
Flashback.
Aku sedang berbelanja di pasar swalayan bersama Bik Inah, pembantu di rumah ku. Sementara aku meninggalkan Lala di rumah bersama ibu ku
Kemudian, sambil menunggu Bik Inah selesai membayar belanjaan di kasir, ku putuskan untuk menelpon Laila. Demi menanyakan kabar kedua anak nya yang dibawa pergi oleh Azki.
Ternyata hingga kini Azki masih belum diketahui keberadaan nya di mana. Padahal beberapa hati telah berlalu. Aku menyemangati Laila dengan kalimat sekedar nya.
Tapi lalu sudut mata ku tiba-tiba saja menangkap sosok Azki yang memakai topi pet. Ia membawa banyak barang belanjaan yang didorongnya dengan troli.
Sesaat kemudian, sebuah keputusan mantap diazamkan hati ku. Kepada Laila ku katakan kalau aku baru saja melihat Azki. Dan aku akan mengikuti nya saat ini juga.
Selesai menutup telepon dengan terburu-buru, aku pamit kepada Bik Inah. Ku titahkan ia untuk pulang menaiki taksi saja dengan dalih aku yang ada urusan mendadak.
Setelah nya, aku setengah berlari mengikuti Azki yang membawa barang belanjaan tadi menuju mobil nya di basement.
Dengan berhati-hati aku segera masuk ke dalam mobil ku dan menunggu. Kemudian ku ikuti ke mana mobil Azki melaju dalam jarak yang sedang.
Mendekati jalanan yang mulai sepi, aku sengaja mematikan lampu depan dan lampu sen mobil ku, agar Azki tak menyadari kalau aku membuntuti nya. Dan usaha ku itu berhasil. Aku bisa mengikuti Azki sampai mobil nya berhenti di depan sebuah rumah di pinggiran kota.
Segera saja ku share loc tempat ku berada saat ini kepada Laila. Ku peringatkan juga agar ia membawa bantuan polisi sesegera mungkin. Sementara itu, aku menunggu dalam diam di mobil ku.
Suatu ketika, aku mendengar suara tangis dari dalam rumah. Seperti nya itu adalah Nila. Namun kemudian tangis Nila segera berhenti. Dan rumah di depan ku itu pun kembali senyap sunyi.
Merasa penasaran dan khawatir dengan kondisi anak-anak, akhirnya aku memutuskan untuk memantau situasi ke dalam rumah.
Bagai seorang agen mata-mata, terlebih dulu aku mengelilingi rumah dua lantai ini untuk mencari spot tempat ku bisa masuk secara diam-diam.
Dan aku menemukan sebuah jendela yang terlihat terbuka di salah satu kamar di lantai atas. Berbagai rencana pun langsung tersusun di benak ku.
Pertama-tama aku menuju tempat sikring listrik berada. Letaknya ada di bagian belakang rumah ini. Ku cabut paksa kabel listrik yang menyambungkan rumah ini dengan daya utama, sehingga pada detik berikutnya rumah pun menjadi padam, seketika.
Setelah itu, aku menaiki sebuah pohon mangga yang kebetulan berada di dekat jendela yang terbuka. Setelah berada cukup dekat dengan balkon kamar yang ku tuju, aku pun melompat ke balkon itu dengan jantung yang berdegup tak menentu.
__ADS_1
Aku langsung masuk ke dalan kamar dengan langkah pelan dan hati-hati. Lalu ku langkahkan kaki ku menuju pintu sebuah kamar di mana ku dengar suara Nila yang kembali menangis.
Aku mencoba membuka pintu nya, namun sayang pintu nya terkunci.
Lalu aku mendengar suara langkah kaki di tangga, dan tahulah aku kalau mungkin itu adalah langkah kaki milik Azki.
Aku pun bergegas kembali ke kamar tempat ku masuk tadi. Untuk kemudian menunggu dalam diam.
Ku dengar Azki membuka sebuah pintu, lalu suaranya terdengar pelan berbicara.
"Diam, Nila! Ini hanya mati lampu. Tunggu lah di sini. Papa nanti akan kembali."
Tapi Nila masih saja menangis. Meski Mark juga ku dengar berusaha menenangkan nya.
Lalu ku dengar Azki kembali bicara dengan nada datar yang sama seperti tadi.
"Diam lah! Atau Papa akan menembakkan pistol ini ke mulut mu itu, Sayang. Kau tahu, apa yang akan terjadi bila Papa menembak mu nanti? Kau pasti akan mati!" Ancam Azki.
Bulu kuduk ku berdiri mendengar Azki bicara kepada anak-anak dengan nada yang seperti membincangkan topik cuaca. Begitu biasa.
Aku pun menyabarkan diri ku lagi, dan kembali menunggu dalam gelap.
Ku dengar langkah kaki Azki yang menuruni tangga kembali. Baru setelah itu lah akhirnya aku kembali keluar dari persembunyian ku.
Nila tak lagi menangis. Namun aku masih bisa mendengar suara isak nya sesekali. Aku juga mendengar bisikan suara kakak Nila dengan samar.
Aku kembali mencoba membuka pintu nya, namun sayang. Pintu nya ternyata telah dikunci lagi oleh Azki.
Lalu aku mengetuk pintu nya dengan pelan beberapa kali. Dan Mark berbicara kemudian dari dalam kamar.
"Siapa itu?!" Tanya Mark.
"Ini Om, Mark. Papa nya Lala. Ingat kan sama Lala?" Aku memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Om!" Seru Mark dan Nila berbarengan, terdengar senang.
"Syuut.. jangan berisik ya Mark, Nila. Om janji akan mengajak kalian pulang ke Mama nanti. Tapi Om mau kalian sabar dulu ya di sini. Jangan menangis!" Aku berikrar pada anak-anak.
"Iya, Om!" Seru Mark dan Nila lagi-lagi berbarengan.
Kemudian, aku memutuskan untuk pergi ke lantai bawah.
Dengan melangkah se pelan mungkin, aku berjinjit menuruni anak tangga satu persatu.
Setelah berada di anak tangga paling bawah, aku dibuat terkejut oleh suara desing peluru yang melesat melewati ku. Dengan gesit, aku berguling dan bersembunyi di belakang sebuah sofa. Lalu ku dengar suara Azki berbicara kepada ku.
"Tunjukkan diri mu sekarang juga. Dan aku mungkin akan membiarkan mu pergi, penyusup tengik!" Cecar Azki.
Aku tak menjawab ucapan Azki, dan tetap bersembunyi di belakang sofa.
Azki kembali menembak ke sofa tempat persembunyian ku. Namun syukurlah tembakan nya itu tak mengenai ku.
Aku lalu kembali berguling dan bersembunyi di belakang sofa yang lain. Dan ku dengar Azki yang kembali bicara.
"Ku berikan kesempatan kepada mu, penyusup! Keluar sekarang juga atau aku akan menembak mu di tempat, segera!" Ancam Azki kepada ku.
Jantungku semakin berdegup cepat. Aku tak tahu apa yang bisa ku lakukan agar terbebas dari situasi berbahaya saat ini.
Tadi nya ku pikir Azki masih belum mengetahui keberadaan ku di rumah ini. Jadi aku akan menyergapnya diam-diam di lantai bawah. Aku sengaja tak melakukannya saat Azki ada di kamar anak-anak sesaat tadi. Karena aku tak ingin memberi risiko yang membahayakan anak-anak.
Terlebih lagi Azki menguasai sebuah pistol di tangan nya, sementara aku tak memiliki satu senjata apapun.
Saat kupikir aku tak lagi memiliki harapan untuk bisa terbebas dari lelaki di dekat ku itu, mata ku menangkap sosok bayangan di dekat jendela.
Ada beberapa sosok berseragam yang ku lihat bergerak di balik jendela rumah ini. Entah Azki yang mungkin terlalu fokus kepada ku, sehingga ia tak menyadari keberadaaan penyusup lain di rumah nya.
Sementara itu hati ku bersorak dalam rasa lega. Karena aku yakin kalau bala bantuan untuk ku akhirnya telah tiba juga.
__ADS_1
***