Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Bincang Hati (POV Laila)


__ADS_3

"Kalau gitu, kita nikah yuk, besok!" Ajak Erlan kepada ku.


Ku pandangi lekat-lekat wajah Erlan. Dan ku temukan kesungguhan dan juga nafsu di dua gemintang milik pemuda itu. Aku pun akhirnya menyahut.


"Ayok! Nanti, aku mau mahar nya satu rumah mewah buat Mama ku, satu juga untuk ku, satu motor buat Mama ku, satu juga untuk ku, dan.. ah ya! Satu mobil buat ku juga, semisal aku perlu jalan-jalan jauh, jadi aku gak kehujanan dan gak kepanasan!" Seloroh ku panjang lebar.


Gantian Erlan yang ternganga kala mendengar balasan ku barusan.


"Ehh?? Kamu kok langsung nge iya in sih, La? Enggak, mikir-mikir dulu gitu. Aku ngajak nikah Lho!" Seru Erlan kebingungan.


Tanpa tedeng aling-aling ku cubit saja lagi mulut nya yang mengesalkan itu.


"Aduh!" Erlan mengaduh sakit.


"Kamu sendiri dipikir-pikir gak tadi omongan nya! Ngajak nikah udah kayak mau ngajak main yoyo aja!" Omel ku pada Erlan.


Dan aku kembali melayangkan cubitan-cubitan ke lengan dan pinggang nya Erlan. Sehingga ia sedikit kelimpungan karena ruang gerak yang terbatas di dalam mobil.


"Aduduh! Ampun La!" Erlan mengiba. Sementara aku tak menghiraukan rengekannya itu.


Gemas sekali pada lelaki di depan ku ini.


'Kenapa sih, semua cowok suka ngajak nikah tanpa babibu lag!' benak ku lalu teringat dengan momen ketika Kiyano yang juga mengajakku menikah tiba-tiba.


Teringat tentang Kiyano, aku pun langsung saja diam membeku. Hati ku kembali merasakan perih dan jerih. Karena rindu itu kembali hadir dan menyesakkan hati ku.


"La? Laila?.."


Suara Erlan perlahan masuk ke dalam celah gendang telinga ku. Aku pun langsung menoleh ke arah nya. Namun pandangan ku mengabur oleh kristal bening yang perlahan membuncah dan akhirnya tumpah dan menuruni kedua pipi. Tanpa bisa kucegah. Tanpa bisa kulerai.


Aku pun tiba-tiba saja menangis. Merindukan Kiyano.


Erlan terlihat sangat terkejut, melihat ku. Namun ia begitu sigap dan langsung membawa ku ke dalam pelukan dada bidang nya itu.


"Huu..uu..uu.. hiks.."


"Cup.cup.cup.. aku di sini, La.. aku di sini.." ujar Erlan mencoba menenangkan ku.


Aku masih terus menangis. Hingga membuat ku kesal pada diriku sendiri.


'Kenapa juga aku mesti mengingat Kiyano?! Kenapa juga aku gak bisa hapus namanya dari memori ku?! Dan kenapa juga hati ku masih tergerak untuk nya?! Payah banget sih aku!' aku mendumel pada diriku sendiri.


Setelah sekitar sepuluh menit puas menangis, barulah akhirnya aku bisa lebih tenang. Saat itu, aku masih berada dalam pelukan Erlan. Dan dengan malu-malu, aku melepaskan diri dari dada bidang nya itu.


"Udah ok?" Tanya Erlan dengan ekspresi yang tak bisa kubaca.


Aku buru-buru menunduk sambil mengusap bekas tangis di wajah ku dengan tissue.


".. Mau cerita?" Tanya Erlan kembali.

__ADS_1


Aku menimbang-nimbang. Apakah sebaiknya aku menceritakan momen gila ku sesaat tadi.


Setelah kupikir-pikir, mungkin sebaiknya masalah ini kupendam saja sendiri. Kupikir aku masih butuh waktu untuk terbiasa dengan hubungan ku bersama Erlan. Mungkin saja seiring dengan berjalannya waktu, perlahan-lahan aku bisa melupakan Kiyano dan mulai mencintai Erlan dengan sepenuhnya. Aku sungguh berharap itu bisa terjadi.


Aku lalu menggeleng pelan.


'Duh. Kok jadi mellow gini sih. Jangan-jangan aku lagi PMS nih! Kayaknya sebentar lagi memang udah mau tanggalnya deh..' aku sibuk menerka sendiri.


(PMS \= Pre Menstrual Syndrom, atau gejala sebelum haid. Penyebabnya disebabkan oleh perubahan hormon selama siklus menstruasi. Beberapa gejala nya seperti, lebih emosional, kulit di bagian tertentu jadi lebih sensitif, serta munculnya rasa nyeri di bagian pinggang. Semua gejala ini akan hilang dalam tiga sampai lima hari.)


"Aku tebak boleh?" Tanya Erlan yang nampak jelas penasaran.


"Ehem!" Aku berdeham terlebih dahulu sebelum menjawab ucapan Erlan barusan.


"Gak usah main tebak-tebakan deh, Lan. Kita pulang aja yuk! Ini udah sore.." aku berusaha mengalihkan topik.


Erlan tak bergegas mengikuti instruksi ku. Ia masih saja menatap ku lekat-lekat.


"La.. aku berharap banget kita bisa jadi pasangan kekasih yang enggak menyimpan rahasia untuk satu sama lain," tutur Erlan mengawali ucapan nya.


"Aku berharap kamu bisa membuka hati kamu sepenuh nya untuk ku. Jadi kamu gak lagi merasa sungkan untuk bilang apapun ke aku. Meski yang akan kamu ucapkan itu akan menyakiti ku pun, aku akan lebih senang kalau kamu jujur sama aku, La.."


Aku tertegun. Ku pandang lagi wajah Erlan yang terlihat begitu tulus memperhatikan ku kini.


"Lagipula, sudah pernah kubilang juga kan ke kamu, La. Di atas hubungan apapun, aku akan tetap jadi teman mu. Jadi, bilang ya ke teman mu ini. Apa yang udah bikin kamu jadi mega mendung ambyar macam tadi?" Tanya Erlan kembali.


Ku hela napas ku dalam-dalam. Memikirkan baik-baik ucapan Erlan barusan. Pada akhirnya, aku memang membutuhkan seseorang untuk bercerita. Meski mungkin akan sangat kejam jadinya, bila aku mengatakan apa yang menghawatirkan pikiran ku sesaat tadi kepada Erlan.


Aku tak ingin mengalami hubungan yang penuh dengan rahasia, dan tahu-tahu pada masanya tiba aku malah akan dijatuhkan oleh bom rahasia itu nantinya.


Seperti yang juga pernah dialami oleh Mama yang pernah diselingkuhi oleh Papa dulu. Bukankah Papa juga berahasia dari Mama tentang wanita idaman lain miliknya?


"Aku.. aku teringat Kiyano, Lan. Maaf.." aku menunduk, hati ku terasa berat dengan rasa bersalah ku pada Erlan kini.


Sesaat Erlan terdiam. Sebelum kudengar suaranya kembali tak lama setelah nya.


"Ohh.. si keong? Kupikir karena apa kamu menangis, La. Aku udah mikir kamu tiba-tiba keingetan sama hutang rentenir yang besarnya wahaha.. atau keingetan sama status kuota yang udah hampir habis masa berlakunya.. atau.. aduh!"


Kucubit mulut ember nya Erlan dengan gemas. Bisa-bisanya dia masih bisa bercanda di saat seperti ini?!


"Serius lah, Lan!" Tegur ku pada Erlan.


"Iya ini aku serius! Oke. Oke. Aku dua rius deh sekarang. Hh.."


Erlan kembali menghela napas kasar. Diraihnya jemari ku hingga berada dalam genggaman tangan nya. Kemudian ia mere mas jari ku dengan cukup lembut.


Pandangan ku pun terfokus pada tautan di antara jemari-jemari kami.


"Aku sudah pernah menduga kalau hal seperti ini akan terjadi, La. Dan aku sudah menyiapkan diri ku untuk hal-hal seperti ini atau bahkan hal yang lebih wah lagi," ucap Erlan membingungkan ku.

__ADS_1


"Maksud mu, kamu udah tahu kalau aku akan nangis bombay karena Ki.." aku menghentikan diri dari menyebut nama Kiyano. Kupikir ada baiknya aku tak menyebut nama lelaki itu lagi di depan Erlan.


"Karena dia?" Lanjut ku berucap.


"U..huh.. kira-kira begitu lah."


"Kok bisa sih? Jangan bilang kamu cenayang? Atau paranormal? Atau punya kemampuan ekstraordinari seperti batman dan superman?"


"Dan spiderman? Hahaha. Laila.. Laila.. imajinasi mu itu sungguhan liar deh. Ya enggak lah! Aku bisa tahu karena aku kenal banget sama kepribadian mu itu, La.."


Ku pandangi Erlan dengan ekspresi bingung.


"Memangnya aku tuh gimana?" Tanya ku menantang.


"Kamu itu, walau mulut mu mercon, tapi hati mu tuh bombay aduhai.." tutur Erlan bergaya lebay.


Ku tepuk saja bahu nya itu dengan gemas.


"Serius dikit lah Lan!"


"Ehh, aku nih serius loh, La! Seribu rius malah! Terus, walaupun sikap mu seringnya kasar, kamu tuh peka dan perhatian banget sama orang-orang yang kamu sayang. Macam aku sekarang ini nih."


Ku naikkan sebelah alis ku ke arah Erlan.


"Oh ya? Rasa-rasanya aku nganggap kamu biasa-biasa aja deh, Lan!" Aku mencoba menantang ucapan Erlan tadi.


"No, La. Kamu itu, diam-diam juga perhatian loh sama aku. Aku aja bisa ngerasain. Masa iya kamu gak ngerasain sih, Non?" Erlan menowel pipi ku pelan.


"Ahh! Itu sih kamu nya aja yang kegeeran! Kamu kan memang dasarnya narcissus cornelius beringus!" Umpat ku meledek.


"Diih! Mulai deh muncul obrolan joroknya! Nanti kurangin ya, La! Aku belum boleh bahas yang jorok-jorok.. masih belum cukup umur soalnya!" Seloroh Erlan cukup asal.


"Sialan, kamu, Lan!" Aku menyengir.


Erlan membalas cengiran ku. Sebelum akhirnya berkata lagi.


"Kamu tuh suka ngerapihin kerah kemeja ku tanpa kuminta. Walau mulut mu juga mengomel gak jelas sepanjang kereta," tutur Erlan masih sambil menyengir.


"Kamu juga suka negur aku yang suka kebangetan makan cokelat. Kata mu, kebanyakan makan cokelat bikin kesehatan ku gak baik. Padahal itu tuh cemilan favorit ku loh, La. Tapi demi kamu, aku lepas deh Beb.." ucap Erlan sambil bergaya lebay kembali.


"Idih.. jauh-jauh deh Lan. Takut nya gila mu menular!" Aku menoyor bahu Erlan agar menjauh.


"Haish.. tega banget sih La. Yah. Intinya, kamu tuh perhatian sama aku La. Dan meski sekarang kamu masih ada rasa sama lelaki itu, aku gak akan marah sama kamu. Justru itu artinya aku harus lebih gencar lagi bikin kamu jatuh hati sama aku!" Ucap Erlan dengan begitu optimis.


Kemudian, Erlan menghidupkan mesin mobil nya. Sambil, mengemudi, ia pun kembali berkata.


"Jadi, kira-kira makanan apa ya yang bisa bikin hati mu tersogok, La?" Tanya Erlan sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Aku menyengir lebar. Tahu, kalau ucapan Erlan sedari tadi itu ditujukannya untuk menghibur ku.

__ADS_1


'Makasih ya, Lan!' ucap ku lewat pandangan mata.


***


__ADS_2