana pergi nya Mark.


Kiyano lagi-lagi menghubungi ku. Dan aku tak bisa memikirkan alasan lelaki itu tiba-tiba saja menghubungi ku di saat seperti ini.


Berbagai pikiran berkecamuk dalam benak ku.


Aku memikirkan tentang dugaan-dugaan yang mungkin terjadi. Hingga panggilan dari Kiyano itu kemudian terhenti.


Meski ponsel ku tak lagi berdering, aku masih juga menatap kosong pada layar ponsel ku. Memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya bisa saja terjadi.


'Tapi, Mark tak dekat dengan Kiyano. Mereka juga baru bertemu sekali saja saat Kiyano menjemput Lala, dulu. Jadi bagaimana bisa Kiyano menyuruh Mark untuk pergi keluar rumah tanpa memberitahu aku? kemarin juga Kiyano tak ikut menengok Mark. Hanya Lala saja yang ikut naik ke atas kamar Mark bersama ku,' pikiran ku masih begitu kusut oleh dugaan-dugaan yang sulit untuk ku percayai sendiri.


Kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel ku. Sambil memikirkan tentang Mark, aku membuka aplikasi pesan yang ada di ponsel ku. Dan aku terkejut saat membaca isi pesan yang ternyata dikirimkan oleh Kiyano kepada ku.


Dari Kiyano: Maaf, La. Cuma mau tanya. Memang nya kamu sama Mark lagi ada di luar rumah? Soalnya tadi Lala bilang kalau dia lihat Mark berdiri sendirian di pinggir jalan.


Deg. Deg.


Tanpa memikirkan apa pun lagi, aku langsung saja menekan tombol Dial pada nama Kiyano di layar ponsel ku. Tak lama kemudian, panggilan telepon pun tersambung.

__ADS_1


"Halo, La?"


"Kiy! Kamu bilang Lala lihat Mark di pinggir jalan? Jalan mana? Sama siapa? Apa dia benar-benar sendirian?" Tanya ku beruntun dengan nada panik yang jelas terdengar bahkan oleh ku sendiri.


"Iya. Barusan aja aku lewat jalan di dekat rumah kamu. Terus Lala bilang kalau dia lihat Mark sendirian di pinggir jalan. Bukan nya Mark masih sakit ya, kata mu kemarin, La?" Tanya Kiyano.


"Iya.. enggak.. ahh!" Aku kebingungan untuk merangkai kata. Dan seperti nya Kiyano menyadari kepanikan yang kurasakan saat ini.


"Kamu kenapa sih, La? Apa ada sesuatu yang bisa ku bantu?" Tanya Kiyano lagi.


Aku tadi nya hendak mengatakan pada Kiyano tentang kepergian Mark yang tanpa kata. Namun lagi-lagi aku teringat pada kalimat Azki, terkait kemunculan Kiyano di saat kegentingan yang menimpa ku berkali-kali.


'Tunggu dulu! Bagaimana bila ucapan Azki itu benar. Kalau sebenarnya Kiyano lah yang sudah menculik Nila? Dan sekarang.. Mark pula diculik nya?! Tapi.. aku tak bisa memikirkan bagaimana cara Kiyano membujuk Mark untuk pergi dari rumah tanpa memberi tahu aku!' pikiran ku kembali kalut.


"La? Laila? Apa kamu masih di sana?" Tanya Kiyano dari seberang telepon.


Setelah ragu untuk sesaat, akhirnya aku mengikuti kata hati ku untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Kiyano. Aku ingin tahu, apa yang akan dikatakan oleh lelaki itu nanti nya.


"Sebenarnya.."


'Allahu akbar! Allahu akbar!'


Suara adzan di dekat rumah terdengar kencang menembus udara. Aku berhenti bicara dan terdiam sambil mendengarkan lantunan adzan selama beberapa saat.


"Sudah maghrib. Sebaiknya kita shalat dulu, ya, La. Nanti kita sambung lagi telepon nya. Gak apa-apa kan?" Ucap Kiyano kemudian.


Aku tertegun. Merasa bimbang antara pilihan untuk melanjutkan percakapan kami ini atau shalat terlebih dahulu. Setelah berpikir selama beberapa detik, akhirnya aku mengiyakan juga ajakan Kiyano tadi.


"Ya. Aku shalat dulu ya Kiy. Insya Allah kita sambung lagi nanti. Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikum salam warohmatullah.."


Klik. Dan sambungan telepon pun terputus.


Mendengar apa yang disampaikan oleh Kiyano terkait Mark tadi. Aku kembali dibuat kalut jadi nya.


Sambil mendengarkan gemuruh adzan di dekat rumah, kularikkan doa ku supaya mengangkasa ke langit sana.

__ADS_1


"Yaa Rabb.. tolong jagalah Mark dan juga Nila, di manapun mereka berada. Aamiin.."


***


__ADS_2