Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Sebuah Pertanyaan (POV Laila)


__ADS_3

Sejak godaan Si Keong pada ku di kantin itu, seisi kantor akhirnya mulai bergosip perihal hubungan ku dan si Keong. Banyak yang memberi ku selamat. Dan aku bisa menangkap sikap menjilat yang ditunjukkan oleh orang-orang itu.


Ada juga yang terang-terangan memusuhi ku dan menentang hubungan ku dengan si Keong. Terhadap orang-orang yang sok seperti itu aku malah bersikap menantang. Jangan panggil aku Laila jika aku tak berani membela diri ku sendiri.


Karena nya, orang-orang yang menentang hubungan ku dan si Keong itu tak berani berbuat macam-macam. Karena aku bersikap berani dan tak segan-segan mengkonfrontasi mereka di muka umum.


Mungkin merasa malu atau juga takut ketahuan oleh Si Keong karena telah membully ku, wanita-wanita yang menamakan dirinya sebagai Kiyano fans itu kini tak lagi mengerjai ku atau mencibir ku secara terang-terangan.


'Dasar macan ompong!' umpat ku kesal.


Kepada si Keong, aku benar-benar merasa sangat sebal. Tengoklah kini. Sudah dua hari berlalu sejak godaan Si Keong di kantin kepada ku. Tapi aku masih menerima tatapan-tatapan kagum dan iri dari orang-orang di kantor. Semua ini dikarenakan ulah si Keong itu.


"Hey! Pelan-pelan dong, La, taruh kopi nya! Tangan gue kecipratan ini. Lumayan masih panas," protes si Keong pagi-pagi.


"Gara-gara kamu nih, Kiy! Aku udah kayak jadi selebritis aja di kantor sekarang ini. Sering banget orang-orang nanyain hubungan kita. Padahal kita kan gak punya status apa-apa! Tapi aku udah dibombardir hampir seharian dari kemarin. Ini semua gara-gara kamu dan sikap bodoh mu itu tuh!" Aku mengomel panjang lebar sambil menggebrak meja kerja si Keong.


Si Keong lalu berdiri dan memutari meja kerja nya. Hingga akhirnya ia berdiri di depan ku kini. Dia meraih kedua tangan ku dengan lembut. Namun aku langsung menepis nya kasar.


"Pokok nya aku gak mau tahu. Kamu harus ngelakuin sesuatu biar aku gak lagi dibuntutin orang-orang yang kepo soal kita! Males banget coba, Kiy! Masa iya aku mau ke toilet tuk pipis aja mesti ditahan-tahan sama orang-orang kepo itu!" Omel ku lebih kanjut.


Si Keong kembali meraih kedua tangan ku kini. Ia agak menundukkan kepala nya untuk mensejajarkan wajah nya dengan wajah ku. Baru setelah nya ia berkata.


"Gue minta maaf ya, La. Kalau sikap gue kemarin bikin Lo jadi susah. Tapi serius. Gue gak ada maksud untuk bikin kehidupan Lo jadi gak nyaman."


Aku mencebik. Memandang ke arah lain. Namun si Keong lalu menarik dagu ku dengan ujung jari nya, agar aku kembali fokus menatap nya.


"Tapi apa baiknya kita ngakuin aja kalau kita pacaran, La? Biar urusan jadi beres. Daripada main kucing-kucingan dan ngasih jawaban status yang gak jelas, yang malah bikin orang jadi kepo? Mending bilang aja iya kita pacaran. Toh nanti rasa penasaran orang bakal hilang juga La."


"Huuh. Kalau gitu sih, yang ada aku bakal dibombardir habis-habisan lah, Kiy! Makin repot nanti aku!." aku mengeluh dan menyilang kan kedua lengan ku di depan dada. Dan si Keong malah protes dengan sikap ku itu.


Si Keong mencoba mengurai lengan ku yang tersilang. Lalu kembali berucap.


"Ya mungkin awal-awal nya kamu bakal agak repot. Tapi paling cuma bertahan semingguan doang. Selebihnya orang bakal nge gosipin obrolan lain, La."


"Lagi pula, kita yang jalanin hubungan kan. Ngapain juga kita mikirin apa kata orang, La. Kata nya Lo pemberani. Masa iya ngadepin orang-orang kepo aja Lo takut sih!" Goda si Keong.

__ADS_1


Aku memelototi Si Keong. Kembali menyilangkan kedua tangan ku di depan dada dan baru lah angkat bicara.


"Aku memang berani kok! Cuma ya ribet aja, Kiy. Kerjaan ku kan jadi lelet gara-gara harus nerima ajakan ngerumpi dari orang-orang kepo itu. Ini aja aku udah pernah ditegur sama Mas Idham karena keleletan ku kerja."


"Mas Idham? Siapa dia?" Tanya si Keong dengan tatapan yang tiba-tiba terlihat mengancam. Sambil lalu, ia kembali membuka lipatan tangan ku di depan dada.


Aku yang menjadi fokus dari tatapan itu jadi merasa sedikit gugup. Sehingga tanpa sadar aku malah kembali menyilangkan lengan ku di depan dada.


"Mas Idham itu adalah kepala tim OB. Dia yang ngatur dan jadi pemimpin dari semua OB di kantor kita."


"Ooh.." sahut si Keong, dengan kembali membuka lipatan tangan ku di depan dada.


Sadar dengan sikap berulang si Keong, aku pun jadi kesal dan langsung mengomel.


"Kamu ngapain sih? Dari tadi gak ngebolehin aku nyilangin tangan di dada. Suka-suka aku lah mau bergaya gimana. Ini tangan-tangan aku kan!" Omel ku terus terang.


Pandangan si Keong lalu menatap ke lipatan tangan ku di depan dada. Kemudian dengan perlahan, ia kembali mengurai lipatan tangan ku itu sambil menjelaskan dengan suara sedikit serak.


"Gue saranin La. No. Gue minta banget Lo jangan silangin tangan di depan dada lagi, kalau Lo lagi sama orang lain. Terutama di depan lelaki."


"Memangnya kenapa? Jangan aneh deh!"


Lama diamati dengan pandangan gelap seperti itu membuat ku akhirnya jadi merasa risih juga. Akhirnya aku kembali menyilangkan kedua tangan ku di depan dada. Tak menggubris ucapan si Keong tadi karena berusaha untuk menutupi area dada ku yang ditatap oleh si Keong dengan pandangan... Mesum.


Si Keong tiba-tiba bergerak mundur dan menjauhi ku. Ia lalu kembali memutari meja untuk duduk di kursi nya. Dan mata ku mengikuti setiap gerak gerik langkah nya itu.


Setelah beberapa detik berlalu, baru lah ia memberikan jawaban atas pertanyaan ku tadi.


Dengan muka kelewat santai, Si Keong lanjut berkata.


"Lo nyadar gak sih, La? Kalau itu Lo tuh ukuran nya lumayan gede. Jadi kalau Lo nyilangin tangan Lo kayak gitu, itu Lo malah kelihatan makin gede."


Sesaat, aku tak mengerti dengan 'itu' yang dimaksud oleh si Keong. Butuh beberapa detik kemudian sebelum aku menyadari maksud ucapannya itu.


"??!!!"

__ADS_1


"..kayak mau tumpah malah!" Ucap si Keong menambahkan.


"Idih! Dasar mesum!" Umpat ku sambil melempar kain lap ke muka si Keong. Kemudian terburu-buru berlari keluar dari ruangan kerja si Keong mesum.


***


Hari terus berganti, tak terasa kini sudah masuk hari Sabtu. Semenjak pengakuan cinta nya di basecamp, si Keong selalu memaksakan diri untuk mengantarkan ku pulang.


Pada mulanya aku bersikeras menolak ajakan si Keong. Karena aku tak ingin menambahkan minyak pada api rumor yang sedang panas-panas nya berkobar perihal hubungan kami berdua.


Namun setelah aku mengetahui kalau tebengan gratis ku selama ini (Erlan) kini telah berhenti bekerja, aku pun tak lagi menolak ajakan si Keong untuk pulang bersama.


Aku mulai terbiasa dengan tatapan sindiran atau pun kekepoan orang-orang perihal hubungan ku dan si Keong. Biasanya aku hanya menjawab "no comment" ala-ala artis Desy Ratnasari itu bila ditanya oleh para wartawan.


Dan lambat laun memang tak banyak yang ingin bertanya-tanya lagi. Mungkin mereka sudah jemu karena harus menerima jawaban no comment dari ku selalu. Hihihi.


"Gue antar Lo sampe rumah ya?" Tawar Kiyano tiba-tiba, ketika mobil Civic yang kami naiki ini baru keluar dari depan gerbang.


"Ehh, jangan!" Aku buru-buru menolak.


"Kenapa? Lo malu ya kalau ketahuan punya pacar kayak gue?" Terka si Keong begitu mendadak.


"Hah? Memang nya kita udah resmi pacaran ya? Kayak nya belum deh. Kita kan baru masa perkenalan, Kiy!" Aku menolak mengakui hubungan kami.


Si Keong terlihat memanyunkan bibir nya.


"Lo tega banget sih La. Ini udah mau seminggu lho. Gue aja udah mulai nerima perasaan gue ke Lo. Gue juga udah mau nerima segala kebobrokan Lo. Dan Gue mau beradaptasi dengan segala tingkah miring nya Lo.."


"Sialan! Kamu tuh nyatain cinta apa niat ngejelekin aku sih, Kiy!"


Si Keong menyengir.


"Gak tahu juga deh. Kalau sama Lo, bawaan nya gue pingin ngejelek-jelekin melulu. Hati rasanya plong gitu kalau ngobrol sama Lo, La. Berasa gak ada sekat di antara kita. Berasa Lo gak nyimpan rahasia apa-apa dari gue. Jadi gue nyaman aja jadi diri gue apa adanya," Tutur si Keong panjang lebar.


Ku pandangi wajah si Keong yang kini terlihat seperti sedang merenungkan sesuatu. Dan tiba-tiba saja. Mulut ku terlampau gatal untuk menanyakan sesuatu pada si Keong. Pertanyaan yang sebenarnya telah cukup lama ingin ku tanyakan kepadanya.

__ADS_1


"Sebenarnya, kamu single kan Kiy?" Tanya ku tiba-tiba, dengan nada santai.


***


__ADS_2