Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Bye, La.. (POV Laila)


__ADS_3

Keesokan hari nya, aku bangun dengan perasaan yang sangat senang.


"Duh anak Mama, yang mau dapat gajian hari ini. Kayak nya senang banget sih, Nak?" Goda Mama kala mendengar ku bersenandung sambil merias diri di depan cermin.


Aku memberikan senyuman lebar pada Mama. Merasa sedikit malu karena ketahuan sekali kegirangan ku menyambut tanggal gajian ku ini. Meski terbersit juga dalam benak ku, sebentuk paras tampan milik si Keong yang akan ku jumpai hari ini.


'Idih! Kok inget muka dia sih?! Aku kena virus, kali ya?' gumam ku dalam hati.


"Ehh? Lha kok malah senyum-senyum sendirian. Hayo.. jangan-jangan kamu lagi jatuh cinta ya, sampe senyum-senyum sendiri gitu?!" Terka Mama begitu tiba-tiba.


Terkejut dengan tebakan Mama, tak sengaja aku malah menjatuhkan sisir yang sedang ku pegang.


"Iih, Mama! Apa an sih! Orang Lail senang karena hari ini gajian. Kok malah melantur ke soal cinta cinta an!" Aku mengelak dan berusaha menyembunyikan kegugupan ku.


'Iihh.. kok jadi gugup begini sih? Aku? jatuh cinta?' batin ku bergumam.


Serta merta wajah si Keong kembali terbayang. Pun jua dengan ciu man yang terakhir kali kami lakukan kemarin sore.


Blush..


Hati ku sontak diselimuti oleh kabut malu.


'Sialan itu si Keong! Kenapa sih muka nya kebayang-bayang terus! Jangan-jangan dia lagi yang peletin aku!' gerutu ku sendiri dalam hati.


"Laila, Sayang.." aku kembali tersadar dengan keberadaan ku di kamar, kala ku dengar suara Mama yang memanggil ku.


"Jatuh cinta itu hal yang normal terjadi, Nak. Bila kamu memang mengalaminya, terimalah kehadirannya dengan rasa syukur. Tapi Mama titip pesan buat kamu ya, Sayang.. Jangan merampas sesuatu yang bukan milik mu. Termasuk juga soal cinta!"


Aku tertegun kala ku cerna kalimat terakhir Mama. Dan tiba-tiba aku ikut mengingat kembali rasa sakit hati yang dialami oleh Mama atas penghianatan Papa bertahun-tahun silam.


Mama memang pernah dikhianati oleh Papa, ketika Papa lebih memilih untuk hidup bersama pelakor yang merusak rumah tangga Mama dan Papa. Papa bahkan juga begitu tega meninggalkan aku dan Mama tanpa sepeser pun harta untuk bertahan hidup. Karena semua harta yang ada saat itu habis ia bawa pergi untuk hidup bersama si pelakor.


Mengingat hal itu, hati ku tanpa sadar, kembali membangun tembok tinggi dari urusan cinta mencinta. Ku akui memang, salah satu penyebab kenapa hingga usia ku yang ke dua puluh lima tahun ini aku belum juga memiliki pacar, itu dikarenakan oleh jejak rekam pengalaman yang pernah dialami Mama.


Aku takut untuk mencintai. Bila pada akhirnya nanti aku malah akan sakit hati.


Aku takut untuk membuka hati. Bila pada masanya dia yang kubiarkan melihat hati ku, malah akan berbalik melukai.


Aku mungkin bisa bersikap akrab dengan para lelaki. Tapi keakraban itu ku batasi hanya pada obrolan santai sehari-hari. Sementara hati ku, ku kunci dan ku gembok rapat-rapat dengan keteguhan seorang gadis yang pernah menyaksikan penghianatan seorang pria.


Selanjutnya, ku peluk Mama dengan erat. Dan aku mencoba mengalirkan kekuatan pada tubuh ringkih yang telah menjaga dan membesarkan ku hingga sekarang.


"Tenang, Ma.. Lail akan selalu ingat pesan Mama. Lail gak akan mengambil sesuatu yang sudah jadi milik orang lain. Lail gak akan merebut cinta milik wanita lain," ikrar ku teguh.


Ku dengar Mama menghela napas. Lalu ku rasakan ia mengelus-elus kepala ku lembut.

__ADS_1


"Hh.. Maafkan Mama ya, Nak. Hingga kini Mama tetap menyesali karena kamu harus hidup jauh dari Papa mu," lirih suara Mama mengakui penyesalan terdalam nya.


Buru-buru aku menggeleng.


"Enggak, Ma. Jangan minta maaf sama Lail. Lail hidup bahagia kok berdua sama Mama. Kalau Lail ikut Papa, belum tentu juga kan wanita penyihir itu bakal biarin Lail hidup bahagia?" Seloroh ku asal.


Dan usaha ku berhasil. Mama tergelak kecil kala mendengar celotehan ku tadi.


"Kamu satu-satu nya permata dalam hidup Mama, Nak. Mama doakan semoga Lail menemukan lelaki terbaik yang bisa membahagiakan kamu sampai usia mu senja.."


Mendengar doa Mama, tenggorokan ku langsung serasa tercekat. Begitu lah sejatinya seorang ibu. Selalu menyimpan doa terbaiknya untuk putra putri nya. Pun jua dengan Mama.


Mama rela berletih-letih sepanjang hidup nya, demi menghidupi ku dan memastikan aku memiliki segala yang ku butuh kan di masa remaja ku dulu. Walau dengan segala keterbatasan yang tak henti menjerat status perekonomian kami saat itu.


Yang pasti, Mama adalah pahlawan ku. My super hero.


"Makasih ya Ma, untuk semuanya..Lail sayang Mama.. " bisik ku lirih di bahu ringkih nya Mama.


***


Hari ini, aku mengelesaikan semua pekerjaan ku dengan semangat berlebih. Bahkan aku juga membagikan senyuman ceria ku pada si Keong, yang biasanya selalu ku hadiahi wajah marah dan cemberut saja.


Si Keong bersikap seperti biasanya ia. Ia benar-benar menepati janji nya untuk menjaga sikap nya dan tak menyerang ku secara fisik (pelukan atau ciu man) lagi.


Aku tadi nya sudah bersiap-siap, jika ketika ku antarkan kopi untuk nya di pagi ini, ia malah memaksakan dirinya pada ku lagi, aku akan memilih untuk resign saja. Toh hari ini aku mendapatkan upah ku.


Nindi meminta maaf pada ku karena ia melanggar janji nya dan tak mengikuti acara ke pantai sabtu lalu. Dan aku langsung memaafkannya saat itu juga.


Lain Nindi, lain pula dengan Erlan. Rekan ku yang baik itu hari ini kembali tak masuk kerja. Entah kenapa, aku dilanda kecemasan terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada rekan ku itu.


Saat ku tanyakan pada Mas Idham, tahu lah aku kalau ternyata Erlan telah mengajukan pengunduran diri kemarin. Erlan kemarin sore sempat datang ke kantor untuk mengurus surat pengunduran diri nya juga mengambil gaji nya terlebih dahulu.


Hanya Mas Idham yang mengetahui kabar perihal Erlan ini. Karena Erlan sudah berpesan untuk tak menyebarkan berita tentang nya ini ke rekan OB yang lain.


Mendengar kabar Erlan itu, hati ku langsung penuh oleh berbagai macam perasaan yang campur aduk menjadi satu. Ya kesal, ya marah, ya sedih, ya kecewa, dan.. hu uh. Oke aku mengaku. Aku sedikit merindukan sosok pria oriental itu kini.


Bagaimana pun juga dari semua rekan OB ku di kantor ini, hanya Erlan dan Nindi lah yang paling sering mendengar curhatan ku tentang uneg-uneg pekerjaan. Sementara dengan rekan OB yang lain, aku sebatas hanya kenal dan bercanda sambil lalu saja.


Di sela jam istirahat, aku mencoba menelpon nomor Erlan. Dan di detik-detik terakhir suara dering, baru lah panggilan telepon ku diangkat nya.


"Halo, Lan?"


Sesaat, keheningan lah yang kudengar dari seberang telepon. Sampai kemudian ku dengar suara Erlan menyahut.


"Ya.. La?"

__ADS_1


'Aneh. Kok aku ngerasa ada yang aneh ya dari Erlan?' untuk sesaat, aku tercenung.


"Kamu.. kata Mas Idham berhenti kerja?"


"...Ya."


"..."


"..."


'Beneran ini Erlan aneh banget. Apa jangan-jangan dia sakit ya?'


"Kamu sakit tah, Lan?" Tanya ku cemas.


"Hhh.. enggak, La. Aku sehat."


"Terus, kok kamu banyak diam nya sih?"


Di hadapan ku, Nindi melayangkan pandangan tanya dengan alis nya yang terangkat. Dan aku mengedikkan bahu, pertanda tak tahu dengan apa yang terjadi pada Erlan.


"Lagi sariawan ya?" Aku menerka.


"Hh.. yah.."


"..."


"..."


"..Lan? Kamu.. marah sama aku ya?"


"...hh.. La, aku gak marah sama kamu. Aku cuma agak sibuk. Soalnya aku nerusin usaha Papa ku sekarang. Jadi, ada banyak hal yang mesti aku pelajari," papar Erlan.


"Ooh.. hmm terus--" ucapan ku lalu dipotong Erlan.


"Maaf, La. Aku harus pergi croscek tempat. Ku tutup ya telepon nya," pamit Erlan tiba-tiba.


"Huh? O.oke.."


Selama beberapa saat, aku masih menempelkan ponsel ku ke telinga. Terlalu kaget dengan sikap Erlan yang berubah jauh menjadi dingin, secara tiba-tiba.


Seingat ku, terakhir kali Erlan masih bersikap normal kepada ku. Kami masih sempat bersenda gurau pula. Jadi, apa yang sudah membuatnya berubah?


Selanjutnya, ku pikir Erlan sudah benar-benar memutus sambungan telepon kami. Tapi kemudian aku dikejutkan oleh suara Erlan yang berbisik dengan suara teramat pelan.


"Bye, La.. i'm sorry. I have to stop loving you, now." (Selamat tinggal, La.. aku minta maaf. Aku harus berhenti mencintai mu, sekarang..)

__ADS_1


Dan aku tertegun. Sesuatu dalam hati ku tiba-tiba saja merasakan cubitan kecil, kala pikiran ku sibuk memaknai kalimat perpisahan dari Erlan tadi.


***


__ADS_2